
Marcel yang melihat sang ibu tersungkur merasa sangat marah, ia pun mulai mendekati sang ibu, "Kau!" geram Marcel sambil menatap Lizia serta membantu Ensly untuk berdiri.
Tatapan yang di berikan Marcel tidak membuat Lizia takut, namun mereka yang ada di ruangan itu justru terlihat takut dengan tatapan Lizia.
Lizia membalas mereka dengan tatapan tajam sehingga membuat orang -orang itu ketakutan, mereka semua bahkan di buat merinding hanya dengan tatapan tajam Lizia.
"Keluar dari kamarku sekarang!" teriak Lizia dengan sangat kuat sambil menggerakkan tangannya menunjuk ke arah luar agar orang-orang itu segera pergi dari hadapannya.
Semua orang yang ada di sana begitu terkejut mendengar teriakan Lizia, sedangkan Marcel sudah menggenggam tangannya dengan sangat kuat, "Beraninya kau!" geram Marcel yang hendak berdiri, namun sebuah tangan menghentikan pergerakan Marcel.
Marcel pun berhenti, lalu ia mulai menunduk dan melihat Ensly yang sedang memegang tangannya, "Jangan gegabah, kita bisa memberinya pelajaran dilain waktu," bisik Ensly pada Marcel.
Marcel pun mengangguk lalu ia pun menuruti perkataan Ensly dan membawa sang ibu pergi dari kamar Lizia.
Sedangkan anggota keluarga yang lain membantu Wenny berdiri, mereka pun ikut keluar dari ruangan itu dengan perasaan kesal.
Tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan sepatah atau dua patah kata, dan mereka semua meninggalkan Lizia sendirian di dalam kamarnya.
Sedangkan Lizia yang berada di dalam kamar mulai meredakan emosinya, "Menyebalkan!, aku bahkan tidak bisa hidup dengan tenang di rumahku sendiri. Lihat saja, aku akan merebut semua milik Lizia asli dan aku juga akan memberi kalian pelajaran berharga" gumam Lizia sambil duduk di tempat tidurnya itu.
__ADS_1
Di luar kamar Lizia, para keluarga Marcel membawa Ensly ke sofa, mereka semua tampak terlihat sangat kesal.
"Ibu, bagaimana sekarang?, rencana kita untuk menguasai rumah ini telah gagal" ucap Wenny dengan kesal.
Ensly mencoba menarik nafas dan menghela nafas berulang kali "Ibu tidak menyangka bahwa dia bisa kembali dengan selamat" gumam Ensly sambil memegang dahinya.
Kebencian yang ada di diri keluarga Sinclair sudah mendarah daging, awalnya mereka sangat senang dengan penculikan yang di lakukan oleh tuan muda itu, tapi siapa sangka bahwa Lizia bisa kembali dengan selamat.
"Aku bahkan sangat terkejut bu, bagaimana bisa dia lolos dari tuan muda yang terkenal kejam itu?, bukankah kita tau bahwa tidak ada seorang pun yang bisa lolos dari cengkeramannya?, tapi kenapa orang lemah seperti Lizia justru bisa kabur dengan sangat mudah?," ucap Marcel dengan kesal.
Wenny yang mendengar itu juga langsung membenarkan perkataan sang kakak, "Benar kak, kita semua mengetahui hal itu. Apa jangan-jangan tuan muda itu menyukai Lizia?," ucap Wenny yang terlalu berpikir kejauhan.
Wenny yang mendengar itu mulai mengeryitkan dahinya, "Tapi kak, bagaimana kakak menjelaskan kejadian ini?, kita semua tau tuan muda tidak pernah membiarkan tawanannya lolos begitu saja," ucap Wenny pada Marcel.
Marcel tampak terdiam, ia sungguh tidak tau harus mengatakan apa, karena bagaimanapun ia sungguh tidak mengerti dengan situasi yang tengah mereka hadapi sekarang ini.
Setelah memikirkan cukup lama, akhirnya Marcel memiliki sebuah ide yang terdengar seperti bisa menyelamatkan keluarga, "Sepertinya kita harus menemui tuan muda terlebih dahulu dan bertanya langsung padanya," usul Marcel pada keluarganya.
Ensly duduk dengan memegang dahinya, ia pun mencoba memikirkan cara untuk menyingkirkan Lizia sekali lagi.
__ADS_1
Ensly yang mendengar itu mulai tersenyum dan ia pun langsung menganggukkan kepalanya, "Benar, itu ide yang bagus, dan mulai sekarang kita juga harus bertindak cepat, karena jika tidak melakukan itu dengan segera, ibu takut jika semua yang telah kita lakukan ini akan menjadi sia-sia," ucap Ensly yang terus menatap lurus kedepan.
Wenny yang mendengar perkataan Ensly juga langsung menganggukkan kepalanya, "benar ma, aku tidak ingin hidup miskin seperti dulu lagi, jadi kita harus segera merebut rumah ini dan mengubahnya menjadi milik kita seutuhnya," ucap Wenny dengan memantapkan dirinya agar bisa menguasai rumah itu.
Setelahnya, mereka pun kembali saling mengeluarkan ide masing-masing, lalu setelah rencana mereka sudah sangat matang, mereka pun mulai membubarkan diri dan langsung kembali kembali ke kamar masing-masing.
Sedangkan Lizia, terus berpikir bagaimana menjalani kehidupannya yang sekarang.
Lizia kini membaringkan tubuhnya kembali dia tas tempat tidur, ia kini tengah menatap langit-langit kamarnya "Ck, di kehidupanku yang dulu, aku pernah membaca novel yang mirip dengan jalan kehidupan ku yang sekarang, tapi kebanyakan dari novel itu adalah jiwa yang berpindah masuk kedalam tubuh putri kerajaan yang tengah terbaring di kamarnya, tapi berbeda denganku, aku justru masuk kedalam tubuh yang sudah tidak bisa bergerak sama sekali serta menjadi tawanan musuh, benar-benar sangat menyebalkan," gumam Lizia sambil berdecak kesal.
Di kehidupannya dulu, Grisella sangat suka membaca novel, ia juga dulu sering mengumpat tentang pemeran-pemeran yang ada di dalamnya, dan tidak pernah terjadi apapun pada dirinya.
Tapi sekarang?, kenapa setelah mengumpat kesal, ia justru masuk kedalam novel yang baru saja di bacanya?, hal itu benar-benar menjadi pertanyaan untuk Grisella sendiri.
"Kenapa Lizia bisa menarik jiwaku kedalam dunia novel ini?, kesalahan apa yang sudah ku lakukan di kehidupanku yang dulu?, gumam nya sambil berpikir dengan keras.
Lalu, tiba-tiba saja, ia menggelengkan kepalanya dengan pelan, "tidak ... tidak, aku tidak memiliki kesalahan apapun, tapi bagaimana aku menjelaskan kejadian ini pada orang tua Lizia?," gumam Grisella yang ada di dalam tubuh Lizia.
Lizia pun merasa tidak mendapatkan jawaban, ia mulai sedikit kesal dan langsung mengacak-ngacak rambutnya, "Ah aku pusing memikirkan hal ini, sepertinya takdir sedang mempermainkan ku," gumam Lizia lalu memiringkan tubuhnya dan mulai menutup matanya secara perlahan.
__ADS_1
Bersambung ....