
"Bagi yang sudah mengenakan atribut lengkap mohon segera masuk ke lapangan."
Suara bariton Pak Husen menggema di seluruh lapangan. Beberapa orang nampak mengeluh
kesal karena harus berkumpul di lapangan saat matahari sudah mulai meninggi.
Kurasakan seseorang menepuk bahu kananku, Aramilla, teman sekelasku sekaligus salah satu
staff osis juga. Sambil memegang buku yang ia jadikan kipas Ara mulai memberiku
kode agar membantunya mengatur peserta MOS. Harus kuakui, bahwa walaupun masih
pukul 10 pagi tapi matahari sudah menyorot dengan kejamnya.
Peluh membanjiri kening dan bagian hidungku, beberapa kali aku mendesah lelah dan
mengarahkan para calon adik kelasku yang kebingungan.
"Shava, kamu sudah periksa kelas Ki Hajar Dewantara?" tanya Ara. Aku menggeleng
lesu dan mulai melangkah menuju kelas yang Ara maksud dengan malas.
Saat MOS kelas-kelas yang dipakai memang diberi nama-nama khusus, entahlah. Mungkin
memang sudah menjadi kebiasaan di SMA Nusantara.
"Adek-adek, ayo cepat ke lapangan." seruku. hanya ada 4 orang di dalam kelas itu, tiga
orang perempuan berlari melewatiku sambil cekikikan karena masih sibuk
bercanda.
Kulirik satu orang yang masih tersisa, dia laki-laki rupanya. Nampak sibuk
mengobrak-abrik isi tas hitamnya dan memasang raut frustrasi. Kuhampiri dia
sambil menjulurkan kepalaku ke arah tasnya, "Kamu sedang apa? Tidak dengar
peserta MOS harus kumpul di lapangan?"
“Barang ada yang hilang." balasnya singkat tanpa menoleh ke arahku.
"Nanti saja, mungkin kamu lupa taruh. Ayo cepat ke lapangan."
Dia mendesis sebal lalu membanting tasnya ke lantai, menabrak bahuku begitu saja
saat lewat.
Apa-apaan anak ini?
Aku mendengus sebal sambil menahan jengkel.
“Sabar Shava …” ucapku pada diri sendiri.
Panitia MOS sudah berjejer rapi di bagian kanan lapangan. Aku mengambil tempat di
samping Ara dan menyenggol lengannya dengan sengaja, dia menatapku bingung dan
berbisik, "Kamu ke mana aja?"
"Ada anak enggak sopan yang membuatku jengkel."
Ara terkekeh pelan. "Namanya juga anak kelas 1, ya udah Bu Shava ajarin dong
adek-adeknya biar sopan." ucapan Ara lebih terdengar seperti ledekan
bagiku.
Mataku meneliti para peserta MOS yang berbaris di samping barisan panitia. Dan langsung
saja kulihat laki-laki tak punya sopan santun
tadi tengah berjongkok di barisan paling belakang. Ia memainkan tali sepatunya
yang kulihat sudah terikat rapi.
Dasar modus… bilang saja kalau tidak kuat berdiri lama.
"Hey, jangan bilang kamu udah menargetkan salah satu dari mereka." Lagi-lagi Ara
berbisik.
"Target apa?" Aku tak mengerti.
__ADS_1
Ara menunjuk dengan dagunya ke arah pandanganku tadi dan tersenyum penuh arti.
"Dia emang udah menarik perhatian beberapa panitia cewek. Harus kuakui dia
benar-benar tampan dan manis." Ucap Ara sambil menangkup pipinya seakan
menahan gemas.
Idih, yang seperti itu dibilang manis? Percuma saja manis tapi tidak tahu sopan
santun.
"Aku sama sekali tidak tertarik." jujurku sambil menatap anak laki-laki tadi.
"Huh gayamu enggak tertarik, kalau dia tertarik padamu bagaimana?" tantang Ara.
"Aku bukan perempuan penyuka bocah." belaku sambil memelototi Ara.
Baru saja Ara hendak membalas perkataanku, dari depan nampak Arish-wakil ketua OSIS-
sedang menatap kami dengan penuh peringatan. Bibirnya bergerak samar seakan
menyuruh kami diam. Langsung saja aku dan Ara menunduk patuh sambil saling
senggol.
"Bocah itu menatap ke arahmu .…" cicit Ara tanpa menoleh.
Kuangkat kepalaku dan benar saja, laki-laki tak tahu sopan santun itu tengah menatapku,
tersenyum lebar lalu memalingkan wajahnya.
Apa ada yang lucu dengan wajahku?
***
Bel istirahat selalu dapat memercikan semangat baru bagi setiap warga sekolah.
Kantin tak ubahnya bongkahan gula yang dikerubungi semut-semut kelaparan,
saling berdesakan satu sama lain. Aku dan Ara terselip di antara keramaian itu,
kami berdua memilih duduk di sebuah bangku panjang, menunggu keadaan agak sepi.
"Selip-selip aja yuk, Va. Kalau nunggu kaya gini kita cuma kebagian remah-remah sisa."
ramai.
"Males ah. Kamu aja, aku tunggu di sini." Ara mencibir kesal, berjalan
meninggalkanku yang memilih bersandar pada tembok.
Baru saja aku memejamkan mata sejenak seraya menghela napas panjang, kurasakan ada
pergerakan di sampingku. Mataku mengintip ke bawah. Celana biru tua dan sepatu
Nike hitam mengkilat tengah mengetuk-ngetuk lantai dengan irama.
Aku tak mau peduli, kembali menutup mata karena kelelahan.
"Hai!" Suara itu terdengar dari sosok di sampingku. Kuputuskan untuk peduli dan
menatap siapa itu.
Begitu menoleh, aku langsung menyesal. Laki-laki yang sudah membuatku jengkel sedang
duduk bersamaku. Tangan kanannya memegang roti yang tinggal setengah, ia tak
menoleh padaku tapi mulutnya yang sibuk menguyah masih dapat tersenyum.
"Tanya namaku dong." ucapnya begitu selesai menelan makanannya.
Kurang kerjaan. Harus melihatnya lagi saja aku malas, untuk apa pula kutahu namanya.
Aku memilih tak mengacuhkannya dan menggeser posisiku, memberi jarak yang lebih
besar di antara kami.
"Tanya namaku, tidak dengar?" Ia berucap lagi.
Aku masih diam dan berharap Ara segera kembali. Kulirik laki-laki itu lewat ekor
mata, dia kini tengah menatapku sambil memasukan potongan roti terakhirnya.
__ADS_1
Menyebalkan. Apa dia tidak tahu kalo memandangi orang itu tidak sopan,
benar-benar tidak tahu sopan santun.
"Baiklah aku yang bertanya, namamu siapa?"
Aku tetap tidak menjawab.
"Jahat sekali. Kamu enggak mau ngejawab aku?"
"Gak." Aku buka suara.
"Aku Raynand, dan kamu …sejak kapan jadi pencuri?"
"Hah?" Sontak aku menoleh padanya dengan padangan penuh tanya. Apa dia pikir aku yang
mencuri barangnya yang hilang? Punya pikiran tak logis darimana bocah ini?
Keterlaluan!!!
"Maaf, tapi aku enggak mencuri barang kamu yah!"
Raynand mengangkat sebelah alisnya dan terkekeh geli. Setelah menuduhku tanpa bukti dia
malah menertawakanku?
"Bukan karena itu," ujarnya santai.
"Lalu?"
"Beritahu dulu namamu, baru aku jawab."
Bocah di depanku ini benar-benar sudah tidak waras. Aku rasa teriknya matahari sudah
membakar otaknya hingga kering. Kuputuskan untuk beranjak pergi menyusul Ara,
tapi Raynand justru ikut bangun dan menghalangiku dengan tubuhnya.
Bagaimana pula dia bisa sejangkung ini??? Ujung kepalaku sepertinya hanya setinggi hidungnya saja.
"Permisi." seruku dengan penekanan.
"Beritahu dulu, namamu siapa?"
Dasar keras kepala, tidak sopan, aneh dan aku benar-benar ingin mengumpat di depan
wajahnya.
"Perlu kamu tahu, aku itu kakak kelas kamu dan juga panitia OSIS. Jadi tolong jaga
sikap kamu."
"aku enggak mau tahu. Yang mau aku tahu itu siapa namamu?" Raynand benar-benar
keukeuh. Akan merepotkan jika aku tetap tidak mengacuhkannya
"Shavana." ucapku seraya membuang muka darinya.
Riuhnya kantin dan orang-orang yang sibuk membeli makanan seakan tidak kami hiraukan.
Raynand tersenyum lalu menggeser tubuhnya memberiku jalan. Aku berjalan cepat dengan langkah lebar, tak berbalik saat tiba-tiba terdengar suara
Raynand memanggilku.
"Shavana!"
Jangan perdulikan, terus berjalan atau--
"Kamu akan menyesal kalau cuekin aku terus."
Langkahku terhenti. Aku berbalik kasar dengan wajah yang pastinya sudah kusut karena
menahan kesal, apa lagi maunya Ya Tuhan?!
Mataku bergerak liar saat ternyata semua mata tengah menatapku dan Raynand bergantian.
Beberapa panitia MOS juga mulai berbisik-bisik sambil melirikku, keadaan
mendadak hening dan aku berubah menjadi tontonan publik saat itu juga.
Raynand menunjukan raut penuh kemenangan saat aku terpaksa mengikuti permintaannya. Hingga tiba-tiba ia mengatakan hal paling tidak masuk akal yang pernah aku
dengar.
__ADS_1
"Shavana, mau jadi pacar aku enggak?"
NANI?!