Dark Heaven

Dark Heaven
Chapter 7


__ADS_3

Persamaan Antara Nasib


.


.


.


.


.


.


.


**Flashback ON**


" Bapak harap kamu dapat membiarkanmya menginap dirumah mu hari ini " Ucap Pak Roland sambil tersenyum kecil.


' Hal merepotkan lainnya, selalu datang menghampiri ketika ketenangan sudah didepan mata ' Ucap dalam hati Ren sambil melirik Liliana yang juga sedang melihatnya.


/Flashback OFF/


" Bukankah dia ditemani seseorang? "


" Tidak, dia sendiri disini. lagipula besok kita kedatangan murid-murid dari sekolah lain, jadi dengan menginapnya Liliana di rumah mu, kau dapat sekalian mengajaknya berkeliling juga agar tidak ada yang tersesat " Ucap Pak Roland sambil menyalakan rokoknya.


" Tch... baiklah " Balas pasrah Ren.


" aku mengandalkanmu, Ren "


Setelah itu mereka berdua pergi dari ruangan kepala sekolah.


Dalam perjalanan menuju rumah Ren, mereka hanya saling diam tak berbicara sama sekali ataupun berinteraksi seperti orang-orang biasanya.


_.........._


" Dimana Rumah mu? " Ucap Liliana memecahkan suasana kesunyian diantara mereka.


" Hutan Kematian " Balas Ren tanpa menoleh, lalu dibalas anggukan oleh Liliana.


Ren merasa Liliana itu memiliki sisi yang hampir sama dengannya, namun ia memendam pertanyaan yang dapat merepotkan dirinya.


" H-hhei lihat gadis itu! "


" Woahh... Sangat cantik "


" Lihat laki-lakinya juga. Ia terlihat keren dan dingin


" apa mereka berdua sepasang kekasih? "

__ADS_1


" Entahlah, tetapi mereka terlihat serasi "


Terdengar pembicaraan para warga yang berada dekat dengan Ren, mereka membisikkan sesuatu yang berhubungan dengan mereka berdua. Tetapi Ren hanya mengabaikan hal tersebut dan tetap berjalan, sedangkan Liliana hanya mengikuti yang Ren lakukan.


Beberapa menit mereka berdua berjalan. Sampailah mereka didepan hutan kematian.


Hutan kematian sendiri disebut-sebut merupakan tempat bersemayamnya monster-monster dan mayat mayat yang berserakan dimana mana. Masyarakat percaya bahwa mereka pernah sesekali melihat siluet putih dan merah berkeliaran setiap malam bahkan sesekali mereka mendengar suara jeritan dari dalam hutan tersebut. Dulu sekali, sebelum Meteor misterius datang kebumi, Hutan tersebut terkenal karena banyaknya orang yang melakukan bunuh diri dan pembuangan korban pembunuhan. Oleh sebab itu, Hutan ini diberi nama Hutan Kematian.


Back To Story.....


Ren hanya berjalan lurus ketika mereka bedua sudah didalam hutan, sedangkan Liliana mengikuti Ren dibelakangnya.


Entah kenapa Liliana tidak merasa takut akan tempat ini. Padahal para gadis pada umumnya sangat takut bahkan berteriak histeris ketika berada dekat atau didalam hutan kematian ini.


Sesekali Ren melirik Liliana ketika berjalan dan berpikir


' Seperti dugaanku, dia memang sama dengan ku '


" Ada apa? " Ucap Liliana ketika ia menyadari bahwa Ren sedang melihatnya.


" Tidak, bukan apa-apa "


Sampailah mereka berdua di Mansion atau rumah besar milik Ren. Lalu mereka berdua memasuki rumah tersebut dan melihat isi rumah tersebut sangatlah bersih.


' sangat berbeda ' Pikir Liliana.


" Kau dapat menempati dilantai kedua dekat dengan perpustakaan "


" Lalu.---" Sebelum ucapannya diselesaikan, Tiba tiba datanglah seekor serigala putih besar dan langsung menjilati wajah Ren.


" Ada apa Luna " Ucap Ren sambil membersihkan wajahnya dari lendir.


Auuuu!!


" Kau mau apa? "


Luna kemudian melirik Liliana lalu kembali melihat wajah Ren dan membalasnya dengan gonggongan.


Ren hanya mengangguk karena paham apa yang Luna inginkan.


Disisi lain, Liliana merasa bahwa dirinya dengan Ren sama. Liliana sendiri sudah lama merasakannya ketika mereka pertama kali bertemu. Mereka berdua sama sama memiliki masa lalu yang buruk dan menyedihkan, Ren yang tidak dianggap anak oleh orang tuanya lalu diusir, semua masyarakat saat Ren kecil selalu menjauhinya tanpa sebab dan teman kecilnya dulu yang sangat ia percaya ternyata menghianatinya, dibiarkan hidup mandiri tanpa bantuan orang lain, tak memiliki uang,makanan serta pakaian untuk digunakannya menjadikannya anak buangan lalu ia ditemukan dan dibesarkan hingga berumur 10 tahun di panti asuhan oleh biarawati. Sedangkan Liliana merupakan anak yang digunakan sebagai alat oleh orang tuanya, menjadikannya tempat pelampiasan, Dijual diperdagangan manusia, lalu ia diselamatkan oleh seorang bangsawan Seraphina yang merupakan bangsawan terkenal dan dijadikannya anak angkat.


Ketika Liliana sedang melamun ia dikejutkan dengan suara Ren.


" Kau baik-baik saja? "


" Ah...Ya Aku Baik " Balas pelan Liliana.


Ren tidak memerdulikan hal tersebut lalu menyampaikan sesuatu hal yang tadi belum sempat ia katakan.


" Kau akan diantar oleh Luna menuju Kamarmu, dan jangan lupa 30 menit lagi untuk makan malam " Ucap Ren

__ADS_1


" Ya, Aku mengerti " Balas Liliana.


Skip Selesai Makan Malam.


Terlihat Ren sedang diam memandang gelapnya hutan kematian ditengah malam, lalu dikejutkan dengan kedatangan Liliana.


" Kau tidak tidur " Ucap Liliana sambil duduk dibangku yang ada di balkon.


" Tidak "


Kesunyian kembali diantara mereka berdua setelah selesai saling tanya.


Hanya terdengar suara belalang dimalam hari, kelelawar, dan suara burung hantu.


Setelah 2 jam tidak saling menyapa, akhirnya Liliana memulai percakapan kecil mereka.


" Ren "


Yang dipanggil merasa kepanggil lalu ia menoleh kearah Liliana.


" Ada apa? "


" Namamu hanya Ren? "


" Ya "


" hanya itu? Tak ada kepanjangan lain? "


Tanya Liliana yang hanya dibalas anggukan oleh Ren.


" Kau tinggal sendiri? " Liliana kembali bertanya


" Tidak, ada hewan hewan ku disini " Balas Ren.


" Bukan itu, Maksudku dengan manusia " Ketika Ren mendengar hal tersebut ia hanya menggelengkan kepala sebagai balasan


" Kenapa? "


" Ada Alasan yang tidak bisa kuberitahu "


Jawab Ren sambil memandang bulan.


Melihat Itu, Liliana tambah yakin bahwa Ia dengan Ren memang sama.


" Ternyata kau banyak bicara juga ya? " Sahut Ren sambil tersenyum kecil yang membuat Liliana terkejut.


Suasana yang canggung dan sunyi itu berubah menjadi suasana yang nyaman dan hangat walaupun hanya untuk sesaat.


" Hahaha " Liliana tertawa kecil dan tersenyum menanggapi pertanyaan Ren.


" Segeralah tidur, Karena besok hari merepotkan akan datang " Ucap Ren tanpa menoleh.

__ADS_1


" Kau juga " Balas Liliana


__ADS_2