Daun Tangan

Daun Tangan
Terpergok


__ADS_3

...Aku masih anak sekolah...


...Dua SMA~...


...Sedang gencar bolos dan mencari jati diri...


...Anak sekolah...


...Jumpa kembali~...


...Bersama orang tua di ruang konselinggg...


...🍀...


Geri bergegas duduk di bangku makan dan meletakkan jam tangan khususnya di meja. Ia menatap Dessy yang tersenyum dan menepuk-nepuk pundaknya.


"Jam tanganku rusak, Ma," ujarnya. Ia meraih gelas dan menuangkan air minum ke dalamnya sebelum kembali fokus memandang Dessy.


Dessy terdiam sejenak. "Astaga, lalu bagaimana nanti kau beraktivitas?" tanyanya risau. Ia merasa khawatir dengan jam tangan Geri yang bermasalah, tidak bisa membayangkan putranya yang kesulitan menjalani pembelajaran tanpa jam tersebut.


Geri mengedikkan bahu sesaat, lalu mulai mengambil nasi serta lauk pauknya. "Sementara mungkin akan ditemani Sulli, tapi aku tidak bisa terlalu lama bergantung padanya. Dia menyebalkan!"


Geri mendelik pada Jeffry, menepis tangan adiknya yang seenak hati mengambil ayam bagian paha. Padahal sudah sejak tadi ia mengincar bagian itu, tapi akhirnya Geri mengalah dan tersenyum kecut melihat Jeffry nyengir.


"Oh, begitu? Nanti Mama coba bawa untuk diperbaiki." Dessy tersenyum melihat Geri yang sudah mulai melahap sarapan. Alisnya tiba-tiba terangkat, Dessy ingat sesuatu. Ia menyentuh pundak Geri untuk meminta perhatian. "Apa Sulli mau menemanimu berangkat dan pulang untuk sementara waktu?"


Geri mengangguk. "Kami sering pulang bersama, tidak masalah."


...🍀...


"Nah, kalau seperti ini, bagaimana?" Untuk kesekian kalinya, Sully mencoba memberikan ide menggambar pada Geri. Beberapa kali sebelumnya, ia pun memberikan ide meski berakhir ditolak Geri.


Ditolaknya tidak halus, pula. Sketsa hasil memeras otak Sulli langsung dibuang begitu saja. Tetapi, anehnya, gadis tomboi itu tidak jera. Ia tetap memberikan ide sederhana yang melintas di benaknya saat Geri mengeluh tidak memiliki ide.


Sulli tersenyum lebar memberikan coretan pada selembar kertas yang ia sobek dari buku tulis, lalu memaksa Geri menerimanya. Gadis berambut sebahu itu lantas mengibas pelan rambutnya, bertingkah genit dan beralih memandang luar jendela dengan senyum tidak jelasnya.


Geri merintih ngeri melihat ide sketsa Sully. Rasanya jiwa seni pada diri Geri berteriak tidak terima, seakan sudah dihina. Sepanjang hidupnya menekuni seni, baru kali ini Geri merasa seni bukan suatu kebebasan berekspresi. Iya, mungkin Geri akan terkesima jika yang memberikan sketsa adalah maestro seni. Tetapi, ini Sulli!


Gambar macam apa ini?


Remaja laki-laki itu menatap lekat setengah nelangsa pada kertas yang diberikan Sulli. Melihat coretan gunung kembar yang Geri tebak Gunung Sindoro, lalu dua garis miring yang membentuk sudut di tengah gunung-entah sungai atau jalan, rumah-lebih tepat disebut gubuk, coretan huruf V yang begitu bertebaran. Semuanya seakan digambar dari sudut atas dengan tambahan sebuah tebing yang terlalu curam, dan ditaburkan titik-titik di langit seakan itu bintang bertebaran.


Iya, bertebaran sampai membuat Geri menahan kejan saking tidak bisanya membayangkan lukisan.


"Sulli."


"Ya? Apa kau menyukainya? Oh, tentu saja! Kau pasti suka!" Sulli tertawa-tawa, tidak acuh pada beberapa penumpang bus yang terganggu dengan sikapnya. "Bayar lima puluh ribu, Geri. Kau harus membayar jasaku."


"Kau benar-benar anak SMA?"


Cengiran yang semula menghias di wajah Sulli berubah menjadi kernyit, merasa bingung. Ia mengangguk polos pada Geri yang memandangnya keki.


"Astaga, anak SD kelas satu saja bisa menggambar lebih baik darimu," cela Geri akhirnya. Ia mengembalikan sobekan kertas itu, merengut dan memilih mengalihkan pandangan ke depan-apa saja, yang penting bukan wajah acak-acakan Sulli. "Tidak mau! Kau saja yang menggambar!"


Sulli menganga, ia mendelik tidak terima dengan celaan yang Geri berikan. Kertas di genggamannya berubah menjadi bola karena ia remas, lalu dengan kasar ia tumbukkan pada kepala Geri. "Makan tuh, ide! Menyebalkan! Sudah dibantu, malah meludahi!"

__ADS_1


"Siapa yang meludahi? Aku hanya bilang; gambar anak kelas satu dasar bahkan lebih baik darimu!"


"Kau ini benar-benar, ya! Tadi siapa yang bertanya ide padaku, ha?!"


"Aku tidak memaksamu, ya! Kau saja yang terlalu inisiatif!"


"Hei, kalian, harap diam!" Sedari tadi menahan kesal, akhirnya kondektur bus menegur dan memandang tajam keduanya ketika lampu merah. "Kalau tidak bisa diam, turun saja!"


Keduanya memang bisa diam setelahnya, tak ada pembicaraan atau debat kusir yang mencemari pendengaran. Tetapi, sikap ini terus berlanjut hingga Geri akhirnya hanya bisa mendengkus geli karena Sulli langsung keluar bus angkutan begitu sampai di lingkungan sekolah.


Ia hanya bisa diam menatap sepupunya yang sudah bergegas pergi meninggalkan Geri.


"Ah, terserahlah," gumamnya.


...🍀...


"Hanya perasaanku saja, atau belakangan ini sering sekali jam kosong?" Andrew yang bosan tidak ada kerjaan, akhirnya berbalik dan mengajak Geri bicara setelah mengganggu sesi menggambarnya dengan menyentil ujung atas pensil. Ia menumpukan dagu di tangan yang terlipat dan bersandar pada bangku.


Geri mengangkat bahu, tidak peduli. Ia memilih kembali menggoreskan pensil dengan halus pada sketsa barunya. Menorehkan garis yang sedang dicobanya menjadi gambar bunga rambat.


Gara-gara Sulli yang menolak memberi ide, Geri harus terima sedikit ide tersebut untuk menjadi beberapa bagian penting di lukisan selanjutnya. Astaga, sebenarnya Geri tidak ingin, tapi Sulli akan sangat menyebalkan kalau sikapnya tidak berubah. Ia masih membutuhkan bantuan Sulli untuk mengantarnya berangkat dan pulang sekolah selama jam tangan khususnya masih bermasalah.


Baru dua menit Geri tenang dan damai, ia tiba-tiba menggeram pelan karena pensilnya disenggol dengan sengaja. Remaja itu mendelik pada sosok yang menjadi pelaku, sementara Andrew hanya cengengesan.


"Kau ini! Temanmu sedang mengajak bicara, kenapa diabaikan, ha?" Sudahlah teman sekelasnya terlalu ambis mengejar pelajaran, tidak ada yang bisa diajak bicara, dan sekarang ia diabaikan dengan acara melukis sketsa. Astaga, Andrew tidak berpikir untuk menghabiskan masa abu-abu dengan selalu menjadi anak baik! Ia butuh sesuatu yang menguji adrenalin, bahkan bisa membuatnya candu, tetapi sampai sekarang Andrew selalu gagal melakukannya. Salahkan saja sikap tidak peduli teman-temannya! Gagal sudah ia menghias masa abu-abu!


Andrew berakhir menggerutu tidak jelas.


Geri mengerjap, seakan mereka ulang kejadian hari lalu. Ia ingat pulang sekolah lebih awal, pun beberapa minggu terakhir yang terjadi hal serupa. "Mungkin akan ada acara."


"Terserah!" Geri merengut, merasa sesal karena menyahut. Mungkin tadi lebih baik ia diam dan tak acuh kalau tahu akan diperlakukan seperti ini. Tangannya kembali sibuk menggores pensil, mengabaikan Andrew yang tertawa pelan-merasa terhibur.


"Oh, ayolah!" Remaja itu kembali menggoyang pelan lengan Geri, kali ini tidak sengaja memancing cebikan geram Geri yang kembali salah menggores sketsa. "Maaf, maaf!"


"Tapi aku serius, kita tetap di kelas, nih! Kalau boleh jujur, aku bosan!" Andrew menatap sekitarnya, terlihat banyak siswa yang memilih tenang dengan buku bacaan. Ia bergidik ngeri, kembali menatap Geri.


Remaja di hadapannya ini hanya diam, menatap datar Andrew dengan dengkusan malas. Tiba-tiba saja ingat pertama kali menyapa, Andrew diabaikan begitu saja saat mengulurkan tangan untuk melakukan tos. Membuat tawa geli menyeruak di kelas dan berakhir dengan raut melongo Andrew berubah menjadi gemas.


Gemas ingin mencakar.


Oh? Benaknya seakan sadar satu hal. Geri ini masih tergolong murid baru sebab pindah satu minggu yang lalu. Seketika cengiran terbit di wajah Andrew, menghadirkan kerutan dahi Geri yang tidak mengerti arah pikirannya.


"Ayo, kita keluar aja! Aku ingin mengenalkan sisi lain sekolah!" Tanpa aba-aba atau ijin, Andrew meraih lengan Geri dan menariknya keluar kelas. Tidak acuh pada pandangan aneh anak-anak kelas yang merasa kaget dengan gerakan tiba-tiba itu.


Sementara Geri yang ditarik hanya bisa pasrah dengan menghela napas panjang. Berharap teman barunya ini tidak berbuat aneh dengan mengajaknya bolos di jam kosong.


Namun, Andrew tampaknya benar-benar menunjukkan sisi lain sekolah. Ia menggiring Geri ke berbagai ruangan ekskul yang ditinggal anggotanya. Ruangan itu menjadi terbengkalai dan sepi karena tak ada lagi kegiatan.


"Beberapa ekskul ditutup gara-gara enggak ada peminat, termasuk ekskul bahasa isyarat." Telunjuk Andrew mengacung pada papan ekskul yang terpasang miring di atas pintu. "Sayang banget, gara-gara kurang adanya mentor pengalaman. Padahal kalo dipikir-pikir, anak sini ada juga yang pakai bahasa isyarat buat berkomunikasi."


Geri terus mencoba membaca gerak bibir Andrew dan mengamati lingkungan sekaligus. Beberapa informasi baru yang ditangkapnya benar-benar di luar dugaan. "Apa tidak ada yang bisa menjadi mentor?"


"Sebenarnya ada, cuma anaknya pemalu. Waktu itu aku juga ikutan." Andrew mengerucutkan bibir, menerawang ingatan saat ekskul tersebut masih berfungsi. "Waktu itu senior kelas tiga menunjuknya, eh, pas ke depan dia gugup enggak jelas terus pingsan. Sampai ekskul ditutup, akhirnya enggak ada mentor."


Geri manggut-manggut, paham dengan bayangan tersebut. Ia mungkin akan merasa ekskul tersebut memang ditutup dengan alasan yang masuk akal. Tidak ada mentor, bagaimana bisa berjalan? "Apa tidak ada usaha untuk ambil mentor dari luar?"

__ADS_1


"Nah, itu enggak tahu. Waktu itu ada desas-desus bakal dicarikan, tapi enggak ada kejelasan."


Andrew melangkah menuju ruangan di samping bekas ekskul. Ia memandang sekitar yang mulai ditumbuhi rumput liar. "Tadinya area sini ramai, banyak siswa yang ikutan ekskul ini."


Geri tidak menghiraukan. Ia lebih memilih untuk menengadahkan kepala ke arah jendela ekskul, memandang ruangan yang sudah berantakan. Batinnya menyayangkan, seharusnya ruangan ini bisa digunakan yang lain saja. Tidak jadi ekskul, bisa jadi kelas atau laboratorium mini.


Ah, mungkin kalau diberikan pada Geri secara cuma-cuma pun tidak mengapa. Ia bisa gunakan sebagai studio lukis dan menarik siswa lain untuk ikut!


Andrew mengernyit, tidak lagi mendengar Geri yang bertanya atau merasakan kehadirannya. Ia berbalik, lalu melihat pemuda itu malah sibuk sendiri mengintip celah jendela ekskul bahasa isyarat.


Kalau tidak ingat sayang nyawa, Andrew akan kabur sendiri. Meninggalkan Geri yang mungkin akan sial sekali setelah ini. Tetapi, karena dirinya baik hati, tidak sombong, paling tampan sejagad, dan-coret-tidak-coret-boros, Andrew segera menarik kerah belakang seragam Geri. Ia mendelik seiring langkah membawa si teman ke area lebih terbuka dan terang. Tidak seperti tempat ekskul terbengkalai tadi yang menurut Andrew suram.


"Heh, kenapa sih?" sentak Geri, mengenyahkan tangan Andrew dan mencoba merapikan seragam. Ia bersungut-sungut, gara-gara tarikan itu baju belakangnya terangkat.


"Heh, bukannya makasih!" cela Andrew, berkacak pinggang. "Di sana itu ...."


Tak melanjutkan ucapannya, Andrew malah panik sendiri menatap sekelilingnya seakan memeriksa keadaan. Ia kembali memandang Geri yang berpikir teman satu kelasnya ini kerasukan.


Andrew mendekat dengan dramatis-sontak Geri mundur, menutupi sebelah bibir dengan tangan agar tak ada yang melihat dan mendengar. Ia dengan serius memberi tahu informasi penting level S ala ninja Konoha. "Di sana itu ada penunggunya. Takut aja kalo kamu ditarik terus enggak balik."


"Lelucon jaman SD, ya?" Geri menyahut sarkas. Ia melengos, memilih pergi daripada harus meladeni Andrew yang sinting. Tidak peduli pada teman kelasnya yang berseru tertahan memanggil namanya di belakang minta ditunggu.


"Kita mau ke mana?" Geri bertanya sedikit cepat. Ia tampak tengok kanan-kiri melihat koridor agak gelap yang mereka lewati. Terlihat sekali Geri belum pernah melewati sisi sekolah ini.


"Ke kantin." Andrew menoleh sekilas, nyengir kuda sambil menjawab pertanyaan Geri. Ia merogoh saku celana untuk menghitung lembar uang dua ribuan yang dibawanya dari rumah, berharap bisa dibelanjakan sup atau soto.


"Kantin? Enggak balik kelas?"


"Kau ini," keluh Andrew, berdecak sebal karena Geri tampak tidak setuju dengan tujuan mereka. Keduanya sampai berhenti berjalan. "Aku bosan di kelas, Ger. Kamu enggak lihat, ya, kelas kita horor banget? Ngobrol enggak, diskusi enggak, diem semua baca buku. Kalo ada yang berisik, diomelin."


Geri menautkan alisnya dengan kepala teleng ke kanan. Ia sedikit memikirkan hal tersebut, mencoba mencocokkan kata 'horor' dengan suasana kelas. Memang, sih, kelas mereka lebih sering senyap karena sebagian besar anak memilih untuk membaca ketimbang bersenda gurau atau bermain. Berbeda sekali dengan beberapa kelas yang pernah Geri lihat, contoh saja kelasnya Sulli.


Kelas Sulli tampak begitu ramai baik saat pembelajaran atau istirahat sekalipun. Sampai-sampai tak satu kali guru tampak menarik napas panjang, seakan minta diberikan ketabahan.


"Ah, udah, ya. Yang penting kita udah kerjain tugas guru, udah baca buku. Jadi, temani aku ke kantin! Aku lapar, serius." Jemari Andrew membentuk V dengan telunjuk dan tengah mengacung.


Kedua remaja itu kembali melangkah setelah dirasa sudah satu suara, meninggalkan lorong koridor yang sepi dan bergegas ke kantin.


Suasana kantin terlihat sepi meski ada beberapa siswa yang terlihat nongkrong dan jajan, termasuk Andrew dan Geri. Keduanya sudah terpisah karena memilih santapan berbeda di dua warung, lalu kembali bertemu setelah pesanan mereka sudah tersaji.


"Kau hanya pesan siomay?" Heran sekali melihat Geri hanya membawa semangkuk siomay dengan sambal kacang dan saus melimpah. "Hey, setidaknya pesan nasi biar kenyang."


"Aku sudah kenyang dengan siomay." Tidak acuh pada Andrew yang membawa nampan berisi nasi dan lauk serta minuman dingin, Geri langsung saja duduk di bangku panjang area kantin. Tanpa sadar saja ia tergiur dengan perut berdendang minta diisi.


Andrew menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Ia memilih diam dan ikut menikmati santapan mereka. Akhirnya dalam beberapa menit itu, saat mereka lahap makan, tidak ada percakapan yang berlangsung. Mereka sibuk mencecap rasa makanan dengan sesekali mengunyah dan menelan.


Tidak sadar saja ada guru bimbingan konseling pria paruh baya yang lewat dan akhirnya mendekat. Beliau bersedekap dan mengambil posisi di belakang dua remaja yang sedang makan.


"Kalian bolos?"


Andrew tersedak seketika, sementara Geri masih santai menyantap gulungan sayur sawi putih yang dicocol sambal kacang.


...TBC...


__ADS_1


__ADS_2