DARI LANGIT

DARI LANGIT
LANGIT


__ADS_3

Lampu neon lima watt dan langit-langit putih yang terukir, menjadi pemandangan pertama saat Langit mengerjapkan matanya. Ia baru ingat, jika hari ini harus berkunjung ke rumah Pak Imam, di Tarogong Kidul, Garut. Untuk mewawancarai tentang Tanagawa, alias Yang Chil Seong seorang pahlawan Indonesia yang berasal dari Korea. Profesinya sebagai wartawan dan penulis naskah biografi mengharuskan ayah dari satu putri itu berkunjung keluar Bandung.


Karena ia pandai di bidang sastra dan gemar dalam menulis cerita, sejak Kuliah Langit sudah menggeluti profesinya sebagai wartawan, ia berkerja sama dengan Majalah Time dan koran Media Indonesia di Jakarta. Dan sekarang setelah pindah ke Bandung,  Ia menjadi wartawan koran Pikiran Rakyat.


Rumah kecil di daerah Antapani, menyuguhkan view pohon mangga dan stroberi-stroberi yang istrinya tanam. Setiap pagi, saat matahari sudah beranjak naik Langit akan diam di depan jendela. Menatap halaman rumahnya yang minimalis. Ia akan menerka kapan bunga rosemary menunjukan putiknya. Namun, sampai sekarang bunga itu belum menunjukan tanda-tanda perkembangannya.


"Pak, udah jam tujuh. Nggak jadi pergi, ya?"


Itu istrinya.


Kembang sari pengharum rumah tangganya.


Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu menggeliat, mencari tenaga tambahan. Ia beranjak dari kasur dan bergegas keluar. Rumah tangganya dimulai lima tahun yang lalu. Saat Lintang masih berupa seonggok khayalan semata. Ia juga tidak menyangka, jika perempuan yang tengah berkutat dengan kompor dan wajan akan menjadi Ibu dari anak-anaknya sekarang.


Langit menghela nafas, ia tidak heran jika kebiasaan istrinya bermain tanah menurun pada Lintang. Gadis kecil itu lebih senang bermain di atas rumput negri ketimbang di teras rumah. Ia akan menggali tanah di halaman dan mencampurkannya dengan air. Berbagai bentuk ia buat, tapi Lintang lebih suka menjadikannya potongan panjang, lalu menyimpannya di bawah pohon mangga.


"Lintang, awas itu kotor. Masih pagi, loh."


Langit sedikit berteriak, karena posisinya lumayan jauh dengan keberadaan Lintang. Namun, gadis itu tidak menggubrisnya. Satu lagi sifat yang menurun dari Ibunya. Tidak akan mendengarkan orang lain ketika ia yakin dengan apa yang  telah dia buat.


Suara perpaduan spatula dan wajan, serta bau sedap yang sudah ia kenal harumnya menjemput Indra penciuman Langit untuk mendatangi sumber bau tersebut. Suara minyak yang bergejolak dan bau rempah-rempah yang memekakkan penciuman, selalu jadi magnet untuk seseorang mengintipnya. Sedang masak apa?


Hasil ulekan bumbu, irisan bawang putih, dan sedikit kunyit, Langit dapat menebaknya. Apalagi kalau bukan Lontong sayur labu kesukaannya. Ia tahu dari istrinya, setiap kali memasak dengan bumbu yang di ulek sudah di pastikan masakan tersebut  harus di campur dengan air sehingga menghasilkan kuah yang lezat. Ia bisa mempraktikannya, hanya saja cara membedakan kunyit, jahe, dan kencur yang membuatnya sedikit bingung.

__ADS_1


Tapi sebelum mendatangi istrinya, dan memeluknya dari belakang saat sedang memasak, ia sudah harus wangi terlebih dahulu. Kalau tidak, bukannya di balas  senyuman dan pelukan manis, malah dibalas erangan dan toyoran spatula. Hanya dengan membayangkannya saja Langit sudah mengidik ngeri. Ia harus membersihkan diri terlebih dahulu. Sebelum Lintang meledeknya dengan sebutan "Putri tidur."


Selesai mandi, Langit memakai kemeja polos berwarna biru tosca, dan celana hitam serta kaos kaki pendek berwarna abu-abu. Sebelumnya ia sudah memakai parfum dan menyisir rambutnya dengan rapih. Kalau tidak, nanti Lintang yang akan menyisirnya sambil makan. Tidak lupa juga  ia membawa tas kerja dan sepatu pentofel, yang sehari-hari ia simpan di kamar. Untuk mencegah seseorang mengambilnya.


Wanita berbaju kuning mustard lengkap dengan celemek hitam, menggendus-ngendus bau seseorang yang mendatanginya ke dapur. Ia menoleh. "Pantesan wangi," ucap istrinya tatkala Langit duduk di meja makan. 


Seperti pujian dan sedikit meledek, Langit sudah biasa dengan hal itu. Ia banyak kekurangan dalam merawat tubuh, lebih tepatnya terlalu malas untuk memoles wajah seperti orang lain. Dan istrinya ada untuk memperbaiki kebiasaan buruk tersebut. 


Setiap hubungan pasti ada kekurangan dan kelebihan. Kedua sifat tersebut membuat cocok satu sama lain. Karena itu juga kita harus menutupi kekurangan yang dimiliki pasangan dengan kelebihan yang kita kita miliki, serta pelan-pelan mengajarinya untuk memperbaiki kekurangan yang dia miliki.


"Itu loh, kaus kaki aku nggak ada yang lain apa?"


Langit mengangkat kakinya dan memperhatikan kaus kakinya yang sudah buluk. Di tambah dengan kotoran tebal dan sedikit bau tak sedap.


"Bukannya masih ada yang hitam? Aku simpen di laci, dekat daleman kamu yang lain."


Wanita yang tengah mematikan kompor mengernyitkan dahinya. "Kaki kamu tajem banget, sampe kaus kaki lima dibolongin semua."


Langit tak terima. Ia mencari alibi. "Bukan aku yang bolongin tapi emang bolong sendiri."


"Heumm. Mana mungkin," ledek istrinya menyajikan makanan pada piring Langit . "Nanti beli lagi, tapi jangan dibolongin awas, loh. Kalo aku jahit  lagi kamu nggak mau pake, kan."


Langit menggeleng. "Enggak." Ia mengambil sendok dan garpu.

__ADS_1


"Iya nggak papa nanti aku pergi beli yang baru"


"Nggak papa aku aja."


"Sekalian beli teh sama gula," sambungnya.


"Ohh. Oke, deh."


Pencitraan!


Selesai menyajikan makanan, istrinya ikut duduk dan memanggil Lintang. Langit meraih radio dan menyalakan kaset pita payung teduh, berjudul masih muda. Lagu akan dinyalakan setiap kali mereka makan, baik siang atau malam. Untuk mencegah adanya perbincangan di meja makan.


Lagu mengalun, mengiringi hati Langit yang terenyuh karena haru. Bagaimana tidak, ini momen yang selalu ia impi-impikan. Sebelum berangkat kerja makan bersama anak dan istri yang selalu menyayanginya. Momen-momen seperti ini yang akan ia ingat sampai tua. Suasana, rasa haru, dan rasa ingin melindungi kedua orang tersebut.


Lagu masih berlanjut, dan Langit masih menikmati santapannya. Tetapi waktu menggiringnya untuk segera mengakhiri momen indah ini. Jam menunjukan pukul 08.00 saatnya ia pergi ke stasiun untuk menjemput partnernya berkerja. Ia seorang jurnalis dan akan berkerja sama dalam proyek ini.


Langit menyimpan sendoknya. "Papa selesai." Lalu minum segelas air putih dengan terburu-buru. "Aku pergi, ya." Langit mencium kening istrinya, dan menjawel pipi Lintang.


"Eh, Pak?"


"Iya?"


"Gosok gigi dulu."

__ADS_1


Langit mendecak, terlalu memperdulikan hidup juga bikin repot. Dengan terpaksa dan terburu-buru ia berlari menuju wastafel dan menyikat giginya. Kalau dipikir istrinya benar juga, apa jadinya seorang wartawan kalau jarang menggosok gigi? Memang ya, perempuan itu merepotkan tetapi perkataannya selalu benar.


Selesai gosok gigi kedua kali, dan selesai membuat Lintang menangis karena ia terlalu obsesi menjawel pipi gadis itu, Langit menjalankan mobilnya dari garasi. Mobil tua turun temurun keluarganya. Mobil yang sama saat Papanya mengantar ia sekolah dulu. 


__ADS_2