
Langit pagi yang begitu cerah menambah semangat Sara untuk pergi bekerja. Kamar apartemen yang ia tinggali memang terfasilitasi dengan lengkap.
Tiap bagian kamar apartemen terdiri atas dua kamar tidur masing-masing berukuran 6x5 meter, sebuah kamar mandi berukuran 3x3, dapur berukuran 7x6 dan ruang tamu yang
luas 8x6 meter.
Setelah selesai sarapan dan mandi, dia pun memasukkan beberapa benda yang dianggap penting untuk di bawa ke dalam tas tangan yang sering di gunakannya.
"Ayah, ini sarapannya. Maaf kalau sederhana. Tidak mewah seperti yang selalu ayah makan."
"Sarapan? Kau membuatkan sarapan? Kebetulan sekali ayah sangat lapar. Kamu tahu? Ayah tidak pernah lagi merasakan sarapan buatan rumah sejak tiga bulan lalu."
"Karena ayah sudah tidak sanggup menggaji para pekerja rumahan satu pun."
Sara terdiam. Pantas saja ayah sekurus ini.
Sara tahu Yu Kimberly, istri kedua ayahnya pasti tidak bisa masak apalagi putri dari istri kedua ayahnya, Yu Celine.
"Kau memasak apa putriku?" tanya ayahnya yang sedang menuang lemon tea dari teko ke cangkir.
"Hanya nasi goreng dan muffin panggang."
"Itu juga sudah bagus. Baiklah aku akan melahapnya. Kau akan pergi bekerja sekarang?" tanya tuan Xun melihat penampilan putrinya yang sangat rapi dan bersih.
"Ya ayah. Hari ini harus lebih awal karena ada jadwal konsultasi dengan orangtua pasien pengidap kanker." jawab Sara tersenyum ramah.
"Bekerjalah semaksimal mungkin. Kuharap putriku tidak akan berbuat konyol seperti ku." mendadak suasana suram setelah tuan Xun mengatakannya.
"Jangan di ingat-ingat lagi yah. Lupakan saja. Aku tidak akan berbuat seperti itu."
"Baguslah. Hati-hati dijalan putriku. Semoga hari ini menyenangkan."
Sara mengangguk pasti.
"Kalau ayah bosan, jangan keluar dulu atau orang lain akan mengenal ayah. Di apartemen ini rata-rata adalah pekerja kantoran."
"Iya, Sara."
"Nyalakan saja TV. Kalau ayah lapar, stok makanan masih ada di kulkas."
Lagi-lagi ayahnya mengangguk. Sara akhirnya pamit sebelum pergi dan menghilang di balik pintu kamar apartemen.
Sepeninggal Sara, tuan Xun menyeret koper kerjanya yang di sembunyikannya d bawah sofa ruang tamu. Dia membuka koper kerjanya dan meraba sebuah amplop coklat.
__ADS_1
"Sara..ini kesempatan bagus. Tapi ayah tidak mau menyusahkanmu lagi. Lebih baik ayah memulai segalanya dari nol setelah suasananya membaik. Mustahil untuk melunasi seratus juta yen jika tidak memakai cara ini." kata tuan Xun misterius.
Di rumah sakit Luo Xijiang, perawat Ann yang membawakan beberapa tumpuk berkas memasuki ruang kerja Sara sebagai dokter spesialis anak yang paling diandalkan.
"Dokter Sara, jadwal konsultasi dengan orangtua pasien akan segera berlangsung lima belas menit lagi. Mereka sudah menunggu."
"Oh, baiklah. Katakan pada mereka aku akan segera di sana lima belas menit lagi."
"Ya, dokter Sara." perawat itu akhirnya meletakkan beberapa tumpuk berkas yang harus di tangani Sara dan menghilang di balik pintu.
DRRTTT! DRRTTT!
Ponsel Sara bergetar di dalam saku jas dokternya. Dari Zi Lee.
"Nyonya Sara, gawat ini sangat gawat. Tadi aku mendapat kabar bahwa eks karyawan perusahaan tuan Xun akan menuntut lagi jika sampai nanti malam mereka belum mendapat kepastiannya."
APA?
Sara baru ingat dia membubarkan karyawan perusahaan ayahnya kemarin karena menjanjikan sebuah kepastian untuk mereka. Dan bodohnya dia tidak tahu apa yang pasti tersebut.
Entah itu kepastian akan melunasi gaji seluruh karyawan perusahaan selama tiga bulan terakhir atau pun yang lainnya.
"Akh! Sara bodoh. Kenapa baru ingat sekarang sih?" batinnya.
"Em, aku akan memikirkannya. Sekarang aku sedang memiliki jadwal konsultasi dengan orangtua pasien. Hubungi aku lagi nanti sore."
"Ya, nyonya. Semoga masalah ini terselesaikan dengan segera ya?"
"Kuharap begitu. Sudah dulu ya?"
"Iya nyonya."
Sorenya, sepulang dari kerja nya, terlihat Sara sedang mencari-cari ayahnya.
"Yah..ayah. Sara udah pulang. Ayah di mana?" Sara setengah berteriak sambil melepas sepatunya.
Sara mulai merasa ada yang aneh. Ayahnya tidak menjawab panggilannya sama sekali.
Sara memutar gagang pintu kamar yang digunakan oleh ayahnya tadi malam namun anehnya tak ada ayahnya di sana. Di ruang tamu apalagi, tidak ada. Tinggal kamar mandi dan dapur. Sara pun mengunjungi dapur dan betapa kagetnya dia melihat ayahnya berdiri mematung sambil menangis terisak dan tangannya memegang pisau dapur.
"Yah, apa yang ayah lakukan? Ayah sudah gila?" Sara berusaha merebut pisau tersebut dari tangan tuan Xun.
"Ayahmu ini sudah tidak berguna lagi Sara... lebih baik ayah mati.. hidup ayah penuh masalah, penyesalan dan terlilit hutang. Apa gunanya hidup lagi?"
__ADS_1
"Aku ingin bilang ayahku bodoh... kenapa ayah jadi begini yah? Mudah putus asa dan nekat..." Sara mulai terisak.
Ia sudah tidak tahan lagi untuk lama-lama terlihat tegar, padahal dia sendiri sebenarnya sudah hancur sekarang.
"Hiks hiks!" tangis Sara akhirnya sambil jatuh tersungkur di lantai. Sara menutup mulutnya sambil menunduk. Ayahnya sudah mengecewakannya berkali-kali dia tetap sabar namun untuk hal ini, dia merasa kecewa dan kesal pada ayahnya. Sulit dimaafkan.
Tuan Xun tampak pucat, dia menjatuhkan pisaunya secara tidak sengaja ke lantai dan menggapai Sara untuk meminta maaf.
"Maafkan ayahmu putriku..."
"Apakah ayah tidak bosan hanya bisa meminta maaf tiap kali merasa bersalah? Sara udah bosan dengar itu berulang-ulang dari kemarin... " hardik Sara dengan suara tinggi dan serak.
"Sara... ayah berusaha untuk tidak mengulangnya lagi. Ayah minta maaf. Ayah khilaf.. "
"Yah... Sara... apa yang bisa Sara lakukan untuk menebus... menebus utang ayah dan melunasi gaji karyawan selama tiga bulan terakhir... "
"Tidak perlu Sara... ayah tidak mau menyusahkanmu lagi nak..."
"Katakan ayah... apa pun itu... Sara siap."
"Kamu yakin?"
"Ya, yah.. "
"Sebenarnya ada sayang.. tapi ayah tidak mau memaksa mu untuk itu... "
...
Tuan Xun merogoh sakunya dan mengambil sebuah amplop coklat yang telah terlipat dua.
"Ini!"
Sara menerima amplop tersebut dan membukanya. Sara bungkam seketika saat mengetahui isi surat tersebut.
Surat penawaran menjadi menantu untuk putra pertama keluarga Hsu, keluarga terkaya di negaranya. Keluarga Hsu adalah keluarga trilyuner paling di segani. Dan Sara tahu ayahnya melakukan korupsi di proyek besar yang berhubungan langsung dengan keluarga Hsu.
"Sulit dipercaya ayahku korupsi untuk keluarga Hsu." batin Sara.
"Jadi semuanya pada keputusanmu putriku."
"Tidak yah... aku tidak mau..." tolak Sara meletakkan surat tersebut.
"Ya tidak apa-apa nak.." tuan Xun tampak kecewa.
__ADS_1