
"Langit, lihatlah. Malaikat maut sedang mengikuti orang itu."
Airi menurunkan telunjuknya, ia menyesali perkataan yang keluar dari mulutnya barusan. Bagaimana kalau orang lain yang mendengar? Lalu menganggapnya gila seperti teman di Sekolahnya? Ia harus merahasiakan hal ini serapat mungkin. Gadis itu menyebutnya malaikat maut. Setiap kali benda hitam itu muncul, ia akan mengikuti setiap orang yang hampir mati atau seseorang yang menuju akhir hidupnya.
Seorang pria paruh baya bertubuh kurus. Memakai kemeja lengan pendek berwarna biru muda, serta celana jeans yang longgar dan sandal jepit berwarna merah. Ia tengah bersepeda dengan santainya di sepanjang trotoar. Gadis itu melihat sesuatu di belakangnya. Hitam dan besar.
"Apa kita bisa berbuat sesuatu?" Langit mendongak, ia menatap Airi dengan nanar. Sepanjang yang ia tahu, Airi hanya menunjuk seseorang yang hampir meninggal. Tidak pernah sekalipun berusaha mencegah kematian itu datang lebih cepat.
"Tidak langit. Waktunya dia hidup sudah habis," jawab Airi. Gadis kecil itu menunduk, tubuhnya bergetar, ia tidak ingin melihat benda yang lebih mirip kepulan asap berwarna hitam dan besar itu terlalu lama. Aura yang ditimbulkan sangat mengerikan. Seperti penyesalan dan kekecewaan yang mendalam. Entah apa yang dilakukan orang itu semasa hidupnya.
Langit mengangguk. "Hmm. Sayang sekali, ya." Manik matanya bergulir, mengikuti kemana perginya orang tadi.
BOM!!
Sebuah ledakan besar terjadi. Mobil sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi menabrak pengendara sepeda yang hendak menyebrang. Mobil itu oleng, kehilangan kendali. Sehingga, truk bermuatan batu menabraknya dan terguling. Kendaraan lain ikut berdecit, berhenti secara mendadak sebelum truk menimpanya.
Panas matahari membakar jalan, asap keluar dari kap mobil yang terbuka. Suasana semakin gaduh dengan jeritan dan lolongan orang yang meminta pertolongan.
"Airi awas!" Langit berteriak.
Pria kecil itu menarik tangan airi untuk berlari menjauhi serpihan-serpihan muatan mobil yang menyebar cukup jauh. Mereka sedang berdiri di depan toko baju saat ini. "Huhh. Hampir saja."
Siang hari yang terik, para petugas kepolisian mengamankan lokasi. Suara sirine dan ambulans saling bersahutan. Korban selamat dan meninggal diamankan, mereka dibawa menuju Rumah Sakit. Airi dapat melihat orang tadi. Jasadnya sudah pergi, tetapi ruhnya masih berada disini. Dengan darah yang masih membekas, ia diselimuti kepulan asap yang semakin membesar.
__ADS_1
"Kalo kamu bisa menyelamatkan mereka. Pasti kamu udah jadi super hero, Ri."
Celetukan Langit membuat Airi tertegun. Itu sebuah kemustahilan. Tidak ada seorangpun yang bisa mengubah takdir, apalagi menghindar dari takdir tersebut. Sedangkan Langit, ia terkekeh dengan idenya yang cemerlang.
Langit menatap Airi lagi, gadis kecil itu hanya diam saja. Ia tidak berbicara sepatah katapun. Setiap kali hal ini terjadi, Airi merasa sial dengan hidupnya. Tidak seharusnya ia mengetahui takdir seseorang. Gadis itu menggertakan giginya dan mengepal tangannya dengan kuat.
"Aku pernah coba selamatin kucing kamu, kan. Tapi tetep aja mustahil," ucapnya. Setelah diam cukup lama.
Langit nampak berpikir, ia mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Saat Airi bilang kucingnya akan berlari dan terlindas mobil. Seharian mereka mengurung kucing tersebut di dalam rumah. Namun, takdir tetaplah takdir hanya kuasa Tuhan yang dapat mencegahnya. Sore hari saat Airi hendak pulang. Kucing tersebut ikut keluar dan berlari. Pada akhirnya apa yang telah Airi katakan, akan menjadi kenyataan.
"Iya, sih. Pulang, yuk."
Keduanya pergi meninggalkan lokasi kejadian, menuju gang kecil sepulangnya Sekolah Dasar. Sehari-hari mereka pulang melewati jalan ini. Bukan sekali dua kali hal itu terjadi. Airi sering melihat kepulan asap itu bolak-balik melintasi jalanan ini.
Tidak jarang Airi membuat keributan di Sekolah. Ia akan berkata tentang kematian guru, atau kejadian buruk yang akan dialami teman sekelasnya. Setidaknya, Airi sudah mengingatkan. Terjadi atau tidak, hanya Tuhan yang menentukan.
Saat keduanya saling diam, Langit melihat sesuatu di tubuh Airi. Ia menghentikan langkahnya. "Berhenti Airi, lihat tanganmu. Kenapa berdarah lagi?" tanya Langit. Anak itu menatap tajam wajah Airi yang mungil. Tampak pedih dan polos.
Airi ikut berhenti, ia mengangkat tangannya. Terdapat luka basah di pergelangan tangan sebelah kirinya. "Dia datang lagi. Katanya aku harus ikut," jawab Airi berterus terang. Hanya kepada Langit ia mampu bercerita.
Langit melihat luka Airi lebih dekat, ia memegangnya. Tetapi gadis itu tidak menunjukan reaksi apapun."Terus kamu mau?"
Airi mengedikkan bahunya. Lalu menggeleng. Ia juga tidak mengerti dengan makhluk yang sering mendatanginya. Airi tahu itu nyata. Tapi semua orang membantahnya. Mereka bilang Airi yang melakukannya atas kemauannya sendiri.
__ADS_1
"Jangan dengarkan dia. Kamu tahu, kan kalau dia pembohong." Jujur saja Langit merasa khawatir ketika Airi sendirian di rumah. Ia takut mendapati luka baru di tubuh gadis itu. Kalau bukan luka yang disengaja, pasti memar kebiru-biruan yang Airi sendiri tidak tahu asalnya dari mana.
"Tapi suara itu bilang, potong tanganmu! potong tanganmu!"
Langit menghela napas, ia mengusap poni Airi, lalu menempelkan tangannya di pipi gadis itu. "Sudah ya, jangan didengar lagi."
Airi mengangguk mantap. Mereka melanjutkan perjalanannya lagi. Sejak pertama kali mereka berkenalan dan berteman, Langit berjanji akan melindungi Airi. Ia akan menyelamatkan Airi dari tindakan di luar kesadaran gadis itu. Airi sudah seperti keluarganya, Airi seperti adiknya. Dan Airi membutuhkan seseorang seperti Langit, yang akan melindunginya sampai kapanpun.
Begitu juga dengan Langit. Sebisa mungkin, Airi akan menjauhkan pria itu dari kejadian buruk yang bisa membahayakan keselamatannya. Ia akan berjanji demi seseorang yang selalu ada untuknya. Ia berjanji dengan hatinya yang tulus.
Masih di perjalanan, di antara gang-gang sempit Ibu Kota Airi naik ke atas benteng selokan dan merentangkan kedua tangannya. Tangan sebelah kiri gadis itu di pegang Langit. Takut saja jika tiba-tiba keseimbangannya hilang.
"Langit tahu tidak, apa yang buat Airi nggak mau ikut sama mereka?" tanya Airi dengan suara yang sengaja ia lembutkan.
Langit berpikir sejenak. "Apa emang?"
Gadis itu loncat. Hal ini membuat Langit melotot. "Karna aku punya kamu," celetuknya sambil cengengesan. "Airi masih mau main sama, Langit."
Langit tertegun, ia dapat melihat ketulusan Airi. "Langit juga nggak mau jauh-jauh sama, Airi. Nanti Langit temennya sama siapa?"
"Yaudah, kalo gitu ayok janji jangan jauh-jauh. Janji, ya." Airi memberikan jari kelingkingnya. Lalu Langit menerimanya.
"Oke janji."
__ADS_1