Dead Queen Nala

Dead Queen Nala
04 Langkah Pertama


__ADS_3

Sial, sial, sial! Kenapa jadi seperti ini!?


Di belakangku, seorang pria dengan topi berpinggiran lebar, jas panjang, serta rompi serba coklat mengejarku dengan wajah menyeramkan. Aku tidak paham kenapa manusia sepertinya mampu mengejarku. Padahal beberapa saat yang lalu dia berjalan lambat dan membungkuk seperti orang tua. Ya, beberapa saat yang lalu, sebelum dia membunuh Dora.


Hari ini seperti biasa, aku dan Pufu berlari mengikuti Dora yang tanpa pernah bosan, berlarian dengan wajah gembira di dalam hutan yang sangat gelap. Kami kemudian melihat seseorang yang nampak seperti orang tua dengan lampu api. Dora berniat menjahilinya walaupun sudah kuperingatkan. Jika saja waktu itu aku menahannya untuk tidak mendekati orang tersebut, hal buruk tersebut mungkin tidak akan terjadi.


Aku membiarkannya karena ini bukan pertama kalinya Dora menjahili manusia yang tersesat di dalam hutan. Selain itu, Dora memiliki kemampuan khusus yang membuatnya bisa berkamuflase dengan lingkungan dan tidak akan bisa dilihat oleh mata. Ya, aku membiarkannya karena berpikir tidak akan masalah. Aku lupa memikirkan bagaimana orang yang nampaknya tua dan susah berjalan bisa berada sedalam ini di hutan. Dan saat aku baru sadar akan kejanggalan itu, semuanya terlambat.


Semuanya terjadi begitu cepat. Sebuah pedang perak telah menembus badan Dora. Bagaimana orang tua tersebut bisa bergerak secepat itu? Bagaimana bisa dia melihat kamuflase Dora? Tapi tidak ada waktu bagiku untuk memikirkan alasannya, karena saat ini-


"Dora!!" Aku berdiri dari balik semak-semak dan berteriak.


Orang tua tersebut beralih pandang ke arahku. Bola matanya memiliki bentuk salib di dalamnya, dan dia tersenyum lebar saat melihatku, hingga air liur-nya keluar seperti anjing yang melihat daging dan sangat siap menyantapnya.


Tapi orang tersebut belum juga menerjangku. Dia masih tertahan karena Dora yang telah mengeluarkan darah dari mulutnya menahan tangan orang tersebut dengan segenap kekuatan yang ada. Orang tersebut nampak kesal, tapi Dora tidak mempedulikannya. Dora menoleh ke arahku dan berteriak. Sampai saat ini aku masih belum mengerti bahasanya, tapi untuk pertama kalinya aku paham apa yang ingin dia sampaikan, Lari!!


Pufu menggenggam tanganku dan mencoba membawaku lari. Perlu beberapa detik bagiku untuk ikut lari dari sebelumnya membatu.


Aku mencoba meyakinkan diriku kalau ini tidak terjadi. Jika semua ini hanya mimpi. Tapi tidak ada yang berubah. Pemandangan Pufu yang tidak melepaskan tanganku belum berganti. Dora terluka.


"Itu sang penjagal. Maafkan aku. Aku tidak tahu kerajaan akan mengirim penjagal kesini. Jika saja aku sadar dari awal."


Aku tidak bisa melihat wajah Pufu yang terus menghadap ke depan. Tapi aku bisa melihat air matanya yang jatuh. Dia menahan kesedihan itu demi membawaku menjauh dari tempat itu. Aku bisa merasakannya dari bagaimana dia menggenggam tanganku. Pufu juga menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.


Jika ada yang harus disalahkan, maka itu karena kami terlahir sebagai monster. Sudah menjadi takdir kami untuk diburu oleh manusia. Demi melindungi kedamaian manusia, monster harus dibasmi.


Tapi penjaga tersebut berbeda. Dia tidak melakukan ini demi melindungi manusia. Tidak dengan wajah seperti itu. Wajahnya menunjukkan kesenangan, dia menikmati ini. Baginya, berburu monster adalah permainan. Aku membencinya! Aku ingin membunuhnya! Tapi apa yang bisa satu zombie lakukan? Dia kuat, cepat, dan bahkan bisa melihat kamuflasenya Dora- tunggu, ada sesuatu yang janggal.

__ADS_1


Aku mencoba mengingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu, saat sebelum dia menangkap Dora hingga aku berlari menjauh. Alasan kenapa dia berpura-pura seperti orang tua. Alasan kenapa dia bisa melihat Dora. Itu dia! Aku tahu kemampuannya!


"Pufu, berhenti!"


"Ada apa? Jika kau berpikir untuk melawannya maka jawabannya tidak." Sial, dia langsung bisa menebakku. Tapi..


"Bukan. Aku tidak bodoh untuk melakukan sesuatu yang mustahil. Tapi kau bisa, Pufu. Aku ingin kau melakukan sesuatu."


Aku memberitahukan rencanaku kepada Pufu.


"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri!"


"Kau tidak meninggalkanku. Kau hanya terbang lebih dahulu. Aku juga akan terus berlari kok."


Pufu nampak khawatir. Aku lupa kapan terakhir kali aku melihat seseorang khawatir terhadapku.


"Pasti. Aku akan hidup, seperti yang Dora inginkan."


Pufu terbang dan meninggalkanku. Dari belakangku, aku mendengarnya. Sebuah sosok dari kejauhan yang tidak melepaskan pandangannya dariku bagaikan anjing yang dilepaskan untuk menangkap penjahat. Ayo kita lihat apa dia bisa melakukannya.


Walaupun aku memiliki keuntungan sebagai zombie yang tidak bisa merasa lelah, ditambah tehnik lariku yang meningkat berkat Dora, pria tersebut masih bisa mengejarku. Tidak, malahan dia mulai mendekatiku walau perlahan. Dan kemudian-


"Akh!"


Aku tiba-tiba terjatuh. Aku merasakan rasa sakit seperti terbakar di seluruh tubuhku. Sangat sakit. Dan saat sakit itu perlahan mereda, aku sadar jika sebelah kakiku telah terputus.


Pria itu mulai mendekatiku. Dan di tangannya aku melihat sebuah cambuk. Dia mengangkat cambuk tersebut, dan melibasnya ke arahku.

__ADS_1


"Akh!!"


Aku berteriak kencang. Rasa sakit itu kembali, dan kini, sebelah tanganku yang hilang. Apa itu karena cambuknya? Aku ingat Kronii pernah mengatakan bahwa aku masih bisa merasakan sakit apabila terkena senjata yang dilumuri air suci.


Rasa sakitnya tidak tertahankan. Aku sangat ingin menangis, tapi melihat wajahnya yang tersenyum lebar di hadapanku membuatku menahannya. Seperti Dora, aku tidak akan menunjukkan kelemahanku.


"Menarik.. Sangat menarik.." Dia mulai berbicara. "Aku tidak pernah mendengar zombie yang masih waras sebelumnya. Kau akan ikut denganku sayang, kita akan bersenang-senang. Gehahahahahaha!"


Menjijikkan. Wajahnya. Sifatnya. Suaranya. Semua hal dari orang ini sangat jelek. Dia menertawakanku. Layaknya anak kecil yang diberi mainan baru. Dia sangat senang, yang membuatnya tidak menyadari bahwa dia telah terkena jebakan.


Dari dalam tanah, jaring laba-laba bewarna perak melesat cepat dan menangkap sang penjagal. Dia tidak bisa bergerak.


"Ini? Jaring Ratu Laba-laba Putih. Bagaimana bisa?"


Ekspresinya berubah, yang menandakan jika ini kemenanganku. Sebelumnya, aku merasa janggal dengan bagaimana dia bisa melihat Dora yang berkamuflase, tapi tidak sadar dengan kehadiranku hingga aku keluar dari semak-semak. Matanya bisa melihat sesuatu yang disembunyikan, tapi tidak dengan sesuatu yang bersembunyi di balik sesuatu. Itulah sebabnya dia berpura-pura seperti orang tua. Agar para monster lengah lalu mendekatinya. Dan walaupun monster tersebut menggunakan tehnik untuk menghilangkan diri, itu tidak akan mengubah apapun berkat mata anehnya tersebut. Jadi aku mengirim Pufu untuk memasang jebakan lebih dahulu. Menyiapkan perangkap yang akan menahannya selagi dia fokus kepadaku, dan kemudian, memanggil para monster yang telah bersembunyi sebelum aku tiba disini.


Penjaga tersebut melihat monster-monster yang mulai mendekatinya. Dia terkejut, tapi tidak nampak ketakutan. Malahan dia tertawa seperti orang gila. Lalu dia menghadap kepadaku lagi.


"Tidak hanya zombie yang sadar, tapi berpikir sejauh ini. Kau yakin bukan manusia?"


Namaku Nala, aku dulunya manusia. Tapi sekarang aku adalah monster. Walaupun aku mengatakan itu, dia tetap tidak akan mengerti bahasaku. Jadi aku akan menggunakan bahasa isyarat yang bisa dipahami semua makhluk, mungkin.


Aku mengangkat tanganku yang masih ada dan mengacungkan jari tengahku kepadanya. "**** U!"


Serentak para monster melancarkan serangan kepada sang penjagal. Apa yang tadinya berbentuk manusia, kini telah berubah menjadi sesuatu yang tidak berbentuk. Sebuah benda putih bergulir ke arahku dan aku mengambilnya. Matanya.


Melihatnya mengingatkan aku kembali kepada Dora, dan itu menyakitkan. Tapi aku juga jadi menyadari sesuatu, hal terpenting yang seharusnya kusadari dari awal aku tiba di dunia ini. Aturan nomor satu dari cara bertahan hidup, menjadi kuat.

__ADS_1


__ADS_2