
Setiap orang memiliki bagian rahasia dalam kehidupannya, tak terkecuali aku. Jika orang-orang di sekolah mengenal aku sebagai Shavana Maharani si sekretaris OSIS yang selalu berambisi menyaingi Arish, maka sosokku yang lain berbeda 180 derajat saat ini. Bisa dibilang aku memiliki dua kehidupan yang sangat bertolak belakang.
Hari ini adalah saat ShavanabMaharani berubah menjadi sosok lain dari dirinya. Aku duduk di meja riasku dan
menatap cermin, pantulan wajah polos yang hanya selalu kupakaikan beberapa skincare dan bedak jika pergi ke sekolah kini aku poles dengan foundation yang cukup tebal, alisku yang cukup tipis aku bingkai senatural mungkin namun cukup menambah kesan berbeda, ditambah dengan eyeshadow, dan teknik menggambar dengan eyeliner agar dibawah mata agar mataku terlihat lebih besar, untuk sentuhan terakhir aku memasang contact lens berwarna biru muda.
“Make up done!” ucapku menatap puas ke arah cermin.
***
“Fuyumi!”
Akuu menoleh saat seseorang menepuk
bahuku dari belakang. “Eh Bang Vino, ikut event juga?” aku tersenyum senang menyapa laki-laki berbadan kurus tinggi yang kini memakai pakaian setelan putih casual dengan jaket hoodie putih, wig sebahu berwarna putih yang agak keabuan-abuan di mataku.
“Iya dong, jadi Chishiya nih! Keren kan?” ucap Bang Vina sambil melipat tangan di dadanya.
“Sugoooiii!” pujiku seraya mengacungkan jempol.
“Bukannya kemaren kamu chat di grup mau jadi Hu Tao kok malah jadi Rem?”
“Paket kostumnya telat nyampe, katanya kurir yang biasa nganterin ke daerah rumahku lagi sakit jadi baru bisa nyampe besok. Keseeel banget Bang!” ocehku.
__ADS_1
“Hahahah gak apa-apa tetep keren kok, ya udah gabung sama yang lain yuk, jangan sendirian gini nanti bahaya.”
Aku mengikuti Bang Vino dari belakang sambil berdesak-desakan dengan pengunjung mall dan cosplayer lain yang berlalu-lalang, event di akhir pekan memang selalu seramai ini, apalagi event kali ini indoor sehingga venue tidak hanya dipadati oleh para cosplayer dan pecinta jejepangan saja.
Setelah sampai di salah satu pojok venue tempat panggung utama, Bang Vino mengenalkanku pada beberapa anggota baru di komunitas kami.
“Kenalin guys, ini Fuyumi salah satu anggota OSAKA yang udah aktif cosplay dua tahun ini.” Ujar Bang Vino. Ada sekitar sepuluh orang anggota dengan 4 orang anggota yang baru kali ini aku lihat.
“Salam kenal semuanya!” sapaku.
Keempat orang itu terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan, yang laki-laki memakaivkostum Kazutora Hanemiya dan Shuji Hanma Tokyo Revenger sedangkan yang
perempuan memakai kostum Power dan Kobeni Chainsawman.
Selesai berkenalan dengan anggota baru, aku izin ke toilet untuk memperbaiki wig dan riasanku ke Bang Vino. Karena toilet di lantai tempat acara berlangsung sudah sangat penuh dengan cosplayer lain maka aku memutuskan untuk naik ke lantai atas mencari toilet kosong. Sebelum kembali ke tempat anggota OSAKA berkumpul, aku menyempatkan diri membeli eskrim cone. Karena asik memainkan ponsel aku tak sadar ada antrian di depan lift hingga menabrak orang di depanku.
"Astaga! Maaf maaf! Saya enggak sengaja, " Kalimatku terhenti saat menatap bagian depan kaos laki-laki yang kutabrak penuh dengan es krim yang kubawa, Mati kau Shavanna ....
Tidak berani menatap wajah orang itu karena malu dan rasa bersalah, aku menunduk semakin dalam. Semua orang memasuki lift kecuali aku dan laki-laki itu yang masih saja
diam belum membentakku.
"Kalau mau aku maafin, ganti rugi dong!" ucap laki-laki di depanku itu.
__ADS_1
Tunggu, suara bass dengan intonasi kurang sopan menjengkelkan itu mengingatkanku pada
seseorang.
Aku mendongkak dan mendapati wajah Raynand.
Sial! Kenapa harus dengan bocah ini aku berurusan?!
Aku kembali menunduk cepat menyembunyikan wajahku, walaupun selama menjadi cosplayer aku sering berpapasan tidak sengaja dengan beberapa orang yang kukenal di sekolah, tapi mereka selalu tidak sadar itu aku berkat semua riasan yang kupakai. Tapi bagaimana jika Raynand mengenaliku?
“Kayaknya kita kenal,” ucap Raynand lalu membungkuk mencoba mengintip wajahku.
Kututupi wajahku dengan sebelah tangan yang tidak memegang es krim, lalu sebisa mungkin mengubah suaraku agar tidak dicurigai.
“Maaf aku buru-buru, Kak!” dengan suara yang kubuat seimut mungkin seakan tengah menjadi Loli dadakan, aku segera berbalik dan berlari menghindari Raynand.
“Hey tunggu!”
Aku berlari sekencang mungkin saat menyadari Raynand mengejarku dari belakang, mulai merasa putus asa sekaligus panic aku segera berbelok dan bersembunyi ke dalam fitting room lalu menutup gordennya rapat-rapat. Dengan nafas tersenggal-senggal aku menyandarkan punggungku ke cermin. Baru beberapa saat bernafas lega tiba-tiba gorden persembunyianku terbuka menampakan sosok jangkung Raynand.
Laki-laki itu ikut masuk ke dalam fitting room lalu memerangkapku dengan kedua tangannya. Raynand tersenyum lemah karena kurasa ia juga kelelahan karena mengejarku, jantungku berdegup kencang saat kusadari wajah Raynand hanya berjarak sejengkal dari dariku, butir keringat mengucur dari dahinya dan aroma parfumenya tercium memenuhi indra penciumanku.
“Gotta you, Shavana!”
__ADS_1