
...Guuzen wa saisho kara...
...Mou kimatteta mitai ni...
...Kasanatta futari wa unmei tte shinjite iru yo...
...(ost Naruto Shippuden Movie 4 -If)...
...StarLova_Books...
...🍀...
"Bantulah orang yang membutuhkan kalau ingin balik dibantu orang."
Nasehat ayahnya yang jarang sekali bicara tatap muka dengan Elly begitu saja terbayang lagi di pikirannya.
Saat itu, ia masih kecil, sekitar usia lima tahun. Elly hanya mengangguk-anggukkan kepalanya seolah paham benar maksud ucapan sang ayah. Ia tak bertanya atau meminta penjelasan lebih dalam, tapi langsung ditinggal pergi karena ayahnya harus kembali bekerja.
Namun, seiring berjalannya waktu, ucapan tersebut nyaris seperti bualan semata. Elly yang suka mencari teman, mencoba menolong mereka saat kesulitan, justru dicaci-maki dan diejek karena tak bisa bicara seperti anak lainnya. Mereka merundung gadis itu hingga menangis dan memilih pulang ke rumah.
Sejak itu, Elly mendapat dua pelajaran sekaligus; jangan biarkan orang meremehkanmu, dan jangan bersikap menjadi siapa pun.
Jujur saja, hingga saat ini, Elly masih memegang ucapan itu. Ia tidak akan membiarkan remaja kemarin sore yang baru dikenalnya tiba-tiba menjadi ancaman yang harus dihindari. Elly tidak ingin diremehkan.
Elly memang takut pada sosok Geri yang mendekat dengan seringai di bibir. Terlebih mata remaja itu mengkilat seperti kucing mendapatkan tikus.
Ditambah ucapan Geri.
"Ellyana, aku punya permintaan untukmu."
Oh, tidak! Sebuah alarm siaga satu berdering di kepala. Apa lagi sekarang? Bukankah kue kering yang Elly beri bisa menjadi penghubung agar Geri bisa melupakan hari saat ia mengamati remaja itu di taman pojok?
Melihat Elly tampak diam, Geri semakin merasa berkuasa. Ia menumpukan dua tangannya di meja si gadis, mengamati wajah pias Elly dengan santai.
"Temani aku pulang untuk beberapa hari ke depan. Dan kau tidak boleh menolak!" Geri mendelik dan segera menambahkan kalimat saat melihat Elly hendak menulis dengan wajah protes.
Elly mengerutkan dahi, bingung harus bagaimana ia menanggapi. Ancang-ancang kabur jelas tidak bisa dilakukan karena Geri bersedekap dengan wajah mengancam, sementara Elly paling tidak bisa diperlihatkan wajah seperti itu.
Wajah itu mirip seperti beberapa orang di masa lalunya yang kerap membuat Elly menangis sebelum pulang ke rumah. Ia tidak ingin lagi tatapan itu tertuju padanya. Cukup anak kelas yang terkadang 'menjahili' Elly sampai gadis itu terus merapal mantra "sabar, nanti pulang sekolah. Sabar, nanti pulang."
Jadi, acap kali orang memandangnya demikian, dirinya ... akan takut, dan karena hal itu, Elly lebih memilih diam dan menundukkan kepalanya. Tidak memandang Geri yang gantian mengernyit bingung.
Ada apa dengannya? batinnya dengan kepala teleng ke kanan. Geri tidak mengerti maksud Elly dengan kepala tertunduk seperti itu. Gadis itu hanya diam tanpa membalas ucapannya, lalu menunduk dengan tubuh seakan memeluk dirinya sendiri.
Gadis itu merapat ke sisi lain bangku. Dan Geri dapat melihat bagaimana kedua tangan yang semula di atas meja, beringsut turun ke pangkuan dan saling meremas.
Pemuda itu tertegun.
Itu ... gestur tubuh yang sama dengan Geri kecil saat dirundung teman-teman sepermainan. Geri akan memeluk dirinya sendiri begitu mereka mengeroyok dan membuat luka di tubuhnya. Setelah dirasa para perundung pergi, barulah Geri memberanikan diri berdiri dan langsung berlari pulang.
__ADS_1
Ia tersentak, sedikit pias karena Geri baru memahami maksud Elly sekarang. Gadis itu ... ketakutan. Geri terdiam melihatnya, merasa sebuah rasa yang tak asing di masa kecil kembali muncul. Rasanya pasti seperti dilempari sesuatu yang begitu besar dan mengancam nyawa.
Meskipun hanya ucapan, jika yang diajak bicara ternyata tidak sekuat yang terbayang, kemungkinan akan sakit hati atau malah ... terintimidasi.
Hati Geri mencelus, seakan masuk ke suatu tempat yang begitu dalam dan mengingatkannya pada masa kecil. Ia baru saja melakukan sesuatu dari anak-anak perundung masa kecilnya pada Elly, notabene adalah seseorang yang baru dikenal. Tiba-tiba saja dadanya Geri nyeri. Tidak tahu ada apa, mungkin ia merasa bersalah.
"Euhm ...," Geri berdeham kecil, salah tingkah ingin meminta maaf. Puncak hidungnya bahkan mendadak gatal, menarik tangan Geri untuk mengusapnya sesaat dan kembali menatap Elly. "El."
Elly tidak menjawab-mendongak atau menatapnya. Gadis itu hanya bergerak-gerak gelisah di kursi duduknya dengan jemari saling meremas di pangkuan. Pupil mata Elly bergerak ke kanan dan kiri, bahasa tubuhnya saat takut dan tidak tahu harus berbuat apa.
"A-aku ... aku minta maaf." Geri membuang muka, tidak ada nyali untuk memandang Elly yang tertegun dan mulai menengadah untuk menatapnya. Kerongkongan Geri kering, membuatnya menelan air liur beberapa kali. Apa ini efek rasa bersalahnya? Geri sudah pernah merasakan hal demikian, terlebih ia tahu bahwa dirinya dan Elly sama-sama memiliki kebutuhan khusus.
Elly memandang takjub pada pemuda yang masih mengalihkan pandangan. Kalau tidak salah lihat, mengingat lampu kelas menyala hingga membuat sekitar mereka terang, Elly bisa melihat samar rona merah tipis di pipi Geri. Tanda remaja itu malu atau ... menahan kesal karena sesuatu?
Ah, tidak. Elly ingin berpikir positif bahwa Geri meminta maaf secara tulus meski terkesan malu-malu. Ya, ia harus berpikir positif.
Untuk ukuran laki-laki di usia sekarang, mungkin sulit bagi sebagian mereka meminta maaf sesaat setelah merasa melakukan kesalahan. Tidak, bukan maksud Elly untuk membuat sebuah stereotip pada lelaki. Tetapi, terkadang menurut mereka itu hanya hal kecil, bukan sesuatu yang bisa membuat orang lain terhenti hidupnya. Teman-teman lelaki kelas Elly bahkan malah tertawa karena siswi yang dijahilinya kesal atau marah. Mereka hanya akan mengatakan,
"Aduh, jangan baper, dong. Hanya becanda! Masa dimasukkan hati?"
Ya, mereka niatnya bercanda, tapi yang diajak canda tidak suka dan kalimat itu cukup untuk menyinggung perasaan.
Elly tersenyum senang, merasa cukup dihargai oleh Geri yang perlahan-lahan meliriknya. Sekilas, gadis itu menunduk untuk menulis jawaban sebelum balas melirik Geri.
Geri gelagapan ketika pandangan mereka bertemu. Tetapi, tidak bisa menghindar sebab matanya teralih pada kertas yang sedang ditulis Elly. Apa gadis itu menulis sesuatu tentang permintaannya?
Elly merobek pelan kertas note itu dan memberikannya pada Geri dengan senyum. Memberi gestur agar pemuda itu mengambilnya.
"Aku sudah memaafkanmu. Dan tentang permintaan, boleh kutanya; ada apa?"
Sejenak Geri terdiam, memikirkan jawaban yang sekiranya tidak memperlihatkan kekurangan meski ia harus mengakuinya. Geri tidak ingin dikasihani, ia lebih memilih berusaha bersikap normal dan terus mengasah kemampuannya membaca gerak bibir.
Alhasil, jawabannya adalah, "Aku anak baru di sini. Beberapa wilayah tidak aku pahami, sementara Sulli sedang ada urusan, jadi harus ada yang menemaniku." Panjang sekali, Geri merutuk dalam hati. Padahal bisa saja langsung bilang; aku bisa saja tersesat.
Ah, sudahlah, yang penting Geri harus mendapatkan teman pulang agar tidak terjadi hal yang mungkin membuat cemas orang rumah. Geri memandang harap pada Elly yang mengerjap sedang memikirkan jawaban rumit pemuda itu.
Elly membuka mulut, lalu mengangguk sekilas sebelum kembali menulis.
"Kalau begitu, bisa tunggu sampai aku selesai merangkum? Masih ada dua halaman lagi."
Seharusnya Geri memaksa, berkata ingin segera pulang dan bersantai di rumah. Ia bisa dan pasti sanggup menarik Elly untuk langsung pulang daripada menunggui gadis itu menyelesaikan rangkuman, bisa saja berkata untuk melanjutkannya di rumah.
Tetapi, entah kenapa, kepalanya bergerak spontan untuk mengangguk dengan bibir yang membuka suara,
"Tidak masalah. Aku tunggu," dilanjutkan dengan tubuh Geri yang langsung duduk di bangku tepat berhadapan dengan Elly.
Tangannya merogoh saku, mengetikkan pesan singkat untuk Sulli bahwa gadis itu bisa langsung pulang setelah kegiatannya selesai. Geri sudah ada teman pulang, meski terlambat. Padahal bisa saja Geri membatalkan niat dan lebih menunggu Sulli yang mungkin sebentar lagi selesai.
Tidak tahu, ia tidak tahu mengapa tubuhnya seakan memiliki jiwa lain. Tetapi, untuk saat ini, biarkan Geri memandang jemari Elly yang bergerak-gerak di atas kertas buku tulis hingga tanpa sadar ia merebahkan kepala dan tertidur.
__ADS_1
Membiarkan Elly mengerjap kaget karena orang yang meminta ditemani pulang malah tidur. Ia tersenyum geli. Akhirnya, gadis itu terus lanjut merampungkan rangkuman sambil sesekali balik menatap wajah lugu Geri yang tertidur.
...🍀...
"Astaga, lapnya!" seru Sulli tertahan, dengan kesal menepuk dahinya sendiri karena lupa. Masalah sedari usia sepuluh tahunnya; ia sering melupakan barang yang dibawa. Kalau ibunya tahu sekarang sapu tangan dengan warna favoritnya tertinggal di ruang latihan, sepertinya Sulli harus benar-benar mulai menulis surat wasiat.
Wasiat pada dirinya untuk memasang alarm daftar barang agar tidak tertinggal. Oke, berlebihan.
Bergegas, ia balik badan dan berlari kecil untuk kembali masuk ke ruangan yang masih dihuni beberapa siswa. Tetapi, di tengah larinya, ia merasakan ponsel beriring nada kereta uap ala Thomas di saku bergetar tanda sebuah pesan masuk.
Geri : "Kau bisa langsung pulang kalau sudah selesai. Aku ada teman."
Sulli mengangkat kedua alisnya, setengah takjub karena Geri tidak meminta-memaksanya untuk segera menemani pemuda itu pulang.
Syukurlah, kalau begitu. Sulli mengangguk-angguk tanpa membalas pesan. Ia langsung kembali memasukkan ponsel ke saku dan membuka pintu ruangan. Sulli harus segera mengambil sapu tangannya.
"Lah, kenapa balik?" Remaja laki-laki yang duduk di atas meja dengan kaki kangkang bertanya.
Sulli nyengir, tidak menjawab dan langsung menghampiri loker yang memang disediakan. Ia membuka loker tersebut dan menarik keluar sapu tangan yang dilupakannya. Gadis itu tertawa-tawa mengayunkan benda tersebut, dan barulah ia menjawab, "Lapnya ketinggalan, Senpai!"
"Kebiasaan sekali." Gadis yang berkacak pinggang dengan botol mineral di tangan, mengernyit heran. Ia tidak habis pikir dengan kebiasaan buruk Sulli. "Latihan minggu lalu lupa bawa baju latihan, sekarang malah ada saja yang tertinggal. Tidak sekalian kau bawa rumahmu ke sini?"
"Ya, jangan, dong. Bayarnya mahal." Sulli tertawa, langsung keluar ruangan setelah sekilas membungkuk untuk memberi salam pada yang lain. "Duluan!"
"Hati-hati! Jangan lupa jalan pulang!"
Sulli hanya mengacungkan jempol dan berlari untuk segera ke halte dan pulang.
TBC
TERERET
A/N : sedikit TMI tentang awal cerita di bab ini.
Tentang judul bab dan 2 hal yang dipelajari sekaligus oleh Ellyana setelah perundungan masa kecil.
Jujur saja, itu terinspirasi dari film Disney dengan judul Zootopia. Adegan si rubah yang dirundung hanya karena menjadi bagian dari predator, sementara teman sebayanya kebanyakan adalah herbivora.
Kupikir ... perbedaan ini bisa menjadi kiasan. Mereka yang berjumlah banyak, acap kali merasa dominan hingga berpikir bisa merundung orang yang 'sendirian'.
Kasarnya ... seperti domba yang terpisah dari kawanan, lalu menjadi mangsa kumpulan serigala di padang rumput. Aku ingin kalian tahu bahwa sebenarnya, sebagian dari mereka korban perundungan, bisa saja berpikir demikian. Ya, kalau akhirnya berubah menjadi baik dan mau berbagi. Bagaimana jika berubah buruk dan balas dendam dengan merundung orang lain, bahkan keluarga sendiri?
Mereka bisa, dan sebenarnya mampu untuk itu. Tapi karena 'mereka' yang merasa jauh lebih sempurna lebih kuat melakukan perundungan, akhirnya mereka kalah.
Well ... Kalian paham siapa mereka dan 'mereka'. Kuharap ini bisa diambil sikap bijak pembaca agar bisa bersikap baik pada sesama. Tidak seperti para perundung rubah di animasi Zootopia, maupun perundung Elly di kisah ini.
Dan kenapa quote hari ini aku bawakan lagu Jepang film animasi Naruto?
__ADS_1
Well ... selama mengerjakannya aku mendengarkan lagu ini:v kuulangi berkali-kali. Wkwkwk.