Dear Indigo Girl Stories

Dear Indigo Girl Stories
Chapter 3: Tamu tak terduga


__ADS_3

Langit sore berganti petang. Waktu telah menunjukkan pukul tujuh sore. Sara yang sudah mandi dan berganti pakaian langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


Sementara tuan Xun sibuk membaca surat kabar dan majalah yang tersedia di meja ruang tamu. Memang sejak mengetahui mengenai surat penawaran tadi Sara menjadi pendiam dan terlihat tidak bergairah. Tuan Xun mengerti dan mendiamkan saja. Itu lebih baik untuk saat ini.


Lima belas menit kemudian dua piring sup ayam, pangsit goreng dan salad buah tersedia di atas meja makan.


Tuan Xun tergoda untuk segera makan karena memang aroma yang keluar dari masakan Sara sangat wangi.


"Yah mari makan malam."


Tuan Xun mengangguk dan menarik kursi meja makan. Tangannya mengambil sumpit dan sebuah sendok makan yang di alasi tisu. Wadah makanan piring dan mangkuk yang di gunakan putih mengkilap. Sudah bisa dipastikan peralatan makan yang di gunakan higienis.


Baik tuan Xun maupun Sara melahap makan malam tanpa bicara sepatah kata pun.


...


TING TONG!


Terdengar bel pintu kamar apartemennya berbunyi. Saat itu juga Sara benar-benar heran. Ada tamu, setahunya dia tidak pernah mengundang siapapun. Jangankan mengundang, Sara enggan menerima tamu meski pun karena urusan pekerjaan.


Siapa ya?


Tuan Xun tampak ragu untuk membuka pintu karena melihat wajah linglung Sara. Itu artinya Sara tidak mengetahui siapa tamunya atau tidak bisa menjamin siapa tamunya.


"Biar Sara yah," kata Sara yang mengibas-ngibaskan tangannya yang basah di bawah aliran air.


(Sara saat itu sudah selesai mencuci piring)


Sara melepas celemeknya dan berjalan cepat-cepat menghampiri pintu.


CKLEK!


Seorang pria misterius yang tak di kenal sama sekali olehnya berdiri di depan pintu. Pria itu mengenakan topi fedora, kacamata hitam dan jas kerja. Tubuhnya sedikit gempal. Tampak seperti pria berusia tiga puluh tahun lebih.


Sara tidak menduga sosok tamunya tersebut.


"Maaf anda siapa dan kenapa kemari?" tanya Sara spontan.


"Boleh saya masuk?"


"Tidak. Jelaskan identitas anda terlebih dulu." tegas Sara. Pria itu akhirnya tertawa terbahak-bahak. Sara dan tuan Xun saling tukar pandang.

__ADS_1


"Hoho, dokter Sara memang sangat selektif dan sensitif ya? Saya ini rekan baku hantam keluarga Hsu."


Sara tampak terkejut. Darimana pria ini tahu dia adalah seorang dokter?


Mendengar kata 'baku hantam', tuan Xun langsung beranjak dari duduknya dan was-was.


"Baku hantam? Maafkan saya, saya tidak mengenal anda dan jangan tersinggung saya tidak bisa menerima anda." Sara kemudian menutup pintu namun di tahan oleh pria bertopi fedora tersebut.


"Ini!" tegasnya pada Sara sambil mengacungkan sebuah surat di depan wajah Sara.


"Saya Tann Wan, suruhan keluarga Hsu. Kepala pasukan keamanan keluarga Hsu. Ini sebagai bukti saya perlu menyampaikan sesuatu pada anda dan tuan koruptor ini."


Sara tampak tidak suka.


"Jaga etika bicara anda." sergahnya.


"Ah, baiklah."


Tuan Xun menyambar surat yang di acungkan pria bernama Tann Wan tadi.


"Bagaimana yah? Apakah pria ini berbohong atau memang benar suruhan keluarga Hsu?"


Sara tahu ayahnya pasti mengetahui siapa saja suruhan keluarga Hsu. Seluruh pekerja kantoran di kota ini pasti tahu bagaimana ciri-ciri orang suruhan keluarga Hsu.


Tann Wan tersenyum puas sambil sibuk mengamati sosok Sara. Benarkah wanita ini dokter? Cantik sekali. Bahkan perasaanku mengatakan dia lebih cocok menjadi model kelas atas di kota ini. Sara yang merasa dirinya terus di amati oleh pria bertubuh gempal tersebut merasa risih.


"Apakah suruhan keluarga Hsu cabul?" tuan Xun merasakan kerisihan putrinya.


Sara yang berada di sebelah ayahnya langsung tersenyum lega.


"Terimakasih ayah!" ucapnya dalam hati.


Tann Wan buru-buru mengelak. Tuan muda Wang Feng akan menghabisiku jika mereka mengadu. Tapi ayah dan anak ini memang sensitif.


Tann Wan pun masuk dan duduk di sofa setelah di persilahkan duduk oleh tuan Xun. Sementara Sara kembali ke dapur untuk menyajikan teh dan makanan ringan.


Tann Wan langsung berbicara agar tidak tercipta suasana canggung. Dia paling benci kecanggungan.


"Jadi tuan Xun apa tanggapanmu mengenai penawaran tuan Wang Feng lima hari yang lalu?" tanya Tann Wan meletakkan kopernya di meja yang berada di depannya.


Tuan Xun bungkam seketika. Sejak dari tadi, di depan pintu dia sudah menduga apa tujuan Tann Wan kemari.

__ADS_1


"Tidak akan. Putriku lebih memiliki harga diri di banding aku. Jadi biarkan dia mempertahankan reputasinya." tegas tuan Xun mantap.


"Hohoho.. ayolah tuan Xun. Ini penawaran yang sempurna dan menggiurkan. Begitu sempurnanya, tidak akan terjadi sekali lagi. Jika aku yang menjadi engkau, berpikir kedua kalinya rasanya tidak perlu." tawa Tann Wan menggelegar di seluruh ruangan.


"Tidak akan."


"Bagaimana jika Yu Celine?"


"Dia putri tiriku. Mau tidaknya dia bergantung pada dirinya dan ibunya." tuan Xun melengos, terdengar kesal saat mendengar nama Yu Celine.


"Yu Celine tentu saja akan mau. Putri tirimu itu gila-gila pria."


"Biarkan saja dia yang jadi istri untuk tuan muda Wang Feng."


"Aku tak tahu bagaimana gadis selera tuan Wang Feng. Selama ini dia anti perempuan Namun tidak tahu sejak kapan dia menginginkan salah satu putrimu untuk menjadi istrinya."


Salah satu? Apakah tuan muda Wang Feng menginginkan Sara? Atau Yu Celine? Tuan Xun mengakui baik Sara maupun Yu Celine adalah gadis cantik yang di incar para pejabat maupun keluarga kaya di kota ini.


Sara akhirnya datang dengan membawa nampan yang dipenuhi oleh dua cangkir teh, sepiring kue brownies dan semangkuk keripik kentang. Tann Wan yang hobi makan langsung meraih piring kue brownies dan melahapnya.


"Emh, enak sekali. Darimana kalian membeli kue ini? Dari Luo Elite Bakery?" cerocos Tann Wan menyebut nama toko kue dan bakery yang sukses di kotanya.


"Putriku yang membuatnya." jawab tuan Xun bangga.


APA? DOKTER SPESIALIS ANAK INI? BENARKAH?


Tann Wan kemudian menyesap teh dari cangkir dan menyudahi acara makan-makannya.


"Dokter Sara, aku bertanya padamu. Belum lama ini tuan Wang Feng menginginkan antara kau dan saudara tirimu menjadi menantu keluarga Hsu. Aku gagal menyampaikan ini secara pasti. Jadi begini saja. Besok siang sekitar pukul tiga sore datang ke gedung perusahaan keluarga Hsu. Lantai 21, lantai teratas. Ambil kartu tamu eksklusif ini. Besok pegawai akan mengantarmu ke sana." ucap Tann Wan sambil menyodorkan sebuah kartu berwarna keemasan.


Sara menerimanya dan menatap ayahnya.


"Terimakasih atas hidangannya, tuan Xun dan Dokter Sara. Saya Tann Wan pamit dulu. Jangan lupa dokter Sara." Tann Wan mengingatkan dan menghilang di balik pintu.


BLAM!


Tann Wan sosok pria bertubuh gempal akhirnya benar-benar tidak terlihat lagi.


"Ayah apakah Sara benar-benar harus datang? Apakah ini penting?"


"Menurut ayah, lebih baik kamu datang. Seseorang yang di undang keluarga Hsu harus menepati dan hadir tepat waktu." jelas ayahnya.

__ADS_1


"Ah, baiklah." Sara manggut-manggut.


__ADS_2