
***
Setelah sampai di rumah suasana rumah masih sepi, tidak ada tanda-tanda Rania dan Rio sudah pulang.
"Agnes,kemana mereka ? Kenapa jam segini mereka belum kembali?".Tanya Brian sambil melihat jam tangan yang dikenakannnya.
"Aku juga tidak tahu Brian,biasanya jam segini mereka sudah ada di Rumah.Aku telfon Pak Salman". Jawab Agnes sedikit khawatir.
"tut..tut..tut.. "Pangilan tersambung.
"Hallo nona! " .Jawab Pak Salaman.
"Pak Salman lagi dimana? Rania dan Rio ada bersama Pak Salman kan? Kenapa belum kembali?". Tanya Agnes panjang kali lebar.
"Iya nona,mereka bersama saya.Maaf belum kembali Nona kecil dan Tuan kecil minta jiarah kemakam Ibu nya". Jawab Pak Salman dengan jelas.
"Makam Silvia?".Tanya Agnes lagi.
"Bukan ini lagi di makam Nyonya Saras bunda mereka,tapi kata Nona dan Tuan kecil setelah ini akan jiarah juga ke makam nona Silvia".Jawab Pak Salman kembali.
"Oke Pak, terima kasih! Jaga mereka dengan baik! Aku dan Brian akan menyusul kesana". Lanjut Agnes.
"Baik nona". Jawab Pak Salman.
Panggilan terputus.
"Brian mereka sedang jiarah ke makam ibunya Saras, setelah itu mereka juga akan jiarah ke makam Silvia.Ayo kita susul mereka!". Agnes menarik tangan Brian untuk segera masuk ke dalam mobil.
Agnes melajukan kemudi, sedangkan Brian memutuskan untuk diam membiarkan Agnes melakuan apa yang ingin dia lakukan.
Setelah panjangnya perjalanan sudah terlihat gapura pemakaman tempat di makamkannya Silvia.Disana sudah terdapat mobil yang di bawa Pak Salman parkir di depan gerbang.
"Itu mobil mereka sudah disini". Ucap Agnes sambil memarkirkan mobil di samping mobil yang dibawa Pak Salman.
Mereka turun dari mobil.
"Agnes kamu duluan sana! aku mau beli bunga dulu ,nanti aku akan segera menyusul!". Kata Brian sambil berjalan menuju si tukang bunga.
"Baik aku pergi duluan". Ucap Agnes berjalan menuju makam Silvia yang sudah nampak Pak Salman,Rania dan Rio disana".
***
"Mbak saya beli bunga segarnya satu ikat dan 1 keranjang bunga warna- warni". Brian sambil menunjuk satu ikat bunga warna putih dan keranjang bunga warna-warni.
"Baik Tuan". Si penjual bunga.
"Semuanya jadi berapa mbak?".Tanya Brian sambil mengambil dompetnya.
"Seratus lima puluh ribu ,tuan". Jawab si penjual bunga.
"Ini uang nya". Brian menyodorkan uang dua ratus ribu rupiah.
"Maaf tuan ada uang pas?".Tanya si penjual bunga.
"Tidak ada,ambil saja kembaliannya.Terima kasih".Jawab Brian sambil berlalu meninggalkan si penjual bunga.
__ADS_1
"Tidak tuan ,saya yang berterima kasih.Semoga kebaikan anda di balas Tuhan". Teriak si penjual bunga dengan ekspresi bahagia.
Brian berjalan menuju makam Silvia.Tiba-tiba ada seorang gadis menabrak Brian.
"Brug!!!". Seikat bunga dan sekeranjang bunga yang di bawa Brian terjatuh.
"Maaf Tuan saya tidak sengaja". Ucap gadis itu sambil membereskan bunga yang terjatuh."Yah...Tuan bunga nya rusak,biar saya ganti ya!".Sambung gadis itu sambil menatap bunga yang ia pegang dan mendongak melihat wajah lelaki di depannya itu.
"Kamu?". Brian menatap gadis itu dengan terkejut melihat gadis itu.
"Kamu?".Gadis itu pun sama terkejutnya.
"Kita impas ya! Tadi pagi saya yang hampir menabrak anda dan sekarang anda yang jelas menabrak saya ,dan merusak bunga saya".Brian menatap mata gadis itu dengan sangat lekat dengan nada tegas di selipkan senyum tipis samar mengingat ekspresi wanita itu tadi pagi.
"Pasti Tuan siapapun yang punya sangkutan dengan diriku pasti aku akan melunasinya dengan segera". Membalas dengan nada candaan dan tersenyum riang.
"Bagus kalau begitu.Jadi, saya tidak perlu merasa bersalah kepada anda". Jawab Brian dengan nada datar diselipkan senyum sinis di ujung kalimat.
Nona ,bagaimana kamu bisa mengahadapi segala sesuatu dengan tersenyum seperti itu si.Ditambah dengan kepolosan nona disaat menjawab segalanya dengan tenang.Apa wanita seperti nona bisa merasakan kesedihan? Dan apakah orang-orang yang sering bersama nona bisa bersikap seperti itu?.Tersadar Brian dari lamunannya karena gadis itu menepuk bahu Brian.
"Hallo? Apa Anda baik-baik saja Tuan?".Ucap gadis itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya merasa aneh dengan sikap lelaki di depannya itu.
"Tidak ,aku tidak kenapa-napa.Heran saja kenapa sikap anda selalu riang dan setenang itu menghadapi apapun".Jelas Brian dengan wajah penasaran.
"Oh itu,jadi sikap ku harus bagaimana?".Tanya wanita itu sambil berlalu meninggalkan Brian.
"Tunggu!".Teriak Brian.
"Kenapa?"Wanita itu membalikan badan."Kita impas kan?".Tanya wanita itu sambil tersenyum.
"Panggil saja aku Angel".Jawab wanita itu melanjutkan langkahnya.
"Saya Brian".Teriak Brian keras.
"Aku tidak bertanya siapa namamu".Sahut Angel menutup mulut menyembunyikan tawanya.
"Tidak masalah.Aku yang sengaja memberi tahu mu Angel".Teriak Brian sambil menatap langkah Angle.
Melihat Angel sudah berlalu dengan mobilnya. Brian segera bergegas menuju makam silvia.
"Kalian mau kemana?".Bertanya kepada Rania dan Rio.
"Kata tante Agnes ayah sedang membeli bunga,tapi ayah lama sekali dan tanpa membawa bunga".Rania menjawab pertanyaan Ayahnya.
"Iya Ayah lama sekali ,kita sudah selesai berjiarah.Kita tunggu ayah di mobil".Lanjut Rio."Ayo Kak Rania,Pak Salman ,Tante Agnes kita tunggu ayah di mobil saja!".Ajak Rio sambil menarik tangan Rania.
"Baik Tuan kecil".Jawab Pak Salman sambil berjalan mengikuti langkah Rio dan Rania.
"Brian aku tunggu di mobil ya!".Agnes menepuk bahu Brian dan berlalu.
"Iya..".Jawab Brian pelan.
Mereka semua pergi bergegas kedalam mobil meninggalkan Brian sendirian di makam Silvia.
"Silvia,maafkan aku! Maafkan semua kesalahanku! Sampai saat ini aku tidak bisa menyelidiki kasus pembunuhan yang menimpa dirimu.Bahkan jiarah ke makam mu pun karena aku menyusul Rania dan Rio. Mereka lebih menyayangimu dibandingkan diriku dan Agnes teman mu yang membawa ku kesini.Dulu setelah acara pernikahan kita pertama kalinya aku melihat Agnes aku jatuh hati padanya.Menikahi mu adalah pilihan ibu ku, karena ibu bilang kamu itu wanita yang sangat baik dan dewasa .Kamu pasti bisa menjaga dan menyayangi Rania dan Rio dengan baik.Tetapi,kamu pergi begitu cepat tidak memberikan aku kesempatan untuk bisa mencintaimu dengan tulus.Kamu pergi sehari setelah pernikahan kita.Aku memang tidak mencintai mu,tapi aku kehilangan dirimu .Kamu meninggalkan aku dengan semua rasa bersalah yang menghantui aku di setiap hari." Tanpa sadar Brian meneteskan air mata dalam setiap kata yang dia ucapkan.
__ADS_1
"Silvia hari ini aku bercerita banyak kepadamu,tanpa aku bersandiwara sedikitpun.
Bahagia lah kamu di Surga. Aku pulang sekarang,lain kali aku akan datang lagi bercerita banyak kepadamu,maafkan aku yang kesekian kalinya bunga yang kubawa terjatuh dan rusak .Aku malu untuk memberikannya untuk mu.Lain kali aku akan membawanya dengan hati-hati". Brian pergi meninggalkan makam Silvia menuju mobil yang orang-orang di dalam sudah menunggunya lama sekali.
"Maaf kalian menunggu lama".Brian mendongak ke kaca mobil yang di bawa Pak Salman.
"Ayah,kita pulang bareng.Biar Tante Agnes yang membawa mobil ayah sendiri.Aku kangen sama ayah".Rio merengek.
"Iya ayah, Rania juga kangen sama ayah
sudah lama sekali setelah kepergian bunda Silvia ayah jarang bareng kita".Rania keluar mobil dan memeluk Ayahnya.
"Biar Pak Salman yang pulang sendiri,kasihan tante Agnes kalau pulang sendirian".Jawab Brian sambil membalas pelukan Rania.
"Tidak Ayah, tante Agnes telah banyak mendapatkan kesempatan bersama Ayah.Tante Agnes telah banyak mengambil hak kita untuk bersama ayah.Rania dan Rio ingin mengambil hak kita tanpa ada tante Agnes".Rania mengeluarkan semua isi hatinya.
"Iya Ayah,biar Pak Salman yang akan menemani tante Agnes pulang".Rio juga keluar dari mobil dan memeluk Ayahnya.
"Baiklah, maafkan Ayah ya sayang selama ini Ayah tidak menghiraukan perasaan kalian".Brian mencium kening kedua anaknya.
"Pak Salman ,tolong ajak Agnes pulang bersama Pak Salman.Rania dan Rio ingin pulang bersama ku".
"Baik Pak". Pak Salman turun dari mobil dan bergegas menuju mobil Brian untuk mengajak Agnes pulang bersamanya.
"Nona?" .Pak Salman mengetuk pintu mobil.
"Iya pak". Jawab Agnes membuka kaca mobil.
"Nona disuruh pulang bersama saya,nona dan tuan kecil ingin pulang dengan Pak Brian tanpa nona".Jelas Pak Salman tanpa di rekayasa.
"Kenapa? Kenapa mereka sampai tidak ingin pulang bersamaku?".Tanya Agnes dengan nada kecewa.
"Nona dan tuan kecil kangen Ayahnya. Mereka berdua ingin menghabiskan waktu bersama ayahnya tanpa orang lain".Jelas Pak Salman dengan raut wajah seolah mengatakan cepat keluar jangan terlalu banyak bertanya.
"Iya pak,aku paham".Agnes berusaha mengendalikan hatinya untuk tidak memperlihatkan kekecewaan hatinya.
"Baguslah nona kalau nona paham, mari pindah ke mobil yang saya bawa!".Ajak Pak Salman sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Agnes.
Agnes keluar mobil mengikuti langkah Pak Salman.Agnes tersenyum kepada Brian,Rania dan Rio tanpa berkata atau bertanya sepatah kata pun.Lalu,Agnes masuk ke mobil yang dikemudi Pak Salman.
Pak Salman melajukan kemudi meninggalkan majikannya setelah melihat isyarat dari Brian untuk segera berlalu.
"Ayo sayangnya ayah,kita pulang!". Brian membukakan pintu belakang mempersilahkan kedua anaknya untuk segera masuk.
"Baik ayah".Jawab Rio semangat.
Rania dan Rio masuk ke dalam mobil mereka duduk di kursi belakang kemudi yang akan di bawa ayahnya.
Brian masuk menyalakan mesin dan melajukan kemudi.Suasana dalam mobil itu sangatlah hangat Rania dan Rio terlihat sangat bahagia. Sedangkan Brian merasa,rasa bersalahnya bertambah dengan rengekan kedua anaknya yang menuntut kasih sayang darinya.
Bukan hanya pada Silvia aku merasa jadi lelaki yang tidak berguna.Di hadapan kedua anak ku pun,aku merasa telah gagal menjadi seorang Ayah.Saras kenapa kamu meninggalkan ku begitu cepat setelah kelahiran Rio.Jika kamu masih ada aku pasti tidak akan mengecewakan Silvia dan kedua anak kita.Apa kamu juga kecewa kepadaku Saras? .Pikiran Brian berlarian kemana-mana.Kegaduhan kedua anaknya tidak dihiraukan Brian yang sibuk berpikir.Kecepatan kemudi sangatlah lambat.Brian sengaja untuk memberikan waktu lebih lama untuk kedua anaknya.
------------------------------------------
Bersambung...
__ADS_1