Deal Kita Menikah

Deal Kita Menikah
6. Nangis


__ADS_3

Hari ini Noya pulang terlambat dari kampus nya karena hujan yang sangat deras, ia menunggu hujan itu berhenti


Ia tidak di berikan kendaraan oleh orang tua nya karna beralasan kalau kampus nya dekat


Jarak kampus Noya itu sekitaran 2km, dan Noya biasanya hanya berjalan kaki saja saat pergi ke kampus nya


Saat jam pulang nya tiba-tiba hujan turun sangat deras dan ia menunggu hujan tersebut reda.


"mau gue anterin" tawar Erlangga


"ga usah" jawab noya acuh


"ya udah gue temenin" Erlangga berdiri di samping Noya


"tumben lo sendirian mana dua sahabat lo"tanya Noya


"mereka udah pulang deluan"


"daripada nunggu hujan gimana kalau gue anterin aja hari ini gue lagi baik hati sama lo" ucap farel nyengir


"gak" ucap Noya singkat


Mereka berdua terdiam sama-sama memandang hujan, Erlangga membuka jaket nya dan memakaikan nya pada Noya


Noya kaget pada perlakuan Erlangga yang berbentuk perhatian


Ia melepaskan jaket itu dan memberikan nya pada Erlangga


"lo lebih butuh itu dibanding gue" ucap Noya


"gue baru sadar ternyata lo itu Oya teman kecil gue" ucap Erlangga yang mampu membuat Noya sedikit kaget


"ga mungkin" ucap Noya tidak percaya


"Ini buktinya" Erlangga memegang tangan Noya dan menyingkapi lengan baju nya sedikit ke atas hingga gelang hitam itu terlihat jelas di mata mereka berdua


"gue juga punya ini, tenyata lo itu anak Bu Nora ya, lo tau gak lo itu calon istri gue" ucapan itu berhasil membuat Noya kaget ia masih mencerna akan ucapan Erlangga

__ADS_1


'calon istri' batin Noya


"lo gila ya" tanya Noya


"gue ga gila Oya" ucap Erlangga mengelus kepala Noya


degg


Jantung Noya berdetak sangat cepat tidak seperti biasanya


"ga jelas lo El" ucap Noya lalu pulang menerobos hujan


Bukan karna ia ingin meninggalkan Erlangga, namun ia mengingat ini sudah jam nya ia harus memasak dan mengurus rumah


"Oya tunggu" panggil Erlangga namun Noya tidak menggubris nya


Plakkk


Tamparan keras mengenai pipi kiri Noya, ayah tiri nya marah besar hanya karena noya tidak memasak, sebenernya bukan Noya tidak memasak tapi ia pulang terlambat dari kampus nya.


Noya hanya diam karena percuma bagi nya jika melawan


"Anak ga tau diri kamu Noya" ucap Nora ikut geram


Noya hanya diam lalu meninggalkan kedua orang tua nya, ia menuju dapur dan memasak bagi mereka


Ia menangis tentu saja ia menangis, anak perempuan mana yang tahan diperlakukan seperti pembantu dan selalu di perlakukan kasar oleh kedua orang tua nya


Saat ia memotong sayur tak sengaja jarinya tersayat pisau


"Auww" ia meringis


Beberapa saat kemudian akhirnya masakan nya selesai dan ia melanjutkan pekerjaannya mencuci seluruh pakaian yang begitu banyak


Saat semua pekerjaan nya selesai ia kembali ke kamar nya untuk beristirahat


Kamar Noya itu letaknya di lantai bawah dekat dengan ruang tamu, sedangkan kamar saudara dan orang tuanya berada di lantai atas.

__ADS_1


Ia mendengar pembicaraan orang tuanya dan saudara nya tentang sebuah perjodohan


"Pa Nova menolak perjodohan itu, Nova udah ada calon suaminya pa" ucap Nova


"Kamu serius nov" tanya Nora


"iya ma, namanya Albert dia pengusaha terkenal ma" ucap Nova


"Asalkan dia kaya maka tidak masalah untuk membatalkan perjodohan itu" ucap Darman


'kalian memang gila harta' batin Noya, ia mendengar pembicaraan keluarga nya


"Apa kita jodohkan Noya saja ya pa" ucap Novy


"Lalu kalau Noya di jodohkan siapa lagi yang mengurus rumah dan memasak buat kita semua" tanya nova


"Kita jual saja Noya pada keluarga Dinata, agar nanti saat Noya pergi kita bisa menyewa pembantu dari uang itu, lagian juga keluarga Dinata itu miskin, aku dengar yang selalu memasak dan mengurus rumah nya itu adalah ibu Adara" ucap Novy lagi


"Ada benarnya juga" ujar Darman


"Kita tukar kan saja Noya itu dengan uang yang banyak hahah" ucap Nova sambil tertawa "lagian juga Noya pasti jadi pembantu di keluarga Dinata sama seperti disini, dia tidak akan merasa bahagia" ucap nya lagi


"Mama setuju"


"Papa juga"


"Apa 1M?" ucap Novy


"Kalau bisa lebih kenapa harus 1 haha" ucap Darman


Sedangkan Noya, ia terisak mendengar pembicaraan keluarga nya, sungguh mereka kejam ingin menjual nya dengan berkedok menjodohkan


Ia menatap diri nya di depan cermin, di lihatnya wajah nya yang sedikit membiru akibat tamparan keras dari ayah tirinya, ia menangis terisak


Ia hanya ingin bebas seperti teman-teman nya yang lain, ia sudah berusaha kuat semampu nya namun kali ini ia menyerah


Ia sudah tidak sanggup lagi

__ADS_1


__ADS_2