Dia Kekasihku

Dia Kekasihku
1. 'Menyerah'


__ADS_3

Aku merasa hidup ku akan segera berakhir. Berbagai persoalan pelik yang ku hadapi belakangan ini membuat ku berpikir, apa sebenarnya yang sedang Tuhan rencanakan untuk ku?


Semua berawal dari kepergian Bapak untuk selama-lamanya.


Lalu menyusul sederetan masalah lainnya, dan yang terakhir, 3 jam yang lalu aku baru saja di pecat dari pekerjaan ku.


Coba bayangkan bagaimana hancurnya hidup ku saat ini.


Aku hidup sendirian di Jakarta, hanya mengandalkan gaji bulanan yang bahkan tak cukup untuk mengcover semua pengeluaran wajib ku setiap bulan.


Dan sekarang, aku di pecat?


Satu-satunya hal yang ingin ku lakukan sekarang adalah ‘mengakhiri hidup ku’.


Aku lelah Tuhan.


Aku tidak sanggup.


Kepergian Bapak saja sudah menjadi pukulan terbesar untuk ku, dan semua seolah tidak berhenti.


Masalah terus menimpa ku. Apa ini artinya hidup ku sudah harus berakhir?


Karena aku sudah mengaku kalah. Aku Ingin berhenti sampai di sini.


Aku ingin mati.


Tuhan, ampuni lah dosa ku. Izinkan aku bertemu dengan Ayah ku.


Ku perhatikan arus air dari bawah jembatan tempat ku berdiri.


Sangat berharap setelah melompat dari atas sini, aku bisa langsung mati.


Mak . .Maafkan aku.


Tubuh ku melayang di udara sebelum akhirnya terjatuh dan hanyut ke dalam sungai.


Aku menangis membayangkan wajah orang-orang yang ku cintai.


Mamak, kakak, adek...maafkan  aku.


Selamat tinggal.


***


Jika aku sedang bahagia ataupun sedih, maka aku akan datang ke pelukan Bapak.


Dan sekarang aku melihat Bapak.


 “Pak, aku lulus Bidikmisi. Aku bisa kuliah pak!!!”


“Pak, minggu depan aku harus ke Jakarta. Aku di terima kerja di sana.”


“Pak, aku udah kirim gaji pertama ku ke rekening Bapak. Coba cek ya pak.”


“Pak, bapak sakit apa?”


“Harus sembuh ya, pak.”


“Paaaakkkkk,,, kenapa Bapak pergi. Bangun Pakkkk?”


.


.


“Belakangan ini kerjaan kamu gak ada yang beres.”


“Kamu masih niat kerja gak sih.”

__ADS_1


“Lisa, mohon maaf, tapi ini sudah keputusan dari bos.”


“Kamu di pecat.”


Pecat...pecat...pecat...pecat....


“Sudah bangun.”


Hk!! Dimana ini? kenapa aku bisa ada di sini?


Bukannya tadi aku sudah mati?


“Minum dulu.” Orang asing ini mengangsurkan segelas minuman untuk ku.


Walaupun takut bercampur ragu, aku mengambil dan langsung meminumnya.


Ahh...leganya.


Tapi, dia siapa? Dan kenapa aku bisa ada di sini?


“Bagaimana? Sudah lebih baik?” orang asing ini kembali bertanya. Dan Aku hanya mengangguk.


“Syukurlah. Aku kira kamu tidak akan selamat.”


Orang itu tersenyum melihat wajah kaget ku.


“Kamu sudah tidak sadarkan diri selama lima hari.”


“Tubuh kamu penuh luka.”


Penuh luka? Kenapa aku bisa terluka? Bukannya aku melompat ke sungai?


“Kamu terbawa arus sampai ke desa ini.”


Orang ini? Apa dia bisa membaca pikiran seseorang?


Pulang? Pulang kemana? Aku tidak punya tujuan. Ibu kos ku tidak akan mengizinkan aku tinggal di rumahnya lagi.


“Jangan terlalu banyak pikiran dulu. Istirahat lah.”


“Sebentar lagi akan ada yang mengantar makanan untuk mu.”


Aku memperhatikan sekeliling ku. Kalau tebakan ku tidak salah, aku sekarang pasti sedang ada di sebuah klinik atau puskesmas.


Aku meringis karena baru saja bergerak sedikit rasanya sangat sakit. Apa benar aku terluka? Tapi kenapa bisa separah dan sesakit ini?


Kata orang itu, sudah lima hari aku tidak sadarkan diri. Ya Tuhan!


“Sudah sadar?” seseorang kembali masuk. Tapi ini bukan orang yang tadi.


“I..iya.” aku baru sadar kalau suara ku serak. Tenggorokan ku terasa gatal dan sakit.


“Sykurlah. Sekarang kamu makan dulu.”


“Perlu di suapi?”


Aku langsung menggeleng.


Walaupun semua badan ku terasa sakit dan pegal, aku masih ingin tau diri. Tidak mau merepotkan orang yang bahkan sama sekali tidak ku kenal.


“Tidak udah sungkan. Ini sudah jadi tugas saya untuk melayani pasien.”


Apa dia perawat. Tapi kenapa dia berpakaian biasa?


“Ayo makan. Tangan kamu masih kaku. Kamu bisa kesulitan jika makan sendiri.”


Akhirnya aku mengalah. Orang itu menyuapi ku dengan telaten.

__ADS_1


“Siapa nama mu?”


“Lisa.”


Orang itu mengangguk.


“Kamu beruntung masih bisa selamat. Kami sempat mengira kalau kamu akan menyerah.” Orang itu tersenyum. “Ternyata kamu orang yang kuat.”


Rasanya aku ingin menangis mendengar ucapan itu. Kalau saja dia tau, alasan kenapa aku bisa terbawa arus adalah karena aku melompat ke sungai.


Aku ingin bunuh diri karena aku menyerah.


Aku tidak kuat


Aku lemah


Dan apa kah aku harus senang sekarang.


Karena ternyata masih bisa selamat.


Atau justru kecewa?


Karena aku masih tetap hidup?


Entahlah.


***


Dua minggu berlalu, mereka merawat ku dengan sangat baik. Aku sama sekali tidak tau siapa mereka.


Dan kenapa mereka menolong dan menyelamatkan hidup ku.


Mereka hanya menjawab dengan tersenyum ketika aku bertanya.


Aneh.


Kalau saja aku tidak melihat beberapa pasien lain yang juga di rawat di sini, mungkin aku sudah mengira kalau aku sedang tersesat di dunia lain.


Dan sekarang keadaan ku sudah membaik. Tubuh ku sudah kembali sehat seperti sedia kala. Dan sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah,


Setelah sembuh, aku harus pergi kemana?


Apa yang akan aku lakukan?


Dan dengan apa aku harus membayar biaya perawatan di klinik ini?


Aku sama sekali tidak punya uang.


Tas berisi dompet dan identitas ku bahkan sudah hilang saat aku melompat ke sungai.


Aku kembali linglung. Aku kecewa, kenapa aku tidak mati saja.


Hidup ku bahkan kini lebih hancur dari sebelumnya.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2