Dangerous Classy Woman

Dangerous Classy Woman
Terbangun


__ADS_3

Grisella yang tertidur membuka matanya secara perlahan, ia mencoba mengerjabkan kedua mata dan saat itu juga kepalanya terasa sangat sakit.


Setelah sakitnya mulai mereda, mata cantik itu mulai terbuka dengan lebar, kedua bola mata hitam itu menatap lurus dan melihat langit-langit ruangan.


"Di mana ini?, tempat ini bukanlah mansion ku." batin Grisella.


Ketika kedua mata itu menelusuri seluruh ruangan, perasaan jijik dan kesal mulai terlihat diwajahnya"apa-apaan ini?," batin grisella


Grisella bahkan belum menyadari bahwa tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali, kedua matanya terus bergerak untuk menyusuri ruangan yang sedang di tempati nya.


Grisella bahkan baru menyadari jika ruangan itu sangatlah sempit dan tidak layak dihuni, ia yang sudah mulai kesal mencoba menggerakkan kepalanya, dan saat itu juga Grisella terpaku dan tak bergeming.


Karena tidak ingin berpikir yang tidak-tidak, Grisella mencoba menggerakkan tubuhnya, alhasil ia tetap tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Seketika, rasa sakit di tubuhnya mulai dirasakan oleh Grisella, ia bahkan tidak kuat menahan rasa sakit itu "kali ini apa lagi?" batin grisella dengan menggeretakkan giginya.


Keanehan yang dirasakan Grisella terlintas begitu saja dipikirannya, ia seolah pernah melihat adegan ini, tapi dimana?, kebingungan Grisella tidak selesai sampai disitu, ia yang memiliki otak cerdas justru berpikir tenang dan mulai menyusun teka-teki itu sepenuhnya.


Ia terbangun disebuah ruangan yang cukup sempit, kamar itu bahkan hampir bisa dikatakan tidak layak untuk di huni seorang manusia. Kamar yang bahkan memiliki tempat tidur dengan bantal yang keras.


"Jika melihat situasinya, seperti di novel yang baru saja selesai aku baca, jadi tidak mungkin itu terjadi padaku kan?," batin Grisella.


Grisella mencoba menoleh kearah kanan, namun ia merasa lehernya tidak bisa di putar sesuai dengan keinginannya, tapi grisella tidak menyerah begitu saja, ia juga berusaha menoleh kearah kiri, namun semuanya terasa sia-sia, seluruh tubuhnya benar-benar terasa sakit.


“Seluruh tubuhku sakit, leherku juga tidak bisa di gerakkan, benar-benar menyebalkan” batin Grisella kesal.


Dirinya bukanlah orang yang penyabar, sifatnya sangat kerasa dan ambisius, siapapun yang menghalangi atau berniat jahat padanya, maka akan membalas orang itu berkali-kali lipat. Ia juga bukan orang pemaaf, melainkan wanita yang sangat pendendam.


Ketika Grisella ingin membuka mulutnya, suaranya seolah tercekat, tubuh itu menolak perintah dari sang pemilik tubuh “situasi apa ini?, baru terbangun saja sudah tidak bisa bergerak” batin Grisella kesal.


Grisella melirik kearah kanan, disana terdapat segelas air, dengan cepat Grisella meraih gelas itu, walau dengan tubuh lemah, Grisella terus berusaha meraih gelas itu dan langsung meneguknya sampai tidak tersisa.


Setelah merasa tenggorokannya tidak kering, Grisella mencoba berdehem “hmm ... Sudah pulih, huh ... untuk mengambil air saja aku harus mengeluarkan begitu banyak tenaga” gumam Grisella sambil mencoba duduk.


Grisella bersyukur, tubuhnya sudah mulai bisa digerakkan sedikit demi sedikit, ia berusaha bersandar di dinding dan mengatur napasnya.


“Kenapa aku bisa berada disini, bahkan dengan tubuh yang tak berdaya” gumam Grisella kebingungan.


Grisella tampak kebingungan, ia tidak bisa bertanya karena hanya dirinya yang berada di ruangan itu, tapi ia seperti tidak merasa asing dengan suasana di ruangan ini.

__ADS_1


Grisella mencoba menepis pikirannya mengenai novel itu, ia tidak mudah mempercayai hal yang mustahil didunia ini.


Ia yang dulunya hidup dengan bergelimang harta kini harus tidur di tempat kumuh, hal itu membuat Grisella sangat marah.


Grisella ingin memastikan apakah dugaannya benar atau tidak, tapi saat hendak bangkit dari tempat tidurnya, tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar hingga membentur dinding dan menimbulkan suara yang begitu keras.


Brakkk


Grisella yang berada didalam terkejut mendengar hentakan pintu itu, ia menoleh kearah pintu yang sudah terbuka lebar. Ia melihat sosok pria dengan sorot mata yang tajam muncul didepan pintu.


Karena terlalu fokus menatap pria itu, Grisella bahkan tidak menyadari jika tubuhnya sudah mulai gemetar.


Ia tidak bisa melihat wajah pria itu, pandangannya tertutupi oleh cahaya dan hanya siluet pria itu saja yang dapat dilihatnya.


Pria itu berjalan masuk lalu berjongkok di hadapan Grisella, ia mendekatkan wajahnya sehingga keduanya saling menatap satu sama lain.


Sedangkan Grisella terkejut melihat wajah pria itu, wajah yang cukup tampan itu mampu membuat seorang Grisella terdiam dan terus memandanginya.


"Aku tidak menduga kau bisa bertahan sampai sejauh ini, Lizia Florinix" ucap pria asing itu dengan tersenyum smirk.


Deg


Deg


"Li-lizia Florinix?" tanya Grisella gugup.


Pria itu mengerutkan dahinya, ia tidak mendapati rasa ketakutan di dalam mata Grisella, yang terlihat jelas disana adalah mata jernih yang tidak memiliki keraguan dan ketakutan.


Tapi ketika pria itu menoleh kearah tangan Grisella, ia bisa melihat tangan itu bergetar sangat hebat.


Pria itu pun tersenyum smirk "ya kau!, Lizia Florinix!, Jangan merasa senang dulu, ini bukanlah akhir dari permainanku" ucap pria asing itu.


Setelah mendengar perkataan pria asing itu, Grisella tampak mulai mencerna nama yang baru saja pria itu sebutkan, seketika mata Grisella membuat sempurna "Lizia Florinix?, Aku baru saja selesai membaca novel ini lalu tertidur, tapi bagaimana aku bisa masuk kedalam cerita ini?" batin Grisella terlihat binggung dan menunduk.


Grisella bahkan mengabaikan pria asing itu, sedangkan pria asing itu sedikit binggung karena reaksi yang diketahuinya adalah Lizia seolah tidak melihatnya.


Lalu beberapa detik kemudian, Grisella mengangkat kepalanya dan menatap pria asing itu dengan intens "jika aku masuk kedalam novel, artinya ini adalah bab awal dan orang yang ada di hadapanku ini adalah Henzie Austin Bright. orang yang menyiksa Lizia di awal dan di akhir bab. Sial!, sekarang aku harus menghadapi hal mengerikan ini?, aku benar-benar akan mengutuk orang yang menarik ku masuk kedalam cerita ini!" batin Grisella


Setelah memenangkan pikirannya, ia pun meneguhkan hatinya "Aku tidak melakukan apapun dan juga aku tidak takut padamu!" ucap Grisella dengan menatap Henzie dengan tajam.

__ADS_1


Sedangkan Henzie mulai mengerutkan dahinya, "Jangan berpura-pura bodoh Lizia, kau adalah penyebab dari kecelakaan kekasihku, dan apa kau sangat yakin tidak takut padaku?" Ucap Henzie sambil melirik kearah tangan Grisella yang gemetar hebat.


Grisella yang sudah terduduk mengikuti lirikan Henziez "sialan!, Bisa-bisanya tubuh ini tidak mendengarkan ku!, bahkan keluarga itu melempar seluruh kesalahan anak mereka padaku, benar-benar keluarga menjijikkan, kenapa aku harus kembali pada awal cerita yang menyedihkan seperti ini?,.” batin Grisella sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Aku tidak tau apa yang kau katakan" ucap Grisella dengan berani sambil membalas tatapan Henzie dengan tajam.


Henzie terpaku melihat mata Grisella, ia yang melihat tatapan itu sedikit merasa heran, saat keluarga Marcell menyerahkan Lizia, wanita itu sama sekali tidak berani menatap Henzie, tapi sekarang, kenapa wanita itu dengan cepat berubah dan menatapnya dengan penuh keberanian?.


Tanda tanya itu muncul dalam benak Henzie, tapi, Henzie sebisa mungkin untuk menutupi rasa penasarannya.


“Berani sekali kau menunjukkan wajah tidak berdosa itu padaku?, aku yakin kau orang yang sangat mengerti apa yang aku katakan,” balas Henzie dengan tatapan dingin.


Grisella yang mendengar itu merasa kesal, ia mengernyitkan dahinya hingga kedua alis itu hampir saja menyatu “apa kau tidak bisa mendengar apa yang aku katakan?,” tanya Grisella dengan percaya diri.


Walau dengan tubuh yang bergetar, Grisella yang sudah menjadi Lizia berusaha membalas semua perkataan Henzie, ia tidak suka jika ada orang lain yang menekannya.


Henzie yang mendengar itu sudah tidak bisa menahan amarahnya, ia berdiri lalu menendang tubuh Grisella dengan kuat.


Brukkk


Arghhh


Grisella yang tidak melakukan persiapan apapun, merasa terkejut karena tubuhnya sudah membentur dinding. Benturan itu bahkan sangat kuat hingga membuat Grisella tampak kesakitan. Henzie yang melihat Grisella yang kesakitan justru hanya tersenyum smirk.


“Aku orang yang tidak punya belas kasih pada siapapun, jadi gunakan mulut itu sebaik mungkin,” ucap Henzie dengan mata yang sudah ingin keluar dari tempatnya.


Grisella yang sedari tadi menunduk karena menahan sakit, kini menengadahkan wajahnya “adegan ini tidak ada di dalam novel. Sialan!, beraninya dia memperlakukan seorang Grisella seperti ini?!, kau akan membayarnya suatu saat nanti!” batin grisella sambil menatap Henzie dengan tajam.


Grisella yang sedang dalam mode marah, tiba-tiba mengingat bahwa jika sudah masuk kedalam novel, maka tidak menutup kemungkinan jalan ceritanya sedikit demi sedikit akan berubah.


Dirinya yang memiliki sifat yang keras justru berbanding terbalik dengan sifat Lizia yang lemah lembut, perubahan itu tampak sangat jelas, dan hal itu akan mempengaruhi seluruh cerita yang ada di dalam novel.


“Lihat saja!, aku akan membuat jalan cerita ini menjadi kacau dengan membalaskan perbuatan mereka semua pada Lizia dan juga padaku. Aku akan membuatmu tersiksa melebihi apa yang aku rasakan saat ini” batin Grisella.


Henzie melihat tatapan itu memancarkan aura membunuh “tatapan itu lagi, kenapa tatapannya bisa berubah begitu cepat?” batin Henzie.


Henzie pun dengan cepat menepis pikirannya, bagi Henzie, Lizia adalah seorang wanita yang tidak bisa melakukan jadi ia tidak perlu mengkhawatirkan apapun.


Sementara itu Grisella harus menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya, ia tahu bahwa rasa sakit yang di rasakannya bukanlah berasal dari tendangan Henzie, melainkan dari penyiksaan Henzie sebelumnya.

__ADS_1


Grisella membaca di novel bahwa Lizia sudah disiksa oleh Henzie terlebih dahulu dan hal itulah yang membuat tubuh itu begitu terasa sakit.


Bersambung ...


__ADS_2