
"Silahkan masuk!" Seru seorang dosen tampan. Aku rasa usia dosen itu masih sangat muda. Mungkin hampir seumuran denganku.
Rahangnya tegas, rambutnya pirang, serta netranya berwarna biru terang. Sesaat aku kehilangan fokus saking tampanya dosen itu.
"Nona?. Ada masalah?. Kenapa masih berdiri di luar?" Cecar dosen tampan itu.
"Em i-iya, maaf pak." Balasku salah tingkah. Segera ku langkahkan kakiku untuk memasuki ruang kelas baruku.
Namun tiba-tiba dosen tampan itu seperti menahan nafas. Kemudian ia tutupi mulut dan hidungnya dengan tangan seraya memejamkan mata sejenak kemudian menundukkan kepalanya.
Ada apa? Apa aku bau badan?. Segera ku ciumi bagian ketiak serta bajuku. Tapi tidak. Aku tidak pernah lupa memakai parfum dan deodorant.
"pak, anda baik-baik saja?" Tanyaku memperhatikan dosen itu.
Beberapa kali dia berdehem. Kemudian menganggukkan kepala. "Saya baik-baik saja. Silahkan perkenalkan diri, dan segara duduk." Ujarnya. Masih terlihat seperti menahan nafas, tapi juga seperti menahan rasa sakit. Ada apa?. Apa dia sakit?. Dia bahkan seperti tidak berani menatapku. Apa ada yang salah denganku?. Tapi apa?.
Aku mengangguk faham dan mulai berbicara memperkenalkan diri. "Hai. Namaku Raina Arabella. Aku baru pindah tadi pagi ke kota ini. Senang bertemu kalian, dan... Semoga kita dapat berteman baik." Tuturku. Dan langsung berjalan menuju tempat duduk yang kosong. Dan itu ada di meja paling belakang.
"Tunggu!" Dosen itu menginterupsi langkahku.
Aku kembali membalikkan badan. "Ya, pak?"
"Kamu obati dulu lukamu di UKS. Luna, tolong antarkan Raina." Ujar sang dosen tampan. Masih menunduk dan menutup seluruh hidung dan mulutnya. Ada apa sebenarnya dengan dosen itu?. Apa dia sakit?. Atau dia tidak suka dengan aroma parfumku?.
"Baik, Michael!" Sahut Luna. Salah satu mahasiswa di kelas baruku. Dia memanggil dosen tadi Michael?. Oh, namanya Michael.
"Terimakasih." Ucapku pada luna setelah berada di dekatku. Kami segera berjalan keluar dari kelas untuk menuju UKS.
"Sama-sama. Hai, namaku Luna. Boleh kita berteman?" Kata Luna seraya mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah.
Ku balas uluran tangannya kami berjabatan. "Tentu!. Namaku Raina."
"Emm, dosen tadi namanya Michael?." Tanyaku malu-malu. Entahlah aku merasa penasaran dengan pria itu. Entah karena dia tampan atau karena aku merasa familiar dengannya. Seperti pernah melihatnya tetapi entah dimana.
"Oh yaa, namanya Michael. Kamu tidak perlu memanggilnya pak. usia kita mungkin hanya berjarak satu atau dua tahun dengannya. Dan dia juga yang meminta para muridnya untuk memanggilnya nama saja." Balas Luna antusias. "Michael sangat tampan, kan?. Di usia nya sekarang sudah menjadi dosen. Selain tampan dia juga hebat." Tutur Luna.
"Emh begitu." Balasku singkat.
Kami sampai di UKS. Luna sendiri yang membantuku mengobati luka di dahiku.
__ADS_1
"Kenapa dahimu sampai terluka, Rai?" Tanyanya sembari fokus membersihkan luka.
"Emm, hanya kecelakaan kecil saat di perjalanan." Jawabku. Jika aku mengatakan yang sebenarnya, mungkin Luna hanya akan menganggapku mengada-ada atau... Gila.
"Ohh, begitu. Lain kali hati-hati." Ucapnya perhatian.
"Hey, kamu harus ikut kami!" Seru Luna bersemangat.
"Kemana?"
"Jam pulang nanti kami akan ke pantai, yaa untuk bersenang-senang. Ikutlah!. Untuk lebih mengenal teman-teman disini."
"Uhm, entahlah. Aku tidak tau" Balasku mengendikkan bahu.
"Oh ayolah, Raina." Bujuknya seraya merangkul tanganku.
"Hmm, baiklah. Aku akan ikut" aku ingin menolak. Tapi rasanya tidak enak. Ini hari pertama kami berteman.
****
"Baiklah, sampai disini pelajaran kita hari ini. Ada yang ingin di tanyakan lagi tentang kardiovaskular?" Tanya Michael.
Dan pada saat Michael berdiri menyamping yang hanya menampilkan sebelah wajahnya, fikiranku seketika berkelana kepada kejadian tadi. Ya, apakah dia yang ku tabrak tadi?.
Ada beberapa murid bertanya tentang kardiovaskuler, tentang pembelajaran hari ini yang di bahas dosen Michael. Aku mengambil jurusan kedokteran. Aku fikir, dengan aku menjadi seorang dokter, aku bisa lebih berguna untuk orang-orang sekitar.
Dan pelajaran pun ditutup. Luna segera menghampiriku antusias. Juga teman-teman yang lainnya. Mereka memperkenalkan diri.
"Tunggu sebentar!. Aku... ada yang belum sempat ku tanyakan pada Michael. Aku akan menyusulnya." Ujarku sembari bangkit dari kursi dan segera berlari mengejar Michael yang baru saja keluar.
"Michael!" Panggilku. Dan yang di panggil segera menoleh.
"Ya?. Ada apa?" Tanya Michael.
"Aku... Ada yang ingin aku tanyakan."
Michael mengangguk. "Katakan!"
"Emm... Apa tadi anda tertabrak oleh mobilku?. Apa anda baik-baik saja?." Cecarku.
__ADS_1
"Kamu salah orang!." Jawabnya cepat. Kemudian dia segera pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Ada perasaan lega jiga memang bukan dia yang ku tabrak. Tapi kesal juga. Sikapnya terlalu dingin. Menyebalkan!.
Sesuai rencana tadi. Kami akan bersenang-senang di pantai. Sebenarnya aku ingin menolak ajakan Luna. Tapi rasanya tidak enak menolaknya.
Dan setelah sampai di pantai, aku hanya duduk sendiri menatap jauh luasnya lautan yang seolah tak bertepi. Menikmati tenggelamnya matahari, deburan ombak, serta hembusan angin yang terus menerpa wajah dan menerbangkan surai coklatku. Tidak berminat sama sekali dengan kegiatan teman-teman yang lainnya. Mereka tengah asyik menari, bernyanyi, bahkan ada beberapa dari mereka yang asyik bercumbu dengan pasangan masing-masing.
Huft!.
Aku berjalan ke arah kumpulan. "Maafkan aku, ibuku menghubungiku tadi. Aku harus segera pulang." Alibiku pada mereka.
"Ahh tidak seru. Kamu bahkan belum bersenang-senang. Hanya duduk melamun dari tadi!" Kata Kenan si pria plontos berkacamata.
"Maafkan aku... Aku hanya belum terbiasa." Kekehku.
"Baiklah Rai. Hati-hati di jalan!. Jangan sampai membuat dahimu terluka lagi. Dan juga jangan sampai menambah penyok di mobilmu itu." Kata Luna terkekeh.
"Yaa, semoga tidak lagi!" Jawabku ikut terkekeh. "Kalau begitu aku pergi. Kalian semua, selamat bersenang-senang!."
Mereka melambaikan tangan ke arahku. Yaa teman-teman baruku cukup baik. Mereka menerimaku dengan cepat. Dan mereka ramah. Hanya saja bersenang-senang ramai-ramai begini bukan tipeku.
****
Sinar matahari benar-benar sudah tak nampak lagi. Jalanan kini benar-benar gelap. Suasana sunyi, sepi. Hanya terdapat suara-suara binatang malam saja. Ku injak lebih dalam lagi pedal gas. Suasana terasa sangat mencekam. Aku merasa ada yang sedang memperhatikanku.
Namun tiba-tiba, mobilku berhenti begitu saja. Entah apa yang terjadi. Dengan sangat terpaksa ku beranikan diri untuk keluar dari mobil.
Ku buka kap mobil dengan cepat. Memeriksa apakah ada kerusakan di dalamnya. Namun ku rasa semua baik-baik saja. Ayahku yang merupakan pemilik bengkel besar sedikit mengajarkanku tentang mobil. Aku segera menutup kembali kap mobil. Perasaanku tidak enak. Seperti ada yang terus mengintaiku.
"Selamat malam nona. Anda perlu bantuan?" Suara bariton seorang pria membuat tubuhku melonjak kaget. Sontak, aku segera menoleh ke arah pria itu.
Darimana datangnya pria itu?. Dia terlihat mengerikan dengan seringaiannya.
"Tidak tuan, terimakasih. Saya akan segera pulang!" Jawabku. Seraya melangkahkan kaki cepat menuju pintu mobil.
Namun, tanpa ku sadari pergerakannya, pria itu tiba-tiba sudah berada di sampingku. Lagi, tubuhku melonjak kaget.
"Ssi-siapa kamu?"
__ADS_1