
...Hidup yang kujalani...
...Masalah yang kuhadapi...
...Semua yang terjadi...
...Pasti ada hikmahnya~...
...(D'Masiv feat Arie Noah, Giring Nidji, dan Gisel)...
...StarLova_Books...
...🍀...
"Putra Anda mengalami kelainan di telinga dalamnya, Bu, Pak. Pendengarannya sudah sangat sulit untuk kembali, terlebih gejalanya sudah ada sejak beberapa bulan lalu." Dokter THT bernama Pramudya itu mengepalkan tangannya di atas meja. Ia memandang prihatin pada sepasang suami-istri yang tampak terperangah tak percaya. "Saya sudah mencoba untuk meminimalisir dampak, tapi ...."
Ruang pemeriksaan itu seketika lengang beberapa saat, membiarkan hawa dingin dari air conditioner menerpa kulit.
"Apa tidak bisa ditindak medis, Dok?" Dessy lunglai, ia bertanya lirih setelah tangannya digenggam erat sang suami seakan memberi kekuatan.
__ADS_1
"Mungkin bisa, tapi prosentasenya tidak lebih dari 50 : 50. Kita bisa melakukan terapi berulang, operasi koklea, atau memberikan alat bantu dengar. Dilihat dari hasil pemeriksaan, putra Ibu dan Bapak hilang pendengaran karena masih ada keturunan dengan kasus sama. Ayah dari pihak Ibu memiliki riwayat serupa, dan itu tampaknya menurun pada putra Anda meski Ibu membawa gen resesif (tidak dominan). Saya mohon maaf, tapi hal ini akan membutuhkan waktu karena genetika."
Geri, anak usia lima tahun, yang duduk di kasur pasien menyipitkan mata bulatnya. Alis hitam itu bahkan menyatu karena bingung. Ia yakin di sana tidak mungkin hening, tapi telinganya tidak bisa menangkap suara apa pun. Terlebih mamanya membuat gerakan menangkupkan tangan seperti cara salam pada Om Indra, tetapi kali ini raut wajah Dessy tampak bukan senang hati memberi salam.
Geri tidak bisa mendengar pembicaraan, padahal semuanya berada di satu ruangan. Entah apa yang terjadi, ia sendiri bingung. Berkali-kali ia mencoba meniup udara dengan mulut dan hidung tertutup-kata Kak Yeti, tetangganya, hal ini bisa berhasil. Tetapi, ia harus kecewa karena hal itu tidak berdampak apa pun.
Geri masih bingung dengan keadaan hingga Dessy bangkit dari duduknya. Alis anak usia lima tahun itu terangkat karena melihat lelehan air mata sudah membasahi pipi mamanya. Mulut Geri terbuka, tapi tidak menyuarakan apa-apa. Ia terdiam hingga sebuah pelukan erat didapat dengan cepat.
Dessy sesenggukan memeluk sang putra, sangat menyesali nasib yang menimpa Geri. "Putraku ... putraku ...."
Geri melihat papanya hanya memejamkan mata dengan tangan mengepal di pangkuan. Papanya tampak menunduk, lalu mendongak dan seperti berbicara pada Dokter Pramudya.
"Maafkan Mama, Nak ...," lirih Dessy, mencoba menegaskan setiap kata dari gerak bibirnya. Ia berharap Geri bisa membaca gerak bibir.
Dan, ya, fokus Geri seketika ada pada gerak bibir Dessy. Tetapi, ia tidak mengerti. Hanya bisa melihat bibir mamanya bergerak-gerak seakan mengatakan kalimat pendek.
Pandangan Geri kembali menatap tepat ke mata Dessy. "Mama, kenapa aku enggak bisa dengar suara Mama?"
Dessy hanya bisa terdiam, bibirnya gemetar menahan tangis. "Maafkan Mama, Geri."
__ADS_1
"Papa, Mama nangis!" adunya pada sang Papa. Ia mengusap-usap pipi Dessy dengan lembut, seakan memblokade jalan air mata yang hendak jatuh.
"Putraku ...," kembali, Dessy memeluk Geri dengan erat. Demi Tuhan, tidak pernah ia kira akan seperti ini jadinya. Sungguh, Dessy harus bagaimana? Keadaan ekonomi sekarang tidak bisa membiarkan Dessy untuk melakukan pengobatan, tapi jika keadaan Geri seperti ini, ia tak bisa mengabaikan. Memikirkan keseharian yang mungkin akan dihadapi si anak dengan kekurangannya sekarang, Dessy merasa hilang arah.
"Putraku yang malang."
TBC
A/N :
Sumber referensi:
-Alomedika https://www.alomedika.com/penyakit/telinga-hidung-tenggorokan/tuli/etiologi
-Halodoc : bisakah gangguan pendengaran disembuhkan?
-Tirto.id : Mengenal Jenis Gangguan Pendengaran dan Cara Mengatasinya
__ADS_1