
Kapal itu bernama Utnapishtim, walau aku lebih suka menyebutnya Utna. Sebuah kapal yang hanya bisa dikendalikan oleh orang yang memiliki tombak khusus seperti Saras. Kapal tersebut sama sekali tidak memiliki bagian yang terbuat dari kayu dan besi. Semuanya terbuat dari kristal yang sangat kuat, menjadikannya sebuah benteng berlayar. Walau dapat dikendalikan secara manual, pewaris sesungguhnya kapal tersebut, Saras, dapat membuat kapal menggunakan kekuatan khususnya, seperti menembakkan meriam air, perisai air, bahkan menyelam ke dalam air.
Dengan Utna, aku berangkat pulang. Ikut bersamaku Jeanne kecil, Canaan dan beberapa Terra, juga Saras, tentunya. Perjalanan kami memang jauh lebih lambat daripada terbang menaiki naga Jeanne, tapi ini jauh lebih aman, dan aku bisa bersantai, bahkan berjemur.
Lalu dari kejauhan aku melihatnya. Hutanku yang sedang dilalap hebat oleh api. Aku bisa menebak pasti apa yang terjadi.
"Aku akan pergi kesana dengan Jeanne saja." Aku memberi perintah dengan nada yang serius. "Saras, jika kau melihat ksatria atau kapal lain, segera menyelam dan menjauh. Jangan coba melawan, dan jangan coba membantuku. Apa kalian mengerti?" Mereka semua mengerti. Mereka bisa melihat keseriusanku.
Aku dan Jeanne kecil-pun berangkat. Dari situasi dan suara yang terdengar, sangat jelas aku terlambat. Ini sudah berakhir.
Setelah melihat rumah Kronii yang telah terbakar habis, aku langsung menuju tempat perkumpulan. Dan yang tidak kuinginkan benar terjadi. Bekas sebuah pertarungan. Banyak ksatria yang terbaring, juga dengan para monster yang kukenal. Om Mino dan yang lainnya. Semuanya telah tewas.
"Nala?"
Aku mendengar sebuah suara yang sangat kukenal dan langsung pergi menuju sumbernya.
"Pufu! Bagaimana keadaanmu?"
"Nala.. Syukurlah kau telah datang. Maaf.. Aku hanya bisa bersembunyi. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk membantu yang lainnya."
"Tidak apa-apa," aku mencoba menenangkannya. "Yang penting kau selamat. Apa kau terluka? Apa kau masih bisa terbang?" Pufu mengangguk. "Kalau begitu cepat pergi dari sini. Di luar hutan ada kapal bewarna putih, mereka teman-temanku. Terbang dan pergilah kesana. Aku akan segera menyusul."
Dalam situasi mengerikan ini, aku sangat bersyukur mengetahui ada yang masih selamat. Kuharap aku bisa menemukan yang lainnya. Lalu aku melihat seseorang yang kukenal lainnya, hanya saja keadaannya berbeda dari Pufu.
"Kronii!"
Aku berlari ke arah sang penyihir. Keadaannya sangat parah. Aku bisa melihat isi perutnya.
"Hei.. Lama tidak ketemu.. "
"Kronii, bertahanlah! Aku akan membawamu!" Tapi Kronii menahanku.
"Tidak.. Aku tidak akan bertahan. Selamatkan Laba-Laba putih."
"Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu begini!"
"Kau benar-benar baik.. Aku mendengar tentang kekuatan barumu itu.. Ambillah jantungku.."
"Mana mungkin aku melakukannya!"
"Pemimpin ksatria ada di sini.. Kau memerlukan kekuatan.. Penuhi keinginanku dan jaga yang lainnya.. Kumohon.."
Kronii menghembuskan nafas terakhirnya. Aku belum pernah melihat seseorang mati di depan mataku. Terlebih orang terdekatku.
__ADS_1
Tapi aku harus tetap memenuhi keinginan temanku. Dengan lembut kuambil jantung miliknya dan mulai memakannya.
Aku masih zombie. Aku tidak bisa merasakan sakit akibat luka maupun merasakan sebuah rasa makanan selain daging segar. Tapi aku tidak bisa merasakannya. Rasanya hambar, dan isi perutku juga merasa tidak nyaman. Ini menjengkelkan. Aku tidak suka.
"Sepertinya tidak teman-pun lepas dari rasa laparmu," aku mendengar suara perempuan. Aku kenal suara itu, walau nadanya agak berbeda. "Ya kan Arthur?"
"Alicia.." Gadis yang kuingat sangat pemalu tersebut kini berdiri dengan penampilan yang sangat berbeda. Banyak darah bercereran di pakaiannya, dan dia tidak berhenti tersenyum. Wajahnya mengingatkanku pada si penjagal yang dulu hampir membunuhku. Dia sudah gila. Dan di tangannya terlihat pedang Enrique yang agak berbeda. Aku bisa merasakan kekuatan mengerikan di dalamnya.
"Akhirnya kita bertemu lagi.. Aku sudah menantikan ini, hehehe."
"Aku tidak punya urusan denganmu, pergi-" Dia mengayunkan cambuknya ke arahku. Tapi dengan kekuatan Kronii yang telah kudapat, aku berubah menjadi sekumpulan gagakĀ dan melewatinya. Kini dia berada di belakangku.
"Lawan aku!" Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku tahu alasannya ingin melawanku. Tapi aku tidak peduli dengan itu. Aku sama sekali tidak peduli dengan keberadaannya. Satu-satunya alasanku tidak langsung membunuhnya adalah karena aku yang menyebabkan dia menjadi seperti itu. Kasihan adalah alasanku tidak menghiraukannya.
Tapi dia tetap mencoba melawan. Lalu angin kemerahan keluar dari tubuhnya. Angin yang kakaknya tidak ingin dia gunakan. Angin yang saat kulihat lebih jelas ternyata adalah Angin Darah.
Aku tidak perlu menunggunya melepaskan angin itu untuk tahu efeknya. Angin itu lebih kuat dan cepat dari milik sang kakak, dan angin itu juga hidup. Angin itu akan terus mengejar korbannya hingga terpotong. Sayangnya menggunakannya mengorbankan darah sang pengguna. Itulah alasan wajahnya sangat pucat.
"Jika kau menyerangku, kau akan mati."
"Cobalah kalau bisa! Kaulah yang lebih dulu kupotong dua seperti yang kau lakukan pada kakak-"
"Baiklah." Saat aku melihat tangannya mau bergerak, aku lebih dulu melesat ke arahnya, meluncurkan tanganku dan menembus tubuhnya. "Setidaknya kubiarkan jantungmu berada di tempat yang sama dengan kakakmu."
Aku bergegas pergi dari tempat itu, ke bagian hutan terdalam, di mana aku menemukan kedua pemimpin. Seorang ksatria dengan penampilan sempurna yang kuduga adalah Julius. Dan sang Laba-Laba Putih yang nampak seperti gadis seumuran Jeanne. Di tempat tersebut juga terlihat seorang ksatria yang mengenakan topeng.
Aku tidak meresponnya. Tidak dipungkiri saat ini dialah rintangan terberatku. Aku tidak boleh mengacaukan semuanya. Aku harus tetap tenang. Terlebih ada ksatria lain yang aku tidak tahu seberapa kuat.
"Itu.." mata sang pemimpin ksatria tertuju pada pedangku. "La Pucelle. Sudah kuduga kalian para monster-lah yang telah mencurinya!"
Tubuhnya yang sedari tadi memancarkan cahaya kini bertambah terang, yang kemudian membentuk sebuah wujud di udara. Terlihat seperti wanita serba putih. Dewi kah? Atau Malaikat Pelindung? Apapun itu, aku bisa merasakan keinginan berburunya. Dia akan bergerak, dan saat itu, aku akan membalasnya.
Bugh!
"Eh?"
Tiba-tiba sang pemimpin sudah ada di depanku. Dan Jeanne kecil yang sebelumnya di sampingku terlempar keras dan tidak sadarkan diri. Apa yang terjadi?
"Bagaimana anak itu bisa bergerak?"
Eh? Apa maksudnya? Apa jangan-jangan Jeanne kecil mencoba melindungiku? Tapi aku tidak melihat pergerakan apapun. Tiba-tiba saja pemimpin tersebut berada di depanku dan Jeanne kecil terlempar begitu saja. Tidak ada jeda, seolah mereka telah begitu sedari tadi. Atau jangan-jangan-
"Penghentian waktu?"
__ADS_1
"Hm? Bagaimana kau bisa tahu? Kau bahkan tidak bisa bergerak."
Tunggu sebentar! Dia beneran menghentikan waktu!? Kalau begitu mustahil aku bisa mengalahkannya. Bagaimana ini!? Tidak ada yang bisa kulakukan!
"Pedang itu akan kembali ke Schlain. Selamat tinggal."
Aku akan mati-
Clang!
"Eh?"
Kini yang ada di depanku adalah si ksatria bertopeng yang sedang menahan pedang sang pemimpin. Apa yang sekarang terjadi? Apa aku masih hidup?
"Apa maksudnya ini?" tanya Julius dengan nada jengkel. "Apa yang kalian rencanakan?"
Tapi ksatria tersebut tidak menjawabnya. Dia sempat melirik padaku, lalu kemudian kembali fokus kepada pemimpin ksatria. Aku paham apa maksudnya. Tatapan yang sama saat Dora ingin aku menjauh dari tempat dia menahan si penjagal gila.
Aku tidak tahu siapa dia, tapi aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku bergegas membawa Jeanne kecil dan juga Laba-Laba Putih pergi dari tempat itu.
Kami berhasil kembali ke Utna tanpa hambatan. Semua menyambutku dengan wajah khawatir.
"Segera menjauh dari tempat ini," perintahku. "Aku akan membawa Jeanne ke kamar. Jangan ada yang menggangguku." Semuanya diam tidak menjawab, tapi aku tahu mereka paham maksudku.
Di dalam kamar, Pufu nampak sudah menungguku. Dia langsung memelukku. "Syukurlah kau selamat," ucapnya bahagia bercampur sedih.
"Ada apa?" tanyaku. Pufu lantas menunjukkan sebuah kantung kain yang penuh dengan darah. Aku tahu apa isinya.
"Terimakasih. Sekarang tolong tinggalkan aku." Pufu mulai melangkah keluar. "Pufu, gadis itu bukan Raja Monster kan?"
"I-Iya. Raja Monster yang asli sudah mati saat perang sebelumnya. Kronii yang menyarankan itu agar para monster merasa ada harapan."
"Heh.. Itu benar-benar seperti apa yang akan dilakukannya. Sekarang pergilah."
Setalah Pufu pergi, aku menaruh Jeanne kecil ke kasur. Dia nampak baik-baik saja. Seperti dugaanku, dia tangguh. Kemudian aku berjalan ke arah kantung darah yang dibawakan Pufu, berisikan banyak jantung.
Walaupun aku tahu rasanya enak. Aku sama sekali tidak memilki nafsu untuk memakannya. Lagian, seberapa banyakpun aku makan, aku tetap tidak akan bisa mengalahkan Julius. Bahkan mungkin aku lebih lemah dari Jeanne kecil maupun ksatria misterius itu. Semua ini tidak ada gunanya.
Tapi aku tetap memakannya. Bukan karena aku lapar ataupun menginginkan kekuatan. Aku memakan jantung-jantung itu karena rasa menyebalkan ini.
Menjengkelkan!
Menjengkelkan!
__ADS_1
Menjengkelkan!
Sangat menjengkelkan sampai aku ingin menghancurkan dunia ini!