
Pagi ini masih dengan mata bergerak waspada aku berjalan menuju tangga ke kelasku. Tak seperti kemarin, aku tidak mau repot-repot datang terlalu pagi hanya untuk
menghindari Raynand. Dengan langkah cepat akhirnya aku sampai di kelas tanpa harus berurusan dengan bocah itu.
Tapi, kenapa rasanya aneh… apa dia sudah mulai bosan menggangguku? Hah syukurlah.
"Pagi," sapaku pada Ara yang tengah memainkan ponselnya. Ara membalas sapaanku walau
matanya tak lepas dari layar ponselnya.
Baru saja aku duduk dan hendak mengeluarkan buku-buku, Ara langsung menoleh dan
bertanya, "Tadi Raynand menemuimu seperti biasa?"
Aku menggeleng tak acuh. "Tidak, dan aku sangat bersyukur."
Kudengar Ara berdecak dan menyenggol lenganku agak keras. Tatapannya seolah aku telah mengatakan hal yang salah, tapi aku tidak merasa ada yang salah? Ini pagi paling damai sejak sebulan aku diteror bocah kurang sopan itu.
"Apa kamu tidak tahu kalau Raynand habis berkelahi dengan anak kelas 12?" bisik Ara.
"Berkelahi? Apa maksud kamu?" Spontan aku menoleh pada Ara dan memberinya sorot penuh tanya.
Ara menghela napasnya pendek, "Detailnya aku kurang tahu. Tapi yang jelas Raynand menghajar Kak Tio sampai babak belur, siapa sangka laki-laki imut sepertinya jago berkelahi?"
Ini bukan pertama kalinya kudengar Raynand membuat masalah di sekolah. Sebagai kelas 10 dia sudah membuat rekor pelanggar peraturan terbanyak sejak sebulan terakhir. Walau begitu hanya pelanggaran sepele saja seperti bolos dan menjahili guru, ini pertama kalinya kudengar Raynand sampai berkelahi. Wajah sok polosnya yang tersenyum lebar tiba-tiba saja terlintas di pikiranku, rasa sesak seakan khawatir kini aku rasakan. Segera saja aku menggeleng mengenyahkan perasaan dan pemikiran aneh itu.
"Kamu tidak mau menemuinya, Sha?" tanya Ara agak ragu.
__ADS_1
Aku memalingkan wajahku dari Ara. "Tidak."
Saat jam istirahat pertama aku segera pergi ke ruang OSIS untuk menemui Kak Surya, tahun ini adalah masa berakhirnya jabatan ketua osis Kak Surya. Oleh sebab itu, Kak Surya mencetuskan acara Pentas Kreasi Siswa sebagai event terakhirnya. Aku berjalan melewati koridor kelas 12 dan hendak berbelok saat kudengar suara batuk dan umpatan dari arah ruang kesenian. Suara itu semakin keras dan bunyi
benda jatuh terdengar cukup keras, aku mengamati keadaan sekitar yang agak sepi karena kelas 12 tengah berkumpul di aula untuk membahas ujian mendatang.
Kubuka satu daun pintu dan mengintip dari celah kecil yang kubuat.
Itu Raynand…
"Sedang apa dia?" Kutajamkan penglihatanku dan melihat asap mengepul dari sela jarinya, "Bocah itu beraninya merokok di sana."
Kulihat Raynand menghisap keras benda itu dengan gestur kaku lalu terbatuk-batuk selepasnya. Umpatan dan cacian Raynand bergema di ruangan itu. Demi apa bocah
itu tidak bisa merokok? Lalu untuk apa dia sok keren menghembuskan napas nikotinnya padaku setiap pagi? Mau sok keren?
Kulanjutkan langkahku menuju ruang OSIS. Di ambang pintu ruang OSIS kulihat Kak Surya tengah berbicara dengan Arish, ada perasaan iri yang terselip. Tahun lalu saat aku mengajukan diri sebagai calon wakil ketua OSIS untuk Kak Surya. Dia menolakku dengan halus, benar-benar sangat halus sampai membuatku tidak bisa mendebatnya. Untuk dapat mendaftar sebagai pengurus OSIS di SMA Nusantara
memang harus mendapat rekomendasi dari guru atau minimal dari ketua osis, aku termasuk masih beruntung dapat menjadi staf OSIS, walau sebenarnya ada alasan lain kenapa aku gagal menjadi calon wakil ketua OSIS.
"Kak Surya!" Aku berlari kecil menghampiri dua orang itu dan tersenyum kecil sebagai sapaan.
"Oh hai Shava… ada apa?" tanya Kak Surya ramah.
Kurogoh flashdisk dari saku kemejaku dan memberikannya pada Kak Surya. Kak Surya mengangkat alisnya penuh tanya, langsung saja aku menjelaskan. "Ini fileproposal untuk acara Pentas Kreasi Siswa yang udah aku tambahin list Job desk
tiap divisi, juga ada desain poster dari Resa dan konsep penataan panggung dari Ara, untuk acara bulan depan juga semua surat perizinan dari Kepala sekolah udah beres. Semua telah aku periksa dan siap untuk Kak Surya koreksi."
__ADS_1
Arish melayangkan tatapan tajam padaku, bisa kutebak jika dia merasa aku sangat berjuang keras agar mendapat rekomendasi Kak Surya. Tahun ini akan kubuktikan adanya siapa itu Shavana Maharani.
"Wowkerja bagus! Jika aku punya 10 staf OSIS sepertimu maka event sebesar ini pasti akan sukses dengan mudah. Kamu dan Arish sangat membantuku, terima kasih."
Aku tersenyum puas mendengar penuturan Kak Surya, lalu melirik Arish yang terlihat memaksakan senyumnya.
"Kak Surya agak pucet, kecapean ya Kak?" tanyaku.
"Kakak banyak tugas untuk event terakhir ini, abis bereskan langsung turun jabatan biar fokus persiapan UN." Setelah itu Kak Surya langsung pergi dan hanya tinggal aku dan Arish sekarang. Tak mau berbasa-basi Arish langsung melayangkan
tatapan ancamannya padaku.
"Berjuang sangat keras hem? Berjuang cari muka." sindir Arish begitu sarkas.
"Aku memang cari muka, tidak seperti kamu yang sudah bermuka dua."
Arish menyeringai, "Tidak ada sejarahnya ketua osis perempuan di SMA Nusantara, camkan itu!"
Tanganku terkepal kuat menahan kesal, selalu kalimat itu yang Arish jadikan senjata.
"Oleh karena itu bersiaplah, akan ada sejarah baru." ujarku tak kalah tajam.
"Kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri, Shava." Aku benar-benar kesal dengan raut datar Arish, aura dingin dan tatapan tajamnya padaku benar-benar
menyebalkan.
Arish berjalan begitu saja melewatiku, meninggalkan tanda bahwa bendera perang telah dikibarkan.
__ADS_1