DARI LANGIT

DARI LANGIT
MEMORI


__ADS_3

Sepanjang jalan Langit bersenandung bersama radio butut yang ia putar paksa agar bersuara. Terdengar suara kresek kresek setiap kali mobil itu berhenti di lampu merah. Stasiun Hall lumayan jauh dari rumahnya. Bisa memakan waktu hampir setengah jam, dan mereka harus sampai di Garut pukul sepuluh.


Bukan lautan hanya kolam susu


Kail dan jala cukup menghidupi mu


Tiada badai tiada topan kau temui


Ikan dan udang menghampiri dirimu


Hampir setiap bulan ia harus pergi keluar kota. 


Walaupun demikian, pekerjaan yang sedang ia jalani bukan sekadar pekerjaan semata. Tetapi juga hobi, dan Langit senang melakukannya. Rasa lelah dan putus asa sering kali menghantam. Tetapi Langit adalah Langit, bagaimanapun keadaannya ia akan memaksakan tubuhnya untuk orang-orang yang dia sayangi. Lintang adalah anugrah dan dia harus menjaga anugrah Tuhan tersebut.


Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu memutar manik matanya, ia mengamati setiap sudut mobil warisan keluarganya. Walaupun mobil tua dan jadul tidak buruk untuk di pakai bekerja. Bibirnya mengatup, ia mengusap dashboard mobil. Terdapat banyak debu dan karat yang mengumpul. Langit menghela napas, ia akan mengeluarkan suara baritonnya.


"TAHUN DEPAN GANTI MOBIL!!!"


Matahari pagi bersinar cerah, menyorot masuk menembus kaca. Menyinari kap depan mobil yang pengap. Radio butut bernyanyi, mengalunkan lagu koesploes berjudul Kolam Susu. Jalanan kota Bandung selalu ramai dengan kuda dan bis kecil, serta angkutan umum berwarna cream dan hijau.


Langit selalu berimajinasi tentang jalan-jalan dengan motor saat malam hari. Entah itu sendiri atau bersama keluarganya. Mampir ke tempat jajanan, lalu pulang membawa martabak dan gorengan. Ataupun ikut kompoi bersama rekan kerjanya di Pikiran Rakyat Bandung. Ah, langit berjanji akan beli Honda Gelatik suatu hari nanti.


Khayalan tentang motor mengingatkan kejadian yang ia alami bersama Airi dulu, saat mereka nekat menaiki motor Papanya Langit. Saat itu belum banyak pengguna mobil. Sehingga, jalanan lebih leluasa untuk anak-anak lalui. Langit sangat penasaran dengan motor Papanya yang bersuara bising dan berasap tebal.


Dengan mental baja dan gaya sok edgy Langit menjemput Airi di rumahnya. Mereka berumur dua belas  tahun saat itu.


"Ri, main yuk."


"Ri!!"


Airi menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Ia mengintip Langit dan terperangah saat anak itu mengendari motor yang cukup tinggi dengan usianya.


"Iya?" Airi mengulum bibirnya. "Aku baru tahu kamu bisa bawa motor."


Sejujurnya ia malas melihat ekspresi Langit ketika seseorang memujinya. 


Anak itu nyengir kuda. Lalu jemarinya memainkan gas motor sehingga suara knalpotnya berdenging. "Bisalah. Ayok." Ia mengisyaratkan kepalanya untuk menyuruh Airi duduk.


"Kemana?" Airi menjawab malas.


"Kemana aja yang penting naik dulu."


Gadis itu mengangguk pasrah. "Hmm. Oke."


Ia naik ke atas benda bersuara nyaring dengan terpaksa. Jujur saja Airi ogah keluar siang bolong seperti ini. Tetapi dengan cekatan Langit memutar kuncinya lalu menarik gas dan motorpun menyala. Berlalu pergi menjauhi kediaman Airi. 


Di perjalanan, Langit terus saja tertawa. Ia terhibur dengan asap yang mengepul di belakang mereka. Anak itu bisa melihatnya dari kaca spion. Serta bau tak sedap yang di hasilkan tidak bisa di jelaskan baunya seperti apa. Terasa harum dan bau yang saling menimpali.

__ADS_1


Dengan terpaksa Airi melingkarkan tangannya di perut Langit. Ia tidak ingin terjungkal atau mati konyol di sini. Langit tidak menjalankan motornya di tempat bagus. Ia menerjang beberapa lubang dan polisi tidur. 


Langit sialan! ia harus belajar mengendarai motor dengan lembut. 


"Langitttt berhentiii. Aku muall!"


"Langitt aku mau muntahh!!"


Bukannya berhenti Langit malah menambah kecepatannya. Ia juga tertawa melihat Airi tersiksa.


"Bodo amat aku muntah disini."


"Ehhh!!"


Akhirnya ia menghentikan motornya. Di tempat yang tidak terlalu ramai. Hanya terlihat rumah susun kumuh yang mereka saja tidak tahu pasti dimana lokasi tempat ini. Langit mematikan mesin motornya. Ia menyuruh Airi turun dan muntah di sini saja.


"Huek."


"Huek."


"Ohok ohok."


"Udah?"


"Nggak keluar."


Airi mengalihkan pandangannya ke tempat yang Langit tunjuk dengan bibir.


"Mereka bukan mau tinggal disana, tapi emang kepaksa. Rumahnya di gusur sepihak tanpa ada persetujuan yang jelas," tutur Airi. Demikianlah berita yang sering ia lihat di tv. Banyak orang menangis karena kehilangan tempat tinggal dan tempat usaha. Sebagian lagi tengah menjalankan tugas dan diharuskan untuk mengabdi pada aturan.


Langit mengangguk.


"Tapi kayaknya seru, sih. Rumahnya jadi deketan kaya apartemen." Ia nyengir, memamerkan deretan giginya yang kecil.


"Iya, sih." Airi menyetujui.


GUK GUK GUK


Anjing hitam berbadan besar, dengan ekor yang melambai panjang dan deretan gigi yang tajam. Serta air liur yang berjatuhan tengah berlari menuju tempat anak-anak itu berdiri.


"Anjinggg!!!"


"Lariiii!!!!"


"Aaaa tolonggg!!"


Keduanya berlari tanpa menghiraukan arah, mereka menuju semak belukar di samping rumah susun tersebut.

__ADS_1


GUK GUK GUK


"Ri. Lari terus, Ri."


Airi berlari mengikuti Langit dari belakang.


"Kemana? Nggak tahu jalan."


Dengan napas tercekat serta dada naik turun, Langit melotot. Ia menghentikan langkahnya.


"Motor? Motor Ayah. Ri, ayok balik lagi."


"Hah? Nggak. Sembunyi dulu cepet."


Bukan hanya keselamatannya yang ia khawatirkan, tetapi juga keselamatan motor Papanya. Zaman sekarang modus pencopetan beragam jenisnya. Bisa saja dengan tipu daya seperti ini ia di rampok. Langit melotot laggi, ia membasuh peluh di keningnya. Papanya lebih galak dari pada anjing ini.


"Cape banget tolonggg."


"Langit aku nggak kuat sumpah. Hah hah."


Langit menghentikan gerakannya, lalu menatap Airi yang tengah berlari dengan susah payah.


"Airiiiii di belakang kamu!!"


"Aaakhhhh." 


Gubrak. 


Airi pingsan.


Langit membulatkan bibirnya. Ia panik bukan main. "Airiiiii." Anak itu berlari dengan cepat, mencari sebatang kayu kemudian melemparnya ke semak-semak.


"Pergi sono anjing!"


"Ri? Bangun, Ri."


"Ri bangun. Nanti aku di marahin orangtua kamu."


"Ri?"


Langit menggelengkan kepala, lalu memijat pangkal hidungnya. Begitu banyak memori yang ia ingat bersama Airi. Setiap kejadian yang ia lalui sekarang, selalu mengingatkan Langit pada kejadian di masa lalunya. 


Airi adalah kenangan, sampai kapanpun akan abadi dalam ingatan.


Perjalanan menuju stasiun Hall tak terasa sudah terlewatkan. Akhirnya ia sampai. Dan Langit memarkirkan mobilnya dengan rapih, berjejer bersama mobil-mobil bagus lainnya. Terkadang ia minder, tetapi selalu dikalahkan dengan persepsi bahwa mobilnya adalah antik.


Langit berjalan dengan langkah yang panjang dan sedikit berlari. Ia tidak ingin rekan kerjanya dibuat kecewa karena kedatangannya yang lambat. Dia seorang jurnalis dari Jogja. Namanya cukup terkenal di kalangan penulis biografi. Hasan memang hebat dalam menelisik. Dia juga pandai mengolah kata-kata menjadi bentuk narasi yang sempurna.

__ADS_1


__ADS_2