
...Jarum, jarum, jarum...
...Untuk sulam~~~...
...(Pelesetan iklan)...
...StarLova_Books...
...🍀...
Masih jelas dalam ingatan, kata Mama Dessy saat Geri masih kecil, ia akan berpesan setiap Geri berangkat sekolah. "Jadilah murid yang taat aturan dan menghormati Ibu Guru."
Geri ingat, ia hanya akan mengangguk kecil tak acuh karena tangannya langsung terulur meminta uang saku. "Uang jajan, Ma?"
Dessy akan bersungut-sungut karena merasa Geri menyebalkan, tapi tetap memberikan selembar uang lima ribuan padanya. "Ingat! Tunggu sampai bel istirahat bunyi! Baru boleh jajan."
Geri selalu bosan dengan peringatan itu, dan ia sering langsung tancap gas meninggalkan rumah dengan berseru mengiyakan ucapan Dessy.
Seharusnya ia benar-benar mematri ucapan itu dalam hati dan sanubari. Jadi Geri tidak mungkin berada di ruang bimbingan konseling bersama Andrew karena terciduk di kantin saat jam belajar masih berlangsung.
Iya, jam belajar siswa lain. Geri, sih, sudah belajar. Belajar menerima kenyataan.
"Sudah, jangan diulangi, ya. Kamu berdua ini bukannya dilarang ke kantin, tapi tolong lihat aturannya. Mana ada aturan yang memperbolehkan ke kantin saat jam pelajaran?"
Keduanya diam membisu, lebih tepat tidak ingin terlalu lama di ruangan ini. Mereka berharap ceramah dadakan guru berkumis belah tengah ini segera selesai, dan kedua remaja itu bisa langsung keluar.
"Enggak ada yang mau ngomong?"
"A-anu, Pak ...," lirih Andrew ragu. Ia menggaruk lengan atas kirinya yang mendadak gatal. "Kami sebenarnya disuruh membaca materi, cuma karena bosan jadinya keluar kelas sambil diskusi."
"Aduh, kalian ini. Kalau sudah ada tugas, ya, dikerjakan. Terus kalau mau diskusi kenapa enggak di dalam kelas saja? Malah jadi ke kantin begini, kan?"
Bagi Geri, mungkin tidak masalah. Ia hanya perlu diam dan sering-sering melirik jam dinding yang berada tepat di belakang lelaki paruh baya itu. Sedangkan, nasib "apes" kalau kata Andrew, harus diterima lapang dada. Ia harus mendengar dan terkadang berjengit pelan melihat ... air liur guru itu terciprat ke meja.
Keki melihatnya, Andrew ikut melirik jam dinding. Meskipun dalam hati berteriak kurang akhlak, PAAAK, PENGEN PULANG AJA SEKALIAN! ENGGAK MAU AKU KENA SEMBURAN LAVA! KALO ICIP-ICIP ROKOK PERFECT JUGA MAU!
"Heh, denger, enggak?" Guru konseling itu sedikit menggebrak meja melihat siswanya malah melamun. Ia tidak marah, hanya ingin mengembalikan fokus mereka saja.
Geri—yang kebetulan sedang membagi pandangan dengan wajah sang guru— dan Andrew terlonjak melihat gurunya tiba-tiba menggebrak meja. Seketika tubuh keduanya merapat pada bangku, duduk tegap seakan hendak makan ala militer.
"I-iya, Pak, kami salah." Andrew membuka suara. Ia menggaruk pipinya yang gatal sambil kikuk berkata, "Kalau boleh, kami mau kembali ke kelas, Pak."
Geri tidak tahu teman kelasnya berbicara apa. Ia hanya fokus pada sang guru, takut-takut mengeluarkan ultimatum hukuman. Batinnya mengeluh tidak menerima, tapi jalan keluar hanya satu, dan itu tak jauh dari meja bimbingan.
"Ya memang harus. Kali ini kalian enggak akan kena hukuman, tapi jangan diulangi."
Menurut kalian apa hal yang bisa membuat diri berteriak, 'INI ADALAH HARI KEBERUNTUNGAN!' ?
Mungkin mendapat Jackpot undian berhadiah jutaan, mungkin juga terbebas dari kehilangan barang atau kemalangan. Ada yang mendapat rezeki tidak terduga, ada juga yang memperoleh derajat tinggi dengan sekejap mata.
__ADS_1
Berbeda-beda, tapi diri tetap gembira dan merasa lega. Setidaknya bukan memperoleh kebalikan dari hal yang menggembirakan itu.
Kalau Andrew merasa beruntung setelah keluar ruang BK langsung berbunyi bel istirahat—ia punya waktu melanjutkan jajan, maka Geri merasa beruntung tidak ada lagi bayang-bayang mendapat hukuman.
"Aku duluan, deh, masih laper," celetuk Andrew, sekonyong-konyong lari sambil menerobos beberapa siswa yang bergerombol hendak ke kantin. Ia meninggalkan Geri yang menggelengkan kepala tidak habis pikir.
Seingatnya, Andrew sudah makan banyak. Remaja itu menghabiskan semangkuk soto lengkap dengan nasi menggunung, bahkan sebelumnya ia menghabiskan dua buah risoles isi ayam di warung yang sama dengan Geri memesan siomay.
Penampungan perutnya lumayan juga.
Sudut pipi dekat bibir Geri terangkat. Geli melihat tingkah teman yang telah menunjukkan sisi lain sekolah. Andrew, kalau menurut Sulli yang sudah satu tahun bersekolah di sini, adalah siswa lelaki yang sangat sulit diatur untuk diam. Beberapa anak dan guru sampai bosan memeringatkan Andrew yang sering bertingkah dalam kelas saat pelajaran berlangsung.
Namun, setelah perbincangan singkat tadi, Geri tahu sebenarnya Andrew memiliki banyak minat dan potensi. Remaja lelaki itu hanya terlalu lelah berdiam di satu tempat dengan rentetan pelajaran.
Oh, mungkin dia hiperaktif? Geri mengernyit seiring langkah menuju kelas dengan satu opini yang tiba-tiba saja menyeruak di benaknya.
Kakinya berhenti di bibir pintu begitu melihat anak lain tampak diam saja dengan buku mereka. Beberapa menoleh padanya, tampak terdistraksi dengan keberadaan Geri, sebelum akhirnya kembali sibuk sendiri.
Melihat ruangan ini, Geri jadi mengerti sedikit hal tentang sikap Andrew.
Ah, begitu ternyata ... Andrew bosan di dalam ruangan.
Ya, sebab sebagian anak kelas selalu terpaku dan terjebak pada pembelajaran di dalam ruangan. Mereka akan diam dan duduk selama beberapa jam untuk belajar, bahkan ada yang memarahi siswa lain jika melihatnya keluar kelas dengan alasan serupa; sama-sama belajar. Geri menganggap Andrew bukan tipe orang demikian. Cara remaja itu tampak sekali sering mendapat pelajaran dari dunia luar, bukan terpaku pada teori dan segala bahan bacaan.
Ia tak habis pikir, remaja macam Andrew harus terjebak di kelas dengan stereotip ini.
Aha, dan sekarang Geri termasuk di dalamnya. Dalam hati, ia meringis menahan keki.
Beberapa kelas dan ruangan laboratorium harus dilewati agar Geri bisa sampai. Ia menatap sekeliling taman yang tampak sepi tanpa kehadiran orang lain. Kakinya bergerak mendekat pada pohon mangga, lalu hendak merebahkan diri di sana.
Geri menyipitkan mata, mencoba fokus pada kertas tergulung yang sepertinya sengaja dijepit pada batu yang berhimpitan dengan pohon. Ia mencabut kertas tersebut, mencureng bingung dengan rasa penasaran memuncak.
Ditatapnya sekeliling, mencoba memastikan tidak ada yang melihat atau mengintip. Geri baru membuka kertas setelah yakin tidak ada yang memperhatikannya. Ia melihat tulisan rapi yang ada di kertas, lalu mulai membacanya.
"Aku senang ternyata tidak hanya aku yang suka mencari tempat tenang. Seperti daun pohon, kuharap kau bisa ikut merasakan angin di sini. Aku tidak bermaksud apa-apa, tapi tolong terima kue kering yang aku simpan di balik batu ini. Aku membuatnya sendiri, dan anggaplah sebagai perkenalan. Semoga harimu menyenangkan!" —Ellyana
Alis remaja laki-laki itu menyatu—tidak benar-benar menyatu karena ada sedikit jarak di antara keduanya—lalu mencoba menilik barang yang dimaksud si pengirim pesan.
Sebuah wadah berukuran balok kecil terselip di antara batu, tampak kontras karena warnanya yang putih tulang. Tangan Geri meraih wadah itu, sedikit merasa geli karena di sana tertempel kertas kuning dengan emotikon senyum lebar dan lambang kue.
Segera, karena sudah sangat penasaran, Geri membuka dan sejenak terperangah melihat kue kering yang diberikan gadis 'penguntit'.
Kue kering kacang dengan balur kuning telur yang ikut dipanggang. Geri mencukil serpihan yang ada di pojok wadah, mencicipinya dengan pandangan penuh pada kertas pesan Ellyana.
Tak lama, entah kenapa, Geri tersenyum puas.
Ya, tampaknya titel "penguntit" memang pantas disanding Ellyana. Geri sampai tertawa kecil sebelum duduk bersandar di bawah pohon dan menikmati semilir angin dengan memakan camilan barunya.
"Dari mana dia tau kue kering ini kesukaanku?"
__ADS_1
...🍀...
Sulli berjengit mundur karena wajahnya dihalangi selembar kertas begitu keluar kelas. Ia membeliak terkejut beberapa saat, lalu melengos sebal pada pelaku yang mengulurkan kertas tersebut.
"Mau apa kau?"
"Aku minta maaf." Geri jengah karena Sulli tersenyum sumringah, ia mengalihkan pandangan sebelum kembali mengulurkan kertas. "Ini, cepat ambil!"
Sulli menerima kertas, tersenyum senang melihat hasil sketsa yang ternyata sesuai dengan idenya tadi pagi. Ia tertawa pelan melihat Geri yang masih enggan menatapnya, alih-alih melihat sekumpulan siswa sudah mulai pulang.
"Terima kasih, tapi seharusnya tidak perlu seperti ini."
"Aku tahu. Aku mau minta tolong."
Seketika, senyum sumringah Sulli lenyap setelah mendengarnya. Ia mencebik dan merutuki diri yang berpikir Geri melakukannya dengan ikhlas. "Kukira kau benar-benar minta maaf, ternyata ada maunya."
"Temani aku berangkat dan pulang untuk sementara waktu." Geri berucap tanpa melihat Sulli, lalu terlonjak kaget karena kakinya diinjak. Ia mendelik sambil mengelus-elus permukaan sepatu, berharap bisa tembus sampai tulang agar nyeri menghilang. "Astaga, anarkis banget, sih?!"
"Heh, kau yang tidak tahu diri! Bukannya tulus minta maaf, tapi malah memerintahku seenak hati! Kau pikir aku digaji?!"
Geri menggaruk belakang telinga, sedikit menyesal karena memancing emosi Sulli. "Oke, oke, aku benar-benar minta maaf. Jam tanganku rusak, hari ini dibawa untuk diperbaiki. Entah kapan selesainya. Aku harus ditemani, kalau tidak ..."
"Oke, oke, aku tau!" Sulli khatam apa yang akan diucapkan Geri. Remaja itu akan kesulitan kalau tidak ditemani—terlebih jam tangan khususnya sedang diperbaiki. Salah-salah, Geri akan celaka karena tidak mendengar klakson kendaraan lain atau dicemooh orang saat dipanggil tanpa menjawab. "Tapi, benar, aku tidak bisa hari ini."
Bahu Geri lemas seketika. Pandangannya tiba-tiba hilang harapan setelah Sulli berucap demikian. Ia berdecak, menyesal sudah menyelesaikan gambar sesuai ide sepupunya itu. "Ah, tau seperti ini, aku tidak membuat lukisan itu!"
"Astaga, Tuhan, tabahkan Hamba," gumam Sulli, menarik napas panjang untuk menambah stok sabar. "Aku ada rapat dengan anggota klub—yang mengingatkan aku, kau belum gabung klub manapun, kan?"
Geri mengedikkan bahu, merasa tidak tertarik. "Aku tidak mau ikut apa pun."
"Tidak bisa begitu, Geri. Klub itu bisa jadi nilai tambahan rapor." Sulli menggulung kertas berukuran A5 itu, lalu menepuk-nepuk pundak Geri yang lebih tinggi dari kepalanya.
"Terserah, lalu aku pulang bagaimana? Menunggumu?" Geri meratapi diri, sedikit kesal karena mengandalkan orang lain hanya untuk pulang.
"Euhm ... ku usahakan tidak akan lama. Kau tunggu saja dulu di kelasku, ya?" Kalau sudah seperti ini, sikap menyebalkan Sulli hilang. Rasa khawatir lebih menguasainya karena keadaan Geri tidak bisa dianggap enteng. "Ada anak lain, kok, di kelasku."
"Memang—Hei! Kau pergi begitu saja?!" Geri menggeram kesal, niat hati ingin bertanya untuk masuk kelas, tapi langsung ditinggal Suli yang langsung tancap gas sambil melambaikan tangan.
Entah apa yang dikatakan Sulli, Geri tidak dengar!
Sedikit menggerutu, ia mulai melangkah masuk kelas Sulli yang ternyata sudah sepi. Hanya tinggal satu siswa yang duduk di pojok kelas terlihat menunduk menulis sesuatu di bukunya. Tetapi, begitu Geri masuk, siswa yang ternyata gadis itu seketika menengadah menatap seseorang yang dirasanya masuk.
Seketika Geri tertegun. Bukan, bukan karena siswi itu cantik atau bagaimana, tapi lebih ke sesuatu yang seketika membuat Geri teringat sesuatu. "Kau di kelas ini?"
Oh, jangan lupakan sebuah lampu imajiner yang tiba-tiba menyala di atas kepalanya. Geri menyeringai kecil seiring mendekat pada gadis yang langsung mengkerut di tempat.
"Ellyana, aku punya permintaan untukmu."
...TBC...
__ADS_1