Dead Queen Nala

Dead Queen Nala
12 Dracula & Jeanne


__ADS_3

"Hm? Kau bilang sesuatu Pufu?"


"Eh? Kubilang karena kita telah mendapatkan Buku Kebangkitan, ada baiknya kita segera pergi dari sini."


"O-Oh benar. Ayo pergi." Aneh. Aku seperti mendengar bisikan.


Papa..


Aku beneran mendengarnya. Asalnya dari-


"Nala, kau mau kemana?"


Aku kembali ke ruang altar. Aku yakin suaranya berasal dari dekat sini. Lalu aku melihat sebuah benda yang ditutupi kain di bagian pojok. Di balik kain itu adalah sebuah cermin berukuran orang dewasa.


"Hm.. Lihat siapa si cantik ini?" Ah.. Kapan terakhir kali aku melihat diriku sendiri melalui cermin. Banyak yang telah terjadi, dan penampilanku juga berbeda. Kulitku sekarang telah kembali seperti semula. Warna hitam di mataku juga telah berubah putih, walau bulatan merahnya masih ada. Sekarang aku benar-benar terlihat seperti manusia. Hm.. Dan rambutku. Aku masih kesal dengan Kronii yang menggunting rambutku, tapi warna kuning ini memang sempurna untukku. Sekarang aku hanya perlu menunggu rambutku panjang. Oh, dan sepertinya aku tidak perlu menggunakan pakaian besi ini.


"Apa yang sedang kau lakukan Nala?" Pufu bertanya saat aku sedang melepaskan semua besi yang melekat di tubuhku, yang membuatku kembali sadar dengan suara itu.


"Oh, aku mendengar suara. Dan asalnya dari cermin ini." Tapi tidak ada apa-apa. Selain penampakan sosok dengan keeleganan level 4 ini, tidak ada petunjuk apapun mengenai suara itu. Lalu aku mencoba menyentuh cermin itu, yang kemudian berubah menjadi sebuah jalan menuju ruangan di bawah.


"Ada apa di bawah sini?" tanya Pufu sembari mengikutiku menuruni anak tangga yang gelap.


"Aku tidak tahu." Ya, aku tidak menemukan ingatan tentang ruangan ini. Apa Dracula sengaja melakukannya agar tempat ini dijaga kerahasiaannya?


Dan yang kami temukan di bawah sana adalah, sebuah ruangan penuh harta.


"Ho.. Lihat apa yang kita temukan." Emas, perak, dan barang-barang berharga berbagai bentuk tersimpan aman di dalam ruangan ini. Dengan wujud baru ini, tidak ada halangan bagiku untuk mengambil dan menggunakan semuanya. Ini adalah hari keburuntunganku!


Aku menemukan sebuah gaun bewarna hitam yang nampak elegan. Tanpa pikir panjang, aku melepas celana panjangku dan memakai gaun tersebut.


"Bagaimana penampilanku?"


"Kau sangat cantik, Nala. Nampak seperti seorang putri kerajaan." Hm, jawaban yang kuinginkan.

__ADS_1


Jika dilihat baik-baik, sebagian besar dari harta di bawah sini diperuntukkan untuk wanita. Apa Dracula itu orang mesum?


"Nala, lihat!"


Aku mendekati Pufu yang berada di depan sebuah lukisan. Gambar seorang wanita yang sangat cantik dan berambut pirang. Kulitnya juga indah.


"Hm.. Hampir sempurna, tapi aku merasa ada yang kurang darinya." Ya, seolah aku mengenalnya. Dan akhirnya aku tahu. "Ah! Dia ada dalam ingatan Dracula, kalau tidak salah namanya adalah Jeanne Schlain. Dia agak barbar sih, level 4!"


"Jeanne Schlain!? Sang Penyelamat Schlain? Kenapa Dracula memiliki lukisannya. Bukannya mereka bermusuhan?"


"Awalnya memang iya, tapi kemudian mereka saling jatuh cinta. Kastil ini pada dasarnya Dracula dedikasikan untuknya."


"Eh? Darimana kau tahu?"


"Buku Kebangkitan pada dasarnya adalah benda yang tercipta dari ingatan Dracula. Jadi ketika aku membukanya, aku juga mendapatkan ingatannya semasa hidup. Apa kau tahu siapa Dracula itu?"


"Yang kami tahu jika dia adalah Raja Monster pertama."


Dalam melakukan aksinya itu, dia berhadapan dengan Jeanne Schlain yang merupakan pemimpin para ksatria. Mereka sering bertarung, tapi seiring pertarungan itu, mereka juga saling mengerti bahwa yang diinginkan kedua pemimpin tersebut adalah kedamaian. Mereka-pun sepakat berdamai, dan kemudian mereka jatuh cinta.


Tentunya banyak yang tidak suka dengan hal itu. Pada akhirnya, Dracula mati setelah dikhianati para monster."


"Eh? T-Tunggu. Dracula dikhianati para monster? Dari yang aku tahu, Dracula dikhianati manusia saat mencoba melakukan perdamaian. Lagian kenapa para monster mengkhianati rajanya sendiri?"


"Karena Dracula terlalu baik. Sebelum bersama dengan Jeanne, Dracula selalu menyuruh pasukannya untuk tidak membunuh perempuan maupun anak-anak, juga berhenti menyerang jika musuh sudah menyerah. Dan setelah bersama Jeanne, dia berniat melakukan perdamaian dengan manusia. Wajar saja banyak yang tidak suka."


"Kenapa Dracula begitu peduli dengan manusia?"


Karena Vladimir juga pernah menjadi manusia. Dia sama sepertiku. Aku tidak tahu bagaimana kehidupannya dulu, tapi aku yakin dia adalah orang yang memegang teguh nilai moral. Di akhir hayatnya-pun, dia sama sekali tidak melakukan perlawanan dan lebih memilih mati. Sangat bodoh.


"Aku tidak tahu. Aku hanya melihat apa yang dia lihat, bukan apa yang dia rasakan." Maaf Pufu, ada hal yang sebaiknya kau tidak perlu tahu. "Yang jelas, dari dulu sampai sekarang dunia ini sudah kacau."


"Bagaimana menurutmu?" Ekspresi dan suara Pufu saat menanyakan itu menandakan jika dia tidak tahu siapa yang harus disalahkan.

__ADS_1


"Tidak ada. Aku hanya peduli dengan diriku sendiri. Aku akan melakukan apapun untuk bertahan. Siapapun yang menghalangiku akan kuhabisi, manusia.. maupun monster. Aku tidak hidup atas dasar moral maupun keinginan orang lain. Aku akan melakukan apapun yang kumau." Aku tidak tahu apa yang akan Pufu pikirkan, tapi aku tidak ingin berbohong.


"Aku setuju denganmu, Nala. Aku akan terus mengikutimu!" Eh.. Itu reaksi yang terlalu berlebihan.


"Hm?" Sebuah benda menarik perhatianku. Sebuah pedang. Tidak besar, tapi desainnya sangat cantik. Bewarna putih dengan desain elegan bewarna kuning. Selain itu, aku merasa pedang ini dapat mengalirkan kekuatan penuhku. Sudah kuputuskan. Aku akan menggunakan ini!


"Itu kan La Pucelle! Pedang yang digunakan oleh Jeanne Schlain. Kudengar pedang itu sangat istimewa, tapi hanya bisa digunakan oleh seorang yang masih perawan."


"B-Bukan! Ini bukan La Pucelle yang asli! Ini hanya replika. La Pucelle yang asli sudah patah, ada dalam ingatan Dracula." Aku mencoba mengelak. Kuharap dia percaya.


"Oh, begitu ya." Sepertinya berhasil.


Tiba-tiba ruangan itu bergetar. Lalu dari bawah lantai, sebuah peti mati keluar dan melayang di depan kami. Pintu peti terbuka dan seorang anak kecil berkelamin perempuan keluar dari dalamnya. Rambutnya bewarna pirang dan dia nampak tertidur. Lalu dia membuka mata dan menghampiriku.


"Papa!" Dia tiba-tiba berucap.


"Eh!?" Aku kaget, Pufu kaget, seisi semesta kaget.


"Nala?" Pufu menanyakan kebenaran.


"Aku tidak tahu! Punyaku masih tersegel kok!" Dari sekian banyak kata. Kenapa anak ini memilih kata tersebut? Jangan-jangan..


"Dia adalah anak dari Vladimir dan Jeanne! Sepertinya dia dibuat tertidur hingga akhirnya terbangun karena aku menggunakan Buku Kebangkitan. Itulah kenapa dia berpikir jika aku adalah Dracula."


"Aku merasakan kekuatan yang sangat besar darinya."


"Wajar saja, dia adalah anak dari Raja Monster dan Ksatria Terkuat." Dan jika kupikir-pikir, jika dia memang sekuat itu, aku bisa memanfaatkannya. Hmhm, keberuntungan demi keberuntungan datang kepadaku!


Anak perempuan itu nampak penasaran dengan benda-benda unik yang ada di dalam ruangan. Aku mencoba melakukan pendekatan dengannya saat dia sedang berada di depan sebuah bola kristal bewarna biru.


"H-Hei-" Aku menyentuhnya yang sedang memegang bola kristal tersebut.


"Salju!" Anak kecil itu berteriak. Dan seketika, cahaya putih keluar dari dalam kristal. Menghilangkan kami berdua dari ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2