DARI LANGIT

DARI LANGIT
MISI PENYELAMATAN


__ADS_3

Jakarta, 29 Juni 2001


Saat Jakarta masih berisi metromini dan penjual kerak telor, dua anak kecil bermimpi untuk mengubah dunia. Setelah kejadian tempo hari, Airi setuju untuk menjadi super hero. Ia akan menyelamatkan seseorang. Bukan lagi kucing tetangga, atau burung-burung yang tertabrak layangan. Bukan juga misi penyelamatan mobil Ayah, tetapi penyelamatan seseorang dari mautnya.


"Kamu melihat sesuatu?" tanya Langit.


Airi menggeleng.


Dua anak kecil yang masing-masing berusia sepuluh tahun tengah berdiri mematung di antara kumpulan para pengunjung. Kini mereka tengah berada di kota tua. Tak ada yang mereka lakukan selain memperhatikan satu persatu orang dari kejauhan. Ini adalah misi penyelamatan, jika Airi melihat sesuatu mereka akan menyelamatkan orang itu.


Manik matanya bergulir, dari satu sisi ke sisi yang lain. Dari satu sudut ke sudut yang lain. Orang-orang terlihat senang, tidak ada seorang pun yang menampakan aura putus asa atau kesedihan. Bahkan hewan sekalipun, mereka terlihat nyaman dan tenang.


"Terus kemana lagi?"


Langit mulai pasrah, ia berkeringat sejak tadi. Berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain cukup jauh. Perjalanannya membutuhkan waktu yang lama. Banyak tempat yang telah mereka kunjungi. Namun, tak ada seorangpun yang akan menjadikan Airi super hero.


"Pulang saja?" tanya Airi, karena ia tahu Langit mudah sekali berkeringat. Ia akan menghela napas berkali-kali ketika tubuhnya tidak menentu dan ketika tubuhnya tidak mendukung lagi untuk melakukan aktivitas.


"Jangan. Pasti ada seseorang yang bisa kita selamatkan."


Dasar keras kepala!


Langit bukan orang yang mudah menyerah.


"Ayo, Ri. Liat baik-baik."


Airi menajamkan matanya, ia melihat satu-persatu pengunjung, tapi nihil. Mereka harus bersyukur karna tidak ada seorangpun yang akan celaka di tempat ini.


"Pulang aja, yuk. Mungkin di jalan aku lihat sesuatu."


"Emang disini beneran nggak ada?"


"Aku nggak liat."

__ADS_1


"Yaudah cari lagi."


Airi mengangguk.


Sepertinya, menjadi super hero bukan ide yang bagus. Bagaimana bisa ia mencari orang yang mau celaka. Tapi Langit, dia dengan rasa empatinya yang besar tidak akan menyerah begitu saja. Selain mati di tempat tidur, mereka harus menyelamatkan seseorang, dan mengubah dunia tanpa ada kematian secara tiba-tiba. Apalagi mati terbunuh oleh bayang-bayang kegelapan.


Bagaimana mungkin dua anak itu bertahan dengan perut kosong dan uang jajan yang tipis. Jika di sekelilingnya dijajakan makanan dan minuman yang menggugah selera. Martabak manis yang ditaburi selai dan kacang, serta wangi gula-gula yang merona, dan tentunya rujak asem yang ditaburi cabai dan gula .


"Berhenti langit."


Gadis itu menghentikan langkahnya, ia menatap seorang penjual mie ayam. "Lihat." Tunjuknya.


"Apa?"


"Orang itu. Di belakangnya sangat besar."


Langit terperangah. "Ayok samperin."


Mereka berlari menuju gerobak mie ayam yang  terparkir di bawah rindangnya pohon akasia. Selain gerobak dan penjual, terdapat banyak pengunjung dan pembeli di sekitarnya. Pantas saja, bayang-bayang itu nampak sangat besar.


"Iya, dek. Berapa bungkus?" Langit melirik Airi, tapi gadis itu tidak bisa di harapkan. Bukannya memantu atau memberi dukungan, ia malah meringkuk dan menatap ke belakang.


Demi menyelamatkan orang tersebut. Langit rela mengatakannya walaupun sebenarnya ia tidak melihat malaikat maut itu secara langsung. Dan juga demi idenya yang cemerlang untuk menjadikan Airi super hero, persetan saja jika dia dianggap gila sekalipun. Kalau bukan dirinya dan Airi, lalu siapa yang akan menyelamatkan banyak orang dan mengubah dunia?


Langit menelan ludah. "Saya bukan mau beli, Pak. Ada sesuatu di belakang Bapak, dan mungkin saja Bapak akan mati sekarang."


Mendengar hal tersebut si penjual tertawa. Di susul beberapa pembeli yang ikut terkekeh dengan perkataan Langit.


"Kematian ada di tangan Tuhan, Dek. Bukan di tangan kamu." Ia tidak menghilangkan tawa dari bibirnya. Sedangkan, tangannya sibuk mengelap mangkuk yang baru di cuci.


"Saya beneran, Pak. Bapak dalam bahaya bisa-bisa celaka. Bener kan, Ri." Langit menatap Airi, ia menjawel bajunya untuk mencari dukungan dari gadis itu.


Airi mengangguk cepat, tubuhnya menggigil walau di siang bolong seperti ini. Makhluk itu sangat besar dan menakutkan. "Saya lihat sendiri."

__ADS_1


Penjual mie ayam tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir dengan kelakuan anak zaman sekarang.


"Terus saya harus bagaimana?" tanyanya, masih dengan cekikikan yang tertahan di bibirnya.


Langit sulit mengartikan maksud dari tawanya tersebut. Antara ketakutan atau berpura-pura untuk terlihat tidak takut.


Ia bingung harus menjawab apa. Langit menarik baju Airi. Giginya bicara tanpa suara 'bagaimana?'


Airi menggeleng.


Lagi-lagi Langit menelan ludah. Rasanya, percuma saja ini dilakukan. Tidak ada seorangpun yang akan mempercayainya. Mungkin ini yang di rasakan Airi selama ini. Percuma saja membuka mulut, lebih baik diam tanpa melakukan apapun.


Langit menunduk dalam, ia menggigit bibir bawahnya. Ekor matanya terus-terusan melirik Airi. Kasihan juga kalau Airi dibiarkan terlalu lama disini. Bisa-bisa dia pingsan.


Dengan pasrah Langit menjawab. "Aku nggak tahu, Pak."


Ia kembali tertawa. Langit dapat melihat tatapan mata semua orang di sekelilingnya. Mereka menertawakannya, seolah-olah berkata kalau dirinya bodoh dan gila. Tatapan matanya seolah berbicara kalau Langit seorang pembohong. Hatinya kembali terluka. Mungkin ini yang selama ini Airi rasakan.


Tidak ada seorangpun yang percaya, dan menganggap dirinya pembohong itu menyakitkan.


"Sana main lagi, jangan becanda sama orangtua."


Tidak ada pilihan lain,  Langit membawa Airi untuk pergi menjauh. Dengan memikirkannya saja Langit tidak bisa membayangkan seperti apa perasaan Airi? Dengan hati yang rapuh dan kosong ia mampu bertahan sampai sejauh ini.


"Kita tidak bisa nyelamatin orang, Ri. Kita bukan malaikat maut apalagi Tuhan."


"Kita tidak punya kuasa Tuhan untuk mengubah takdir seseorang."


DUARR!!


Suara ledakan terdengar dari kejauhan. Disusul dengan bara api yang menyala-nyala. Diduga, ledakan berasal dari gerobak mie ayam yang baru saja mereka temui. Gas meledak dan api membakar gerobak, termasuk orang-orang di sekitarnya. Mereka tidak luput dari sulutan api tersebut. Korban terbakar langsung di evakuasi. Luka berat dan ringan di bawa menuju Rumah Sakit. 


Selamat dengan luka yang parah atau meninggal dengan cepat di perjalanan.

__ADS_1


**


Takdir telah di tentukan, baik dan buruknya telah tertulis sebelum kita dilahirkan. Dan apapun yang Tuhan berikan pada kita, itu yang harus kita terima. Karna bagaimanapun jalannya, sudah pasti itu yang terbaik untuk kehidupan kita. Bagaimanapun proses yang kita jalani, akan setimpal dengan hasil yang kita peroleh. Jangan menyerah adalah kunci utama dalam meraih sesuatu.


__ADS_2