
Huft!
Sebagai seorang dokter spesialis anak, jujur dirinya merasa lelah setiap hari. Bukan karena keberatan menangani pasiennya yang anak-anak, namun merasa lelah karena selalu diperhadapkan dengan pasien anak-anak yang memiliki penyakit berat. Karena sifat profesionalnya, maka rumah sakit memilihnya untuk mengemban tugas tersebut. Dokter spesialis anak yang selalu menangani perawatan anak kecil pengidap kanker, tumor bahkan leukemia.
Kadang dia merasa curiga terhadap kualitas pengasuhan orangtua terhadap anak di zaman sekarang ini. Karena dia bekerja di rumah sakit elit, maka dia yakin anak-anak yang berada di bawah penanganannya adalah anak-anak keluarga kaya raya. Pengasuhan anak tentu di serahkan pada baby sitter ataupun pekerja di rumah. Maka jawabannya sebagian besar baby sitter tidak boleh dipercayai begitu saja.
Sara menyetop taksi online yang sudah di pesannya sejak tadi. Supir tersebut tersenyum sebentar sebelum akhirnya dia dipersilahkan memasuki taksi.
Di dalam taksi, dia mengamati suasana malam ibukota negaranya yang sangat ramai tersebut dari kaca jendela tepat sebelum akhirnya dia terhempas ke depan karena sopir taksi yang merem secara mendadak.
"Maaf nona. Saya baru melihat ada keributan yang menyebabkan kemacetan di depan tadi."
sopir tersebut meminta maaf padanya dengan tulus.
"Ah, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong ada keributan apa sih di sana?" balas Sara tersenyum kecil.
"Wah, saya kurang tahu nona!" si sopir tersenyum menyengir lagi.
Tiba-tiba Sara memiliki firasat buruk. Kenapa kebetulan sekali keributan itu terjadi di lokasi perusahaan Ayahnya? Dan dia ada si sini. Aneh. Lalu keributan itu... apa?
Sara langsung turun dari taksi dan mengambil tasnya tanpa memedulikan teriakan si sopir taksi yang bertanya. Jarak dari sumber keributan dan tempat taksinya berada tidak begitu jauh.
Dan benar saja, firasat buruknya terbukti. Keributan itu bersumber dari area depan gedung perkantoran Ayahnya. Dan pendemo itu rata-rata adalah karyawan di perusahaan Ayahnya. Hah? Benar-benar berbahaya. Ayahnya..dia tidak melihat sosok ayahnya.
Seorang pemuda jangkung menghampiri Sara dan menjelaskan apa yang sedang terjadi.
"Asiten Zi, apa yang sedang terjadi di sini sampai mereka bertindak anarkis?" tanyanya pada Zi Lee, asisten pribadi Ayahnya.
"Nyonya muda Sara, saya tahu anda sudah lama hidup terpisah dari keluarga anda. Namun ketahuilah saat ini keluarga anda sedang terpuruk dan reputasi perusahaan ini akan segera jatuh. Tuan Xun terbukti korupsi dalam sebuah proyek besar. Dan jumlahnya mencapai seratus juta yuan." jelas Zi Lee ragu-ragu.
Sara menutup mulutnya yang ternganga lebar. Ekspresi terkejut tak bisa di sembunyikan lagi. Benarkah? Dia benar-benar tidak menduga. Dia merasa abstrak dengan kenyataan itu. Seratus juta yuan! Itu bukanlah jumlah yang sedikit. Rasanya jika dia yang menanggung nya sendiri, gajinya sebagai dokter seumur hidup pun tidak akan sanggup melunasinya. Dan nyatanya itu terjadi pada ayahnya. Waktu sepuluh tahun belum tentu dapat melunasi seluruhnya.
Kemudian Zi Lee bicara lagi.
"Saat ini tuan Xun sedang frustasi di ruang kerjanya." lanjutnya lagi. Sara terdiam. Aneh. Ketika dia dan ibunya masih hidup bertiga tanpa ada 'gangguan', ayahnyanya terkenal profesional dan tidak pernah korupsi demi apapun. Namun ketika ibunya pergi jauh entah kemana, Ayah mulai menghamburkan-hamburkan uang untuk hobi dan kesenangan istri barunya dan putri tirinya. Sara mulai mengalami kesepian dan penindasan sejak ibu barunya bergabung ke dalam keluarganya.
Maka satu kalimat, Ayahnya pasti korupsi karena hobi aneh istri kedua ayahnya.
__ADS_1
"Bukan hanya itu juga nona Sara, karyawan kantor ini sampai begini karena gaji mereka yang sudah tidak dicairkan lagi dari perusahaan selama tiga bulan terakhir."
Dan masalah akhirnya komplit!
"Apakah Ayah masih berada di ruangannya?" tanya Sara.
"Ya, nona."
"Asisten Zi, tolong tenangkan para karyawan dulu. Katakan mereka akan mendapat kepastiannya besok." kata Sara. Zi Lee merasa ragu.
"Apakah nona Sara berani menjamin sebuah kepastian untuk mereka besok?"
"Ya. Apa kau ragu?"
"Emh, bagaimana ya?"
"Sudah lah... cepat bubarkan mereka dulu."
"Baiklah... "
Sara memasuki gedung perusahaan ayahnya dan menaiki lift menuju lantai teratas, lokasi ruang kerja ayahnya.
TING! Lift berhenti dan terbuka secara otomatis. Sara melangkah dengan setengah berlari dan membuka pintu ruangan kerja ayahnya.
Seperti ucapan Zi Lee, ayahnya terlihat frustasi di meja kerjanya. Sara terdiam sejenak.
"Ayah!" panggil Sara pelan.
Tuan Xun langsung meracau.
"Yu Kimberly, apa kau tak lihat aku sedang frustasi? Aku begini karena hobimu dan Yu Celine yang suka boros. Dan sekarang... " ucapan Tuan Xun terhenti ketika melihat sosok siapa yang berdiri di arah pintu ruang kerjanya.
"Sara putriku!" Tuan Xun terperangah sambil beranjak berdiri dari kursinya.
"Jadi benarkah ini karena hobi keluarga barumu?" sindir Sara dengan tatapan lurus. Walaupun dia tahu kata terakhirnya tadi sedikit tak sopan, namun apa daya. Suasana hatinya sedang kesal dan kecewa.
Tuan Xun berhenti sebelum akhirnya dia berhasil memeluk putri yang pernah di sia-siakannya.
__ADS_1
"Ya.. aku adalah manusia terbodoh di dunia ini. Menyia-nyiakanmu dan ibumu dulu... argggh..!" Ayahnya menggeram marah.
"Ayah sudah bisa merasakannya sekarang...! Karyawan di bawah sudah di bubarkan sementara. Aku menjamin sebuah kepastian untuk mereka besok. Aku pulang dulu. Zi Lee akan mengantarmu."
"Putriku!" tangis tuan Xun sambil memeluk Sara. Sara diam saja ketika di peluk oleh ayahnya, jujur dia merasa terharu melihat ayahnya seperti ini.
Dan dia baru menyadari ayahnya semakin kurus di banding dulu. Ayah... apakah tidak bahagia bersama mereka?
"Tuan Xun saya... " asisten Zi seketika bungkam. Dia akhirnya memilih diam.
Ya bagaimana pun juga dia tidak ingin merusak suasana haru itu!
"Nyonya Sara, sebaiknya tuan Xun pulang bersama anda dulu." usul Zi Lee.
"Tapi.. ya sudahlah..." akhirnya Sara enggan menolak.
Tuan Xun tampak lebih baik setelah mendengar keputusan Sara.
"Tapi aku pulang naik taksi. Tidak apa-apa kan?" Sara meragukan apakah ayahnya masih ingin pulang dengannya menaiki taksi.
"Tidak apa-apa." balas tuan Xun.
Sara pun merogoh ponselnya dan kembali memesan taksi orderan sekaligus mentransfer sejumlah uang untuk mengganti biaya ganti rugi taksi yang sempat di tumpanginya tadi. Terlihat dia beberapa kali menenangkan si sopir taksi yang mengomelinya.
"Maaf pak!" hanya itu yang di katakannya selama bertelepon.
Selang sepuluh menit kemudian, taksi orderannya berhenti di gedung perusahaan ayahnya.
"Ayah naik duluan." Sara mempersilahkan tuan Xun menaiki taksi.
"Baiklah!"
Sara kemudian memasuki taksi dan memberi isyarat pada sopir taksi agar segera melaju.
Tuan Xun diam sambil mengamati putri nya yang tumbuh besar tanpa pengawasan dan kasih sayang. Ternyata benar, penyesalan itu tidak berguna sama sekali di belakangan. Tuan Xun barun menyadari putrinya sudah berprofesi sebagai dokter karena mengenakan jas putih seperti dokter pada umumnya.
"Kau.. adalah dokter sekarang?"
__ADS_1
Sara mengangguk kecil, tidak ingin banyak bicara sekarang.
"Aku tidak akan menyusahkan Sara lagi. Biarlah seperti ini saja." batin tuan Xun dalam hati