Darah Incaran

Darah Incaran
Aku Mencintaimu, Michael!.


__ADS_3

Ketiga vampir pemburu itu segera berlalu. Begitu juga kami, Michael segera menggendongku kembali agar lebih cepat meninggalkan area pegunungan. Dia membawaku kembali ke mobilku yang masih berada di jalan.


"kencangkan sabuk pengamanmu!" titahnya sembari membantuku mengenakan sabuk pengaman di kursi depan. Michael segera berjalan memutari mobil dan duduk di bagian kursi kemudi.


Michael mengemudikan mobilku dengan kecepatan tinggi, memecah kegelapan di malam yang penuh ketegangan. Saat ini mungkin aku harus mulai terbiasa. Bahkan harus siap, kapanpun nyawaku akan di ambil paksa oleh para predator immortal.


"apa mereka akan mengetahui yang sebenarnya?. Aku.... Aku takut mereka juga akan menyakiti mommyku. Aku tidak mau itu terjadi." ujarku.


"untuk beberapa hari kedepan kamu akan aman karena efek darah rusa itu akan tetap menyamarkan aroma darah spesial mu itu."


"untuk sementara waktu?" tanyaku memastikan. "itu artinya.. Aku?... Astaga, kenapa hidupku menjadi serumit ini?" ucapku menjambak rambutku sendiri frustasi.


Sebelah tangan Michael terulur ke arahku. Dia usap puncak kepalaku, lalu tangannya turun menggenggam tanganku seolah sedang menyalurkan energi. "tenanglah, aku akan berusaha untuk terus melindungimu." ucapnya tersenyum teduh.


Ku tarik nafas dalam, lalu perlahan menghembuskannya. "apa vampir bisa mati?. Lalu, berapa banyak vampir pemburu itu?"


"ya, bangsa kami bisa mati hanya dengan dua cara." jawabnya sejenak menoleh ke arahku, lalu kembali fokus menatap jalanan. "pertama, dengan mematahkan lehernya sampai kepala terpisah dari tubuh. Cara ini merupakan kematian permanen. Artinya tidak bisa di hidupkan kembali meskipun di beri minum darah spesial sekalipun. Sementara cara yang kedua adalah dengan cara menusuk bagian jantung. Kematian dengan cara ini, vampir bisa kembali hidup dengan meminum darah spesial."


"untuk berapa banyaknya para pemburu itu, aku tidak tau. Yang ku tau, saat terjadi pembantaian di desaku tiga ribu tahun yang lalu, mereka di hukum mati oleh pemerintahan bangsa vampir karena telah membuat keributan secara terang-terangan." sambungnya.


"pemerintahan bangsa vampir? Apa mereka sama sepertimu?" tanyaku lagi menatap wajah pria tampan dari samping.


"ya, mereka sama sepertiku. Hanya saja...." kalimat Michael menggantung. Sejenak dia menatapku nanar.

__ADS_1


"hanya saja apa?"


Menghela nafas dalam, Michael menggigit bibir bawahnya sebelum memberi jawaban. "mereka pun akan mengincar darah spesial untuk memperkuat pertahanan pemerintahan agar mereka bisa lebih unggul dari musuh bebuyutan bangsa white wolf."


Dahiku mengernyit tajam. Mendengar penuturan Michael membuatku semakin overthinking. "white wolf juga mengincar darahku?" tanyaku.


"hmm, yaa mereka juga mengincar darah spesial dengan tujuan yang sama. Memperkuat pertahanan mereka."


Aku tertawa sarkasme. rasanya, sungguh konyol hidupku ini.


"hentikan mobilnya!" pintaku dengan nada tegas.


Sekilas, Michael menoleh ke arahku. Dahinya berkerut heran. "ada apa?" tanyanya. Michael masih melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Tidak mengindahkan permintaanku.


"aku bilang hentikan!" ujarku sedikit berteriak.


tidak sabar, aku tarik tangan Michael hingga stir membanting ke arah kiri. Dia tetap bersikukuh dengan tidak mau menuruti permintaanku. Sementara aku tetap menarik lengan Michael agar segera menghentikan mobil.


"lebih baik, kamu keluar dari mobilku!. Tinggalkan aku dan jangan temui aku ataupun melindungiku." teriakku masih terus berusaha mengambil alih stir.


"ada apa denganmu Raina?. diam di tempatmu, dan jangan bodoh!" sergahnya. Entah dia sengaja atau tidak, sebelah tangannya mendorong tubuhku cukup kuat. Hingga membuat tubuhku terpental ke pintu mobil.


Braakkk

__ADS_1


Nafasku tersengal. Dengan rasa sakit yang menjalar di area punggungku. Seketika Michael menghentikan mobil. Dia segera mendekat ke arahku yang kini tertunduk menahan rasa sakit. Beruntung pintu mobil tidak sampai terbuka. Mungkin Michael tidak sampai mengerahkan seluruh kekuatannya. Jika tidak, mungkin tubuhku sudah terpental jauh keluar.


"Rai... Raina?. Kamu baik-baik saja?" tanyanya nampak merasa bersalah. "maafkan aku... Aku tidak sengaja mendorongmu." tambahnya . Menarik tubuhku masuk kedalam pelukannya.


Saat itu juga tangisku pecah. Rasanya terlalu sesak untuk tetap di tahan. Aku hanya manusia biasa yang di permainkan takdir. Aku tidak cukup kuat untuk bisa berpura-pura kuat.


Tanganku terkepal kuat. Ku pukulkan kepalan tangan ini ke dada bidang Michael. "Kamu pergi saja dari hidupku, Michael!. Aku tidak mau membawa masalah untukmu. Aku tidak mau membawamu dalam bahaya besar. Aku tau kamu kuat, tapi apa daya satu orang melawan begitu banyak musuh?. Aku fikir yang mengincarku hanya para pemburu. Ternyata dari pemerintahan dan bangsa white wolf pun juga mengincarku. Aku mencintaimu, Michael!. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu."


Kata 'mencintai' tiba-tiba saja lolos dari bibirku. Ya, ada perasaan takut jika Michael akan terluka atau mungkin lebih parah dari itu. Aku tidak mau membuatnya menanggung kesulitan karena bersamaku. Saat ini rasanya keinginan berpisah lebih mendominasi. Aku tidak ingin membawa Michael ke dalam masalah besar yang akan aku hadapi. Biarlah aku menjadi santapan dari salah satu pemburu darah sialan ini.


Tidak menjawab, Michael hanya semakin mengeratkan pelukannya. Dia bahkan mendaratkan kecupan di puncak kepalaku.


"silahkan menangis dan mengusirku sepuasmu!. Tapi aku tidak akan pernah goyah. Aku akan terus mencintaimu, menemanimu, juga melindungimu. Mulai dari beberapa jam yang lalu, dari saat pertama kita bertemu aku telah memutuskan untuk menjadikanmu tujuan hidupku. Kamu adalah hidupku. Dimanapun kamu berada, aku akan selalu ada di sampingmu!" tutur Michael penuh keyakinan.


"kita mungkin tidak akan pernah bahagia. Kita...."


"tau apa kamu dengan masa depan?" sergah Michael. "Hidup dengan waktu yang singkat bukan berarti tidak bisa bahagia. Lihat aku!. Apa menurutmu aku bahagia dengan kehidupan abadi ini?. Jawabannya adalah tidak. Selama ribuan tahun ini hidupku selalu hampa, tak berwarna. Hidupku baru berwarna saat kamu hadir, Raina. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu barang sedikitpun. Jika kamu mati, aku pun akan mati!"


aku mendongak, menatap wajah tampan dengan rahang tegas yang membuat pahatan tuhan ini terlihat sangat sempurna. Michael menunduk, menatap lekat netraku. Lalu tangannya mengusap pipiku yang basah.


"aku akan selalu ada bersamamu. Jangan menyerah pada takdir." ucapnya lagi. Mengecup bibirku singkat.


Ponselku berdering. layar menampilkan panggilan masuk dari mommy. dua puluh empat panggilan tak terjawab. Dan itu semua panggilan dari mommy. "oh, astaga. Ini sudah pukul dua dini hari. mommy pasti sangat khawatir." pekikku segera menggeser ikon warna hijau.

__ADS_1


Begitu panggilan tersambung, mommy segera memberondongku dengan banyak pertanyaan. [Raina, kamu dimana? Sayang, kamu baik-baik saja?. Kenapa baru menjawab? Kamu dimana sekarang?]. Ku dengar mommy terisak. Nada bicaranya bergetar.


"maafkan aku, mom. Aku baik-baik saja. Aku sedang dalam perjalanan pulang.


__ADS_2