
***
Dahulunya, rumah gubuk tua yang ditempati oleh Ryno, Edward, dan Morgan itu adalah rumah bekas seorang kepala daerah.
Setelah terlempar cukup jauh dari tempat kemah, Steven telah tewas, dan Jack mencari teman-teman yang lain untuk ia bunuh seperti halnya Steven. Ryno, Edward, dan Morgan, ketiganya masih hidup dengan aman sementara dalam rumah gubuk tua itu.
"Hei, semuanya! Ayo bangun, matahari sudah tinggi!" seru Edward yang terbangun lebih awal dari Morgan dan Ryno.
"Hooaammzz! Sudah agak siang rupanya," kata Ryno.
"Hooaammzz! Aku masih mengantuk. Aku badanku terasa sakit di sekujur tubuh," jata Morgan.
"Sepertinya tempat ini aman untuk berlindung sementara dari kejaran makhluk itu," ujar Morgan.
Mereka bertiga mungkin tidak menyadari bahwa Slenderman itu tidak akan membiarkannya lolos keluar dari hutan. Seperti yang Andreas katakan, tak akan ada satu pun yang akan selamat dari kejaran Slenderman itu.
"Aku merasa ingin buang air kecil. Apakah di rumah ini ada kamar kecil?" tanya Morgan yang sangat ingin buang air kecil.
"Rumah ini sudah bertahun-tahun lamanya tidak dihuni, kalau pun ada kecil, pasti tidak ada airnya," ujar Edward.
Rumah gubuk yang bertahun-tahun lamanya tak dihuni itu sudah lapuk beberapa bagiannya termakan usia. Dengan tidak terurusnya rumah gubuk itu, menjadikan gubuk itu terlihat seperti rumah hantu.
Beruntung, lemparan Slenderman itu tak membuat mereka bertiga mati karena kerasnya benturan akibat hempasan tentakel Slenderman itu.
Morgan yang hendak membuang air kecil merasa bingung di mana ia harus membuang air. Akhirnya Morgan memutuskan untuk keluar dari rumah gubuk itu.
"Aku ingin mencari tempat yang enak untuk buang air. Aku keluar dulu," ujar Morgan.
"Hei, Morgan! Aku rasa kau salah menanggapi tingkah laku Slenderman itu," kata Edward.
"Apa maksudmu?" tanya Morgan.
"Seperti yang kau tahu, apa yang diucapkan Andreas sebelum kita memasuki hutan ini, kini menjadi nyata, 'kan?"
"Ayolah, Bung! Kita berada jauh dari jangkauan makhluk itu. Mana mungkin makhluk itu mengejar kita semua dengan posisi berpencar?" bantah Morgan.
"Morgan! Aku tahu ini sulit, aku lebih suka menusuk bokongnya dengan jurus tusukan ambeienku jika aku mampu melakukannya," balas Ryno.
Memang dasar si Ryno, selalu saja bisa bercanda di tengah keadaan genting. Edward merasakan firasat buruk akan terjadi jika mereka semua terpencar, atau bahkan ada salah satu dari mereka berpisah. Edward yang saat itu masih menahan sakit mencoba untuk tenang di tengah situasi genting.
"Morgan, untuk kali saja. Dengarkan aku! Kita sudah terpencar dari hutan, dan kau ingat apa yang dikatakan Reynhard semalam, 'kan?" bujuk Edward.
Mendengar penuturan Edward, Morgan terdiam seribu bahasa. Ia dengan terpaksa harus menahan buang air kecilnya. Entah sampai kapan Morgan akan mampu menahan rasa ingin buang air kecilnya.
"Tapi, aku sudah tidak tahan!" desak Morgan.
Ryno, Edward, dan Morgan terdiam sembari berpikir sesuatu. Selama beberapa menit laamnya, Edward dan Ryno tak kunjung memberikan jawaban sepatah kata pun. Akhirnya, Morgan merasa kesal dengan tindakan diamnya sendiri.
"Ah, persetan dengan makhluk itu. Aku sudah tidak tahan lagi," kesal Morgan.
"Morgan, tunggu!" cegah Edward.
"Sudah, biarkan saja dia bermain-main dengan makhluk gurita itu," tegas Ryno.
"Ryno, ini bukan waktunya bercanda. Kita harus berpikir bagaimana caranya kita keluar dari hutan ini," bantah Edward.
"Huft, seandainya saja aku memiliki jurus elemen tanah, akan kukubur dia dengan jurus doton seperti Hatake Kakashi," ujar Ryno.
Edward berusaha bangkit dari duduknya dan mencoba mencari cara agar bisa selamat dari kejaran Slenderman dan keluar hutan.
__ADS_1
"Duk, duk, duk ... Duk, duk, duk!" suara kaki Edward yang bolak-balik mencoba mencari cara.
"Dok, dok, dok!" Edward tak sengaja menginjak lantai kayu yang tidak padat bawahnya.
"Hei, Edward! Apa yang sedang kau lakukan?" heran Ryno.
Edward merasa penasaran bahwa ada bagian lantai gubuk yang tak padat terdengar ketika menginjakkan kaki ke karpet di ruang tengah rumah gubuk itu.
"Apa? Lantai ini tak padat seperti tak bertulang," kata Edward.
"Wush!" Edward menyingkapkan karpet yang diinjaknya. Benar saja Edward terkejut, karena karpet yang ia injak terdapat sebuah pintu kecil yang tertutup dan terkunci.
"Hei, ada sebuah pintu kecil di sini," ujar Edward.
"Apa? Pintu kecil?" tanya Ryno terheran-heran.
"Iya, sepertinya rumah ini memiliki ruang bawah tanah ... Ryno! Carikanlah batu agar kita bisa membuka pintu kecil ini!" seru Edward.
"Baiklah! Tunggu sebentar, akan kucarikan!" sahut Ryno.
Ryno tidak berani keluar dengan jarak yang jauh dari rumah gubuk itu. Ryno melihat ada sebongkah batu kolar lalu mengambilnya. Dengan segera, Ryno memberikannya oada Edward.
"Ini dia." Ryno menyodorkan tangan dengan batu kolar.
"Baiklah! Ayo kita coba buka pintu ini!"
"Duk, duk, duk, duk, krash, ceklek!"
Edward berhasil membuka pintu kecil itu. Benar saja, ternyata ada ruang bawah tanah di bawah rumah ini. Ayo kita masuk!" seru Edward.
"Hei, bagaimana dengan Morgan?"
"Oh, kau benar. Mungkin alangkah baiknya kita tunggu di sini sampai dia datang."
***
"Ouh, Aku sudah tidak tahan lagi ... Hei, ada sumur di sana!" ucap Morgan menghampiri sumur itu.
Sumur yang sudah berlumut dan masih memiliki air yang jernih. Siapa yang mau menggunakan sumur itu, sementara di hutan itu tidak ada satu pun penghuni?
"Eeaaaah! Lega rasanya."
"Byurrr ... Byurrr ... Byurr ... Byurr!"
Morgan tidak menyadari karena saking tidak tahannya untuk buang air. Ia menyangka bahwa dirinya sudah aman dan tidak ada sesuatu yang janggal di sekitarnya.
***
[Di sisi lain, gubuk rumah tua]
"Ah, ****! Kenapa dia lama sekali?" keluh Reynhard yang menunggu Morgan.
"Mungkin tempat dia buang air di tempat yang agak jauh dari sini. Aku harap dia baik-baik saja." Edward berusaha menenangkan Ryno.
"Kenapa tidak kita coba untuk menyusul Morgan?" tawar Ryno berwajah kesal.
"Mungkin itu tidak buruk. Ayo kita cari dia!"
Ryno dan Edward memutuskan untuk mencari keberadaan Morgan. Sebenarnya Edward merasa takut dan sangat waspada kalau sampai Slenderman itu datang dan mencoba membunuh mereka, apalagi di tengah hutan terbuka, ia merasa Slenderman itu akan lebih mudah menemukan mereka.
__ADS_1
***
"Morgaaan! ... Morgaaan! Dimana kau?! ... Morgaaan!" teriak Ryno dan Edward.
"Ryno, apa kau yakin ingin mencarinya?" Edward mencoba meyakinkan diri dengan tubuh gemetaran.
"Kenapa tidak, Kawan? Lagipula keadaan di sini baik-baik saja, 'kan?" balas Ryno dengan percaya diri.
"Haaaaaaaaaa!" Suara teriakan Morgan terdengar hingga ke telinga Edward dan Ryno.
"Itu pasti Morgan. Ayo kita datangi dari mana asal suara itu!" seru Edward.
"Ya. Ayo!" singkat Ryno.
Ryno dan Edward segera menghampiri dari mana asal suara itu.
***
Sesampainya di tempat teriakan itu, Ryno dan Edward mendapati Morgan telah tewas bersimbah darah karena ditikam berkali-kali dengan tentakelnya oleh Slenderman itu. Matanya melotot dengan mulut terbuka berlumuran darah.
"Rrrraaawwwwrrr!" teriak Slenderman itu berhasil membunuh satu dari mereka.
"Now, this is your turn!" (Sekarang, giliran kalian!") kata Slenderman itu menunjuk ke arah Edward dan Ryno.
"Oh, tidak. Kita dalam masalah besar Ryno."
"Morgaaaaaaan!" teriak Ryno secara histeris.
"Ayo kita lari ke rumah gubuk tadi Ryno!" Edward menarik tangan kiri Ryno.
Edward dan Ryno berlari sangat kencang ke arah rumah gubuk tua itu untuk masuk ke dalam ruang bawah tanahnya dan bersembunyi.
"Brak!" Ryno terjatuh saat berlari.
"Aaaah!"
"Ayo cepat! Kita tidak punya banyak waktu. Makhluk itu sedang mengejar kita!" seru Edward segera membangunkan Ryno.
"Kakiku terkilir," respon Ryno meringis kesakitan.
Edward pun menggendong Ryno dan lanjut berlari ke arah rumah gubuk tua itu.
"Hah, hah, hah, hah!" Edward bernapas terengal-engal.
"Ceklek ... Ngiiit!"
"Ayo, Ryno!" Edward menggandeng Ryno masuk ke dalam ruang bawah tanah rumah gubuk itu dan menutup pintunya dengan dilapisi karpet.
"Gebrug!"
Edward mencari cara agar keberadaannya tidak diketahui oleh Slenderman itu, dan ia dapati sebuah ruangan gudang bawah tanah yang melewati sebuah lorong kecil.
"Rrrraaawwwwrrr!" Teriakan Slenderman itu terdengar dari ruang bawah tanah oleh Edward dan Ryno.
Edward dengan sigapnya menutup mulut Ryno agar tidak berteriak. Edward dan Ryno merasa ketakutan setengah mati, hingga detak jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
"Aku takut, Edward!" bisik Ryno.
"Diamlah hingga makhluk itu pergi!" bisik Edward.
__ADS_1
"Rrrraaawwwwrrr! ... Rrrraaawwwwrrr! ... Rrrraaawwwwrrr!" Teriakan Slenderman itu terdengar semakin mengecil, tanda bahwa Slenderman tersebut telah menjauh dari jangkauan mereka berdua.
Slenderman itu pun pergi meninggalkan rumah gubuk tua itu. Edward dan Ryno berhasil selamat dari kejaran Slenderman. Namun Morgan harus mati dengan cara yang sangat tragis.