
Matahari beranjak tinggi menuju ufuk peraduan. Awan-awan tebal menutupi sang surya, sehingga sinarnya tidak terlalu terang. Semilir angin menerbangkan bunga-bunga tulip di pekarangan rumah. Puncuk edelweiss saling beradu dan menyatu. Begitu juga dengan kendaraan yang berlalu-lalang, aktivitas berkendara tidak berhenti meskipun waktu menunjukan pukul lima sore.
Perumahan Graha Persada tampak sepi seperti biasanya, hanya segelintir orang yang terlihat duduk untuk bersantai dan minum teh di depan rumah. Ada juga yang tengah menyapukan halaman dan merapihkan bunga-bunga. Burung-burung gereja dan burung dalam sangkar saling bersahutan, lolongan anjing milik penghuni meramaikan sore hari yang sepi ini.
Airi dan Langit sampai di depan gerbang perumahan. Dengan tubuh yang lunglai, mereka berjalan tidak teratur. Lelah dan putus asa sedang mereka rasakan saat ini. Selain perutnya yang belum terisi, kejadian tadi membuat nyalinya menciut. Seseorang bisa saja menyalahkan mereka atas kejadian tersebut.
Tidak butuh waktu lama Airi sampai di depan rumahnya. Bangunan sederhana bercat putih, serta ornamen di setiap pilarnya membuat rumah ini terlihat mewah dari luar. Di tambah dengan tumbuh-tumbuhan hijau yang merambat dan bunga-bunga berwarna-warni membuat imunitas tubuh keduanya kembali membaik. Jarak dari pagar rumah ke teras tidak terlalu jauh. Dengan tubuh yang lemas Langit berbaring di teras depan rumah Airi.
Langit senja menyorot sendu, menyinari kedua insan yang duduk membeku. Badan keduanya sama-sama lengket, bau tidak sedap mulai tercium. Tak ada yang tengah mereka lakukan. Hanya duduk termenung dan menatap kosong ke arah depan
"Ternyata jadi super hero itu nggak mudah ya, Ri." Langit membuka percakapan. Ia beranjak duduk.
Airi masih melamun, ia mendengar perkataan Langit. "Iya. Bukannya dianggap pahlawan, malah dianggap nggak waras," ucapnya melirik Langit dengan ekor mata.
Anak itu menghela napas.
"Tapi kamu harus optimis, nyelamatin hidup orang udah jadi manfaat dari kelebihan kamu," ujarnya, seraya meniup-niup baju oblong yang ia pakai.
Airi termenung, ia memeluk lututnya. Dan menempelkan dagu di antara kedua lutut tersebut.
"Aku lebih nganggap ini kutukan, sih." Jawaban Airi membuat Langit menghentikan aktivitasnya. Ia menatap gadis tersebut.
"Gitu ya?"
Airi mengangguk dan berdeham.
"Jangan takut ya, Ri. Ada aku," celetuknya. Langit terkekeh.
Airi tertegun. Ia diam sejenak, dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Justru itu. Aku takut liat sesuatu dalam diri kamu."
Langit menjawel pipi Airi. Ia berbicara dengan bibir yang maju beberapa centi. "Tenang chabby, selagi langit masih hidup, tidak akan terjadi sesuatu sama Airi. Dan begitu pun sebaliknya, selagi ada Airi di sampingku, tidak akan terjadi sesuatu sama aku. bener, kan?"
Gadis itu terperangah ia menatap Langit. Hanya seorang anak yang polos dengan rasa peduli yang besar. Bagaimana bisa Airi mengecewakan Langit? Jika dari matanya saja ia merasakan ketulusan.
Akhirnya Airi tersenyum, kemudian menggangguk mengiyakan.
"Langittt. Pulang, Nak." Suara teriakan terdengar.
Itu Nenek Maria, orang yang telah merawat Langit sejak kecil. Langit mempunyai orangtua, tapi dia tidak pernah mau membicarakan keluarganya. Atau sekadar, menjawab rasa penasaran Airi. Nenek Maria sudah tinggal disini sebelum Airi datang. Rumah mereka hanya terpaut satu rumah di sebelah kanan.
"Iya Nek!" sahutnya dengan suara yang tinggi. "Aku pulang dulu."
Langit berlalu. Ia telah meninggalkan Airi dengan perasaan tidak menentu. Selain ketakutan, Airi juga kesepian. Gadis itu memeluk lututnya lagi, ia menahan suara perutnya yang semakin ribut.
__ADS_1
Kapan terakhir kali ia makan nasi?
Airi menghela napas. Ia mengusap perutnya dengan lembut. Gadis itu bangkit. Menatap ke kanan dan kiri, lalu membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci. Hanya terdapat ruangan gelap dengan pelaratan yang banyak. Rumah ini kosong. Bahkan selalu kosong setiap harinya. Hanya Lemari dan jam dinding yang mampu menunjukan adanya tanda-tanda kehidupan. Selebihnya tidak ada kesenangan, hanya tersisa kehampaan dan kesedihan.
Airi memiliki orangtua, tapi mereka sibuk mengejar dunia. Sampai-sampai tega melupakan sosok gadis kecil yang membutuhkan perhatian. Tidak jarang Airi dititipkan pada Nenek Langit atau pada rumah tetangga yang mau menerimanya. Airi tidak mau sendirian. Oleh karena itu, ia dititipkan pada seseorang.
Sejujurnya dengan bekerja hampir dua puluh empat jam, Airi tidak mengerti mereka kerja untuk apa dan untuk siapa. Airi kecil tahu, mereka bukan bekerja untuknya melainkan untuk kesenangannya masing-masing. Airi tidak membutuhkan uang, dia lebih membutuhkan kasih sayang. Airi tidak butuh mainan baru atau buku-buku cerita, ia butuh orang tuanya ada, bukan butuh barang-barang untuk menghiburnya.
"Pergi dari sini. Aku tidak mau berbicara dengan kalian!" usirnya. Ia berkata pada udara yang sunyi di rumah ini.
Tidak, dia tidak benar-benar berbicara sendiri. Ada seseorang, bahkan banyak orang yang menemaninya di kegelapan. "Pergi kalian! jangan temui aku!"
Airi mundur beberapa langkah. Ia menabrak pintu dan memegang kenop pintu dengan erat. "Aku tidak mau ikut dengan kalian!!"
"Aaaaakhh pergi! aku tidak mau mati!!" Airi menjerit. Bayang-bayang hitam itu mendekatinya dan lenyap ketika Airi menangis.
"Mamaaaa!!"
Tubuhnya menggigil, bibirnya bergetar. Dan jantungnya berdegup sangat kencang. Ia berlari secepat mungkin menuju kamar. Setidaknya dengan berada disini ia menjadi sedikit lebih tenang. Ada seseorang yang selalu menemaninya dan mengajaknya bicara.
Dengan cekatan Airi menutup pintu kamar.
"Ada apa Airi?"
"Sudahlah jangan takut."
"Kemari"
"Temui Aku."
Airi melangkah menuju cermin. "Bagus."
"Apa kamu takut?"
"Tidak Airi, kamu tidak ditakdirkan untuk menjadi pengecut."
"Kemana orangtuamu?"
"Mereka tidak ada?"
"Sebenarnya, apa yang mereka cari dari pekerjaan konyol itu?"
"Sehingga mereka mengabaikan mu?"
"Tidak apa-apa Airi."
__ADS_1
"Kemari lah ikut denganku."
"Kamu akan merasa senang."
Airi menggeleng. "TIDAK!"
"Kemari lah Airi, kamu juga akan mati. Kenapa tidak mempercepatnya saja sekarang?"
"TIDAKK!!!" Ia berteriak pada cermin. Yang hanya memantulkan tubuhnya sendiri.
"Ayolah, tinggalkan orang-orang pengecut itu."
Air mata menetes dari pelupuk matanya yang panas, bibirnya bergetar. Dan kakinya lemas. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku nggak mau!"
"Tidak ada yang menyayangimu."
"Mereka semua membecinmu."
"Orangtuamu menyesal telah melahirkanmu."
"Mereka tidak ingin memiliki anak sepertimu."
"TIDAK!!"
Tubuhnya semakin dingin dan menggigil, Airi memegang telinganya dan berjongkok seorang diri. Suara itu tidak akan berhenti walau ia menangis sekeras apapun.
"Ayo Airi ikutlah bersamaku. kita akan bersenang-senang."
"TIDAKKKK!!!!"
Airi menjerit lagi, ia memukul-mukul kepalanya. Dengan setengah sadar, ia masih mampu bertahan.
"Airi?"
Langit dikagetkan dengan kondisi Airi saat ini. Gadis itu menunduk, memegang dan memukul-mukul telinganya. Ia terlihat lemas dan tidak berdaya. Dengan segera Langit menghampirinya. Lalu mendekap Airi kedalam pelukannya.
"Langit. Aku nggak mau mati," rintihnya dengan suara yang tercekat karena air mata.
Langit mengeratkan pelukannya, setidaknya agar tubuh Airi berhenti menggigil. Ia mengusap rambut Airi dan merapihkannya. "Aku disini. Tenang, ya." Ketika Airi seperti ini bukan cuma gadis itu yang terluka tetapi Langit juga. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatannya.
"Takuttt!! "
"Iya iya aku paham. Nggak papa. Aku disini."
"Jangan di dengar lagi, ya. Aku tidak akan meninggalkanmu."
__ADS_1