Dangerous Classy Woman

Dangerous Classy Woman
Bungkam Seribu Bahasa


__ADS_3

Marcel dan Wenny dengan cepat menjatuhkan lemari yang ada di dalam kamar Lizia.


Brrakkk


Lemari itu pun jatuh dan barang-barang yang ada di dalamnya berhamburan keluar. Lizia yang melihat itu menggeretakkan giginya.


Walau lemari itu di jatuhkan, tapi tidak membuat lemari itu hancur, namun hal itu mampu membuat tubuh Lizia kini bergetar hebat "kenapa tubuh ini selalu bergetar?, apa kau benar-benar sangat takut pada mereka Lizia?" batin Grisella yang sudah menjadi Lizia.


Grisella mencoba mengingat kembali cerita yang ada di dalam buku, ia teringat bahwa ternyata lemari itu adalah pemberian dari ibunya, lemari itu terlihat tampak usang tapi jika di lihat dengan seksama terdapat kualitas yang jauh lebih kuat, bahkan kayu yang di pahat itu seolah menjadi lemari yang tidak ternilai.


"Ah ... aku ingat bagian itu, saat dia begitu merindukan keluarganya, Lizia berpamitan untuk pulang kerumah, tapi Marcel selalu menghalanginya untuk bertemu dengan orang tua Lizia, hanya lemari itu lah satu satunya yang bisa membuat hati Lizia asli menjadi tenang dan membuatnya mengingat bahwa sang ibu ada di dekat nya" batin Lizia.


"Berani sekali kalian masuk kedalam kamar ku!" ucap Lizia sambil duduk di atas tempat tidur dan menatap tajam kearah mereka semua.


Wenny yang mendengar itu langsung melotot kan matanya, "Tentu saja kami berani, memangnya siapa kau mengatakan hal itu pada keluargaku?!" ucap Wenny dengan membusungkan dada nya sambil tersenyum mengejek.


Lizia yang mendengar itu mengerutkan dahinya, ia tidak habis pikir, betapa tidak tau malunya keluarga mertuanya itu.


"Wah, seharusnya aku yang mengatakan itu pada mu, siapa kau berani berbicara seperti itu pada pemilik rumah ini?" ucap Lizia sambil mengangkat kaki nya dan menopang dagu nya.


Wenny terkejut mendengar perkataan Lizia, tidak biasanya wanita itu berani membantah perkataannya. sekarang ini, ia benar-benar terlihat sangat marah.


"Ka-kau!" teriak Wenny sambil berjalan mendekati Lizia dan mengangkat tangannya untuk menampar wajah Lizia.

__ADS_1


"Trik murahan!, tapi aku dengan senang hati membalikkannya padamu" cibir Lizia, Tapi sayangnya, Lizia yang sudah mengetahui jalan cerita itu langsung menangkap tangan Wenny dan ia pun membalikkan tamparan itu di pipi adik iparnya sehingga membuat Lizia meninggalkan bekas jejak telapak tangannya di pipi Wenny.


Plakkkk


Tamparan itu mampu membuat Wenny terkejut serta bungkam, ia tidak menyangka bahwa Lizia bisa balik menyerangnya dengan sangat kuat.


Setelah menampar pipi Wenny, Lizia melihat Wenny berdiri tegak, ia juga mengambil kesempatan itu dan tidak lupa menendang perut Wenny, Lizia bahkan tidak segan-segan mengumpulkan tenaga yang sangat besar lalu menendang adik ipar nya itu.


Brukkk


Arghhh


Seluruh keluarga Marcell tampak terkejut, berbagai reaksi bisa terlihat jelas di wajah mereka.


Ensly dan yang lainnya berlari kearah Wenny dan membantunya berdiri.


Lizia yang melihat keluarga harmonis itu pun tersenyum smirk "Kulit wajah mu terasa sangat tebal sampai-sampai tangan ku seolah mati rasa, bahkan perutmu begitu banyak lemak, sungguh menjijikkan" ucap Lizia sambil menggoyangkan tangan nya seperti habis memegang benda kotor.


Marcel bahkan bungkam seribu bahasa, ia masih setia berdiri dan menatap Lizia dengan dalam, ia bahkan tidak tau harus berbuat apa karena perubahan Lizia terlalu tiba-tiba.


Marcel sungguh sangat penasaran dengan perubahan istrinya itu, kini ia pun mulai bertanya dengan suara lantang "Siapa kau sebenarnya?!" tanya Marcel.


Lizia yang terfokus pada tangannya, kini berhenti dan mulai menatap lurus ke depan "Lizia Florinix, apa kau melupakan namaku?, suamiku tercinta." ucap Lizia sambil memiringkan wajah nya dan tersenyum smirk.

__ADS_1


Marcel yang mendengar itu merasa sangat kesal. jawaban yang di berikan Lizia benar-benar tidak membuatnya puas "Tidak!, kau bukan Lizia!, dia tidak mungkin bersikap kasar pada ku maupun keluargaku!" bantah Marcel sambil menatap tajam kearah Lizia.


Lizia yang mendengar itu kembali mengerutkan dahinya, "Haha ... bukankah ini lucu?, bagaimana bisa kau yang seperti ini bisa di sebut suami?, kau bahkan tidak bisa mengenal sifat istri mu yang asli" ucap Lizia di sela tawanya.


Mereka semua semakin mengeram marah, tawa Lizia seakan tengah memprovokasi keluarga Marcel, tapi Lizia tampak tidak perduli, ia pun bahkan semakin mengeraskan tawanya itu.


Wenny yang masih terduduk di lantai sambil memegang perutnya merasa sangat kesal, "Diam!, apa yang kau tertawakan?, rumah ini dulunya memang rumah mu, tapi sekarang sudah menjadi milik kami!" bentak Wenny agar Lizia tidak bisa tertawa lagi.


Tapi dugaan Wenny salah, ternyata Lizia bahkan tertawa semakin keras, "Kau ingin membuatku diam?, maka aku akan membuatmu semakin marah" batin Lizia.


Ensly pun mulai bangkit dan berjalan menghampiri Lizia, ketika tangan Ensly ingin mendarat di pipi Lizia, tiba-tiba saja tangan itu terhenti. Ensly melihat bahwa Lizia tengah memegang tangannya.


"Berani sekali kau menghentikan ku!" teriak Ensly.


Lizia yang mendengar teriakan itu menatap Ensly dengan tajam, lalu Lizia langsung menampar pipi Ensly dan ia juga melempar Ensly ke dinding.


Brukkkk


Arrgghhh


Mereka semua terkejut melihat Lizia menampar Ensly, bahkan mereka kembali di kejutkan dengan Lizia yang melempar Ensly dengan sangat santai.


Di mata anggota keluarga Sinclair, Lizia terlihat seperti singa yang siap menerkam siapa saja yang tengah menghalanginya.

__ADS_1


"Jangan merasa bahwa diri kalian hebat di dalam rumahku ini, jika aku tidak senang, maka aku bisa saja mengusir kalian semua dari sini!" teriak Lizia dengan keras sambil menatap mereka semua dengan tajam.


Bersambung ...


__ADS_2