
Pikiranku kacau
Aku dan Raynand kini duduk bersebelahan di bangku panjang dekat Game Center yang mungkin lebih cocok diduduki para orang tua yang mengawasi balitanya yang tengah mandi bola.
Kepalaku menunduk dalam, es krim yang kugengam sudah mencair dari tadi dan membuat lengket telapak tanganku.
"Masih capek?" tanya Raynand.
Aku hanya meliriknya sekilas tanpa menjawab, Raynand nampak merogoh sesuatu dari saku celananya. Sebungkus tissue basah yang ia tarik beberapa lembar, laki-laki itu menarik tanganku yang memegang es krim lalu membuang sisa makanan cair itu ke tong sampah di sebelahnya. Raynand membersihkan tanganku yang penuh lelehan es krim dengan telaten, entah kenapa aku tidak ada niatan untuk menarik tanganku dari gengamannya.
Selesai membersihkan tanganku kini Raynand sibuk membersikan bagian kaosnya yang kotor karena kecerobohanku, yah walaupun kulihat usahanya sia-sia karena noda es krim itu sudah mengering di bajunya.
"Sebarin aja!" ucapku dengan nada bergetar hampir menangis.
"Apaan?"
"Sebarin aja apa yang kamu lihat hari ini! Bilang kalau sekertaris OSIS SMA Nusantara yang selalu obsesi jadi ketua OSIS ternyata Wibu bau bawang yang suka cosplay! Kamu pasti bakal senengkan kalau aku diejek sama semua staff osis apalagi satu sekolah!!!"
Tiba-tiba tangan Raynand kini malah menarik daguku agar kami bertatapan. Sorot mata jahil menyebalkan yang selalu mengusikku entah kenapa kini berbeda, Raynand menatapku dengan ekspresi yang tak terbaca.
"Sebarin apa yang aku lihat hari ini kan? Itu mau kamu? Oke." ucap Raynand yang lalu kini tangannya beralih ke atas kepalaku memberi tepukan.
Saat hampir saja aku akan menangis, kudengar ponselku berbunyi dari dalam tas selempang yang kupakai, Nama Bang Vino tertera di layar ponsel dan langsung ku angkat.
"Hallo Bang Vino?"
"..."
"Iya aku aman kok, lagi sama temen tadi gak senggaja ketemu."
"..."
"Aku pulang naik mobil online kok, ini bntar lagi juga mau pulang.
__ADS_1
"..."
"Iya makasih Bang, hati-hati juga buat anak-anak."
Setelah panggilan terputus, aku menatap Raynand yang kini tengah merengut tidak jelas.
"Siapa barusan yang nelfon? Kok manggil Abang? Laki-laki ya? Orang mana? Mukanya kayak gimana?" tanyanya penuh selidik.
"Apaan sih!"
Raynand berdecak sebal, "Ya udah kalau gak mau jawab, yang pasti aku lebih ganteng dari Abang-abang kamu itu!"
Malas harus meladeni Raynand yang kembali ke mode menyebalkannya, aku berdiri bersiap pergi.
"Aku enggak peduli abis ini kamu mau nyebarin gosip soal apa pun, selain itu makasih buat tissuenya."
"Itu aja?"
"Kaos aku gimana nih?" Raynand menunjuk kaos putihnya yang kotor.
"Ya udah lepasin biar aku cuciin, besok aku balikin pas di sekolah."
"Enggak mau!" ucapnya sambil cengengesan.
"Terus kamu maunya apa sih!!!"
Melihatku yang kesal dan sekarang menghentak-hentakan kaki ke lantai seakan hiburan bagi Raynand karena laki-laki itu malah tertawa seakan mengejek tingkahku.
"Hadeuuh kamu ternyata punya sisi lucu juga ya Shavana. Gini aja, aku bawa motor kok jadi aku anterin kamu pulang sekalian baju aku langsung kamu cuciin aja. Gimana?" tawarnya.
Mataku melotot tajam, tentu saja itu ide terburuk yang pernah kudengar. Punya pikiran dari mana dia kalau aku akan dengan senang hati mengundangnya ke rumahku?
"Enggak! Enggak mau, udah cepet lepasin aja!" kataku sambil tanpa sadar menarik-narim kerah kaosnya, dan sekali lagi tingkahku itu menarik perhatian beberapa pengunjung mall yang menatap kamu seperti pasangan mesum.
__ADS_1
Segera kutarik kembali tanganku dan memunggungi Raynand sambil menahan malu.
"Aku bawa jaket kok di Tas, tunggu bentar ya." ucapnya seraya pergi ke arah toilet setelah menyempatkan diri mencubit hidungku.
"Ihhh foundationku nanti geser! Ngeselin!!"
***
Raynand keluar dari toilet dan langsung melemparkan kaos kotornya padaku yang dengan sigap langsung kutangkap.
"Aku mau ambil tas ke tempat penitipan barang, mau ganti baju." kataku langsung pergi begitu saja, tapi bukan Raynand namanya kalau ia meninggalkanku begitu saja. Bocah itu mengekoriku dari mulai mengambil tas hingga menunggu di depan toilet saat aku berganti pakaian dan menghapus make up.
Shavana yang orang-orang tahu kini sudah kembali lagi, rambut sebahuku kini di cepol seadanya. Balutan kaos lengan panjang dan jeans simpel berbanding terbalik dengan dandan hebohku saat menjadi Rem beberapa saat yang lalu.
"Sumpah beda banget, tapi sama-sama cantik kok." ucap Raynand.
"Kamu ngapain masih di sini?" tanyaku mulai risih.
"Dibilangin mau nganter kamu pulang, ntar kita bagai Dilan dan Milea membelah kota Bandung di derasnya hujan eaaaa."
"Enggak, aku mau pesen taksi online aja." tolakku cepat.
"Ih becanda, di luar enggak hujan kok."
"Aku tetep enggak mau pulang sama kamu!"
Raynand mengerucutkan bibirnya dan membuat tatapan sedih seakan ia anak anjing yang akan aku tinggal di pinggir jalan.
"Gak usah sok imut!" seruku. Aku berbalik hendak meninggalkan Raynand tapi ia malah menarik lenganku hingga punggungku menabrak dadanya.
"Beneran aku boleh kasih tahu semua orang soal hari ini? Yah aku bisa aja pertimbangin tutup mulut kalau kamu mau aku anterin pulang hari ini." bisik Raynand penuh nada ancaman.
Seketika batinku berteriak "AKHAAAAA KENAPA HARUS DENGAN RAYNAND SIH!!!"
__ADS_1