Daun Tangan

Daun Tangan
Si Penolong Masa Lalu


__ADS_3

...Mandi, mandi, mandi...


...Cuci, cuci, cuci...


...Biasakan hidup bersih...


...Dengan air jernih...


...Alam pun ikut berseri~~...


...StarLova_Books...


...πŸ€...


Geri mengernyit kesal melihat adiknya membongkar isi garasi tepat di samping rumah. Ia berdecak dan mendengkus, dan kali ini khayalan tentang ibunya datang dengan delikan maut dan sapu di tangan siap memukul karena sudah membuat kekacauan.


Padahal bukan Geri yang melakukannya.


"Kau ini apa-apaan?" Dengan setengah marah, tapi malas, Geri bertanya dan mendekat. Dimasukkannya tangan ke saku jaket bisbol biru dongker, ia tak berminat untuk membantu apapun yang sedang dilakukan sang adik. "Mama bisa memburu kita kalau tahuβ€”"


"Kak, Kakak melihat raket tenis di garasi?" potong adik lelakinya, berbalik setelah mendengar suara Geri. Ia kembali bergerak-gerak di tempatnya dengan tangan sibuk memindahkan barang, mencari benda yang dimaksud. Berdecak tak sabar karena belum juga ditemukan, ia kembali menatap Geri yang masih berdiri tak acuh memandangnya. "Oh ayolah, kalau tidak tahu, setidaknya bantu aku mencarinya!"


"Itu bisa dilakukan besok." Geri duduk di teras rumah, beringsut melepas sepatunya tanpa mengalihkan pandangan dari adiknya yang cemberut. "Memang kau ada acara apa sampai mencari benda itu?"


"Aku janjian dengan kawan untuk bertanding besok, hitung-hitung mencari suasana baru. Toh, besok libur." Kecewa karena tidak juga menjumpai raket tenis, adik lelaki Geri duduk di samping sang kakak dengan layu. "Tolonglah, Kak."


Bibir Geri memberi kesan sinis dengan pura-pura sumbing. "Kau coba ingat lagi, terakhir kali disimpan di mana?"


"Aku simpan di balik ban sepeda cadangan," balas remaja usia empat belas tahun itu cepat, dan jemarinya menunjuk tempat yang dimaksud. "Aku benar-benar menyimpannya di sana!"


"Ya sudah, nanti saja lagi mencarinya! Ini sudah sore, kau jangan melewatkan tugasmu untuk bebersih rumah." Bebersih rumah yang dimaksud adalah menyapu seluruh ruangan. Aturan yang diberlakukan semenjak keduanya menginjak usia tujuh tahun, dan sang mama membagi waktu.


Geri mendapat jatah menyapu pagi hari, sementara si bungsu di sore harinya.


Geri menyeringai penuh kemenangan melihat raut enggan adiknya. Ia melambaikan salah satu tangan, sementara satu tangan lain menenteng sepatu dan beranjak masuk rumah. "Kalau tidak mau, ya, sudah. Bukan urusanku kalau diburu Mama."


"Argh! Baiklah, baiklah!"

__ADS_1


Jeffry, remaja laki-laki usia empat belas tahun, berstatus adik Geri, harus meraih sapu rumah dan menyapu sebelum mamanya memburu karena lalai dari tugas.


...πŸ€...


"Bagaimana harimu satu minggu ini di sekolah baru, Geri?" Dessy memulai pembicaraan setelah selesai makan malam. Tangannya menyangga di kepala sofa dan menatap Geri yang sudah memandangnya setelah pundak Geri dicolek. Ia tersenyum lebar pada putra pertamanya yang tampak menatapnya tanpa ekspresi berarti. "Kau suka dengan sekolahnya?"


"Uhm ... kurasa begitu." Geri mengangguk sekilas sebelum kembali fokus pada coretan di buku sketsanya. Ia mencoba tidak hirau dengan raut kecewa yang tersirat di wajah Dessy meski tak kentara. Geri memilih kembali menggores pensil di atas kertas.


Jeffry kembali ke ruang tengah setelah selesai mencuci tangan, lalu dengan santai mendekati Geri yang sibuk sendiri. Tinggi badan Jeffry yang sudah menyamai Dessy membuat ia masih sempat memeluk mamanya dari belakang dan mendaratkan kecupan ringan di pipi, membuat Dessy tersentak kaget dan berakhir memukul pipinya pelan. Membuahkan kikih pelan Jeffry sebelum merusak suasana hati Geri.


Jeffry menarik-narik lengan baju pendek kakaknya, mencoba menarik perhatian Geri yang mengerutkan alis dan menepis tangan jahil itu, merasa kesal karena diganggu. Ia kembali mencoba menarik lengan baju itu dengan lebih keras karena Geri tak menghiraukan. Menimbulkan decak sebal dan geraman pelan dari sang kakak, balik menatapnya dengan wajah merengut.


"Apa?"


Jeffry melirik Dessy yang sebelumnya termenung di tempat dan berbalik ke pantry. Ia mengembuskan napas lega sebelum kembali menatap Geri.


"Kakak tidak lupa dengan tadi sore, kan?" Jeffry berbisik dengan tangan menutupi akses penglihatan, berjaga-jaga kalau ibunya mendadak ingin kepo dan menyerobot pembicaraan.


Geri mengerjap, menerawang kegiatannya sore ini. Pulang bersama Sulli, hampir ditabrak sepeda, sampai rumah, lalu bermalas-malasan hingga waktu makan malam. Bahu Geri terangkat sekilas, ia merasa tak ada hal lain yang tidak seharusnya dilupakan. Dipandangnya Jeffry yang mendengkus sebal dan menangkup kedua pipi Geri gemas.


"Raket tenis, Kak ... raket tenis ...." geramnya pelan, alis Jeffry sampai naik karena gemas ingin sekali mencakar muka Geri yang dibuat polos itu. "Kakak tadi janji mau bantu-"


"Bau bagaimana? Aku saja hanya makan bakwan. Padahal yang makan bawang putih, kan, dia sendiri," cibir Jeffry pelan. Tetapi, tak lama cengirannya terbit melihat punggung Geri menghilang dari pintu utama. Terlihat sekali sang kakak bersedia membantu mencarikan raket tenisnya.


"Yes, yes! Dicariin raket!" Jeffry menyusul sembari melompat-lompat kegirangan.


Astaga, mereka itu. Dessy yang diam-diam mengamati interaksi anak-anaknya hanya menahan tawa geli. Ah, ia cukup menatap dari jauh dengan sesekali fokus agar bisa menangkap arah pembicaraan mereka, meskipun ingin sekali ikut andil dalam percakapan.


Mungkin, suatu saat, dan Dessy tidak keberatan untuk menunggu hingga waktunya benar-benar tepat.


...πŸ€...


Elly memandang semua barang yang berserakan di depannya dengan pasrah dan tangan berkacak pinggang. Ia ingat agenda libur sekolah kali ini harus membenahi peralatan rumah yang kurang bermanfaat.


Beberapa barang yang dianggap kurang berguna harus masuk ke kardus untuk dimuseumkan di gudang rumah. Peralatan dapur yang mulai menguning, busa sofa yang sudah lusuh-tidak lagi empuk, kipas angin rusak, dan beberapa hiasan rumah yang sudah begitu lama memajangkan diri di dalam ruangan. Belum lagi kamar ayahnya, ia harus menyingkirkan berkas-berkas tak terpakai dan mengumpulkannya, lalu dijual ke pengepul barang bekas. Elly sempat ingin sedikit menjual barang bekas lain, tapi mengingat harga yang terlampau murah, membuatnya urung. Elly tidak akan balik modal, ia hanya akan rugi!


Astaga. Ia mendengkus, mencoba meraup sabar dengan tarikan napas. Rasanya Elly bukan mau bebersih rumah, tapi pindah rumah.

__ADS_1


Tuhan, andai ada kantung ajaib Doraemon di sini! ratapnya dalam hati, memandang langit-langit ruangan seakan bisa tembus hingga langit Arasy. Ia merengut sekilas, lalu menipiskan bibir untuk menumbuhkan tekad dan kembali sibuk mengelompokkan barang.


Mungkin lain kali ia harus lebih hati-hati dalam membeli barang. Benaknya dengan konyol memikirkan perbandingan tak mengeluarkan uang untuk perabotan. Ia bisa menggunakan uang itu untuk hal lain; membeli alat-alat masak, mungkin? Atau sekadar kuliner hingga lupa waktu.


Haha! Ya! Elly akan sangat puas, lalu berakhir mendapat murka sang ayah. Bagus sekali.


Gadis itu mengakhiri khayalan tak bergunanya, lalu kembali beres-beres dengan dengkusan sebal yang sesekali terdengar.


"Aaa!" Jeritannya tiba-tiba mengudara karena merasakan sesuatu bergerak-gerak di jemari kaki. Elly refleks menghentakkan kaki berulang kali, lalu mengembuskan napas karena sesuatu yang menggerayangi kaki ternyata anak cicak.


Hampir saja Elly mengira itu kecoa. Oh, tidak! Jika benar makhluk satu itu, Elly akan langsung lari terbirit-birit.


Eh? Alis Elly mencuat ke atas, heran dan penasaran melihat selebaran foto jatuh dari buku lama. Dipandangnya sejenak sampul buku yang bertulis "Album Foto Menengah Pertama."


Sedikit bingung mengapa buku album tersebut bisa kategori dibuang, Elly memungut foto yang jatuh tadi. Mengamati lamat-lamat wajah masa kecil teman-temannya dulu. Beberapa di antara mereka sudah berubah-Elly sempat bertemu satu atau dua orang di antaranya, sementara yang lain entah bagaimana wajah dan sifatnya sekarang.


Ia ingat, dahulu ada yang menjadi perundung semasa kelas delapan; Radit. Elly ingat sekali pernah terkunci di gudang berisi bangkai-bangkai bangku kelas dan alat olahraga yang rusak. Gadis itu menangis cukup lama sambil menggedor-gedor pintu, berharap ada yang mendengarnya. Untung saja ada satu anak lelaki yang mendengar dan berbaik hati menolongnya, mengeluarkannya, bahkan mengantar Elly pulang.


Elly ingat saat itu tubuhnya lemas bukan main, hingga akhirnya remaja muda yang menolongnya terpaksa membopong tubuh mungil Elly di balik punggungnya. Mereka tak bercakap-cakap, tentu saja. Elly mana bisa berbicara?


Namun, masalah tak selesai di situ. Sesampainya di rumah, ayahnya yang salah paham langsung menginterogasi si penolong hingga Elly harus menarik-narik pundak ayahnya agar membaca gerakan isyaratnya. Barulah remaja lelaki yang tak menyebutkan nama itu bisa pulang, dan Elly langsung diminta makan karena terlihat pucat.


Entah di mana dia. Elly mengelus sampul album, tersenyum kecut karena merasa bodoh tidak menanyakan nama si penolong.


Omong-omong, perut Elly mendadak bergemuruh tak nyaman. Membuatnya kembali berhenti dan mengelus perut, lalu memandang jam dinding yang menunjuk pukul dua siang. Seingatnya ia pun belum makan siang, sebab sedari pagi sudah sibuk berbenah. Pantas saja perutnya protes, Elly hampir lupa waktu makan.


Mengalihkan rasa lapar, ia berpikir untuk menuntaskan dahulu pekerjaannya. Dimasukkannya barang-barang itu dalam kardus sesuai ukuran, lalu satu per satu kardus diangkutnya untuk dikeluarkan dari rumah. Sebisa mungkin Elly bergerak cepat karena cacing perutnya menggeliat minta sesajen.


Kardus terakhir! soraknya girang dalam hati. Ia tersenyum lega, mendesah puas melihat beberapa tumpuk kardus dari ukuran kecil hingga besar terlihat menggunung di pelataran rumah. Saatnya makan!


Sedikit berjalan cepat, ia meraih dan membuka tudung saji, menatap lauk sederhana di meja makan sebelum beralih cuci tangan.


Makan telah tiba! Makan telah tiba! Hore! Hore! Elly memutar nada riang lagu "Libur Telah Tiba" di benaknya yang seenak hati mengubah lirik. Ia mengambil nasi dan lauk, lalu duduk tenang sebelum berdoa dan memakan makan siangnya.


Namun, pikirannya mendadak saja teringat dengan siluet seseorang yang tampak mirip dengan penolong Elly saat SMP.


Eh?

__ADS_1


...TBC...



__ADS_2