Dendam Kesumat Slenderman

Dendam Kesumat Slenderman
Cermin Dalam Tembok Coretan (1/4)


__ADS_3

***


Reynhard dan Adam masih tetap berjalan mengarungi jalan menuju tempat suara burung aneh itu berkicau. Sembari melihat kanan kiri, Reynhard dan Adam melihat ada 4 utas berlumuran darah yang telah lama sekali kering. Lalu Adam menghampiri 4 utas tali yang tergeletak di jalan mereka.


"Rey! Kau tau tali-tali ini seperti berlumuran darah?"


"Ya, aku tau. Tapi, seperti sudah lama sekali dan ... untuk apa tali-tali ini ada di sini dan berlumuran darah?"


"Pasti telah terjadi sesuatu di sini. Bisa dipastikan, ini terjadi setahun atau dua tahun yang lalu."


"Sungguh aneh rasanya jika ada tali seperti ini berlumuran darah di hutan seperti ini ... Adam! Ambillah foto empat utas tali ini, siapa tahu akan berguna untuk kita."


"Baiklah!"


"Ckkrrreeek ..." Suara kamera flash handphone Adam


...


"Adam! Apakah di handphone-mu ada jaringan?"


"Tidak sama sekali, di tengah hutan sangat jauh dari jangkauan jaringan."


"Huuft. Padahal seandainya ada jaringan, kita bisa menghubungi tim SAR untuk menyelamatkan kita."


"Tidak ada waktu untuk mengeluh. Ayo kita lanjutkan perjalanan!" seru Adam.


Reynhard dan Adam pun melanjutkan perjalanan lagi. Namun kali ini Reynhard melihat ada sebuah tembok besar yang tertutup juluran dedaunan.


"Adam! Sepertinya di sana ada sebuah tembok yang menggambarkan sesuatu. Aku merasa ada yang janggal dengan tembok itu. Ayo kita ke sana!"


"Tembok?"


"Lihatlah!" Reynhard mencoba membersihkan tembok itu dari juluran dedaunan sehingga tampaklah banyak sekali gambaran tentang daerah ini, dan juga ada gambaran peta tentang rumah labirin.


"Tertulis di sini "Batu Prasasti Labirynth"" Reynhard menoleh ke arah Adam dengan heran.


"Sepertinya itu petunjuk tentang semua hutan ini."


"Adam, bukankah kau adalah seorang arkeolog? Kau pasti tahu dan bisa membaca relief-relief ini."


"Bbbbbrrrrrttt ...." Suara perut Adam yang menunjukan sedang lapar.


"Huufftt! Ternyata kita memang harus makan terlebih dahulu." Adam berwajah letih.


"Apa yang bisa kita makan? Semua kebutuhan kita berada di perkemahan. Sedangkan kita tak boleh menyalakan api unggun malam hari."


"Sepertinya malam ini kita akan memakan buah jeruk." Adam melirik ke arah pohon jeruk yang terdekat.


"Ayo tunggu apa lagi?"


"Hei, tunggu! Jangan mendahuluiku!"


Pohon jeruk itu lebat buahnya dan kebetulan kebanyakan sudah matang. Reynhard dan Adam menaiki pohon jeruk itu lalu mengambil beberapa buah. Seturunnya dari pohon jeruk itu, Reynhard dan Adam memakan buah jeruk bersama-sama. Hingga keduanya merasa kenyang, Adam dan Reynhard dilanda kantuk.


"Hooaaammzz ... Aku merasa mengantuk," ujar Rey.


"Mungkin akan lebih baik, jika kita baca relief pada tembok ini besok pagi, cahaya matahari akan lebih membantu kita membacanya." Adam pun mengantuk.


Reynhard dan Adam memutuskan untuk bermalam di depan tembok coretan dengan beralaskan dedaunan hijau. Selama beberapa jam lamanya tertidur pulas, Reynhard dan Adam terbangun. Sang mentari sudah muncul 30 derajat dari batas mata melihat kegelapan. Reynhard dan Adam mencoba untuk memakan kembali jeruk sebagai santapan sarapannya.


"Adam! Mungkin sekarang kau bisa membaca relief itu dengan jelas."

__ADS_1


"Yah, baiklah!" Adam menghampiri relief tersebut.


"Biar aku coba terjemahkan satu per satu. Di sini ada tiga macam gambaran."


"Apa itu?"


"Gambaran pertama dengan rumah labirynth."


"Bisakah kau membacakannya untukku supaya aku tahu?"


"Di sini tertulis, "Labirynth Home," Rumah itu memiliki 100 pintu, 100 ruangan, dan 100 lorong. Namun, rumah itu juga memiliki ruang bawah tanah rahasia yang tak semua orang mampu menjangkaunya kecuali orang-orang tertentu saja. Rumah milik seorang seniman kaya raya yang dulunya hidup sebagai ahli seni sehingga ia menjadikan rumah itu seperti labirin sarang semut agar tak semua orang bisa masuk menggeledah rumah itu. Tertanda, Chris Arnold." Adam membacanya dengan sangat antusias.


"Chris Arnold? Siapa dia?" tanya Adam.


"Adam! Ada relief aksara ke dua di batu ini. Lihatlah!" seru Reynhard menunjukan relief aksara tersebut.


"Yang ke-tiga di sini adalah tertulis, "Hutan Keramat." Hutan ini memiliki luas ribuan hektar dan memiliki banyak sekali jebakan yang dibuat para hantu di hutan ini. Hutan yang menjadi tempat para orang-orang frustasi bunuh diri. Hutan ini sudah lama dikenal sebagai hutan keramat karena kental dengan aura mistisnya. Di hutan ini terdapat banyak rumah dengan jarak yang cukup jauh satu sama lainnya. Dulunya, hutan ini adalah desa bagi para petani hutan. Namun, semua penduduk di sini tewas terbunuh oleh sesosok mengerikan bernama "Slenderman." Ia memiliki tentakel di belakang tubuhnya, selalu mengenakan jas dan celana bahan hitam, dan selalu muncul tanpa wajah. Temukanlah sejarah tentang Slenderman di rumah labirynth, lebih tepatnya di ruang perpustakaan rahasia. Tertanda, Chris Arnold." Adam membaca aksara relief yang kedua dengan sangat antusias.


"Oh, jadi sosok mengerikan yang dikatakan Andreas dan muncul di hadapan kita semalam adalah Slenderman?"


"Sepertinya begitu."


"Itu artinya, hutan ini dulunya pernah menjadi pemukiman sedikit orang "


"Hei, Rey! Ngomong-ngomong soal tempat tinggal, apa kau tau di mana Andreas tinggal?"


"Entahlah. Dia selalu muncul dan menghilang secara tiba-tiba dalam sekejap mata. Aku rasa dia memiliki kekuatan magis, atau bahkan ia sendiri juga hantu."


"Mungkin begitu."


Secara, Adam adalah seorang ahli arkeologi sekaligus mahasiswa jurusan arkeolog yang mengetahui banyak aksara baik berupa tulisan mau pun gambar. Lalu ada aksara huruf terakhir yang tertulis di batu coretan itu.


"Adam! Masih ada satu lagi aksara relief. Ini dia!" seru Reynhard menunjukan aksara Relief ke tiga yang baru saja dibuka akibat tertutup dedaunan.


"Sungai hantu?" heran Reynhard.


"Iya, di sini dikatakan, arah timur adalah sungai hantu."


"Itu adalah arah Steven dan Jack terlempar oleh si Slenderman itu, 'kan?"


"Celakalah mereka berdua. Aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk menimpa mereka berdua."


"Kita tidak punya cukup waktu sampai di tempat Steven dengan cepat. Aku hanya bisa berharap Steven dan Jack dalam keadaan baik-baik saja."


"Kita hanya perlu fokus pada tujuan kita, karena kita semua sudah terlanjur terpencar ke tiga arah. Jika kita hanya mengurus mereka, kita akan menjadi sasaran empuk si Slenderman itu."


"Kau benar, Adam. Lebih baik kita lanjutkan tujuan kita. Aku berharap Andreas memberi petunjuk pada mereka."


Tiba-tiba Reynhard melihat ada sebuah batu kecil kotak yang menonjol di bagian paling kanan atas tembok coretan aksara relief itu.


"Apa ini? Seperti tombol ... Adam! Bisakah kau lihat batu kecil ini?"


"Ini hanya batu bia ..." putus Adam yang sengaja menekan batu kecil dan terbukalah sebuah ruang kecil di balik relief yang baru saja dibaca oleh Adam.


"Ggggggrrrrrrrssshh ...." suara sebuah pintu terbuka.


Batu relief itu terbagi menjadi dua secara menggeser, seperti pintu gerbang jenis slide.


"Haah! Ada sebuah ruangan kecil di dalamnya."


"Ayo kita cek ke dalam!" seru Reynhard.

__ADS_1


Tampak sebuah cermin pusaka kuno yang masih sangat bersih. Tiba-tiba cermin itu mengeluarkan sinar yang sangat menyilaukan mata Adan dan Reynhard. Saking silaunya, Adam dan Reynhard tidak bisa melihat. Tak lama cermin itu menyilaukan mata, cermin itu bersinar terang dan beresonansi dengan gulungan milik Rey yang diberikan Andreas.


"Hei, Rey! Sepertinya cermin itu beresonansi dengan gulungan yang Andreas berikan padamu." Adam menatap cermin itu.


Reynhard pun menghampiri cermin itu. Bak seorang peramal, Reynhard melihat sebuah bayangan masa depan yang akan terjadi pada teman-temannya dalam hutan itu.


"Haaaaaaaaaa!" teriak Reynhard ketakutan.


"Hei, ada apa, Rey?"


"Hikz ... Hikz ... Hikz ..." Reynhard tersungkur menangis melihat ke arah cermin.


"Sebaiknya kita keluar dari ruangan ini untuk menenangkan diri dulu. Ayo!" Adam mencoba membangunkan Reynhard dari jatuhnya.


"Tidak, Adam! Aku melihat sesuatu yang sangat mengerikan."


"Sesuatu? Memangnya apa yang kau lihat?"


"Aku melihat semua teman kita terbunuh secara tragis di tempat berbeda. Steven adalah orang pertama yang akan mati terbunuh di antara kita semua," lirih Reynhard.


"Cermin itu. Sepertinya bukan cermin biasa."


"Benar apa yang kau katakan, Adam. Kita akan membawa cermin itu untuk memberi gambaran pada kita."


Tanpa basa-basi Reynhard mengambil cermin itu dan memasukkannya ke dalam kantong jaketnya.


"Hmm ... Aku merasa ada yang harus dipecahkan dari kasus ini," ujar Adam.


"Apa maksudmu?"


"Pertama, kita menemukan empat utas tali berbau amis darah yang sudah menghitam, ke-dua kita menemukan relief yang menggambarkan tentang seiisi hutan ini, lalu yang ke-tiga kita menemukan nama Arnold di setiap aksara relief itu. Semua ini pasti ada hubungannya."


"Maksudmu, kedatangan kita ke sini ada hubungannya dengan hantu itu?"


"Bukan. Maksudku, Andreas menginginkan kita untuk mengungkap misteri di balik semua ini. Seperti yang kita ketahui, Slenderman itu pernah berkata bahwa kita dianggap sebagai pembunuhnya padahal kita tidak pernah tau siapa dia dan bagaimana kematiannya. Bahkan kita tidak mengenali wajahnya karena ia tak memiliki wajah, 'kan?"


"Benar juga. Aku merasa ada hal aneh sejak awal aku bertemu dengan Andreas dan kenapa Andreas sangat antusias menunjukkan banyak petunjuk pada kita." Reynhard baru menyadari kejadian di balik semua itu.


Adam memang memiliki intelektual tinggi dan selalu menguak sebuah kasus masa lampau dengan ilmu logikanya. Reynhard yang mendengar penuturan Adam pun merasa ganjil dan ada satu kasus yang memang harus dipecahkan.


"Oh, iya. Sebelum kita ke tembok ini, aku melihat ada papan penunjuk jalan bertuliskan "Labirynth Home," mungkin kita bisa ke sana sekarang untuk mengetahui detail dari kasus ini," ujar Reynhard.


"Baiklah, ayo kita ke sana nanti malam!" sahut Adam.


Reynhard dan Adam memutuskan untuk pergi menuju rumah labirynth yang ditunjukkan oleh papan penunjuk yang dilihat oleh Reynhard sebelum ke tempat tembok coretan.


"Hey, Rey! Bisakah kau lihat apa yang akan terjadi jika kita ke sana?"


"Aku akan mencobanya."


...


Reynhard mencoba menerawang masa depan tentang apa yang akan terjadi jika pergi ke rumah labirynth siang dan malam hari.


"Bagaimana, Rey?"


"Aku melihat perjalanan kita akan aman saja. Tapi sebaiknya kita ke sana sekarang juga. Jika menunggu nanti malam, kita akan diterkam **** hutan."


"Baiklah, kita masih punya banyak waktu sebelum menjelang malam."


"Ayo kita ke sana sekarang!"

__ADS_1


Reynhard dan Adam pun bergegas pergi menuju Rumah Labirynth itu meski sudah menunjukkan waktu tengah hari.


__ADS_2