
Tidak ada yang lebih menyebalkan dari berjalan di bawah terik matahari, keringat sudah membanjiri wajahku sejak lima menit yang lalu. Sepulang sekolah kuputuskan
untuk berjalan menuju tempat fotocopy yang cukup jauh dari sekolah, Ara tidak bisa mengantarku karena Arish malah menyuruhnya membersihkan ruang OSIS.
"Dari sekian banyak staf OSIS kenapa harus aku yang melakukan hal ini sih? Memangnya siapa juga yang mau jadi sekretaris!"
Setiap langkah rasanya begitu berat, kutendang setiap kerikil yang kujumpai dan berharap matahari mau mengurangi hawa panasnya barang sedikit. Jika harus naik angkot rasanya terlalu dekat dan uang sakuku sedang sekarat, tapi jika berjalan kaki justru malah terasa jauh. Ck… aku benar-benar akan menendang tulang kering Arish setelah ini.
Tinggal satu belokan lagi dan aku akan sampai. Hingga ponsel dalam saku rok panjangku bergetar tanda ada pesan.
From: Arish
Setelah selesai fotocopy kamu harus kembali ke sekolah, ada yang perlu kita bicarakan soal pelantikan staf OSIS baru.
Hah? Apa-apaan ini? Sama saja ia menyuruhku berjalan bolak-balik di siang bolong!
"Huft sabarlah, Shava."
Aku kembali berjalan dan akhirnya sampai di tempat fotocopy, selagi menunggu kertas-kertas itu siap, kuputuskan untuk duduk sebentar karena kelelahan. Kulirik penjual minuman di samping tempat fotocopy dan hanya bisa menelan ludah kering, harusnya aku membawa uang cadangan. Uangku hanya cukup untuk sekali naik angkot dan uang fotocopy benar-benar pas jumlahnya. Terpaksa aku menahan haus.
"Neng, fotocopy aja kan?" teriak petugas fotocopy itu.
"Iya Pak." Kujawab dengan singkat dan menunduk mengalihkan pandangan dari deretan minuman dingin di sebrang sana.
__ADS_1
"Nih minum." Sebuah botol air mineral terulur di depanku. Aku mendongkak dan mendapati Raynand tengah tersenyum simpul sambil mengedipkan sebelah matanya.
Segera kuberpaling dan menggeleng pelan, "Tidak, terima kasih."
Raynand berdecak lalu berlutut di depanku. Tangannya masih menyodorkan botol air itu dan berusaha menarik atensiku yang tak kunjung mempedulikannya.
"Yakin enggak haus? Enggak capek emang jalan jauh sambil panas-panasan kayak tadi?"tanyanya.
"Apa maksud kamu?" jawabku tanpa berniat menatapnya.
"Enggak sadar yah? Daritadi aku mengikuti kamu pake motor dari belakang." Mendengar hal itu sontak mulutku menganga tak percaya. Daripada mengikuti tidak jelas kenapa dia tak menawariku tumpangan saja? Sebentar, memangnya aku mau
dibonceng anak ini?!
"Apa sih…" Aku terlonjak kaget dan menggosok pipiku.
Raynand tertawa geli, membuka tutup botol air mineral itu dan kembali menyodorkannya padaku. Dasar keras kepala!
"Cepat minum. Akan kuantarkan ke sekolah lagi setelah ini."
Baiklah, lagipula aku memang sedang haus, kali ini saja harus kutekan egoku. Kuraih botol itu dengan ragu-ragu dan meneguknya dengan cepat.
"Terima kasih." ucapku pelan. Tanpa diduga Raynand langsung menyambar botol di tanganku dan meneguk air di dalamnya dengan rakus. Tunggu dulu, apa yang dia lakukan? ITU BEKASKU!
__ADS_1
"Aaaaaaa segar sekali…" Raynand menjilat bibir atasnya dan tersenyum lebar memamerkan giginya, "Segar dan manis." imbuhnya.
"Kamu ngapain sih? Itu bekasku?" sentakku tak terima, tanpa sadar kupelototi wajah sok polos itu.
Bocah kurang ajar itu berdiri dan merenggangkan tangannya lebar-lebar, "Memang kenapa kalo bekas kamu?" Nada suaranya seakan menantangku.
Bocah menyebalkan!!!
Begitu semua selesai memfotocopy aku kembali ke sekolah dengan diantar Raynand. Dari
gerbang sekolah sudah terlihat jelas betapa sepinya suasana di sana, hanya ada beberapa motor yang mengisi lapangan parkir yang mulai lenggang.
"Dari mana kamu tahu aku harus ke sekolah lagi?"
Raynand mengetuk-ngetuk helmnya dengan jari telunjuk lalu lagi-lagi tersenyum sok imut,
"Tadi sempet denger ada pengunguman anggota OSIS suruh ngumpul, tapi aku malah liat kamu udah pergi duluan."
"Hmm tadi buru-buru soalnya. Makasih ya.”
"Sama-sama." sela Raynand "aku ada urusan mendadakn jadi enggak bisa nunggu dan mengantar kamu pulang. Lain kali aja yah." Kata Raynand lalu pergi begitu saja.
Aku mematung di tempat dan menatapnya yang mulai menjauh. "Dia masih tetap menyebalkan di mataku."
__ADS_1