
Hari ini Noya pulang terlambat dari kampus nya karena hujan yang sangat deras, ia menunggu hujan itu berhenti
Ia tidak di berikan kendaraan oleh orang tua nya karna beralasan kalau kampus nya dekat
Jarak kampus Noya itu sekitaran 2km, dan Noya biasanya hanya berjalan kaki saja saat pergi ke kampus nya
Saat jam pulang nya tiba-tiba hujan turun sangat deras dan ia menunggu hujan tersebut reda.
"mau gue anterin" tawar Erlangga
"ga usah" jawab noya acuh
"ya udah gue temenin" Erlangga berdiri di samping Noya
"tumben lo sendirian mana dua sahabat lo"tanya Noya
"mereka udah pulang deluan"
"daripada nunggu hujan gimana kalau gue anterin aja hari ini gue lagi baik hati sama lo" ucap farel nyengir
"gak" ucap Noya singkat
Mereka berdua terdiam sama-sama memandang hujan, Erlangga membuka jaket nya dan memakaikan nya pada Noya
Noya kaget pada perlakuan Erlangga yang berbentuk perhatian
Ia melepaskan jaket itu dan memberikan nya pada Erlangga
"lo lebih butuh itu dibanding gue" ucap Noya
"gue baru sadar ternyata lo itu Oya teman kecil gue" ucap Erlangga yang mampu membuat Noya sedikit kaget
"ga mungkin" ucap Noya tidak percaya
"Ini buktinya" Erlangga memegang tangan Noya dan menyingkapi lengan baju nya sedikit ke atas hingga gelang hitam itu terlihat jelas di mata mereka berdua
"gue juga punya ini, tenyata lo itu anak Bu Nora ya, lo tau gak lo itu calon istri gue" ucapan itu berhasil membuat Noya kaget ia masih mencerna akan ucapan Erlangga
__ADS_1
'calon istri' batin Noya
"lo gila ya" tanya Noya
"gue ga gila Oya" ucap Erlangga mengelus kepala Noya
degg
Jantung Noya berdetak sangat cepat tidak seperti biasanya
"ga jelas lo El" ucap Noya lalu pulang menerobos hujan
Bukan karna ia ingin meninggalkan Erlangga, namun ia mengingat ini sudah jam nya ia harus memasak dan mengurus rumah
"Oya tunggu" panggil Erlangga namun Noya tidak menggubris nya
Plakkk
Tamparan keras mengenai pipi kiri Noya, ayah tiri nya marah besar hanya karena noya tidak memasak, sebenernya bukan Noya tidak memasak tapi ia pulang terlambat dari kampus nya.
Noya hanya diam karena percuma bagi nya jika melawan
"Anak ga tau diri kamu Noya" ucap Nora ikut geram
Noya hanya diam lalu meninggalkan kedua orang tua nya, ia menuju dapur dan memasak bagi mereka
Ia menangis tentu saja ia menangis, anak perempuan mana yang tahan diperlakukan seperti pembantu dan selalu di perlakukan kasar oleh kedua orang tua nya
Saat ia memotong sayur tak sengaja jarinya tersayat pisau
"Auww" ia meringis
Beberapa saat kemudian akhirnya masakan nya selesai dan ia melanjutkan pekerjaannya mencuci seluruh pakaian yang begitu banyak
Saat semua pekerjaan nya selesai ia kembali ke kamar nya untuk beristirahat
Kamar Noya itu letaknya di lantai bawah dekat dengan ruang tamu, sedangkan kamar saudara dan orang tuanya berada di lantai atas.
__ADS_1
Ia mendengar pembicaraan orang tuanya dan saudara nya tentang sebuah perjodohan
"Pa Nova menolak perjodohan itu, Nova udah ada calon suaminya pa" ucap Nova
"Kamu serius nov" tanya Nora
"iya ma, namanya Albert dia pengusaha terkenal ma" ucap Nova
"Asalkan dia kaya maka tidak masalah untuk membatalkan perjodohan itu" ucap Darman
'kalian memang gila harta' batin Noya, ia mendengar pembicaraan keluarga nya
"Apa kita jodohkan Noya saja ya pa" ucap Novy
"Lalu kalau Noya di jodohkan siapa lagi yang mengurus rumah dan memasak buat kita semua" tanya nova
"Kita jual saja Noya pada keluarga Dinata, agar nanti saat Noya pergi kita bisa menyewa pembantu dari uang itu, lagian juga keluarga Dinata itu miskin, aku dengar yang selalu memasak dan mengurus rumah nya itu adalah ibu Adara" ucap Novy lagi
"Ada benarnya juga" ujar Darman
"Kita tukar kan saja Noya itu dengan uang yang banyak hahah" ucap Nova sambil tertawa "lagian juga Noya pasti jadi pembantu di keluarga Dinata sama seperti disini, dia tidak akan merasa bahagia" ucap nya lagi
"Mama setuju"
"Papa juga"
"Apa 1M?" ucap Novy
"Kalau bisa lebih kenapa harus 1 haha" ucap Darman
Sedangkan Noya, ia terisak mendengar pembicaraan keluarga nya, sungguh mereka kejam ingin menjual nya dengan berkedok menjodohkan
Ia menatap diri nya di depan cermin, di lihatnya wajah nya yang sedikit membiru akibat tamparan keras dari ayah tirinya, ia menangis terisak
Ia hanya ingin bebas seperti teman-teman nya yang lain, ia sudah berusaha kuat semampu nya namun kali ini ia menyerah
Ia sudah tidak sanggup lagi
__ADS_1