
...Lihat kebun ku(cing)...
...Penuh dengan bu(aya)nga...
...Ada yang putih(kus)...
...Dan ada yang merah(yap)...
...Setiap hari(mau)...
...Kusiram se(b)ua(ya)...
...Mawar, melati(kus)...
...Semuanya mampus!...
...StarLova_Books...
...🍀...
"Aku itu pengennya laut, matahari terbenam, terus ada dua orang di tepi laut nonton sunset."
Geri menyipitkan mata, mencoba membaca ucapan gadis yang menyamping, tak memandangnya. Ia mencetus tanya, "Hei, bisakah kau menghadapku saat bicara?"
Gadis itu berbalik, memandang Geri-yang bertanya dengan nada keras-dengan malas. Ia mendengkus sebelum bersedekap, lalu berujar, "Kau harus tahu bagaimana bersikap pada seorang gadis, Geri."
Geri berdecak, lalu melengos dan memilih pergi. Suaranya terus saja terdengar bernada tinggi. "Terserahlah, aku pergi saja! Selesaikan gambarmu sendiri!"
"Eh, hei! Bagaimana bisa kau membatalkan perjanjian?" Gadis itu mencoba mengejar, ia meraih pundak Geri sebelum menyentaknya agar berbalik memandang si gadis. "Hei!"
"Apa, sih!" Geri menepis tangan yang berani-beraninya memegang pundak sembarangan. "Dengar, kau sendiri tak menghargaiku! Mana ada bicara tidak menatap yang diajak bicara?!"
"Astaga, Geri ..." keluh si gadis, menepuk keningnya karena terlalu lelah dengan sikap Geri. "Ini masih di lingkungan kelas, kau tau? Setidaknya jangan kekanakan dan bantu saja aku."
"Oh, begitu?" Geri mencureng sebal, beralih menatap si gadis dengan sinis. "Jadi aku tidak boleh kekanakan dan hanya membantumu? Wah, sungguh bermanfaat sekali hidupku!"
Geri melangkah, mengabaikan gadis yang kini menggerutu kesal karena remaja laki-laki itu masih saja membalas ucapannya. Geri mengambil kanvas berukuran 30×30 yang sudah diwarnai cat dasar berwarna hitam. Ia memandang beberapa warna lain sebelum mengambil kursi untuk duduk.
Mereka akhirnya sama-sama terdiam; Geri yang mulai fokus menentukan warna dan si gadis yang heran karena Geri masih mau membantu meski sudah berdebat kekanakan tadi-bahkan bilang mau keluar. Ruang lukis yang semula ramai karena ocehan keduanya sekarang mulai senyap, membiarkan suara tatakan cat dan kuas mengisi keheningan.
Geri mencampur warna dasar kuning dan biru tua dengan perbandingan 4:6, mencoba membuat warna hijau tua untuk menggambar rerumputan.
Tiba-tiba saja kepalanya dipaksa menoleh oleh dua tangan, membuat fokus Geri teralih pada gadis yang tadi mengajaknya ribut.
"Kau mau membantuku?"
Geri berdecak, malas sekali harus menanggapi pertanyaan retoris semacam ini. Ia yang semula membalurkan warna ke kanvas menjadi terhenti, menepis tangan yang menangkup pipinya dengan kasar. "Demi Tuhan, Sulli, kalau kau memang tak ingin dibantu bilang saja! Aku senang hati pergi sekarang!"
Gadis bernama Sulli itu meringis karena tangannya ditepis sekasar itu. "Ya ampun, untung saja kau tidak memiliki teman lain. Andai punya, mungkin dia tak akan tahan karena ditepis sekasar ini."
Geri melengos, berusaha tak mengindahkan gerak bibir Sulli yang membuat batinnya tak nyaman. Ia kembali memberi warna hijau dan menambah warna kuning dan merah untuk bagian atas, mengoles hingga gambar awan jingga membara terlihat.
"Lagi pula, pekerjaan ini seharusnya dikerjakan di rumah," gerutu Geri, sedikit mengesalkan tingkah Sulli yang kerap mengerjakan pekerjaan rumah di sekolah. "Tidak heran kau selalu kena masalah, terlebih Pak Hendrick. Kau seharusnya tahu dia seperti apa, kenapa malah mencari perkara?"
__ADS_1
Sulli hanya memutar pupil matanya, merasa bosan mendengar ocehan yang terkesan menasehati itu. Ia mengambil kursi lain di sudut ruangan, lalu memosisikan diri duduk di samping Geri. Bola matanya bergulir mengikuti arah gerak tangan si remaja, melihat warna-warna yang ditorehkan di atas kanvas membentuk lukisan senja dari sebuah tebing.
Gadis itu iseng mencolek bahu Geri, membuat fokus Geri kacau dan dengan malas kembali menatap Sulli. "Kenapa kau menggambar itu?"
Geri mengambil napas panjang, merasa lelah kalau harus terus satu ruangan dengan Sulli. Pikiran konyolnya menebak ia akan gila jika berlama-lama di sana. "Satu; kau bilang temanya tentang alam. Dua; kau lebih ingin diam dan lukisan ini selesai atau kusobek saja sekalian kalau kau menggangguku terus?"
Raut wajah geram Geri tidak langsung membuat Sulli mengecil karena takut, alih-alih gadis itu tertawa lebar, merasa terhibur dengan sikap jengkel Geri padanya. Ia mengangkat kedua tangan ke udara, membentuk tanda menyerah dengan senyum geli menahan tawa. "Oke, oke, aku tidak akan mengulanginya."
Geri mencibir, matanya sinis menatap Sulli yang mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya.
"Serius, aku janji!" imbuh Sulli, meyakinkan Geri yang kembali sibuk melukis.
...🍀...
Kantin sekolah penuh dengan siswa yang berdesakan mengantre, terdengar begitu ramai karena mereka ingin didahulukan dengan berbagai alasan; sudah lapar, ingin lekas kembali ke kelas, hampir jam masuk, dan sebagainya. Hal lumrah yang sering terjadi, apalagi waktu memang sudah menunjuk pukul satu lewat dua puluh menit.
Geri memandang pias warung yang biasa ia tempati untuk membeli siomay. Ia tersenyum kecut, berangan bahwa dirinya tidak kebagian makanan dan hanya buang-buang waktu untuk sampai ke kantin.
Langkahnya yang semula bersemangat untuk turut berdesakan akhirnya mundur teratur dan berbalik arah, tapi sebuah tangan tiba-tiba menyahut lengan kirinya. Hal yang membuat Geri kembali berbalik dan memandang bingung sosok yang menarik lengan kirinya.
"Kau mau ke kantin, kan? Kenapa malah balik arah?" Sulli menelengkan kepala, bingung saja karena Geri sebelumnya tidak pernah absen membeli makanan kantin. "Ayo!"
Geri menggeleng, lalu melepas pegangan Sulli untuk kembali berjalan ke kelas. "Kau saja, aku sudah tidak berselera melihat lautan manusia."
Sulli berdecak malas dengan bahu terangkat sekilas. Memilih masa bodoh dan berjalan membeli beberapa camilan. Ia membiarkan saja Geri yang sudah berjalan menjauh dari area kantin dan berbelok ke koridor sepi.
Geri menggaruk pelipisnya, ia merasa kesal pada diri sendiri yang bersikap seolah tidak lapar dengan menolak ajakan Sulli tadi. Padahal perutnya sudah berbunyi, dan hari ini menjadi sial karena Geri lupa membawa bekal yang sudah dipersiapkan.
Batinnya berteriak nelangsa; mungkin ia harus melewati sisa sekolah dengan perut bergerak karena lapar.
Mungkin baru sekitar dua menit Geri mengistirahatkan tubuh, pundaknya terantuk sesuatu yang membuat kesadaran kembali ke permukaan. Ia memandang sekitar, lalu menemukan sosok gadis yang terlihat bersembunyi di balik rerumputan tinggi dekat lorong yang Geri lewati tadi.
Sedang apa dia? Geri menyipitkan mata, berusaha memandang gadis yang sepertinya sengaja sekali melempar sesuatu pada Geri. Oh, bukan! Sejak kapan dia di sana?
Ia berdiri, mengibas sedikit celana seragam agar rerumputan lepas darinya dan berjalan perlahan. Tetapi tidak dengan suaranya yang nyaring bertanya,
"Hei, kau, kenapa melempar sesuatu padaku?"
Pundak gadis itu berjengit, membuat Geri langsung melangkah lebar karena melihat ancang-ancang kabur. Ia berhasil meraih lengan kanan si gadis yang memekik mirip suara anak kucing.
Ya, sebenarnya Geri tidak mendengar apa pun tentang pekikan si gadis, tapi melihat rontaan dan tubuhnya yang kaget setelah ditangkap, membuat Geri berpikir mungkin gadis itu menjerit. Terlebih bibirnya membuka dan menutup seperti ikan koi di akuarium kecil rumahnya.
"Diam sebentar, Nona, aku tidak menyakitimu, ini!" Geri kesal karena gadis itu terus saja memukul dan menampar pelan punggung tangannya agar dilepaskan. "Setidaknya kau harus menjelaskan sesuatu padaku! Kenapa kau melempar batu atau apa pun itu padaku?"
Gadis itu membuka bibir, lalu menutup sebelum terbuka lagi. Geri menyipitkan mata, berusaha membaca gerak bibirnya meski percuma. Si gadis tidak mengatakan apa pun kecuali membuka dan menutup bibir saja.
"Kau mau katakan atau harus kucium dulu pipimu, hah?" ancamnya, yang tentu saja tidak akan dilakukan. Geri bukan lelaki semacam Tere-temannya di sekolah lama, yang bisa langsung merangkul perempuan sesuka hati. Ia tahu batasan sopan santun, tentu saja! Hanya ingin menggertak, sebab Geri sedikit tergelitik melihat tingkah gugup si gadis.
Gadis itu tersentak, lalu wajahnya seakan memelas untuk dilepaskan. Membuat Geri mengernyit tidak mengerti karena tidak berbicara apa pun.
"Oke, aku lepas, tapi jangan lari!"
Anggukan cepat menjadi jawaban, lalu Geri perlahan mengendurkan dan melepas pegangannya pada lengan kanan gadis yang kini langsung merogoh saku rok seragamnya. Ia mengeluarkan kertas notes dan pulpen untuk menulis sesuatu, membuat Geri kembali menyipitkan mata.
__ADS_1
Geri merasa semakin aneh saat kertas itu dirobek dan diberikan padanya.
"Aku tidak melempar apa pun, tapi buah mangga kecil tiba-tiba jatuh ke arahmu. Maaf, aku tidak berbicara, karena aku bisu."
Geri mendengkus, merasa jengah karena anggapannya ternyata keliru. Ia mengusap puncak hidungnya sebelum kembali menatap si gadis. "Lalu, kenapa kau sembunyi?"
Si gadis tampak mengernyit, lalu sedikit termenung sebelum ia mencoba kembali menulis.
Sekilas, Geri bisa melihat sikap kikuk gadis yang sedang menulis jawaban. Kali ini kertas itu tidak disobek, tapi langsung dihadapkan pada Geri untuk dibaca.
"Aku terkejut melihat siswa lain di sini. Sebelumnya, kan, jarang yang ke tempat ini."
Gadis itu kembali menarik note, langsung menulis lagi sebelum Geri berubah malas.
"Oh, ya. Aku sepertinya belum pernah melihatmu. Apa kau anak baru? Salam kenal kalau begitu, kuharap harimu menyenangkan!"
Geri hanya diam setelah membacanya. Ia melirik nama terang gadis itu, membacanya dengan sekilas sebelum akhirnya memilih pergi.
Geri mengerjap, lalu badannya membungkuk meraih sesuatu di tanah. Tangan kirinya mengepal erat di sisi tubuh, lalu melewati si gadis dengan sengaja menyenggol pundaknya.
Ellyana, hanya itu. Geri akan mencoba mengingatnya agar lain kali bisa membalas karena berani mengendap-endap di sekitarnya.
Ia tersenyum miring merasakan genggaman erat tangan kanannya terasa suatu benda. Hah, lihat saja nanti! Ellyana akan kembali berurusan dengannya!
...🍀 ...
"Kau ini dari mana saja?" Sulli berkacak pinggang dan mendelik pada Geri yang begitu santai menggendong tas hitamnya dan melangkah melewati Sulli. "Hei, Bodoh!"
Beberapa menit lalu bel sekolah berbunyi nyaring disertai pengumuman siswa dipulangkan lebih cepat karena akan ada rapat komite sekolah, membuat para siswa langsung bersorak dan berhamburan untuk cepat-cepat pulang meski banyak yang ingin bermain dulu.
Geri tidak bergeming, malah terus melangkah untuk keluar area sekolah dan pulang. Meninggalkan Sulli yang mencak-mencak di belakangnya dan menggerutu kesal.
"Dasar tidak tahu terima kasih! Sudah ditemani berangkat dan pulang, malah sukanya meninggalkan!" gerutunya yang berusaha mengejar Geri.
Sulli mengerjap, lalu berlari dan mendorong Geri untuk menepi ke kiri. Ia memandang sebal ke siswa yang seenaknya melajukan motor di area sekolah. "Hei, matamu di mana, huh?!" cercanya pada si siswa.
Geri memandang bingung pada sepeda motor yang melaju dan Sulli di sampingnya. Ia memandang tangan si gadis yang masih menempel di pundak, lalu dengan tidak acuh menepis tangan itu. "Kau ini kenapa?"
"Seharusnya aku yang tanya; kau ini bagaimana? Apa jam tanganmu tidak bergetar tadi? Kau hampir ditabrak, tahu!"
Geri mengangkat alis, lalu memandang jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan kiri. Ia menggaruk dahinya karena merasa bersalah, lalu kembali memandang Sulli yang masih kesal dengan tangan bersedekap. "Ah, oh, iya, sepertinya ada yang tidak beres pada jam tangan ini. Hari kemarin pun ada sepeda yang menabrakku di samping rumah."
Sulli membeliak, terkejut dengan ucapan Geri yang kelewat santai. "Kau ini, yang benar saja? Apa kau sudah memberitahu Bibi Dessy?"
"Aku lupa."
Sulli menggeram pelan, lalu tangannya terangkat untuk menjitak pelipis Geri. "Aku berdoa pada Tuhan agar kau menjadi jenius!" desisnya sambil lalu, tapi kembali berbalik dan menggamit tangan kiri Geri untuk berjalan lagi.
"Hei, hati-hati dengan tingkahmu!" Geri berseru, sedikit protes karena Sulli selalu seenaknya menarik tangan. Anehnya, Geri tidak lantas menghindar atau melepas cekalan tangan itu.
...TBC...
__ADS_1