
Setelah Pi Yuan menutup agenda hariannya, Wang Feng mendekat dan membisikkan sesuatu di dekat Pi Yuan. Terlihat Pi Yuan beberapa kali manggut-manggut sambil menjawab 'iya' pada Wang Feng.
Sara yang masih berdiri tegap hanya bisa memandang dan mencoba menerka-nerka apa yang sedang di bicarakan oleh kedua orang tersebut.
Beberapa saat kemudian, Pi Yuan pun keluar sambil melempar senyum manis pada Sara dan di balas senyuman kembali oleh Sara.
Dan sepeninggal Pi Yuan, Sara akhirnya benar-benar berdua dengan Wang Feng di ruangan tersebut.
Suasana canggung tercipta. Keduanya saling tukar pandang sejenak.
"Baiklah, kurasa karena tidak ada hal penting di antara kita, aku pulang dulu. Permisi tuan presdir Wang yang terhormat." pamit Sara melengos sambil menekan gagang pintu namun di tahan oleh Wang Feng.
"Kita akan membicarakan sesuatu hal di sini. Hanya kita berdua. Pintu ini tidak akan terbuka lebar untuk mu sampai pembicaraan ini tuntas."
Sara diam. Tidak jadi membuka pintu. Dia berbalik dan menundukkan wajahnya agar tidak melihat wajah Wang Feng. Wang Feng menatap wajah Sara. Begitu cantik dan natural. Tidak di setting. Sementara tangan kanannya masih menahan pintu dan tangan kirinya di kantongi ke dalam saku samping celananya.
"Ah baiklah kau duduk saja dulu." Wang Feng menyadari kecanggungan Sara dan mempersilahkannya duduk.
"Iya. Terimakasih tuan presdir Wang." saat itu juga Sara sedikit bersyukur karena ternyata lelaki yang berada di hadapannya ini peka.
Sementara Wang Feng menghampiri meja di sisi lain. Bukan, bukan meja kerjanya. Namun terdapat mesin otomatis pembuat teh dan kopi di sana.
"Apakah dokter Sara penikmat kopi?" tanya Wang Feng.
"Tidak.Teh saja." jawab Sara.
Sara:
__ADS_1
Meminum kopi? Are you seriously with me? Jangankan meminumnya, melihat kopi saja dia enggan. Huft! Untung saja dia bertanya lebih dulu padaku, pikir Sara.
Wang Feng:
Apakah terkesan langka perempuan yang mau minum kopi? Hah, seperti Sara sekarang ini, klien kerjanya yang terkadang merupakan seorang wanita juga kebanyakan menolak hidangan kopi dan anehnya perempuan merasa teh adalah pengganti yang tepat untuk tidak meminum kopi.
Beberapa saat kemudian secangkir teh dengan piring tehnya tersedia di depan Sara. Dia menyesap sedikit tehnya dan meletakkannya kembali.
Wang Feng mengamati bagaimana sikap Sara meminum teh. Benar-benar seperti wanita pada umumnya. Beretika dan feminin.
"Langsung saja nona. Ini terkait pada reputasi keluargamu. Silakan baca." tegas Wang Feng sambil menggeser sebuah surat ke depan Sara.
Surat? Apa lagi ini?
Sara memiliki firasat buruk dan mengamatinya sebentar. Dia menyeret sebuah kertas putih berisi ratusan kata ke luar. Surat tersebut di ketik dengan rapi.
Sara membaca surat tersebut hingga ke baris terakhir. Surat penawaran tersebut menawarkan bahwasanya dia harus menjadi istri presdir Wang Feng dan saat itu juga hutang piutang ayahnya akan lunas pada keluarga Hsu, di tambah lagi tuan Xun Er akan mendapat fasilitas tambahan dari keluarga Hsu.
Tawaran yang sangat menggiurkan bagi siapa saja. Tapi baginya seperti buah simalakama. Di satu sisi dengan cara ini utang ayahnya akan terlunaskan secara instan. Dan di sisi lain dia tidak ingin menikah dengan orang yang tidak di cintainya sama sekali. Pacaran saja belum.
Pertemuannya dengan Wang Feng baru selama satu jam dan dia dilema saat itu juga.
Dilema.
Bagai buah simalakama.
Sebuah keraguan.
__ADS_1
Bercampur aduk menjadi satu.
Lama mempertimbangkan dan memikirkan resiko apa saja yang akan di hadapinya nantinya, akhirnya Sara membuka mulut soal keputusannya pada Wang Feng.
"Ya."
"Saya tidak membutuhkan jawaban tersirat nona. Tolong yang jelas." Wang Feng melengos tak suka.
"Aku bilang aku akan bersedia menikahimu dalam waktu dekat."
"Bagus. Itu baru benar. Ini. Teken di bagian bawah dan tempelkan materainya." Wang Feng kemudian menyodorkan sebuah pulpen.
Sara terdiam. Dengan tangan dan perasaan gemeteran yang mengiringi perasaannya, dia memejamkan mata dan meneken surat penawaran tersebut.
Wang Feng tersenyum puas. Dia tidak menyangka gadis yang berada di hadapannya ini nekat dan rela berkorban demi melunasi hutang piutang ayahnya.
Perempuan memang lebih memikirkan perasaan orang lain di banding kebaikan dirinya sendiri.
Sara, dengan di tawarkan oleh Wang Feng, pulang bersama dengan menggunakan mobil mewah Wang Feng.
Perasaan Sara berkecamuk.
Dia berharap keputusannya benar dan tidak menyesal di kemudian hari.
Hari-hari selanjutnya, setelah ini tentu memiliki cerita berbeda.
Apakah hari besok akan berjalan dengan baik?
__ADS_1