Dear My Dere-Dere

Dear My Dere-Dere
TEROR KABEDON


__ADS_3

Kehidupanku berubah sejak hari di mana Raynand memanggil namaku untuk pertama kalinya. Tak ada lagi hari-hari damai untukku, semuanya berubah seketika. Sudah satu bulan sejak bocah kurang waras itu mengatakan permintaan bodohnya. Bagai anak kecilyang terus merengek, ia benar-benar menguji kesabaranku.


Bermodalkan ide gila untuk menghindarinya pagi ini, aku sengaja datang ke sekolah saat sinar matahari bahkan masih tertutup kabut. Hawa dingin yang menusuk kulit tak kuperdulikan sama sekali, dengan langkah lebar dan mata yang bergerak waspada aku berjalan menuju kelas. Suara langkahku bergema di lorong menuju tangga lantai dua tempat kelasku berada. Sedikit lagi aku akan aman!


Sebentar lagi, Shavana!


Baru saja aku bernafas lega saat akan menginjak anak tangga pertama, tiba-tiba lenganku ditarik dari belakang hingga punggungku menabrak tembok.


Sial!


"Shuuut shuut…" siulan itu menghantarkan aroma mint dan nikotin secara bersamaan.


"Pagi sekali datangnya, tidak sabar ketemu aku ya?"


Tidak sabar pantatmu! Dasar bocah edan!


Sudah satu bulan terakhir ini Raynand mengikutiku bagai pengangguran nomer satu di dunia. Mungkin jika hanya sekedar mengikuti aku tidak akan sepanik ini, tapi kebiasaannya menyudutkanku di tembok dengan satu tangan yang ia tumpukan di sampingku kepalaku benar-benar teror yang menyebalkan.


Setiap pagi di setiap harinya! Bisa kalian bayangkan bagaimana tersiksanya hidupku?!


"Kamu merokok lagi?" tanyaku yang semakin terganggu dengan aroma nikotin dari mulutnya.


Raynand mengangkat bahu entah sebagai jawaban ya atau tidak. Tangan kirinya yang tidak ikut mengurungku terselip di saku celana Raynand, lalu tangan itu menarik sebuah kotak persegi dan memamerkannya di depan wajahku.


"Baru beli tadi kok, aku baru habis dua batang." ucapnya santai.


"Kamu bawa sebungkus rokok ke area sekolah? Cari mati yah?"


Raynand tertawa geli lalu mendekatkan wajahnya padaku, sontak aku semakin merapatkan tubuhku ke tembok. "Pak Karman Si gembrot botak aja sering ngerokok di area sekolah, kenapa guru boleh tapi murid enggak?"


"Harusnya kamu tidak mencontoh  hal buruk, Pak Karman itu guru matematika yang sudah mengajar lebih dari 10 tahun di sekolah ini." tuturku setenang mungkin, wajah Raynand tidak bergerak sedikit pun. Ia masih menatapku dengan geli lalu


menundukan wajahnya menatap lantai.


"Guru itu panutan murid bukan? aku ini masih tahap pertumbuhan, masih tahap mencontoh jadi yah… ngikutin aja." ucap Raynand lalu kembali mengangkat wajahnya menatapku.


Kudorong dadanya hingga Raynand menjauh dariku. "Percuma bicara sama kamu."


Aku segera berlari menaiki anak tangga dan kembali mendengar kalimat gila dari Raynand.

__ADS_1


"Shavana, jadi pacar aku yah?"


"OGAH!" teriakku sekeras mungkin.


***


Ara meletakan tasnya di samping tasku lalu duduk di bangkunya. Sejak kelas 10 aku dan Ara memang sudah menjadi teman sebangku. Dengan wajah sumringah Ara


menatapku yang sibuk membaca buku, matanya berkedip-kedip dan mencolek pipiku dengan jahil.


"Apa sih?" tanyaku agak kesal, apa Ara tidak tahu sekacau apa moodku pagi ini.


"Sepagi apa kamu berangkat sekolah? Jam segini sudah stand by saja, apa sudah tidak sabar bertemu Ray yah?" godanya.


Kuhembuskan


napasku dengan kasar lalu menatap Ara dengan malas, "Berhentilah berbicara tentangnya, sungguh Ara! Aku benar-benar muak dengan bocah kurang ajar itu."


Kening Ara merengut seakan tak percaya dengan setiap kalimatku.


"Memangnya


Kututup dengan kasar buku di tanganku lalu membuang muka dari Ara. "Kalau kamu suka ambil saja, tidak peduli aku."


"Aish… kamu ini yah, kenapa aneh gitu sih? Apa kurangnya Raynand, Sha? Kamu sama dia itu gemesin banget!" Sekali lagi Ara bertanya dengan nada penuh penekanan.


"Dia kurang tua!" jawabku cepat.


Dapatku tebak respon Ara langsung kaku seketika, ia menyentakan lenganku dan memaksaku menatapnya. "Kurang tua? Mak-maksudnya?"


"Ara…" Kulepaskan tangan Ara dari lenganku dan mendesah panjang, "Dia itu adik kelas kita! A-dik ke-las, maksudnya mana mungkin aku dan bocah itu pacaran"


"Astagabeda setahun doang!"


"Bagimu berlebihan tapi bagiku ini bencana."


"Disukai cogan kau bilang bencana?"


"Bukan cogan, Ara! Tapi bocah bau kencur yang seusia dengan adikku sendiri."

__ADS_1


Perdebatan kecil itu berakhir dengan Ara yang berdesis sebal, pastinya dia tak habis pikir kenapa aku begitu keras kepala menolak Raynand. Padahal jawabannya sudah jelas, aku tidak mungkin berpacaran dengan laki-laki yang seusia dengan adikku sendiri.


"Lagi pula… darimana dia tahu aku akan berangkat begitu pagi?" lirihku.


"Shava, ada yang nyariin tuh!"


Aku mengerenyit bingung, "Siapa?" tanyaku pada Fira.


"Arish, Waketos!" sahut Fira dari ambang pintu.


"Ooh jadi ini alasan kamu menolak Raynand? Arish lumayan loh, Sha. Ganteng-ganteng cool." celoteh Ara dengan tatapan jahilnya.


Aku berdiri dari bangku dan berjalan menuju pintu kelas, di sana nampak Arish yang berdiri memunggungiku dengan satu tangan di saku celana dan tangan yang lain memegang beberapa lembar kertas.


"Ada apa?" Suaraku berhasil membuatnya berbalik, ia menyodorkan selembar kertas


di tangannya padaku. "Apa ini?" tanyaku tak mengerti.


Arish berdecak sebal, "Itu draft proposal buat acara bulan depan, nanti pulang sekolah fotocopy bagian Jobdesk masing-masing divisi terus kamu bagiin ke setiap ketua divisi. Uangnya kamu bisa minta pada bendahara OSIS, Hanum."


Nada suaranya benar-benar lurus dan datar. Aku bahkan tidak mendengar kata 'tolong' dari kalimatnya. Hanya karena dia wakil ketua OSIS bukan berarti dia bisa memerintahku seenaknya.


"Kenapa bukan kamu saja?" tanyaku dengan nada menantang.


"Aku sibuk, Kak Surya memintaku membantunya untuk mengurusi rencana event baru. Lagi pula, kamukan sekretaris OSIS jadi sudah tugas kamukan?" jawabnya dingin.


Hah yang benar saja! Gaya bicaranya seolah dia makhuk paling sibuk dan penting saja, menyuruhku tanpa mau sekedar berkata 'tolong', memang gara-gara siapa aku


terjebak jadi sekertaris osis!


"Baiklah akan kukerjakan." Dan akhirnya aku menurut padanya.


Tanpa mau repot-repot berkata "terima kasih, Shava... " Arish


sudah melenggang pergi begitu saja. Jika saja aku cukup gila maka akan kulempar sepatuku ke kepalanya, dasar laki-laki arogan bermuka dua!


"Arish ganteng yah, Shaaaa.." ucap Ara yang sudah berdiri di belakangku. Kedua tangannya ia lingkarkan di pundakku dan bergelayut manja membuatku risih.


"Matamu rusak!" seruku sarkas, kulepaskan tangan Ara dan kembali masuk ke dalam

__ADS_1


kelas.


__ADS_2