Darah Incaran

Darah Incaran
Michael, Vampir 3000 tahun.


__ADS_3

"entahlah, terkadang takdir memang senang mempermainkan hidup seseorang." jawabnya.


Pandangannya menerawang pada kegelapan di kaki gunung.


Ragu, aku kembali bertanya. "apa anda juga mengincar darahku?"


Netra berwarna coklat terang itu kembali menatapku lamat. Dia maju mengikis jarak di antara kami.


"kamu takut padaku?" tanyanya tepat di telingaku. Dapat ku rasakan nafasnya yang menerpa kulitku sedikit membuatku merinding.


ku gelengkan kepala cepat. "maaf atas pertanyaanku tadi. Aku.... Aku percaya jika anda tidak akan menyakitiku."


Michael menatapku intens. Dan ku beranikan untuk balas menatap netranya.


"kenapa kamu percaya padaku?. Aku adalah monster yang sama seperti pria yang hendak menggigitmu tadi."


Aku mengendik ringan dan sedikit terkekeh. "aku juga tidak tau. Hanya saja, hatiku berbicara kalau aku percaya pada anda. Anda tau?. Adegan ini sama persis seperti adegan dalam film yang aku tonton. Seorang wanita percaya begitu saja pada makhluk pecinta darah seperti anda. Tapi aku percaya pada anda bukan karena terobsesi dari sebuah film. Aku benar-benar percaya pada anda sesuai kata hatiku." tuturku. Dan selama aku berbicara, atensi Michael tidak lepas antara memperhatikan mata dan bibirku.


"bagaimana jika ternyata aku malah melukaimu, bahkan membunuhmu?" tanyanya bergumam.


"kalau begitu, aku adalah domba bodoh yang bisa percaya begitu saja kepada srigala. Jika itu terjadi, aku tidak akan marah juga tidak akan membenci anda. Aku akan menerima takdirku yang mungkin memang harus mati terbunuh oleh vampir. Karena, percaya pada anda adalah pilihan hatiku." jawabku penuh keyakinan.


Michael menghela nafas dalam. "benar, kamu adalah domba bodoh yang bisa dengan mudahnya percaya pada srigala." ucapnya berbalik badan. Kembali melompat dan duduk di batu besar menghadap ke arah kaki gunung.


Aku berjalan mendekat. Berusaha menaiki batu besar yang berkali-kali lipat dari tubuhku. Kakiku terpeleset dan hampir terjatuh. Namun dengan secepat kilat, Michael meraih tanganku, lalu menarikku dengan mudahnya ke atas batu dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


"terimakasih. Sudah dua kali anda menyelamatkanku." ucapku.


Michael terkekeh. "dan ternyata, aku adalah srigala bodoh. Bukannya memangsa si domba, tapi malah terus menyelamatkannya."


"kamu tidak perlu kaku berbicara denganku. Dengan umurku sebagai manusia, kita mungkin hanya berjarak satu atau dua tahun saja." sambungnya.


"oh, baiklah. tapi nilaiku tidak akan di kurangi, kan?" tanyaku sedikit terkekeh.


Dia berdecih, kemudian tersenyum. Senyumannya seolah mengalihkan separuh duniaku. Kulitnya yang putih pucat, terlihat kontras oleh pantulan sinar bulan.


"boleh aku tau umurmu yang sebenarnya?" tanyaku.


"tiga ribu tahun!" jawabnya.


Mulutku sampai menganga. Menatap pria tampan di sampingku tak berkedip.


"maaf, aku hanya kaget. Kamu lebih tua dari kakenya kakek buyutku. Apakah menyenangkan hidup dengan waktu yang sangat lama?. Kamu bisa menjelajah waktu. Tentunya sangat hafal dengan sejarah-sejarah terdahulu."


sejenak, dia menatapku. Kemudian pandangannya kembali menerawang pada kegelapan. "tidak semenyenangkan seperti apa yang kamu bayangkan. Aku tidak pernah berharap hidup menjadi seorang monster abadi seperti ini."


"lalu, apa yang membuatmu menjadi seperti sekarang ini?" tanyaku.


Michael menunduk, lalu menghela nafas dalam. Pandangannya kembali menerawang ke kaki gunung.


"tiga ribu tahun yang lalu, aku seorang anak biasa berusia dua belas tahun. Hidupku bahagia meskipun sederhana. Orang tuaku sangat mencintaiku. Hingga suatu malam beberapa vampir pemburu datang ke desaku. Mereka memporak porandakan desa dan juga membunuh seluruh penduduk, termasuk kedua orangtuaku. Awalnya aku selamat karena orangtuaku menyembunyikanku di dalam sebuah peti. Namun karena kecerobohanku, yang memilih keluar dari dalam peti karena berfikir keadaan sudah aman karena tak ku dengar lagi keributan. ternyata aku salah. Salah satu vampir pemburu itu masih berada di dalam rumahku. Vampir itu segera menerkamku. Taringnya berhasil merobek leherku. Namun di saat detik-detik terakhir, sebelum darahku benar-benar habis, seseorang tiba-tiba muncul dan menusuk punggung vampir itu dengan sebuah pedang hingga menembus jantung. Seketika vampir itu mati. Dan tubuhku ambruk karena sudah kehabisan terlalu banyak darah. Setelah itu aku tidak ingat apapun. Saat aku kembali membuka mata, aku sudah menjadi vampir. Dan ternyata Luis, pria yang membunuh vampir yang menggigitku, dialah yang telah merubahku. Luis yang juga merupakan seorang vampir, menyelamatkanku dengan cara merubahku menjadi seperti dirinya. Dan betapa tersiksanya aku pada saat itu. Tenggorokanku selalu haus akan darah manusia. Bayangkan saja, bocah dua belas tahun tiba-tiba berubah menjadi predator berdarah dingin. Menjadi pembunuh handal. Hal itu membuatku frustasi dan membuatku berulang kali ingin mengakhiri kehidupan mengerikan ini. Namun, karena Luis adalah vampir yang hanya meminum darah hewan saja, dia juga membantuku untuk terbiasa minum darah hewan juga. Dua tahun berlalu, dan aku sudah terbiasa. Kami tau?. Hidup dalam waktu yang sangat lama itu membosankan. Aku selalu kesepian." tuturnya bercerita panjang lebar.

__ADS_1


Aku merasa prihatin dengan kisahnya. "kenapa kesepian?. Kamu juga bisa memiliki pasangan abadi juga, kan? Cecarku.


"entahlah. Selama ribuan tahun ini belum ada yang bisa menarik perhatianku." jawabnya.


"hmm, ternyata kamu vampir yang pemilih." kekehku.


"oh, ya. Kamu ingat?. aku pernah bertanya padamu tentang seseorang yang aku tabrak....."


"itu aku!" ujar Michael menyerobot ucapanku.


"hah?" pekikku tak percaya. "lalu kenapa waktu itu kamu berbohong?"


"aku faham sifatmu. Dengan mengetahui sesuatu sekecil apapun, kamu akan terus menguliknya. Pastinya kamu akan menyelidiki aku." jawabnya.


"hmmm, begitu. Yaa, kamu benar. Aku tipe orang yang kalau penasaran aku ulik sampai tuntas." ujarku terkekeh. "kenapa tau?"


"tidak sulit untuk menebak itu." jawabnya.


"lalu, saat pertama aku masuk. Kenapa kamu seperti kesakitan dan menutup hidung dan mulutmu. Aku fikir aku bau badan dan membuatmu mual."


"benar saat itu aku sangat menderita. Dua pilihan berkecamuk. Antara memangsamu atau melindungimu. wangi darahmu membuat jiwa buasku yang terdahulu kembali mendominasi. Untungnya aku masih bisa mengendalikan diri. Hingga akhirnya memilih melindungimu. Tanpa kamu sadari, aku selalu mengikutimu, melindungimu dari jarak jauh. Tuturnya.


Penuturannya membuatku speechless. "kenapa kamu memilih melindungiku, padahal kamu punya banyak kesempatan untuk memangsaku?"


"entahlah, aku hanya mengikuti kata hatiku. Dan, kamu membuat jantungku berdetak cepat."

__ADS_1


Sontak, aku menatap Michael yang ternyata juga sedang nenatapku sendu.


__ADS_2