DETEKTIF CINTA

DETEKTIF CINTA
part 5


__ADS_3

~JURANG KEMATIAN~


saat Eager dan Revan masih memperhatikan jurang itu tiba-tiba salah satu tim Eager menelfon.


"pak ada laporan dari tim forensik jika korban yang kau temukan didalam kotak tadi meninggal bukan karena ditusuk ataupun dianiaya melainkan terjatu atau kecelakaan semacamnya" ucap Siska salah satu anggota tim Eager memberikan laporan.


untungnya saat Siska menelfon Eager sempat menyalakan lengeras suaranya karena jika tidak mungkin Revan tidak akan tau apa yang dikatakan oleh Siska.


setelah mendengar laporan itu keduanya kembali beradu pandangan. tetapi kali ini tatapan keduanya sedikit berbeda.


"Revan" ucap Eager.


"jangan katakan aku sudah tau" sahut Revan sembari menunduk dan tersenyum.


"ingin mencobanya?" tanya Eager dengan sinis (masih seperti biasa).


"aku belum mau mati" sahut Ravan menimpali.


"aku tidak akan membunuh mu meskipun aku mau" ucap Eager sembari tersenyum sinis dan tatapan mata yang tajam bagaikan elang.

__ADS_1


"apa disini ada jalan tikus untuk menuju ke bawah?" tanya Revan sembari menunjuk ke dasar jurang.


"kau mau turun tanpa diskusi lebih dulu?" sahut Eager kembali bertanya.


"apa kita pernah bertanyaa ketika kita akan melakukan penyelidikan yang berbahaya?" ucap Revan balik bertanya.


"aku rasa tidak. bahkan kita jarang melapor ketika akan menangkap penjahat" sahut Eager sembari tersenyum sinis.


"kau mau turun?" tanya Revan dengan tatapannya yang tajam dan senyumnya yang manis.


"aku mau mencoba keberuntungan ku" ucap Eager yang kemudian menuruni jurang yang curam itu melalui pepohonan sembari berlari dengan kecepatan normal.


keduanya berlari diantara pepohonan dengan wajah tersenyum ceria tanpa ada rasa takut sedikitpun. padahal jika keduanya kehilangan keseimbangan sedikit saja mereka mungkin akan terjatuh dan kemudian menjadi jasad ke 3 yang ditemukan pada hari itu.


jurang itu sangat dalam dan curam dan ketika keduanya sudah hampir mendekati dasar jurang mereka berhenti berlari dan memilih untuk melompat.


"pendaratan yang bagus" ucap Eager memuji Revan.


"kedalaman jurang 24 meter, kondisi tanah licin dan becek, ada sekitar 156 pohon, dan didasarnya terdapat bebatuan juga sungai yang mengalir." ucap Revan memberikan afirmasi.

__ADS_1


"orang yang terjatuh dari atas pasti akan mati" ucap Eager sembari membersikan tangannya yang terkena getah pohon.


"kau mau mencobanya?" tanya Revan menggoda Eager.


"mari kita coba bersama" sahut Eager dengan raut wajah sinis seperti biasanya.


keduanya pun melanjutkan penyelidikan dengan memperhatikan area disekitar mereka.


"kemungkinan korban diculik kemudian diikat dan dilemparkan dari ketinggian 24 meter, kepala korban terbentur batu, dan akhirnya meninggal" ucap Revan memberikan pendapat.


"setelah korban tewas pelaku datang kemari untuk mengambil jasad korban dan memutilasi korban" ucap Eager melengkapi kalimat Revan.


pemikiran keduanya pun akhirnya tertuju pada hal yang sama yaitu mereka berpikir jika disekitar area tempat mereka berdiri saat ini pasti ada rumah atau setidaknya sebuah tempat yang memungkinkan pelaku untuk memutilasi korbanya sebelum memasukan korban itu ke dalam kotak kayu didalam gudang tua itu.


"aku tidak mau berlari lagi karena sepatu ku kotor" ucap Revan dengan sinis.


"kalau begitu kita terpaksa berjalan biasa saja" sahut Eager dengan santai.


"kita akan menyusuri aliran sungai ini, karena si monster itu pasti tidak akan membuat lokasi persembunyian yang jauh dari sungai ini" sambung Eager menyatakan pendapatnya.

__ADS_1


"lalu apa yang kita tunggu. Ayo mulai mencari" sahut Revan sembari berjalan mendahului Eager.


__ADS_2