
Bandung, 4 Juli 2018
Secangkir kopi panas diletakan secara perlahan, memposisikan letaknya di atas meja dengan benar. Asap tipis mengepul, cangkir putih kontras dengan warna kopi susu. Suara kecil terdengar setiap kali cangkir itu disimpan. Aroma yang dihasilkan menyambut hidung untuk kembali menyicipinya.
Langit sore merembes melewati ventilasi rumah, menyinari seorang pria yang tengah duduk di antara buku-buku tebal. Ia bersenandung, tak kala angin membuat gorden menari dengan lembut. Jari-jemarinya menulis kembali, mengutarakan rasa hati yang telah membelenggu jiwanya cukup lama.
Airi, apakah kamu masih sendirian ?
Apakah kamu bahagia?
Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu denganmu lagi?
Airi, apakah kamu baik-baik saja?
Bagaimana dengan luka ditubuhmu?
Apakah sudah membaik?
Airi, bagaimana dengan luka hatimu?
Apakah terobati?
Atau menganga tanpa seorangpun yang mengetahui?
Airi, banyak hal yang ingin ku tanyakan padamu. Banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu. Tapi hatiku pilu ketika mengingat namamu. Tanganku kelu ketika menulis tentangmu. Berat rasanya bila ku utarakan. Apalagi ku ceritakan pada orang lain. Airi, Aku menginginkan jiwa sepertimu lagi. Disini. Bersamaku.
Langit menghela napas berat, membuang beban agar hanyut bersama udara. Ia memejamkan matanya. Tubuhnya lelah apabila duduk terlalu lama, punggung panjangnya ia sandarkan di kursi. "Bagaimana cara agar aku bisa melindungi mu lagi?" Pulpen yang dipegangnya ia lepaskan. Jari-jemarinya memijat pangkal hidung. Terasa lebih baik untuk kepalanya yang sedikit pening.
__ADS_1
Langit berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan menuju deretan rak buku. Satu buku bersampul merah maroon yang sedikit memudar menjadi magnet pria itu untuk membukanya. Buku yang berisi gambar-gambar tidak jelas mengingatkan Langit pada kejadian tempo dulu. Saat Langit dan Airi masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat mereka masih berumur sepuluh tahun.
Saat itu Airi sangat cerewet menanyakan warna apa yang cocok dan perpaduan warna apa yang bagus.
"Langit, bagaimana dengan ini?" Ia menunjuk deretan buah dalam buku tugasnya.
"Ini nanas, ini jeruk, ini mangga, anggur, apel." Langit menjawabnya dengan malas.
"Warna apa yang harus aku pakai?"
Langit diam. Ia memutarkan bola matanya.
"Langit, warna apa yang bagus?"
Pria kecil itu menghela napas, Airi memang pendiam tapi sekalinya bertanya ia jadi banyak bicara. Dan kebiasaan Langit menghela napas sudah ada sejak dulu. Ia nampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Airi. Kalau dikerjain, nanti juga dia yang repot. "Hmm." Langit menyunggingkan senyumannya, ia menemukan ide yang brilian. "Warnanya sama dengan yang sering kamu lihat di pasar."
Airi terlihat senang dengan hasil gambarnya yang memuaskan. Sementara Langit, ia berkutat dengan tugas sekolahnya yang lebih sulit. Langit murid yang pintar sedangkan Airi memiliki kerusakan dalam fungsi berpikirnya. Merasa hasil kerjanya bagus, Airi merobek kertas tersebut lalu ia tempelkan di buku diary nya. Tanpa ia berikan dulu kepada guru.
Saat itu langit memarahinya dan menyuruhnya untuk menggambar ulang, tentunya dengan warna yang benar. Yaitu warna buah yang sudah matang.
"Langit?"
Seorang wanita timbul dari balik pintu, ia tengah mengamati apa yang sedang suaminya lakukan. Tanpa menemuinya secara langsung, ia langsung berbalik saat suaminya baik baik saja. "Aku di dapur." ucapnya sebelum benar-benar lenyap dari pandangan mata.
Langit hanya menatapnya, tanpa perlu ia menjawab lagi. Buku tebal dengan sampul yang keras ia tutup kembali. Buku itu ia simpan di bagian tengah rak, dekat dengan buku-buku yang ia sukai.
"Papa."
__ADS_1
Gadis kecil bermata sipit mendorong pintu sampai habis. Ia masuk ke ruang pribadi Ayahnya tanpa permisi terlebih dahulu. Langit menyambutnya dengan senyuman, ia merentangkan tangannya untuk menjemput gadis kecil yang baru bisa berjalan itu menghampirinya. "Udah mandi belum heumm?" Langit menciumnya dan berhasil membuat putri kecilnya tertawa geli.
Seorang anak menjadi pelipur lara setiap kali orangtuanya bersedih. Senyumannya mampu membuat semangat berkorban kembali utuh. Dan jemari-jemari kecilnya memberi dorongan untuk memberikan yang terbaik, agar anak selalu tertawa tanpa menghilangkan rasa bahagianya.
"Eh, makan berapa kilo, Nak. Kok perutnya makin bucit begini." Langit menggelitiknya, ia senang melihat putri kecilnya tertawa. Sedangkan Lintang kewalahan dengan apa yang sang ayah lakukan.
Anak itu turun dari pangkuan Ayahnya dan berlari meninggalkan Ayahnya sendirian.
Langit kembali menarik napas, ia merentangkan tangannya untuk mengambil tenaga sisanya bekerja. Pria itu meraih kopi yang hampir dingin, lalu menyesapnya dengan penuh penghayatan. Ia duduk kembali dan menyimpan kopi tersebut di tempat semula. Jemarinya kembali meraih pulpen yang hampir jatuh. Lalu memposisikan pulpen tersebut di atas buku yang kertasnya sudah menguning.
Aku mempunyai keluarga, Ri. Keluarga kecil yang bahagia. Aku pikir begitu, karna sejauh ini istriku tidak pernah mengeluh tentang apapun. Tapi dia memang cerewet, dia akan marah setiap kali aku minum kopi lebih dari 3 kali sehari. Atau marah saat aku lupa menutup kran air bak mandi.
Kita sama sama merindu, dan istriku tahu. Tapi dia tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Aku cukup senang karna dia tidak mudah cemburu. Walaupun begitu, ia akan marah setiap kali aku menghabiskan waktu terlalu lama disini.
Ri, aku juga punya putri kecil. Namanya Lintang Laras Sakti. Bagaimana, bagus tidak? Seandainya kamu ada saat dia dilahirkan. Aku akan membiarkan kamu yang menamainya. Dengan nama yang pernah kamu ceritakan padaku dulu.
Ri, jangan pergi untuk kedua kalinya terlalu cepat. Aku masih—.
Suara langkah kaki mendekat, seorang wanita yang masih memakai celemek hitam kembali mengintip dari ambang pintu. "Belum selesai?" tanyanya.
Langit menghentikan aktivitas menulisnya, ia berbalik dan menatap istrinya lembut. "Udah beres."
"Makan yuk, lintang nunggu."
Pria itu menganggukan kepalanya. Ia melepaskan pulpen tersebut dan menutup bukunya. Satu paket alat tulis yang tidak pernah kehilangan satu dari lain bagiannya sejak dulu, ia simpan dengan rapih di dalam laci. "Nanti kita cerita lagi."
Langit berlalu dan menyusul istrinya. Meninggalkan kopi dingin yang ia biarkan sendiri. Menutup pintu dengan rapat dan menguncinya dari luar. Menyisakan ruang kosong yang dipenuhi rak-rak buku dan satu meja belajar serta kursi tua yang masih bagus.
__ADS_1
Sinar mentari perlahan lenyap, menyisakan ruang hampa berwarna kuning dengan angin yang menggoyangkan gordennya sejak tadi. Tak ada suara, hanya satu ruang hampa yang berisi banyak cerita.