
Henzie tersenyum senang melihat Grisella menatapnya dengan penuh kebencian, baginya itu hal sangat wajar, karena jika seseorang yang sudah disiksa maka akan bisa berubah dalam waktu sekejap.
“Kau harus mendapatkan hukuman yang setimpal dari apa yang sudah kau lakukan padaku” ucap Henzie dengan mata membulat dengan sempurna.
Grisella yang mendengar itu mengerutkan dahinya, ia pun mulai tertawa dengan sangat keras “haha … Henzie Austin Bright, suatu saat kau akan menyesal telah melakukan hal ini padaku” ucap Grisella disela tawanya itu.
Tawa itu tidak terdengar seperti sebuah kesenangan juatru terdengar sangat memilukan, siapapun yang mendengarnya akan merasa kasihan pada Grisella, tapi tidak dengan Henzie, ia justru semakin marah mendengar tawa keras itu.
“Itu tidak akan pernah terjadi, ketahuilah, penyesalanku adalah membiarkanmu tetap hidup” ucap Henzie sambil berjongkok kembali dihadapan Grisella.
Grisella masih menampilkan tatapan tajamnya pada Henzie, ia sama sekali tidak takut pada pria itu, baginya pria itu adalah seorang yang tidak tau malu.
Melihat Henzie tampak serius, Grisella Kembali tertawa dengan keras “haha … kau berpikir aku pelakunya?, tapi bagaimana jika itu bukan aku?, apa yang akan kau lakukan tuan muda Henzie?” tanya Grisella dengan menampilkan senyum smirk.
Seketika Henzie tampak berpikir, selama ini ia memang hanya mendengar dari pihak Marcel tampa menyelidiki kasus itu terlebih dahulu.
Dan saat itu juga amarah sudah mulai menguasainya, ia yang sudah mengetahui penyebabnya langsung bergegas mendatangi rumah Marcel, dan pihak keluarga itu justru mendorong Lizia, tanpa pikir panjang, Henzie pun langsung menyeret Lizia dan membawanya pergi.
Lalu Henzie tampak berpikir ulang, wanita didepannya ini seperti memiliki tipu muslihat, sedetik yang lalu tatapannya tajam seakan ingin membunuh Henzie, lalu sedetik kemudian dia tertawa dengan sangat keras, sekarang ia bahkan menampilkan senyum smirk yang bisa membuat siapapun yang melihatnya akan bergidik ngeri.
Tapi, semua itu tidak bisa mempengaruhi Henzie begitu saja, sebagai seorang tuan muda, ia sudah melewati berbagai masalah, termasuk dengan tipu muslihat orang-orang yang ada di sekitarnya.
“Aku tidak percaya ini, kau yang di katakan sebagai seorang wanita polos kini sudah bisa mengeluarkan berbagai ekspresi, apa kau sudah berani menunjukkan sifat aslimu?, dan lagi … kau pikir aku akan percaya padamu begitu saja?,” tanya Henzie dengan tatapan dingin.
“Tuan muda yang terhormat, jika aku bersifat lembut apa kau akan mengeluarkan ku?, bukan kah jawabannya adalah tidak?, jadi aku harus merubah sifat lembut itu menjadi sifat keras. Bukankah kau yang memaksaku mengubah sifat ku ini?, dan untuk pertanyaan mu itu, aku juga menduga kau tidak akan percaya padaku. Tapi, aku tidak berpikir bahwa kau yang dijuluki sebagai tuan muda yang sangat pintar kini bisa dengan mudah dibodohi oleh keluarga miskin itu. Apa aku harus mengatakan bahwa kau sebenarnya adalah tuan muda yang sangat bodoh?," ucap Grisella sambil tersenyum smirk.
Henzie yang mendengar itu mulai mengepalkan kedua tangannya, ia benar-benar marah karena wanita di hadapannya karena sudah menghina dirinya.
Selama hidup Henzie, ia baru pertama kali mendengar penghinaan yang di tujukan padanya.
“Kau mengatakan aku bodoh?.” geram Henzie sambil menatap Grisella dengan tajam.
“Jika bukan bodoh, lalu sebutan apa yang pantas untuk …” perkataan Grisella terjeda ketika tangan Henzie dengan cepat meraih lehernya.
"Uughhh"
Grisella melototkan matanya, ia tidak menduga Henzie akan melakukan berbagai cara agar membuatnya menderita.
“Berani sekali mulut kotor ini mengatakan aku orang bodoh, apa kau sudah bosan hidup?,” tanya Henzie dengan tatapan tajam.
Grisella tidak memperdulikan perkataan Henzie, ia memukul lengan kekar itu agar melepaskan lehernya. Tapi Henzie justru tidak bergeming, ia bahkan menekan leher Grisella dengan sangat kuat.
Ketika melihat Grisella susah bernafas justru membuat Henzie tersenyum puas.
“Sialan!, dia benar-benar gila!” batin Grisella.
Grisella yang bisa menggunakan ilmu bela diri, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatan di kakinya, tanpa aba-aba, Grisella menendang dada Henzie dengan sangat kuat.
__ADS_1
Brukkk
Henzie terdorong kebelakang, ia bahkan sempat terpaku melihat Grisella mampu menendangnya di tengah Henzie mencekiknya dengan sangat kuat.
"Uhuk"
"Uhuk"
Grisella memegang lehernya sambil terbatuk-batuk “uhuk uhuk .... sebagai seorang pria, kau orang yang paling tidak tau malu yang pernah ku temui selama hidupku ini.” ucap Grisella sambil memegang lehernya.
Lalu tatapan Grisella berubah menjadi dingin, ia berpikir harus keluar dari sarang itu, Grisella pernah membaca bahwa Lizia selalu membawa pisau lipat pemberian dari ibunya untuk menjaga diri.
Grisella yang sudah memasuki tubuh Lizia mencoba meraba tubuhnya, ia pun menemukan pisau lipat itu dan menyembunyikan di belakang tubuhnya.
Ia menggenggam pisau itu dengan sangat erat “haa… apa kau pikir hanya kau yang bisa melakukan itu?.” tanya Grisella yang mulai berdiri dan mencoba berjalan secara perlahan agar bisa keluar dari ruangan yang menurut Grisella sebagai gudang.
Henzie yang masih dalam mode terkejut mencoba mencerna apa yang sudah dilakukan Grisella padanya.
Ia yang belum tersadar sepenuhnya bahkan sudah membiarkan Grisella melewatinya, seketika Henzie tersadar dan bangkit dan langsung memegang pundak Grisella.
“Jika kau melangkah lagi, maka aku akan memotong kaki mu itu." ancam Henzie sambil tersenyum smirk.
Grisella dengan cepat memutar tubuhnya lalu menggoreskan pisau itu ditangan Henzie.
Arghhhh
Henzie dibuat terkejut karena tangannya yang sudah mengeluarkan darah, ia bahkan tidak melihat adanya pisau yang di pegang oleh Grisella “kau!” teriak Henzie dengan keras sambil memegang tangannya yang berdarah.
“Tuan muda!” teriak para pengawal.
“Tuan muda Henzie, jika aku mau, maka sedari tadi pisau ini pasti sudah bertengger di lehermu. Apa kau pikir aku tidak berani melakukan itu?” tanya Grisella sambil menunjukkan pisau yang ada di tangannya dengan tatapan datar.
Tidak ada lagi emosi yang di keluarkan Grisella, ia bahkan sudah tidak perduli dengan pandangan mereka pada dirinya.
“Benar, jika saja dia mau maka kepalaku sudah tidak berada ditempat lagi, dan juga tatapannya tidak menunjukkan emosi apapun” batin Henzie sambil merenung.
Grisella berdiri sambil menatap Henzie “apa pilihanmu?” tanya Grisella dengan nada datar.
Henzie terdiam sangat lama, namun ketiga para pengawal itu justru mengelilingi Grisella “ha … sungguh menyebalkan” ucap Grisella dengan nada datar.
Tanpa menunggu diserang, Grisella dengan cepat menggerakkan tangan dan kakinya, dengan tubuh lemah itu, ia berusaha sekuat tenaga untuk menyerang ketiga pengawal itu.
Brukk
Satu pengawal terjatuh, Grisella menendang perutnya dengan sangat kuat.
Brukkk
__ADS_1
Yang ke dua juga terjatuh, Grisella menancapkan pisau dipundaknya.
Brukk
Yang ketiga terjatuh dengan keadaan terlentang, Grisella yang berhasil melumpuhkan ketiganya, menginjakkan dada pengawal itu.
“Guan muda, kau juga bisa mencobanya, jadi silahkan maju” tantang Grisella dengan wajah datar.
Padahal Grisella sudah tidak mampu untuk berdiri, tapi dia berusaha terlihat tegar agar pria didepannya itu tidak meremehkannya.
Henzie begitu terkejut, ia tidak menyangka Lizia yang terkenal dengan lemah lembut mampu menghunuskan pisau dengan sangat mahir, apakah dia masih Lizia yang dulu?.
Jika itu perubahan atas siksaan yang diberikan Henzie, maka Henzie dengan cepat menepis prasangka itu “tidak mungkin dalam waktu sekejap dia bisa menggunakan ilmu beladiri” batin Henzie.
“Sekali lagi aku bertanya padamu, tuan muda Henzie yang terhormat” ucap Grisella dengan wajah datar.
Henzie yang tidak punya pilihan lain, hanya bisa membiarkan Lizia pergi “baiklah aku mengaku kalah, kau boleh pergi” ucap Henzie sambil menghela nafas kasarnya.
Grisella menekan tubuh pengawal itu dengan dengan kakinya, lalu ia berjalan dan menghampiri Henzie yang sedang memegang tangannya yang terluka “ingat ini tuan muda, kau bukanlah satu-satunya yang bisa menggunakan pisau ataupun bela diri, aku bahkan bisa membangun dunia gelap melebihi ekspektasi mu. Jadi aku peringatkan untuk kedepannya jangan pernah menggangguku” ucap Grisella berbalik dan keluar dari ruangan itu.
Henzie tampak terdiam dan tidak mengeluarkan pendapatnya, ia hanya menaikkan satu alisnya dan melihat kepergian Grisella “kau juga tidak akan menyangka dengan apa yang akan aku lakukan, jadi bersiaplah, Lizia Florinix” gumam Henzie sambil tersenyum smirk.
Grisella keluar dengan keadaan kelaparan, tubuh yang dimasukinya terlalu lemah untuk di bawa berjalan, ia ingin kembali kerumah dan memberikan mereka pelajaran.
Namun setelah keluar dari rumah itu, Grisella tidak memiliki tenaga lagi, akhirnya ia terduduk disamping trotoar dan memejamkan matanya sejenak.
"Aku yang menarikmu ke dunia ku dan aku berjanji akan memberikan tubuh ku sepenuhnya padamu. Tapi tolong bantu aku untuk membalaskan perbuatan mereka. Sebagai imbalannya kau akan mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku, karena itulah aku memilihmu untuk menggantikan ku" suara itu terdengar jelas di telinga Grisella.
Grisella yang mendengar itu merasa terkejut, ia bahkan bisa menduga siapa orang yang baru saja berbicara padanya.
#Flashback On
Saat itu, Grisella yang baru saja pulang dari kantor, ia merasa sangat lelah dan di perjalanannya Gisella melihat sebuah toko buku yang begitu besar, tanpa pikir panjang Grisella berniat untuk singgah ke toko itu.
Grisella memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam toko buku itu, saat itu ia mencoba mencari hal-hal baru, yaitu membaca sebuah novel, ia mencari sebuah novel best seller dan setelah menyusuri beberapa lemari, tidak ada yang menarik perhatian Grisella, namun tiba-tiba saja, kaki Grisella berhenti.
Mata hitam itu, tertuju pada sebuah novel tebal, ia mendapati novel yang berjudul Lizia Florinix.
Grisella mengambil novel itu dan membaca sinopsis novel tersebut, ia sedikit tertarik dan mulai membelinya. Ketika berada di rumah, Grisella yang sangat susah untuk memejamkan mata melirik kearah meja, ia melihat novel yang baru saja dibelinya masih tergeletak di atas meja.
Ia mulai membaca novel tersebut selembar demi selembar dengan berderai air mata, lalu ketika berada di pertengahan bab, Grisella terlihat sangat geram "apa dia bodoh?, Orang tuanya sangat menyayanginya, tapi dia tidak bisa melakukan apapun pada orang-orang itu" gumam Grisella dengan marah.
Setelah mengumpat kesal, Grisella mulai membaca bab selanjutnya, kemarahannya kembali memuncak, "wanita ini sungguh bodoh, aku benar-benar kesal padanya!, Jika aku jadi dirinya, maka aku akan melawan mereka semua dan membuat mereka berada dalam neraka," gumam Grisella sambil membalikkan lembar demi lembar.
Hingga mencapai akhir bab, Grisella terlihat membanting novel itu dan berusaha memejamkan matanya, ia merasa kea karena novel itu tidak berakhir dengan baik.
#Flashback Off
__ADS_1
"Pantas saja aku berada disini, aku mengingat telah mengatakannya dengan kejam lalu dia menarikku kedalam novel ini agar bisa menjalani kehidupannya dan membalaskan dendamnya sesuai dengan yang telah aku katakan ketika sedang membaca novel ini. entah ini baik atau buruk untukku" batin Grisella menghela nafas kasar.
Bersambung ...