
Aku terus berlari tanpa tau arah. Entah berada dimana aku sekarang. Terlalu gelap untuk aku tau kebaradaanku. Di belakangku ada seseorang yang terus mengikutiku. Aku tidak tau siapa pria itu.
Aku yang beberapa kali menoleh ke belakang, malah tersandung kakiku sendiri hingga tersungkur ke tanah.
Pria asing itu masih terus berjalan. Sinar redup sang bulan samar-samar memperlihatkan wajah dari pria itu. kulit putih pucatnya memperjelas raut wajahnya. Pria itu nampaknya sedang menyeringai padaku. Sontak, aku meringsut mundur menjauhi sang pria asing yang semakin mendekat.
"kamu tidak akan bisa lari dari takdirmu!. Kamu memiliki darah yang spesial. Dan akan ada banyak yang mengincar darah nikmatmu itu. " Serunya penuh kengerian. Membuatku semakin meringsut mundur ketakutan.
Aku ingin berteriak, meminta tolong atau mengucapkan sesuatu. Tapi rasanya suaraku tercekat di tenggorokan. Aku hanya bisa terus menggelengkan kepala sambil terisak takut.
Mendadak pria itu menghilang dari pandangan. Dan tiba-tiba sudah berada di sampingku. Bersimpuh dengan sebelah lutut menyentuh lantai. Sama sekali tidak ku lihat pergerakannya. Punggung jemarinya mengusap wajahku. Sensasi dingin, kala kulitnya bersentuhan langsung dengan kulitku. Dingin, sedingin es. Membuat tubuhku kian meremang.
Pria itu menelan salifanya. Terlihat jelas dengan jakunnya yang bergerak.
Tiba-tiba kedua netranya berubah menjadi merah menyala. Dia kembali menyeringai. Dan dapat ku lihat dengan jelas bahwa sepasang taring tiba-tiba muncul di kedua sudut bibirnya.
Seketika tangan besarnya telah mencengkram rahangku. Wajahnya mendekat ke leher jenjangku. Dan dapat ku rasakan, kini kedua taringnya menekan kulit leherku.
"Aaaaaa...." Teriakku.
Seketika, aku terbangun dari mimpi mengerikan itu. Nafasku tersengal, seluruh tubuh telah basah oleh keringat. Refleks tanganku mengusap bagian leher. Memastikan bahwa tadi itu benar-benar hanya mimpi.
"Huft!. Mimpi itu datang pasti karena tadi siang aku sudah nonton film twilight saga. Mengerikan sampai terbawa mimpi" gumamku bergidik ngeri.
__ADS_1
"Raina, kamu baik-baik saja? Kenapa kamu menjerit?" Tanya seorang wanita dari balik pintu kamarku. Dan dia Adalah Jayce. Mommyku.
"Ya, mom. Aku baik-baik saja. Hanya bermimpi buruk." Sahutku sedikit berteriak agar bisa terdengar sampai luar kamar.
"Hmm, baiklah. Kembalilah tidur! Besok acara pindahan akan sangat membuatmu lelah." Ujarnya.
Tak lagi ku tanggapi. Ada perasaan tidak rela jika harus meninggalkan kota ini. Besok pagi kami akan pindah ke kota Carlingford, kota pesisir dan paroki sipil di utara County Louth, Irlandia.
Alasan perceraian, mommy memilih pindah meninggalkan kota yang penuh kenangan ini. Dan aku memilih ikut bersama mommy. Alasannya, aku tidak mau memiliki seorang ibu tiri. Ayahku telah menikah lagi setelah dua bulan bercerai dengan mommy. Ahh itu sangat memuakkan. Cinta orang tuaku hancur begitu saja.
****
Kami telah sampai di rumah baru kami. Rumah dua lantai sederhana bergaya klasik.
"Whoa ini lumayan." Ujarku. Menatap kagum pada bangunan dua lantai itu.
"Hmm. Disini cukup jauh dari keramaian. Aku suka." Balasku.
Aku memang tidak terlalu suka keramaian, di kota lama yang cukup ramai pun aku lebih sering diam di rumah selain ke kampus. Aku tidak terlalu pandai dalam bersosialisasi.
"Syukurlah. Sekarang angkut barang-barangmu ke kamarmu. Setelah itu kamu akan ke kampus barumu, Rai!" Kata Mommy.
"Ya, baiklah." Balasku tak bersemangat. Ahh kampus baru dan teman baru tentunya. Aku tak menyukai ini. Kembali menyesuaikan diri di lingkungan baru. Ya, bagaimana lagi. Aku harus menjalani semua hal baru ini. Aku tidak ingin membuat mommy bersedih.
__ADS_1
"Mobilmu sudah ada di garasi." Mommy sedikit berteriak saat aku telah berada di dalam.
Setelah semua barangku selesai ku bawa masuk ke kamar baruku, aku kembali turun. Sesuai dengan apa yang mommyku ucapkan, aku harus ke kampus baruku. Huft!.
"Berhati-hatilah Rai. Kamu belum terlalu hafal kota ini." Mommyku memberikan pesan sebelum aku melajukan mobilku. Mobil hadiah sweet seventeen dari ayahku sekitar empat tahun yang lalu.
Perjalanan cukup membosankan. Di kanan kiriku hanya terdapat hutan belantara. Untuk menghilangkan jenuh, aku putar musik dengan volume full. Di sini hanya ada aku, tidak akan ada yang merasa keberatan dengan kebisingan dari dalam mobilku.
Pedal gas ku injak lebih dalam lagi. Aku suka sesuatu yang menantang. Di kota lamaku, aku tidak bisa sebebas ini. Sepertinya aku akan menyukai kota ini.
Hingga tanpa ku sadari, tiba-tiba seorang pria melintas begitu saja dan...
Brakkk
Suara benda tumpul menabrak sesuatu cukup keras. Hingga membuat dahiku membentur kemudi. Aku sangat syok, bagaimana bisa di hari pertamaku disini malah mencelakai orang lain.
Ku gelengkan cepat kepalaku kala rasa pusing tiba-tiba datang. Tatapku lurus ke depan. Anehnya pria itu masih berdiri tegak. Tidak jatuh, atau merasakan kesakitan. Padahal aku yakin aku menabraknya cukup keras.
Dia menoleh ke arahku hanya menampilkan sisi wajahnya saja. Lalu kemudian pria itu tiba-tiba melesat pergi. Dia manusia atau apa?. Kenapa bisa berlari secepat itu?.
Aku bergegas turun. Memastikan sesuatu yang cukup mengganggu fikiranku. Dan ternyata benar. Benturan terjadi cukup keras. Tapi kenapa bisa seolah tidak terjadi apa-apa pada pria tadi. Malah mobilku yang mengalami penyok bagian depan. Ini aneh, seketika rasa takut mendominasi. Jadi teringat tentang film yang kemarin aku tonton.
Bergegas kembali masuk ke dalam mobil, tanpa ku pedulikan luka di dahiku yang mengeluarkan darah. Hanya ku lap saja dengan tissue asal. Kejadian barusan cukup membuat nyaliku menciut.
__ADS_1
Tanpa berfikir lebih banyak lagi, ku lajukan mobilku untuk melanjutkan perjalanan menuju kampus.
Kejadian tadi terus saja berputar di kepalaku. Penasaran, tetapi juga takut. Sebenarnya, makhluk apa yang aku tabrak tadi?. Apa mungkin di dunia ini benar-benar ada makhluk macam Edward Cullen seperti di film vampir itu?. Entahlah, antara logika dan kenyataan berkecamuk dalam fikiranku.