Dendam Kesumat Slenderman

Dendam Kesumat Slenderman
Api Unggun Pengundang Setan (1/2)


__ADS_3

***


Setelah Reynhard menerima sebuah gulungan dari Andreas, Reynhard menghampiri Adam untuk membantunya menurunkan semua barang bawaan dari mobil. Reynhard masih terlihat sedikit gugup dan berusaha menyembunyikan ekspresi ketakutannya di depan Adam.


"Edward! Morgan! Ryno! Steven! Jack! Ayo bantu kami membenahi kebutuhan kemah dan tidur kita untuk malam hari nanti." Semua yang dipanggil oleh Reynhard menghampiri kecuali Jack yang entah ke mana.


"Hei, ke mana si Jack itu?" tanya Reynhard.


"Terakhir aku melihatnya, dia pergi ke arah sana. Dia bilang dia ingin buang air kecil di tempat yang cocok," ujar Steven.


Kemudian acara berbenah dimulai dan membagi tugas. Reynhard dan Adam membangun tenda untuk tidur malam, Edward dan Ryno mencari kayu bakar, sedangkan Morgan dan Steven membersihkan dan menata semua perlengkapan kemah.


Setelah beberapa jam kemudian mereka semua selesai membenahi semuanya. Edward dan Ryno mendapatkan kayu bakar yang cukup banyak untuk bertahan selama 3 malam berturut-turut. Morgan dan Steven sudah menyiapkan bahan masakan, sedangkan Adam dan Reynhard telah menyiapkan tenda dengan rapi.


Setelah beberapa menit kemudian, Jack pun muncul.


"Dari mana saja kau, Jack? Kami semua sibuk membenahi semua ini, dan kau menghilang," tanya Steven.


"Aku mencari tempat buang air kecil yang cocok agar tidak bau," ujar Jack.


"Ya sudah, ayo kita mandi!" ajak Reynhard.


"Hei, Rey. Apa kau lupa bahwa di sini tidak ada kamar mandi?" tanya Edward.


"Huuftt, sepertinya kita lupa memikirkan hal itu sejak awal tiba di sini," Adam menoleh ke arah Reynhard.


"Aku tau di mana kita bisa mandi. Ketika aku buang air kecil, aku melihat ada sungai yang bersih airnya. Sepertinya di sana cocok untuk mandi," tutur Jack.


"Benarkah begitu?" tanya Morgan.


"Yeeey, kalau begitu kita bisa mandi bersama. Upps, mungkin lebih menarik jika ada seorang wanita cantik dan seksi di tengah kita," gurau Ryno.


"Ah, kau ini. Masih saja bisa bercanda dalam keadaan seperti ini," balas Edward.


"Ya sudah, ayo kita pergi membawa peralatan mandi kita ke sana ... Jack! Bisakah kau tunjukan pada kami di mana sungainya?" tanya Reynhard.


"Baiklah. Ikut aku!" ajak Jack.


***


Sesampainya di sana, Reynhard dan semua kawan-kawan tiba di sungai. Airnya bersih, bening, dan menyegarkan.


"Horeeee! Kita sudah sampai di sungai bersih. Ayo kita mandi!" seru Ryno.


"Yeeeeeey!" teriak semuanya.


Reynhard dan kawan-kawan pun mandi di sana. Dengan penuh keceriaan, dan canda tawa saling menyemburkan air. Selepas mandi, semua sudah selesai dan mengenakan baju ganti sebelum sampai ke perkemahan. Kebetulan tempat perkemahan cukup jauh dari sungai. Adam membawa seteko air mentah dari sungai untuk direbus di perkemahan.


"Ayo kita kembali ke perkemahan kita!" seru Reynhard.


Semua kembali ke perkemahan kecuali Reynhard dan Adam yang tertinggal di pinggiran sungai.


"Hei, Rey! Kenapa kau? Sepertinya engkau sedang memikirkan sesuatu," tanya Adam menoleh ke arah Reynhard.


"Adam, aku masih kepikiran tentang ucapan orang misterius itu," ungkap Reynhard.


"Sudahlah! Dari tadi kita aman saja, 'kan? Untuk apa kita terlalu serius memikirkannya?" bujuk Adam.


"Adam, dengarkan aku! Ketika engkau meninggalkanku dari tempat dudukku tadi, orang misterius itu muncul di belakangku secara tiba-tiba," ungkap Reynhard.


"Lalu, apa masalahnya?" bingung Adam.

__ADS_1


"Dia memberikan gulungan ini padaku. Dia berpesan padaku, jika kita dalam keadaan genting dan melihat sesosok mengerikan untuk melemparkan gulungan ini kepada makhluk itu," tutur Reynhard sembari menunjukan gulungan yang diberikan oleh Andreas.


"Gulungan? Apa kau bercanda?" heran Adam.


"Aku serius! Aku bisa pastikan bahwa apa yang diucapkannya, memanglah bukan perkara main-main," tutur Reynhard.


"Mana mungkin gulungan itu bisa mengusir makhluk astral? Itu konyol dan tidak masuk akal," ejek Adam.


"Adam! Pernahkah kau melihat wajahku serius tapi bercanda?" tanya Reynhard.


"Tidak," singkat Adam.


"Aku harap kita tidak meremehkan ucapan orang itu, Adam!" seru Reynhard.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Dan apa yang harus kita katakan pada mereka, bahwa hutan ini adalah hutan keramat? Kau sendiri yang mengajak kita kesini, 'kan?" sinis Adam.


"Aku memang mengajak kalian ke sini, tapi jika nyawa memang benar mengancam juga, kenapa tidak ini semua dibatalkan?" kesal Reynhard.


"Begini saja, kita beritahukan kepada mereka semua. Mau tidak mau, cepat atau lambat, mereka harus tau tentang semua ini. Dengan begitu, kita semua tak akan berpencar," usul Adam.


"Sepertinya itu tidak buruk. Ayo kita kembali ke tenda!" ajak Reynhard.


Tiba-tiba Andreas muncul di hadapan Reynhard dan Adam. Adam sontak terlihat sangat kaget melihat ada orang ke-tiga muncul di hadapannya, karena di situ hanya ada Adam dan Reynhard saja.


"Huaa! Siapa kamu?!" sontak Adam.


"Tak penting siapa aku untukmu!" seru Andreas.


"Tenanglah! Dia ada di pihak kita," kata Adam.


"Aku sarankan pada kalian untuk jangan menyalakan api unggun malam ini," ujar Andreas.


"Memangnya, apa yang akan terjadi jika kami menyalakan api unggun?" tanya Reynhard.


"Lalu, bagaimana kami bisa mendapatkan cahaya untuk malam harinya? Sedangkan malam di hutan sangatlah gelap." Adam menggaruk kepala.


"Gunakanlah obor sebagai penerangnya, dengan begitu kalian tidak akan dalam masalah besar," ungkap Andreas.


"Hei pak tua, bisakah kau beri tahu bagaimana caranya kami keluar dari hutan ini?" tanya Adam.


"Hanya ada satu cara," singkat Andreas.


"Apa itu?" tanya Reynhard.


"Pergilah ke sebuah rumah yang di dalamnya memiliki interior layaknya labirin. Rumah itu memiliki banyak sekali lorong dan banyak sekali ruangan. Di sana kalian akan mendapatkan petunjuk," tutur Andreas.


"Ayolah! Kita tidak sedang bermain petak umpat, 'kan? Kau hanya cukup memberitahukan ..." putus Adam.


Mendengar ocehan Adam, Andreas langsung menghilang seketika.


"O ... Ow ... Hei, Rey! Kau tau siapa namanya dan dari mana asalnya?" gurau Adam.


"Tidak, aku rasa dia juga bagian dari setan itu," ejek Reynhard.


***


"Rey! Adam! Kemarilah! Ayo kita makan Sandwich bersama-sama!" seru Edward.


Adam dan Reynhard menghampiri teman-teman yang sedang berada di kemah, namun tidak ada Jack di sana. Jack memang selalu menghilang secara misterius.


"Hei, teman-teman! Kemana Jack?" tanya Reynhard.

__ADS_1


"Mungkin dia sedang mencari binatang buruan," jawab Steven.


"Oh, begitu," singkat Reynhard.


***


Menjelang malam hari Reynhard dan Steven berseteru untuk tidak menyalakan api unggun. Namun Steven tetap keras kepala dan tidak mempedulikan nasihat Reynhard. Reynhard sudah berusaha keras untuk memberi peringatan pada Steven dan begitu pula dengan Adam.


"Steven! Jangan gunakan kayu bakar untuk membuat api unggun!" seru Reynhard.


"Ada masalah jika aku menggunakannya?" tanya Steven.


"Steven, dengarkan aku! Kita sedang berada di tengah hutan asing yang bukan daerah kita. Kita juga tidak tahu bahaya apa yang akan mengancam kita," tutur Reynhard.


"Tadi setelah kita semua mandi, kalian semua pergi lebih dulu meninggalkan kami berdua. Setelah itu, ada seorang warga sekitar penghuni hutan ini memberi tahukan kami untuk jangan menggunakan api unggun di malam hari di hutan ini. Karena itu, dianggap sebagai pengundang para hantu penghuni hutan ini," ungkap Adam.


"Kau bercanda? Itu hanyalah mitos. Mana mungkin? Dan sejak kapan api unggun bisa menjadi pemanggil setan? Kau jangan mengada-ngada," sinis Steven.


"Steven, aku mohon dengarkan nasihatku kali ini saja. Nyawa kita bisa terancam hanya gara-gara kesalahan sepele!" seru Reynhard.


"Omong kosong!" ejek Steven.


"Kau ingin mati di sini?!" kesan Reynhard.


"Aku bisa menghajar para hantu itu jika kau menginginkan daging mereka untuk kau makan!" seru Steven dengan nada bicara semakin tinggi.


"Kau mengatakan aku berbicara dengan omong kosong, apa kau pikir bisa yakin bahwa kau akan selamat? Kau yakin semua orang di sini bisa selamat?!" kesal Reynhard.


"Steven! Kami tidak sedang bermain-main dengan ucapan kami. Coba pikirkan, bagaimana mungkin ada seorang warga muncul memberi tahukan nasihat sespesifik itu? Tentunya kau tahu, 'kan? Bahwa orang lokal lebih tahu keadaan sekitar?" tanya Adam berusaha meyakinkan Steven.


"Persetan dengan semua itu!" sinis Steven.


"Hei, sudah! Sudah! Jangan berseteru lagi, ayo kita berkumpul mengelilingi kayu bakar yang sudah dikumpulkan!" seru Ryno.


"Hei, semua! Lihat! Aku membawa buruan rusa hutan! Kita bisa makan daging rusa hutan malam ini,"


Karena sifat keras kepalanya, akhirnya Steven dan semua teman-teman menyalakan api unggun. Reynhard masih merasa kesal dengan semua ini dan khawatir apa yang diucapkan Andreas akan menjadi kenyataan.


"Naaa ... Naaa ... Naaa ... Jreng ... Jreng ... Jreng ..." suara semua teman Reynhard bernyanyi sambil memainkan gitar akustik.


"Huft, memang susah diatur!" keluh Reynhard.


"Sudahlah, Rey! Kita tak ada waktu untuk saling bertengkar. Kita sudah memberi peringatan pada mereka. Karena semua sudah terlanjur terjadi, kita harus bersiap-siap untuk menghadapi segala macam resiko. Kau memiliki gulungan yang diberikan pak tua itu, 'kan?" tanya Adam menepuk pundak Reynhard.


"Ngiiiiing .... Hahahaha ... I'm a Slenderman! You will be sacrifices for me, hahaha!" terdengar suara sangat besar.


Tiba-tiba muncul sesosok pria berbadan tinggi kurus menggunakan jas tanpa wajah, dan memiliki tentakel panjang di belakangnya.


"Huaaa!!!! I-i-itu! Itu apa?!" kejut Morgan.


"Semuanya! Bersembunyilah di belakangku!" seru Reynhard.


"Apa yang ingin kau lakukan, Rey?!" tanya Steven.


"Tidak ada waktu untuk membahasnya, segeralah bersembunyi di belakangku!" seru Reynhard.


Steven dan semua teman-temannya bergegas bersembunyi di belakang Reynhard. Reynhard mengambil gulungan di kantong jaketnya yang diberikan oleh Andreas. Kemudian Reynhard melemparkan gulungan itu.


"Haaaaaaaaaaa!" teriak sosok hantu itu kepanasan.


Setelah kepanasan, sosok hantu itu menghilang. Dengan sigap, Reynhard mengambil gulungan itu kembali dan memasukkan gulungan itu ke dalam kantong jaketnya.

__ADS_1


Next Episode : Berpencar Tiga Arah (Seri 1, Episode 3)


__ADS_2