Dendam Kesumat Slenderman

Dendam Kesumat Slenderman
Berpencar Tiga Arah (1/3)


__ADS_3

***


"Hei, sejak kapan kau memiliki benda seperti itu, Rey?" tanya Steven dengan wajah kesal.


"Aku mendapatkannya dari salah seorang warga sekitar sini," ungkap Rey.


"Aku sarankan agar kita semua tidak berpencar dan harus selalu bersama ke mana pun pergi. Ingat! Sekali kita salah langkah, semuanya akan fatal," kata Adam.


"Dan semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak mengikuti acara Rey!" sinis Steven.


"Tarik kembali perkataanmu!" kesal Rey.


Dengan wajah kesal, Steven menarik kerah baju Rey hingga tubuh Rey terangkat sedikit. Saat itu Steven sedang hilang kendali karena Rey dianggap menyembunyikan sesuatu.


"Dengar, k*p*r*t! Ini semua tidak akan terjadi jika kita tidak ke sini. Semua ini karena ide burukmu mengajak kita semua ke hutan ini. Dan sekarang kita dalam keadaan berbahaya. Kau yang akan bertanggung jawab atas semua ini!" sentak Steven.


"Semua ini juga tak akan terjadi jika kau mendengarkanku. Bukankah aku sudah mengatakan untuk jangan menyalakan api unggun di malam hari?!" sentak balik Reynhard melepaskan cengkraman Steven.


"Hentikan kalian berdua! Ini bukan waktunya bertengkar. Seharusnya kita memikirkan bagaimana cara agar kita bisa aman untuk malam ini. Sepertinya hantu itu menginginkan tumbal salah satu dari kita," ujar Edward.


"Edward benar. Mungkin ada baiknya jika kita berkemas kembali barang-barang bawaan kita, dan kita kembali pulang malam ini juga. Aku khawatir terjadi hal buruk pada kita semua," usul Ryno.


"Itu tidak mungkin!" seru Adam.


"Apanya yang tidak mungkin? Selagi waktu belum memasuki larut malam, kenapa tidak?" tanya Steven.


"Apa kau tidak melihat sepanjang perjalanan kita memasuki hutan penuh dengan bebatuan dan semak belukar pepohonan? Lagipula terlalu berbahaya jika kita keluar hutan malam ini. Jika hantu itu bisa mendatangi kita sekarang ini, lalu bagaimana jika di perjalanan nanti kita akan dicegat oleh hantu itu dan membuat kita semua celaka?" tanya Adam.


"Aku rasa apa yang dikatakan Adam memang benar. Terlalu berbahaya kita mengendarai mobil di tengah hutan dalam gelap malam ini. Hantu itu akan dengan mudah membuat kita celaka," ujar Morgan.


Reynhard melihat Jack hanya diam saja tanpa sepatah kata pun. Melihat hal itu, Reynhard merasa ada yang aneh pada diri Jack karena ia tidak memberi usulan sedikit pun.


"Jack, kau terlihat hanya diam saja. Tidakkah kau ingin memberi saran?" tanya Reynhard.


"Aku rasa kita memang harus berada di sini terlebih dulu. Di tengah hutan seperti ini, kita jangan gegabah," usul Jack.


Reynhard menatap Jack dengan wajah heran. Terlintas dalam penglihatannya, Reynhard melihat Jack selalu membawa pisau di samping kiri pinggang celananya. Karena Reynhard selalu melihat Jack melakukan segalanya lebih banyak menggunakan tangan kiri (kidal). Ditambah lagi Reynhard selalu melihat Jack menggunakan baju hitam sehingga sangat mudah mengenali Jack.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Jack.


"Tidak ada apa-apa," singkat Reynhard.


"Rey, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Adam.


"Kita semua tidak boleh berpencar dan harus selalu bersama-sama. Seorang warga penghuni hutan ini memberitahuku bahwa jam dua belas malam ini akan muncul sesosok yang sangat mengerikan. Ia juga berpesan untuk jangan berpencar, apalagi membiarkan salah satu dari kita tertinggal seorang diri. Dengan gulungan yang diberikan oleh warga itu padaku, kita mungkin bisa selamat dari pengamatan hantu itu," tutur Reynhard.


"O ... Ow ... Sepertinya kita dalam masalah besar, lihatlah ke sana!" kata Adam menunjuk ke arah munculnya Slenderman.


"I want yo kill all of you! You had killed me in the past. Now, i'll revenge to you! (Aku ingin membunuh kalian semua. Kalian telah membunuhku di masa lalu. Sekarang aku akan membalas dendam pada kalian!)"


Sosok Slenderman itu datang menghampiri mereka semua. Sebelum Rey mengeluarkan gulungan itu untuk dilemparkan pada Slenderman lagi, Slenderman itu lebih cepat tanggap. Akhirnya, semua diporak-porandakan oleh Slenderman. Tentakel yang ada di belakang tubuhnya, membuat Slenderman menghabisi mereka dari jarak yang cukup jauh. Percuma saja mereka semua melarikan diri pasti tertangkap oleh Slenderman.


"Rey! Tolong aku! ... Haaaaaa!" teriak Steven. Steven dan Jack dililit oleh Slenderman dengan tentakelnya dan dilempar jauh ke arah timur.


Reynhard yang Steven dan Jack terlempar ke arah yang entah ke mana merasa panik setengah mati. Tubuh Reynhard kaku bergemetar seolah gerakannya seperti terkunci. Insting Reynhard berkata bahwa selanjutnya adalah Ryno, Edward, dan Morgan.


"Rey! Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ryno.


"Aku tak ingin mati konyol di hutan ini!" teriak Morgan.


"Oh, ****! Kita tersudut!" keluh Edward.


"Rey! Lakukanlah sesuatu!" teriak Morgan.


"Tu-tu-tubuhku su-su-su-su-sulit bergerak!" kata Reynhard.


"This is your turn! (Kini giliran kalian!)" ucap Slenderman mendekat pada Ryno, Edward, dan Morgan.


Kemudian Slenderman itu melilit Ryno, Edward, dan Morgan dengan tentakelnya yang lain. Slenderman itu melemparkan mereka bertiga ke arah utara hutan.


"Haaaaa! Tolooooooong!" teriak Ryno, Edward, dan Morgan.

__ADS_1


"Ti-ti-tidaaaaaaaaak! Haaaaaa!" teriak Reynhard yang berontak, mencoba berusaha keras menggerakkan tubuhnya.


Kemudian Slenderman itu datang menghampiri Reynhard dan Adam. Adam gemetar ketakutan yang luar biasa. Namun pada saat Slenderman itu menghampiri Reynhard dan Ryno, tiba-tiba Andreas muncul di antara mereka. Andreas yang memiliki kekuatan magis secara spontan memindahkan Reynhard dan Adam dengan kemampuan teleportasi ke sebuah tempat dimana Reynhard dan Adam akan mendapatkan petunjuk pertama.


"Kalian berdua akan kupindahkan ke sebuah tempat," kata Andreas.


"Wuuuussshhh ...!" seketika Reynhard dan Adam menghilang.


Hanya tinggal Andreas yang tersisa. Dengan sangat cepat, Slenderman itu menebaskan tentakelnya hingga membuat Andreas terlempar beberapa meter dari tempatnya.


"Uhuk ... Uhuk ...!" Andreas merasa sangat kesakitan dengan serangan Slenderman itu.


Beruntung Andreas memiliki kemampuan psikokinesis[1]. Andreas dengan sigap mencoba menghalau serangan tentakel Slenderman dengan kemampuan psikokinesisnya.


"Syat! Ngiiiiing!" Andreas mencoba menggunakan kemampuan psikokinesisnya.


"Huaaa!" Slenderman itu mundur beberapa langkah.


Tentakel Slenderman itu berhasil ditepis keras dengan kemampuan khusus Andreas tersebut. Andreas menyadari, bahwa makhluk itu tidak akan bisa ia kalahkan kecuali dengan segel kotak dewa. Andreas pun menghilangkan diri dengan kemampuan teleportasinya.


"Wussshh!" Andreas pun tiba-tiba menghilang dari hadapan Slenderman.


***


"Eemmhh ... Dimana aku?" ucap Reynhard terbangun dari pingsannya.


...


"Hei, bangunlah! Adam! Bangunlah!"


"Emmhh ... Dimana kita berada?"


"Aku juga tidak tahu. Andreas menghilangkan dan memindah tempatkan kita ke tempat ini saat kita hendak dilibas oleh makhluk itu dengan tentakelnya."


"Tapi ngomong-ngomong, dimana mereka?"


"Aku tidak tahu, yang terpenting sekarang kita harus menyelamatkan diri dan keluar dari hutan ini dengan selamat."


"Biarkan aku berpikir sesuatu. Aku sendiri tidak tau sedang berada di mana. Kita semua terpencar ke tiga tempat. Aku khawatir pada mereka semua."


"Tidak perlu khawatirkan mereka. Mereka bukan anak-anak kecil lagi."


"Jangan remehkan kekuatan makhluk itu! Makhluk itu sangat kuat, bahkan sulit untuk menembus pertahanannya.


Tiba-tiba terdengar suara burung berkicau dari sebuah tempat. Namun suara burung itu terasa aneh dan membuat mereka berdua penasaran.


"Adam, tidakkah kau mendengar sesuatu?"


"Ya, aku juga mendengarnya. Seolah memberi petunjuk pada kita untuk pergi ke tempatnya."


"Sepertinya tidak jauh dari tempat kita."


"Ayo, kita ke sana!"


Reynhard dan Adam berjalan pelan-pelan menuju ke tempat suara burung aneh itu muncul. Ketika sedang berjalan ke arah itu, Reynhard melihat ada sebuah papan hitam berbentuk panah yang menunjukan sebuah tempat dan bertuliskan "Labirynth Home" berwarna putih.


"Hei, lihat! Ada sebuah papan menunjukan arah sebuah tempat!"


"Kita tunda dulu untuk ke sana, sebelum kita menemukan suara aneh itu berada."


"Baiklah."


***


Di sisi lain, Steven dan Jack terlempar ke sebuah tempat yang juga tidak diketahui dan tanpa penghuni satu pun. Steven merasa bingung dan ketakutan dengan apa yang baru saja menimpa dirinya. Terlempar dengan jarak yang cukup jauh dan jatuh membuat Steven dan Jack merasa kesakitan di seluruh tubuh.


"Hei, Jack! Kau tahu tempat ini?"


"Aku tidak tahu di mana kita berada."


"Aku merasa sakit di sekujur tubuhku."

__ADS_1


"Aku juga merasa sakit di sekujur tubuhku."


"Makhluk itu sangatlah kuat, bahkan memiliki pertahanan yang sangat kuat."


Jack yang mendengar hal itu dari Steven hanya terdiam. Akhirnya Steven dan Jack memutuskan untuk berjalan meski pun harus tergopoh-gopoh.


"Ayo kita cari tempat yang aman untuk beristirahat!"


"Ya."


Beberapa puluh meter Steven dan Jack berjalan, mereka pun menemukan sebuah gubuk tua yang masih kokoh bangunannya.


"Hei, lihat! Itu ada gubuk! Mungkin kita bisa beristirahat malam ini di sana."


"Ya sudah, ayo kita ke sana!"


***


Di tempat lainnya, Ryno, Edward, dan Morgan terlempar ke arah yang berbeda pula. Ryno, Edward, dan Morgan tak sadarkan diri tatkala terlempar dan terjatuh lumayan jauh dari tempat kemah mereka. Di antara mereka bertiga, Morgan adalah yang pertama terbangun dan pingsannya. Morgan melihat Edward dan Ryno tergeletak beberapa meter darinya.


Sama sepertinya halnya Steven dan Jack, Morgan merasa sakit di hampir sekujur tubuh karena benturan keras saat terjatuh.


"Edward! Bangun, Edward!"


"Ryno! Bangun Ryno!"


Morgan mencoba membangunkan Edward dan Ryno. Edward dan Ryno pun akhirnya terbangun dari pingsannya. Namun, Edward mengalami cedera terkilir pada kaki kirinya.


"Dimana kita berada?" tanya Ryno.


"Entahlah." Morgan menjawab dengan lirih.


"Apa kau terpikir sesuatu bagaimana cara untuk keluar dari hutan ini?" tanya Edward.


"Aku tidak mengetahui apa pun tentang hutan ini. Bahkan ini pertama kalinya aku ke sini," ujar Morgan.


...


"Ayo kita berjalan mencari tempat yang cocok untuk beristirahat!" Morgan membangunkan Edward dan Ryno.


"Kau bercanda? Mana ada di tengah hutan ini yang cocok untuk beristirahat selain tenda kemah?" heran Edward.


"Tidak ada salahnya jika kita mencoba mencarinya terlebih dahulu. Siapa tau ada tempat yang cocok untuk kita beristirahat malam ini," usul Ryno.


"Ya, sudah. Ayo kita berjalan!"


Ryno, Edward dan Morgan pun berjalan bersama-sama ke arah yang entah ke mana mereka harus pergi, karena mereka tak mengetahui jalan dan arah dalam hutan itu. Setelah ratusan meter berjalan. Edward merasa tidak kuat lagi berjalan.


"Huh ... Huh ... Huh ... Aku sudah tidak kuat lagi berjalan. Dadaku terasa sakit," ucap Edward.


Morgan mencoba melihat keadaan sekitarnya. Terlintas dalam penglihatannya, ada sebuah rumah gubuk yang terlihat sudah lama tak dihuni.


"Hei, lihat ke sana! Itu ada rumah gubuk! Kita bisa beristirahat di sana! Ayo kita ke sana!" seru Morgan.


Ryno, Edward, dan Morgan segera menuju rumah gubuk tersebut. Namun sayangnya, rumah gubuk itu terkunci. Morgan mencoba mendobrak pintunya seorang diri, namun tak berhasil.


"Hei, Morgan! Ayo kita dobrak pintunya bersama-sama. Siapa tahu itu akan berhasil." Ryno menepuk bahu Morgan.


...


"Kau siap, Morgan?" tanya Ryno.


"Ya, ayo kita coba!" seru Morgan.


"Brraaakkk ... Brraakkk ... Brrraakkk ... Drreeekk ...!"


Akhirnya, pintu rumah gubuk tersebut berhasil terbuka. Ryno, Edward, dan Morgan masuk ke dalam rumah gubuk itu.


Next Episode : Cermin Dalam Tembok Coretan (Seri 1, Episode 4)


Catatan Kaki :

__ADS_1


[1] Psikokinesis (Psychokinesys) adalah kemampuan menggerakan, mengatur, memanipulasi, mengendalikan material atau energi atau benda menggunakan kekuatan pikiran tanpa menyentuh benda tersebut secara fisik.


__ADS_2