
"katakan! Apa pendapatmu jika monster sepertiku mencintaimu?" tanyanya menatapku lekat. Kami saling bersirobok tatap.
Jawaban seperti apa yang harus ku sampaikan padanya?. Entahlah, aku sendiri merasa nyaman saat berada di dekatnya. Terlebih, dia melindungiku. Membuatku merasa aman.
"aku tidak tau. Yang ku tau, setiap makhluk memiliki sifat mencintai. Tapi, apa alasanmu mencintaiku?. Apa karena darahku?"
"tidak!. Hakmu menilaiku seperti apa. entahlah, kamu seperti morfin untukku. Mengenyahkan rasa sakit, melenyapkan rasa kesepian yang selalu mendominasi hidupku. Aku tidak ingin kamu terluka, aku tidak ingin kamu sedih dan menderita. Aku tidak akan memaksa dan mengemis cintamu. Karena , tentu aku sangat sadar, jika kita memang berbeda. Jika kamu menolak, aku akan tetap menjalankan keinginanku untuk terus melindungimu dari jarak jauh." tuturnya. Michael semakin mengikis jarak di antara kami tanpa memutus interaksi mata.
nafasku memburu. Antara takut, tapi juga menikmati moment ini. Mungkin benar, aku seperti seekor domba bodoh yang menyerahkan nyawaku sendiri pada seekor srigala buas.
"jangan jauhi aku!" jawabku cepat. "cinta tidak akan pernah memandang perbedaan. Aku tidak peduli jika kita berbeda. Aku merasa aman dan nyaman berada di dekatmu."
Wajahku mendekat dengan mata rapat terpejam. Mengikis jarak antara wajahku dan wajah Michael. Hingga di detik berikutnya, bibirku dan bibir dingin milik vampir tiga ribu tahun itu bersatu. Saling menyecap dan menyesap satu sama lain. Menikmati sensasi yang berbeda. Membuat tubuhku meremang. Aktivitas yang sulit ku temukan ujung untuk berhenti. Seolah akal terhipnotis oleh sesapan yang membawa candu.
Namun di detik berikutnya, Michael menarik bibirnya menjauh cepat. Ku tatap dia sendu. Dan yang ku dapati dari ekspresinya, dia tampak gusar dengan mata terpejam dan kepala yang bergerak-gerak. Apa dia mendengar sesuatu?.
"ada apa Michael?" tanyaku.
Tak menjawab pertanyaanku, Michael tiba-tiba melompat turun dari atas batu meninggalkanku sendiri.
"tunggu sebentar, jangan kemana-mana, aku akan segera kembali." titahnya. Dan tanpa menunggu jawaban dariku, Michael segera melesat pergi dan hilang di telan kegelapan.
Apa dia akan meninggalkanku disini sendiri?. Batinku terus bertanya. Kemana dia pergi, dan kenapa tiba-tiba?.
Sejauh mata memandang, hanya kegelapan yang ku temukan. aku mendongak, menatap nanar rembulan dengan sinarnya. Aku ingin menangis sepuasnya. Tapi ku fikir lagi, apa gunanya?. Meratapi takdir yang mungkin sukar untuk di rubah. Ya, takdirku ternyata hanya untuk di buru para makhluk yang semula ku anggap khayalan dalam seri film.
Lalu bagaimana dengan masa depanku? Apa aku akan memiliki masa depan?. Sementara kini tak ku lihat lagi harapan nyata, tertelan takdir yang ternyata membawa kegelapan. Saat ini aku hanya seorang buruan. Yang kapanpun mungkin akan segera mati terbunuh karena darah sialan yang mengalir di tubuhku.
Ku benamkan wajah di antara kedua lutut. Ku lingkarkan tangan seakan memeluk diri erat. Hingga sebuah suara memekakan telinga membuatku siaga.
__ADS_1
Apakah itu suara si pemburu?. Apakah hidupku akan selesai saat ini juga?. Pertanyaan-pertanyaan itu terus melintas dalam fikiranku.
Netraku terus menjelajah mencari tau asal suara. Namun tak ku temukan apapun selain kegelapan. Tubuhku bergetar dan nafas tersengal.
Hingga sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundakku hingga membuatku terlonjak kaget. Dan segera menoleh ke belakang.
"ini aku" suara bariton yang membuatku dapat bernafas lega. Ya, dia adalah Michael.
Michael datang dengan membawa sesuatu di tangannya. Sebuah cairan yang yang dia bawa menggunakan daun lebar.
"minumlah ini!" ujarnya seraya mendekatkan cairan itu padaku.
Seketika bau amis menyerang indera penciumanku. Lantas, segera ku tutup hidung dengan ke dua tanganku. bahkan aroma amis itu berhasil membuat perutku bergejolak.
"a-apa ini? Apa ini darah?" cecarku.
Ragu, tanganku terulur untuk meraih daun berisi darah itu. perlahan ku dekatkan cairan pekat itu ke mulutku. Namun, di detik berikutnya,...
Hueeekk
Seluruh isi dalam perutku keluar karena aroma amis yang begitu menyengat. Cairan itu hampir terlepas dan tumpah, namun Michael segera meraihnya. Dia menyesap cairan amis itu. Dan tiba-tiba, dia tarik tengkukku mendekat ke wajahnya. Bibir kami kembali bersatu.
Glukk
Dalam sekali tegukan, cairan amis itu telah berhasil melewati tenggorokanku dengan bantuan bibir Michael.
Michael kembali menarik bibirnya menjauh. "kita pulang sekarang!" ujar Michael. Aku mengangguk , mengiyakan. Kemudian, Michael mengangkat tubuhku ala bridal style untuk turun dari atas batu besar.
Namun saat kaki kami hendak melangkah beriringan, tiga orang pria menghadang jalan kami.
__ADS_1
Michael segera menarikku ke belakang tubuhnya. Dia berdiri di depanku berperan sebagai tameng untukku. Dia menggeram. Menatap tajam pada ketiga pria itu.
Salah satu pria itu bereaksi sama. Menggeram dan menatap Michael tajam.
"tenanglah kawan, kami hanya lewat di sini. Sedang apa kalian disini?. Salah satu pria berambut ikal maju, mencairkan suasana yang tegang antara Michael dan salah satu temannya.
Michael mulai bersikap tenang. "kami hanya sedang berburu makanan malam" jawab Michael.
pria itu mengangguk. "oh, begitu rupanya. Silahkan lanjutkan perburuan kalian. Kami pun akan segera melanjutkan perburuan kami." ujar pria berambut ikal.
"aneh, tadi aku mencium aromanya sampai sini. Kenapa sekarang tiba-tiba hilang?" gumam pria yang bertubuh lebih besar dari kedua temannya.
Tanganku gemetar menggenggam erat ujung kaos Michael. Aku tau, ketiga pria itu adalah pemburu yang mengincarku. Beruntung, Michael telah membuat keputusan yang tepat dengan membuatku meminum darah rusa. Dan ucapannya tadi benar-benar terbukti sekarang. Para pemburu itu tidak dapat mencium aroma darahku.
"kami akan pergi sekarang juga untuk berburu di tempat lain." ujar Michael kemudian. Dia menggenggam tanganku erat.
"tentu saja, silahkan!" sahut si pria ikal bergeser memberi kami jalan.
Michael segera menarik tanganku, dan aku bergegas berjalan mengikuti langkahnya.
"tunggu!" suara bariton menginterupsi langkah kami. "wanita ini tidak sama sepertimu?"
"ya, kau benar!. Dia hanya wanita biasa yang aku cintai. Aku sedang mengajarkannya berburu. Karena suatu saat aku ingin mengubahnya menjadi sepertiku!" jawab Michael.
"ahhh, tidakkah kau ingin menikmati darah segarnya?. Alih-alih cinta, kenapa tidak kau puaskan saja dahagamu?" pria yang sempat beradu tatapan tajam itu kembali bersuara.
Michael kembali menarikku ke belakang. Dan dia menatap tajam pria itu. "dia milikku!" desisnya penuh penekanan.
"oh ayolah Mark, jangan ganggu mereka. Lebih baik kita lanjutkan berburu." ucap pria rambut ikal menengahi.
__ADS_1