Dead Queen Nala

Dead Queen Nala
19 Bahamut Of Storm


__ADS_3

Balik di Osla, Canaan telah bersiap membuka segel untuk membebaskan Bahamut kedua yang akan kulawan. Gerbangnya sendiri berada di sebuah tumpukan tanah raksasa tidak jauh dari mayat raksasa Isha berada, seolah Isha mencoba menjauhkan orang-orang dari tempat itu.


Aku sendiri sedang berada di punggung naga Jeanne kecil yang telah kembali bersama Pufu yang gagal menemukan pedang Alicia. Dia bilang jika tidak menemukan jasad gadis itu. Sangat aneh. Aku yakin sudah menarik keluar dan memakan jantungnya. Tapi sekarang bukan saatnya memikirkan masalah di daratan lain. Masalahku saat ini sudah ada di depan mata. Dan belajar dari pertarungan melawan Bahamut Es, kali ini aku lebih siap.


Canaan membuka gerbang tersebut dan perlahan seekor naga raksasa bewarna coklat keluar.


"Jeanne, tembak dia." Sebelum dia menyadari keberadaan Canaan, semburan api Jeanne kecil lebih dulu menarik perhatiannya. Tidak ada dampak, tapi naga tersebut nampak marah kepada kami. Dia-pun mulai terbang. Berbeda dari Bahamut Es yang seperti kura-kura, Bahamut kali ini benar-benar seperti naga.


"Jeanne, ayo." Aku menyuruh Jeanne pergi dari situ, dan naga tersebut mengejar kami. Aku tidak ingin mengambil resiko Olha hancur karena pertarungan kami. Jadi aku akan membawanya ke pulau yang tidak berpenghuni.


Aku berencana melawannya hanya berdua dengan Jeanne kecil. Pagi ini Saras dan beberapa Terra pergi dari Olha menggunakan Utna. Sebenarnya aku tidak ingin mengizinkannya, tapi mereka nampak serius. Mereka seperti ingin menebus kesalahan atas apa yang terjadi saat pertarunganku melawan Bahamut Es, walaupun aku tidak tahu apa yang ingin mereka lakukan. Aku mengizinkan mereka dengan syarat Pufu harus ikut dan akan menjadi wakilku yang harus diikuti. Aku mengancam akan mengusir mereka jika berani menentangnya. Pufu lebih bijaksana, aku bisa mempercayainya.


Walau memiliki tubuh raksasa, Bahamut angin perlahan mendekat. Kami tidak akan tiba di pulau tujuanku. Harus ganti arah. Aku melihat sebuah pelabuhan dan menyuruh Jeanne kecil pergi ke sana.


Aku melompat dari ketinggian dan mendarat di sebuah bangunan. Bahamut tersebut mengejarku, dia tahu aku pemimpinnya. Warga sekitar mulai panik melihat sang naga raksasa. Maaf ya, kota kalian akan hancur demi kebaikan yang lebih banyak.


Sang Bahamut terus tebang, dengan setiap kepakan sayap yang menciptakan tornado. Aku mencoba menyerangnya dengan tebasan angin, tapi tebasanku terhalang oleh tornado kecil yang melindungi tubuhnya. Bahamut sendiri menyerangku dengan semburan gelombang angin yang dampaknya bisa mencapai ujung kota.

__ADS_1


Aku mencoba menyerangnya dengan angin darah. Berhasil! Tebasan itu menembus pelindung anginnya. Dia nampak kesakitan. Aku terus menyerangnya dengan serangan itu. Angin darah memang memerlukan darah setiap penggunaannya, tapi itu tidak mempengaruhiku karena regenerasi instanku. Bahamut kali ini terasa lebih mudah dari yang sebelumnya. Lalu aku melihat gejala yang familiar dari sang naga. Fase kedua.


Langit berubah gelap disertai tornado. Sang naga mulai berubah bentuk. Tubuh reptilnya berubah paksa menjadi seperti manusia, membuat sisik-sisik naganya berjatuhan.


Aku kembali menyerangnya dengan angin darah, tapi kali ini dampaknya lebih kecil. Kulit raksasanya lebih tebal dari saat dia menjadi naga. Sang raksasa mengayunkan kedua tangannya ke belakang membentuk sayap. Aku merasakan firasat buruk. Sesaat dia hendak melibaskan tangan itu, aku melompat setinggi yang kubisa. Libasan tangannya sangat cepat hingga menciptakan api, ditambah gelombang angin yang kuat, serangannya itu seketika menghancurkan separuh kota. Kutarik pernyataanku tadi, yang ini lebih gila.


Daya hancur yang kuat, dengan pertahanan yang tidak bisa kutembus. Aku hanya bisa menghindarinya. Harus berpikir cepat. Aku mesti menciptakan tehnik baru yang jauh lebih kuat.


Terus-terusan berlarian membuatku tidak sadar jika para ksatria telah berkumpul di tempat itu. Jumlahnya ratusan, atau mungkin ribuan. Sebanyak apapun jumlah mereka, tidak ada yang bisa dilakukan- tunggu. Jumlah? Itu dia!


Jeanne kecil kini lebih agresif menyerang sang raksasa untuk menarik perhatiannya. Dia berhasil. Dan selagi itu, aku melompat ke rumah dengan banyak ksatria di dekatnya.


"Apa itu!?" Salah seorang ksatria bertanya kepadaku. Dia mungkin berpikir aku berada di pihak manusia.


"Kiamat," ucapku, dan mereka nampak ketakutan.


"Kita harus memanggil ksatria tingkat tinggi," ksatria yang lain memberi pendapat, dan hampir semuanya setuju. Salah satu dari mereka kemudian berlari dari tempat itu.

__ADS_1


"Hei," Aku mencoba memanggil mereka. "Kita bisa mengalahkan mereka tahu. Akan ada pengorbanan sih, tapi lebih baik daripada menunggu ksatria yang lebih kuat datang kan? Dia sudah menghancurkan setengah kota loh."


"Katakan rencanamu, jangan permasalahkan pengorbanan. Sudah menjadi tugas ksatria berkorban untuk melindungi nyawa yang lebih banyak."


"Bagus. Terimakasih," Aku tersenyum. Sebuah senyuman termanisku sebagai hal yang terakhir mereka lihat. Spinning Blade. Aku menciptakan tebasan angin. Tapi tebasan itu tidak mengarah kepada raksasa, melainkan kepada para ksatria. Dalam sekejap, tempat berapi itu kini hanya tersisa aku dan raksasa yang masih ditahan Jeanne kecil.


Lalu aku mengangkat La Pucelle ke udara. Aku akan mencoba melakukan sesuatu yang baru dari salah satu adegan anime yang terkenal. Aku mengumpulkan darah tumpukan ksatria tersebut ke dalam satu titik, La Pucelle. Dengan menambahkan darahku, serangan baruku siap.


"Oi, jelek! Lihat sini!" Aku mencoba menarik perhatiannya dengan mengejek. Tidak disangka itu bekerja. Dia kembali mengayunkan tangannya ke belakang. "Hm.. Mau adu kekuatan ya? Ayo sini!" Sesaat raksasa tersebut melibatkan tangannya, aku melepaskan seranganku sambil berteriak.


"DEATH..CALIBUR!!"


Tebasan darahku menembus angin ledakannya dengan suara yang cukup mengerikan. Sang raksasa terhoyong ke belakang. Tapi.. Dia masih hidup!


"Gitu doang! Udah capek-capek teriak juga!" Kesal dan kecewa, aku melompat dan mencoba memukulnya. Tapi pukulanku luput. Tubuh bagian atasnya jatuh sebelum pukulanku sampai. "Eh?"


Sang raksasa mati dengan tubuh terbelah. Kali ini perburuanku sukses!

__ADS_1


__ADS_2