
Ensly sebagai Ibu Marcel begitu tidak menyukai Lizia, karena ia tidak suka menantunya itu lebih kaya dari pada dirinya.
Lizia melihat kearah orang yang sedang berbicara padanya "aku yakin ibu mertua yang bernama Ensly yang suka bertindak semena-mena pada Lizia asli" batin Lizia.
Dalam sekali lihat, Lizia bisa mengetahui peran orang-orang yang ada di hadapannya, termasuk peran Ensly dalam mendorong Lizia kejalan yang buntu.
Lizia tersenyum smirk, “hei nenek tua, apa kau pantas berbicara seperti itu di dalam rumah ku sendiri?,” tanya Lizia dengan wajah datar.
Orang-orang yang tengah berkumpul begitu terkejut mendengar perkataan Lizia, pasalnya jika dulu Lizia melihat Ensly, ia akan langsung menunduk dan tidak berani untuk membuka mulutnya. Tapi sekarang, Lizia bahkan dengan lantang mengatakan nenek tua di hadapan seluruh keluarga Sinclair.
Marcel yang melihat itu merasa sangat marah “Jaga ucapan mu Lizia!” teriak Marcel dengan keras.
Lizia memutar bola matanya dengan malas, “Brisik!, kau tidak perlu berteriak sekeras itu di rumah ku sendiri!” balas Lizia dengan kembali meneriaki Marcel dengan mata yang sudah ingin keluar dari tempatnya.
Para anggota keluarga itu kembali terkejut, mereka bahkan tidak menyangka Lizia bisa berteriak seperti itu pada Marcel.
Yang mereka ketahui adalah Lizia juga takut ketika Marcel berteriak padanya.
Perubahan sifat Lizia membuat seluruh keluarga terkejut, Marcel bahkan tidak terima jika Lizia meneriakinya, “kau sudah berani berteriak padaku?!” tanya Marcel sambil melangkahkan kakinya mendekati Lizia.
Lizia mengerutkan dahinya, sambil memiringkan kepalanya sedikit, “Apa kau pikir aku takut padamu” tanya Lizia dengan kedua alis yang sudah hampir menyatu.
Tiba-tiba saja tubuh Lizia mulak bergetar hebat, "kenapa tubuh ini bergetar?," batin Lizia mencoba menenangkan tubuhnya.
Lizia kembali berpikir ulang tentang cerita novel yang tengah di jalaninya,"Di dalam novel, Lizia asli memang sangat takut pada Marcel. Aku yakin bahwa ini adalah reaksi tubuh yang di timbulkan jika dirinya takut pada orang tersebut" batin Lizia.
Lizia terus berusaha menutupi ketakutannya, ia tidak ingin anggota keluarga itu menemukan kelemahannya.
Sedangkan Marcel semakin tidak terima dengan perkataan Lizia, “Kau .... ” teriak Marcel kesal, ia mengangkat tangannya dan ingin melayangkannya ke wajah Lizia.
Tapi Lizia justru lebih dulu menangkap tangan Marcel lalu menghempaskan tangan itu dengan sangat kuat. “Aku baru saja kembali, tapi kalian justru terus saja membuatku kesal,” ucap Lizia sambil menatap Marcel serta seluruh keluarga dengan tatapan tajam.
Lagi-lagi semua orang menatap Lizia dengan perasaan tidak percaya, mereka merasa perubahan Lizia sangat tak terduga.
__ADS_1
Mereka mengingat bahwa Lizia orang yang sangat takut pada Marcel, bahkan setiap Marcel ingin memukulnya, ia hanya berdiam ditempat dan menutup mulutnya dengan rapat.
Tapi sekarang, Lizia bahkan dengan berani membusungkan dadanya dan terus menatap Marcel tanpa rasa takut.
Marcel yang melihat itu begitu terkejut, ia bisa melihat bahwa Lizia kini telah berani terhadap dirinya.
Ensly yang melihat itu terlihat sangat marah "Kau sudah berani menghalangi tangan Marcel?" ucap Ensly dengan mata yang seakan ingin keluar dari tempatnya.
Lizia menoleh kearah Ensly dan memberinya tatapan tajam "sudah aku katakan, ini mansion ku!, siapa kau, yang bisa terus berteriak padaku seperti itu?." tanya Lizia dengan menaikkan nada bicaranya sampai beberapa oktaf.
Ensly tampak memegang dadanya, ia bahkan mengernyitkan dahinya "Mansion mu?, ini adalah mansion anakku!" jawab Ensly terlihat kesal.
Lizia yang mendengar itu mulai tertawa keras, "Haha ... apa kau bercanda?, nama kepemilikan mansion ini masih atas namaku, dan apa kau lupa bahwa aku juga belum mati?" ucap Lizia di sela tawanya bahkan dengan menatap semua orang itu dengan tatapan datar.
Setelah mengatakan itu Lizia pergi dengan langkah lebar, ia tidak memperdulikan tatapan semua orang,"sial!, kenapa aku mengumpat Lizia saat aku membaca novel itu?, lihatlah dari hasil perkataanku yang tidak bisa berhenti!, aku bahkan masuk kedalam ceritanya dan sekarang menggantikan dia untuk melanjutkan cerita ini!" kesal Lizia lalu membuka pintu kamarnya.
Saat pintu kamar terbuka, Lizia justru di kejutkan dengan keadaan kamarnya itu, ia cukup tercengang ketika melihat kedalam kamar itu.
Kesal?, tentu saja, tidak ada orang yang mau tinggal di tempat yang menjijikkan itu, apalagi Lizia yang sekarang bukanlah Lizia yang dulu.
"Walau aku sudah membaca deskripsi kamar Lizia, tapi ini benar-benar sungguh keterlaluan!" kesal Lizia dengan mengeram marah.
Bagaimana tidak?, saat menikah dengan dengan Marcel, hanya dalam waktu beberapa bulan, Marcel memindahkan Lizia ke kamar lain, sedangkan kamar utama kini di pakai oleh Marcel seorang diri.
Walau berada dalam lantai yang sama, tapi hanya kamar Lizia lah yang terlihat kumuh dan tidak memiliki apapun selain lemari pakaian dan tempat tidur.
Bahkan di dalam sana, tidak terdapat sebuah meja, jadi ketika ingin duduk, maka harus duduk di atas lantai atau di tempat tidur Lizia.
"Aku ingin sekali menghancurkan wajah mereka, tapi aku harus memulihkan tenaga ku dulu, karena penyiksaan yang di berikan pria gila itu membuat seluruh tenagaku terkuras habis, bahkan dengan kondisi seperti ini, aku yakin tidak akan bisa menghajar mereka semua" gumam Lizia sambil menaruh papperbag itu di lantai dan ia pun menjatuhkan bokongnya di atas tempat tidur.
Lalu secara perlahan Lizia menjatuhkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya sebentar.
Di luar sana keluarga Marcel tengah duduk termenung, mereka semua masih terkejut dengan perubahan Lizia.
__ADS_1
Di dalam benak keluarga itu, siksaan apa yang telah di berikan oleh Henzie sehingga membuat Lizia berubah sangat drastis.
Namun, keluarga itu tidak bisa mengatakan apapun tentang Henzie, karena mereka sangat takut dengan kekuasaan yang di miliki oleh Henzie.
"Tidak bisa begini!, kita harus memberinya pelajaran!" ucap Ensly dengan menggeretakkan giginya.
Mereka menganggukkan kepala secara bersamaan, lalu seorangpun mulai mengeluarkan pa yang tengah di pikirannya.
"Bagaimana dia bisa berubah menjadi seperti itu?, bahkan dia pulang dengan pakaian yang bagus serta membawa papperbag yang cukup banyak. Apa dia di lepaskan begitu saja oleh tuan Henzie?." tanya Wenny selaku adik Marcel.
Ensly yang mendengar itu mulai mengingat tentang pertanyaan yang di ajukan ya pada Lizia, "Mama juga tidak tau, tapi yang jelas, kita harus memberinya pelajaran sekarang" ucap Ensly yang melangkah ke atas.
Semua keluarga menyetujui perkataan Ensly, bahkan Marcel juga ikut menganggukkan kepalanya.
Ensly mulai melangkahkan kakinya, ia pun berjalan keatas dan diikuti oleh keluarga Sinclair yang lain, dengan langkah cepat semua anggota keluarga itu tengah menyeringai, karena mereka merasa akan berhasil memberikan Lizia pelajaran.
Brakkk
Bunyi suara pintu terdengar sangat keras, orang yang tengah memejamkan matanya bahkan sampai terkejut setengah mati.
Mata indah itu kini menoleh kearah pintu, disana ia melihat keluarga Marcel tengah menatapnya dengan tajam.
Lizia tampak terlihat binggung, di dalam novel Lizia pulang dengan keadaan penuh luka dan tak berdaya, ketika ia tidur, pintu di buka oleh Ensly dengan sangat keras."Kenapa bagian ini sama seperti yang ada di novel?, dan yang berbeda hanya bagian di mana aku kembali dengan selamat" batin Lizia dengan heran.
Faktanya Lizia berfikir bahwa dengan kepulangannya bisa merubah seluruh alur cerita yang ada di dalam novel. Tapi ternyata, semua pikiran itu tampak tak berguna.
"Sial!, Sekarang aku tidak memiliki tenaga untuk bertengkar dengan mereka" batin Lizia kesal.
Ensly masuk dan menyuruh keluarganya ikut masuk, ia memerintahkan mereka semua mengobrak abrik yang ada di dalam kamar Lizia.
"Hancurkan lemarinya!." teriak Ensly dengan tersenyum smirk.
Bersambung ...
__ADS_1