
“Aduh...aduhh..pelan-pelan dong, mba. Sakit ini!!”
“Iya, tahan sedikit ya. Emang bakalan sakit. lagian wajah tuan kenapa bisa bonyok begini sih.”
“Tuan..tuan. Tuan apaan sih. saya bukan tuan, saya Bima.” Cih ellah, anak ini lagi luka begini masih banyak gaya.
“Kamu kan majikan saya. Ya makanya saya panggil Tuan.”
“Panggil saya Bima. Just Bima.”
“Iya baiklah.”
“Gitu dong.”
“Ini wajah kamu kenapa bisa hancur begini?”
“Hehehe, jelek ya.”
Ya iyalah masa keren
“Berantem sama temen.” santai banget jawabnya.
“Kok bisa berantem?”
Rahangnya terlihat mengeras" Karena aku benci sama itu bocah.“
"Trus?"
"Dia yang udah bikin papa sama mama marah sama aku. Abang sama adek juga sekarang benci sama aku.”
“Apa dia orang yang udah narok benda itu di dalam tas kamu.” tanya ku hati-hati.
Bima menoleh dan terkejut menatap ku.
“Kok mba bisa tau?”
Aku tersenyum. Sudah ku duga.
“Karna mba yakin dan percaya kalau kamu gak seburuk itu.”
Bima menatap ku.
“Kenapa?”
“Jadi mba percaya kalau aku gak ngelakuin itu?”
Aku mengangguk dan tersenyum. Meyakinkannya kalau aku percaya pada nya. Biasanya yang di butuhkan oleh anak ABG labil seperti ini adalah 'kepercayaan'.
Bima tersenyum. “Makasih.” gumamnya pelan.
“Di rumah ini gak ada satu pun orang yang percaya sama ku. mereka udah terlanjur nganggap aku nakal dan anak yang suka bikin malu.”
Aku kembali menghela nafas. “Lalu apa karena itu kamu sampai kabur dari dalam rumah?”
Bima mengangguk. “Aku kecewa sama mereka.”
Aku mengusap rambutnya. Mencoba menganggapnya sebagai adik yang harus dan di sayangi dan di lindungi.
“Tapi kamu lihat sendiri kan, kabur tidak akan menyelesaikan masalah. Justru semakin memperkeruh suasana.”
“Justru dengan begini, kamu semakin membuat diri mu sendiri terlihat buruk di mata orang lain terutama di mata keluarga kamu.”
Bima kembali menatap ku. kali ini dengan dahi mengkerut.
__ADS_1
“Kenapa?”
Tapi dia malah menggeleng. “Aku cuma kayak berasa lagi ngomong sama guru aku. Bukan sama pembantu.”
Aku tersenyum kecut mendengarnya. “Trus kalo mba pembantu, kamu gak mau dengar nasehat dari mba?”
“Ya bukan sih. kan aku bilang ‘kayak’ ngomong sama guru aku.”
“Sorry ya, aku itu bukannya mau merendahkan status mba.”
Aku mengangguk mengerti. Tapi sepertinya aku harus memberitahunya sesuatu.
“Kamu tau gak, dulu mba juga pernah jadi guru.”
Dia menatap ku terkejut. “Masa?”
Aku mengangguk. “Tiga bulan.”
“Trus kok bisa jadi pembantu.”
“Ada sesuatu hal. Dan kamu gak perlu tahu.”
Anak ini ternyata cukup asyik juga di ajak ngobrol.
Dan dari sudut mata aku bisa melihat sekelebatan tubuh seseorang sedang berdiri di balik pintu.
Entah lah itu siapa aku tidak terlalu peduli. Yang penting aku bisa menghibur dan menasehati anak ini dulu.
***
Begitu keluar dari kamar Bima, aku melihat si pria berjas berdiri bersandar di tembok samping pintu kamar Bima.
“Tuan?” menyapa dengan sopan dan langsung beranjak pergi.
“Terimakasih.”
Untuk apa? Kenapa dia berterimakasih.
“Terimakasih karena kamu sudah menenangkan adik saya.”
Oh itu. “Iya sama-sama tuan.” Aku menjawab seadanya dan kembali berjalan.
“Aku baru tau, kalau dulu kamu pernah jadi guru.”
Hah? Jadi dia menguping pembicaraan kami?
“Iya tuan.” Jawab begitu saja biar cepat.
“Kenapa bisa jadi pembantu?”
“Karena roda kehidupan itu memang berputar Tuan. Kita tidak pernah bisa menebak akan seperti apa kita di kemudian hari.”
Tak menyangka pria ini malah mengucapkan satu kata yang benar-benar terdengar aneh, “Maaf.”
Kenapa dia minta maaf?
“Kalo selama kamu di sini saya bersikap kurang baik.”
Ya ampun, kenapa aku jadi merinding begini ya. Kenapa juga kamu harus bersikap baik sama saya tuan. Anda kan anak bos, ya wajarlah kali sombong dikit.
“Saya cuma trauma sama pembantu yang lama.”
“Dia pernah mencuri sesuatu dari kamar saya.”
__ADS_1
What??
“Itulah kenapa saja gak suka ada orang yang dekat-dekat di kamar saya.”
Entah kenapa aku jadi merasa sangat bersalah karena sudah mengatainya sombong.
“Tuan, anda tidak perlu minta maaf.”
“Teserah kalo kamu gak mau terima permintaan maaf saja.”
Lho, kok jadi ngambek?
“Baiklah tuan.” Mengalah sajalah dari pada panjang.
Pria itu terlihat tersenyum tipis.
“Kalau begitu saja permisi tuan.” Bicara dengan jarak sedekat dan selama ini kepada majikan membuat aku sedikit tidak nyaman. Terutama topik yang kami bicarakan bukan masalah pekerjaan.
“Kamu mau gak ganti profesi?” tanyanya lagi. Ganti profesi apa maksudnya.
“Atau kalo kamu mau dan sanggup kerjaan kamu jadi double.”
Ini apalagi maksudnya.
“Kamu mau jadi guru les adik saya? Temani dia belajar.”
Hah?
“Tadi saya dengar kalian ngobrol. Dia kayaknya ‘cocok’ sama kamu.”
“Biasanya adik saya itu jarang ngomong dan cerita sama orang asing.”
“Tapi sama kamu dia malah kayak terbuka begitu.”
“Mungkin karena kamu berani belain dia di depan papa tadi.”
***
Menurut ku ide dari si pria berjas tadi cukup bagus juga. Apa salahnya jika aku mengajar dan membimbing Bima.
Toh, pekerjaan ku juga hanya memasak dan berberes di dapur.
Tapi masalahnya apa kah Nyonya dan Tuan besar akan setuju?
“Kamu gak usah khawatir. Soal itu biar aku yang bicara sama mama papa.” Kata si pria berjas saat aku bertanya soal persetujuan Tuan dan Nyonya.
“Dan satu lagi, jangan panggil saya Tuan.”
Hah? Ini apa lagi. Kenapa dia sekarang jadi sama seperti Bima.
“Lalu saya harus panggil apa?”
“Panggil nama saja seperti Bima.”
Apa dia ikut-ikutan?
Nama dia kan Dawin. Trus aku panggil ‘Win’ aja kali ya.
“Win?”
“Iya?”
Eh, langsung menjawab. “Nah begitu kan enak. mulai sekarang panggil saya seperti itu.”
__ADS_1