Dead Queen Nala

Dead Queen Nala
14 Bahtera Utna


__ADS_3

Semenjak aku membuka Buku Kebangkitan, hidupku menjadi penuh dengan kejutan. Aku menemukan anak dari Dracula dan Jeanne yang kuberi nama Jeanne Draculia, dan kemudian diteleportasi paksa ke gunung bersalju yang hanya ditinggali satu orang, Yuki-Onna bernama Saras. Dan kini, aku terdampar di sebuah pulau asing setelah sebuah angin topan tiba-tiba muncul saat aku dan Saras terbang menunggangi Jeanne kecil yang berubah menjadi seekor naga.


"Penerbangan pertama yang luar biasa. Hah.. Ini bisa bikin trauma," keluhku.


"Kau baik-baik saja?" seorang gadis mendekatiku. Rambutnya bewarna biru langit dengan kulit yang putih- tidak lebih putih dari Saras. Telinganya lancip seperti Elf tapi dia juga memilki ekor berbulu seperti Werebeast.


"Yah. Aku baik-baik saja," ucapku sambil membangunkan diri. "Ini dimana?"


"Pulau Olha. Pulau ini dilindungi oleh Segitiga Topan yang membuat orang luar tidak bisa masuk. Bagaimana kau bisa?"


"Aku juga tidak paham. Yang kami lakukan hanya terbang menuju asal tempat kami. Tiba-tiba saja sebuah angin topan muncul dan melempar kami kesini."


"Terbang? Maksudmu kau budaknya sang Naga Pelindung?"


"Aku bukan budak siapa-siapa. Dan apa kau tahu dimana Naga Pelindung tersebut?"


Gadis itu kemudian membawaku masuk ke dalam hutan. Kami tiba di sebuah desa dengan orang-orang yang juga memilki telinga lancip dan ekor berbulu. Lalu di dalam sebuah tenda besar, aku melihat rekanku.


Jeanne terlihat duduk dengan Saras yang berdiri di sampingnya. Di depan Jeanne, para wanita bertelinga lancip nampak duduk di lantai dengan rapi menghadap Jeanne. Dan mereka terlihat sedang.. menyembah Jeanne?


"Papa!" teriak Jeanne saat melihatku.


"Oi, sudah kubilang kan untuk berhenti memanggilku Papa dan panggil aku Ratu?"


Orang-orang bertelinga lancip tersebut kemudian beralih menghadapku dan mereka mulai kebingungan.


"Papa- Naga Pelindung punya ayah- siapa?- jika dia ayah sang Naga- berarti-"

__ADS_1


"Raja Langit!" teriak mereka bersamaan. Sekarang mereka menyembahku.


Banyak hal yang telah terjadi semenjak aku berada di dunia ini. Tapi tidak dipungkiri jika ini adalah yang terbaik. Saat ini aku sedang duduk di sebuah singgasana sederhana yang terbuat dari kayu, dengan orang-orang yang akan selalu siap memenuhi kebutuhanku, apapun itu. Aku sama sekali tidak paham dengan apa yang terjadi, tapi aku tidak akan menolak posisi ini, hehe.


Aku meminta informasi dari gadis yang pertama menemukanku tentang semua hal yang ingin aku tahu. Gadis itu bernama Canaan, lalu dia dan para wanita yang mirip dengannya ini bernama Terra. Tidak ada Terra berjenis kelamin lelaki, sehingga jika mereka ingin bereproduksi, mereka harus mencari lelaki dari ras lain di luar pulau Olha. Sayangnya saat ini jumlah mereka hanya tinggal 30 saja semenjak topan yang menghalangi orang keluar masuk pulau. Tentang alasan kenapa mereka memuja Naga Pelindung adalah karena dahulu sang naga pernah datang untuk melindungi pulau ini. Tapi kemudian sang naga tidak lagi muncul, dan demi menjaga para Terra saat orang luar menyerang. Pemimpin Terra terdahulu membangunkan Raksasa Isha yang mampu memanipulasi cuaca. Mereka kira Jeanne adalah sang Naga Pelindung tersebut, dan mendengar Jeanne menyebutku ayahnya, mereka pikir aku adalah dewa yang dikirim untuk menyelamatkan mereka.


Aku senang dengan semua yang kuterima ini. Terlebih, Canaan bilang jika kaum Terra merupakan pemanah yang hebat. Dengan kata lain, aku mendapatkan sebuah pasukan kecil yang bisa diandalkan. Dan sebagai pemimpin mereka, aku harus melakukan apa yang mereka harapkan.


Aku beranjak dari singgasana. "Aku akan menjatuhkan sang raksasa itu!" Dan mereka bersorak untukku. Hehehe, ini benar-benar menyenangkan.


Canaan membawaku ke puncak bukit, dimana kami bertemu dengan sang raksasa. Sesuai namanya, tubuhnya jauh lebih besar dari raksasa hitam yang kulawan di dalam kastil Dracula. Aku seperti berhadapan dengan sebuah gunung. Tapi aku sama sekali tidak merasa gentar. Kekuatanku, ketangguhan Jeanne, dan semangat yang telah diberikan rakyatku. Semua itu membuat gunung bernafas tersebut sama sekali tidak menakutkan.


"Jeanne, terbang dan alihkan perhatiannya." Jeanne kecil berubah menjadi Naga Pelindung dan mulai terbang ke puncak kepalanya. Sang raksasa melihatnya dan mencoba menyingkirkannya dengan lengan lambatnya. "Saras, jaga Canaan." Saras mengeluarkan sebuah tombak trisula yang dia bawa dari rumah. Dia bilang jika itu adalah warisan leluhurnya.


Dari bawah, aku menyerang sang raksasa dengan tehnik pedang angin. Aku tidak bisa membelahnya, tapi seranganku nampak memberinya dampak. Sesekali dia melayangkan serangannya ke arahku, serangan yang di mataku terlihat seperti sebuah gedung yang dilemparkan. Untungnya saat ini aku sangat cepat, serangannya bisa kuhindari dengan mudah.


Raksasa itu lantas mulai memanipulasi cuaca. Membuat angin super kuat dengan batu-batu raksasa yang beterbangan. Aku kesulitan bergerak, hingga tiba-tiba La Pucelle mengeluarkan cahaya putih. Hal itu mengingatkanku akan sesuatu. Dalam ingatan Dracula, Jeanne yang walaupun seorang manusia, sanggup melawan Dracula yang berasal dari ras terkuat dengan sengit. Dan saat itu, tubuh sang Penyelamat selalu mengeluarkan cahaya. Dracula menyebutnya Pride of Lioness. Kekuatan yang berasal dari tekad tidak ingin kalah sang pengguna, yang membuat pemilik La Pucelle akan mendekatkan kekuatan untuk melewati segala rintangan. Sebuah manipulasi takdir. Aku mencoba melakukan hal yang sama dan berhasil, angin super kuat tersebut terasa seperti angin biasa buatku. Saatnya pembalasan.


"Jeanne!" Aku berteriak, lalu melompat ke belakang. Aku mendarat di tubuh naganya Jeanne kecil. Aku mengumpulkan semua kekuatan ke lenganku, dan menggunakan tehnik pedang angin ke arah sang raksasa yang tertutupi anginnya. Anginku menembus anginnya dan mengenai tubuhnya. Sang raksasa-pun roboh.


Sang raksasa masih hidup. Tapi seranganku cukup berdampak hingga membuat bagian lunak tubuhnya terlihat. Bagian lunak tersebut kemudian mengeluarkan cahaya kehijauan. Aku mendekatinya dan mendapati sebuah pisau perlahan keluar dari dalam tubuhnya. Apa dia mencoba memberikan itu padaku? Aku menarik pisau tersebut dan perlahan, tubuh sang raksasa berubah menjadi gunung sepenuhnya.


"Rajaku! Anda benar-benar mengalahkan Isha!" teriak Canaan yang nampak sangat senang.


"Kau luar biasa, Nala!" Kini Saras yang memujiku.


"Apa ini?" Aku menunjukkan pisau tersebut. "Raksasa tersebut mengeluarkan benda ini setelah dia roboh."

__ADS_1


"Kurasa itu adalah sumber kekuatannya untuk memanipulasi cuaca. Kemungkinan dia tahu tujuan anda dan memberikan itu sebagai simbol kemenangan anda."


"Maksudmu dengan ini maka topan yang menghalangi pulau ini bisa hilang?"


"Seharusnya begitu."


"Kalau begitu kau yang gunakan," Aku memberikan pisau tersebut kepada Canaan.


"Eh? Tapi anda yang mengalahkannya."


"Alasanku mengalahkannya karena aku juga ingin melenyapkan topan menyebalkan tersebut. Aku tidak peduli siapa yang menggunakannya. Lagian aku sudah punya pedang yang lebih bagus." Aku menunjukkan La Pucelle.


"Terimakasih banyak, Raja. Kami para Terra bersumpah setia pada anda." Canaan menundukkan diri menunjukkan penghormatannya. Aku suka sikapnya.


"Berdirilah. Kita kembali ke desa. Oh ya, aku ingin kalian memanggilku Ratu mulai sekarang. Dan jangan banyak tanya."


"Baiklah. Oh ya, bolehkah aku menanyakan sesuatu?"


"Apa itu?"


"Ini tentang senjata yang Saras gunakan. Apakah itu Utnapishtim?"


"Utna apa?" Aku bertanya. Dan Saras-pun nampak bingung.


"Kami memilki legenda tentang tombak tersebut. Disebutkan kalau dulu pengguna tombak tersebut pernah ke Olha dan menyimpan harta terbaiknya."


"Harta!?"

__ADS_1


Aku langsung menyuruh Canaan menunjukkan jalan ke arah harta. Kami memasuki sebuah jalan yang membawa kami ke bawah tanah. Lalu kami sampai ke sebuah ruangan dengan sebuah pintu berukuran raksasa dengan lambang yang unik. Pada pintu tersebut terdapat tiga buah lobang kecil yang sepertinya merupakan kunci dari pintu itu. Jadi aku meminta Saras memasukkan trisula-nya. Dan keduanya terhubung. Pintu itupun terbuka secara perlahan dan menunjukkan jalan lain.


Kami menyusuri jalan itu dan berakhir mendapati diri kami di sebuah pantai. Di depan kami, terlihat sebuah kapal raksasa bewarna putih kristal dengan desain yang sangat elegan. Aku baru saja mendapatkan apa yang kuperlukan!


__ADS_2