Dia Kekasihku

Dia Kekasihku
6. Semua Orang Butuh Uang


__ADS_3

Aku baru tau kalau Bima baru duduk di kelas 2 SMA. Dan dua bulan lagi akan ada ujian penaikan kelas. Ini benar-benar kesempatan untuk ku membuatnya benar-benar fokus belajar.


Kesalahpahaman mengenai ’kondom’ juga akhirnya berakhir karena aku memberanikan diri untuk membantu Bima menjelaskan kepada Tuan dan Nyonya bahwa semua hanya ulah dari teman Bima yang iseng.


Semenjak itu, entah kenapa Bima selalu mencari ku. Selalu mengajak belajar bersama di setiap aku ada waktu kosong. Dan aku pasti dengan senang hati mengajari nya.


Karna tujuan utama ku adalah membuatnya naik kelas dan kalo bisa meraih rangking di kelasnya.


Mita, si gadis SMP juga kadang ikut nimbrung dan meminta di ajari walaupun lebih sering akan di usir oleh Bima.


“Ganggu aja kamu. Sana..sana. kamu kan punya guru les sendiri. belajar sama guru kamu aja.”


“Mba Lisa itu punya ku.”


Entah kenapa aku merasa lucu dan geli mendengarnya mendemonstrasikan kalo aku ini adalah miliknya.


Dasar Bima.


Tapi akhir-ini aku sedikit merasa tidak nyaman dengan tatapan Bima terhadap ku. Entahlah.


Aku merasa dia lebih sering menatap ku akhir-akhir ini. Apa mungkin hanya perasaan ku saja?


Bima juga sering menghambur memeluku sambil menunjukan kertas ujian yang angka nya 100.


Hmm, aku turut senang dan juga sedikit risih karena pelukannya semakin hari semakin terasa berbeda.


Bima? What wrong with you?


“Gimana dengan Bima?” Dawin tiba-tiba sudah duduk di sebelah ku.


“So far so Good!” jawab ku sambil tersenyum.


“Saya perhatiin dia semakin dekat aja tuh sama kamu.”


Tuhkan, bukan perasaan ku aja. Apa jangan-jangan...


“Dia itu nganggap kamu kayak seperti kakak kandungnya sendiri.”


Hah, entah mengapa aku lega mendengar perkataan itu.


“Makasih ya sudah bikin adik saya pinter.”


Aku tertawa. “Emang pada dasarnya Bima itu pinter kok. Cuma yah selama ini kurang di asah aja.”


“Dia jarang begini sama orang. Sama saya aja dia gak sedekat itu.”


Oh iya?


Aku baru sadar kalo Dawin dan Bima memang jarang bersama atau bercanda bersama.


Berbeda dengan Mita yang terlihat lebih dekat dan manja dengan Darwin.


“Apa kamu gak berminat untuk jadi guru lagi?”


Aku menoleh terkejut mendengar pertanyaannya.


“Kamu punya Ijazah kan?”


Aku mengangguk.


Ya sekitar beberapa minggu yang lalu, aku memang pernah izin kembali ke kos ku yang lama untuk mengambil berkas-berkas ku. Untung saja tidak hilang.


“Kalo kamu mau, saya bisa bantu kamu untuk ngelamar.”


Tawaran Darwin barusan benar-benar membuat ku berpikir. Apa peluang untuk ku menjadi guru masih ada?


Terlebih mamak yang akhirnya berhasil aku hubungi terus menanyakan pekerjaan ku di Jakarta.


Mamak tau aku di pecat dari pekerjaan ku yang lama, karena om ku yang bekerja di sana memberitahu mamak semuanya.


Dan sampai sekarang aku masih berbohong pada mamak soal pekerjaan ku.


“Mbak.”


Eh. Ya ampun ni bocah bikin kaget aja.

__ADS_1


“Kenapa Bim?”


“Kok bengong aja? Tadi ngobrolin apa aja sama bang Dawin?”


Aku tersenyum. “Ngomongin kamu.”


Dia mencibir.


“Mba, aku masih ada PR. Bisa bantu aku gak?”


Aku melirik jam di dinding. Waktu sudah menunjukan angka 22.30. Ni anak kok masih semangat belajar ya.


“Udah malam. Kamu bagusan istirahat. Besok sekolah.”


“Tapi PR nya harus di kumpul besok.”


Anak ini. bener-bener ya.


***


“Bimaaa,, kamu mau ngerjain PR atau malah mau main game sih.” ni anak benar-benar ya. Tadi katanya mau ngerjain PR, tapi malah ngajakin main PS.


Mana ini udah larut banget. Huahhh, ngantuk.


“Eh... lupa mba. PR nya besok aja deh.” Jawabnya santai kayak bajai.


“Kok besok. Tapi kamu bilang mesti di kumpul besok pagi.”


Bima menoleh dan seperti baru tersadar akan seseuatu. “Oh iya aku lupa mba, ternyata PR nya di kumpul lusa, hehehe.”


“Ish, kamu itu. Tau begini mending mbak tidur aja. Besok mesti kerja.” Aku bangkit berdiri. Sedikit kesal juga karena udah di kerjain sama ini bocah.


“Ehh..eh mba. Bentar..bentar..”


Aku berbalik dan melotot kesal padanya. Yang di pelototin malah nyengir tanpa dosa.


“Makasih.”


Aku ingin tertawa ketika dia berterimakasih dengan gaya yang imut, tapi langsung geli saat ia mengedipkan mata sambil tersenyum miring.


***


Ternyata tawaran Dawin tentang membantu ku melamar menjadi guru sama sekali tidak hanya omongan belaka, karena setelah selesai memasak makan malam laki-laki itu memanggil ku ke ruang kerjanya.


Tapi kenapa harus ke ruang kerja?


“Supaya lebih tenang ngobrolnya.”


Eh, kok dia bisa tau isi pikiran ku ya. Ajaib!


“Duduk!”


Aku mengangguk dan duduk di kursi tepat di depannya.


 “Nilai kamu lumayan bagus juga.” Dawin terus membolak-balik transkip nilai yang ku berikan padanya.


“IPK 3,8” gumamnya pelan.


Sedetik kemudian kepalanya mendongak dan menatap ku heran.


Kenapa?


“Background kamu itu pendidikan, kenapa kamu malah terjun ke dunia perkantoran?”


Huftt... aku menarik nafas panjang. Sulit untuk di jelaskan.


“Kamu capek-capek kuliah, PPL beberapa bulan, kenapa gak tetap jadi guru aja?” tanyanya lagi. “Sayang lah ilmu yang udah kamu raih selama empat tahun malah kamu sia-siakan gitu aja.”


Kok sia-siakan?


Seakan tau apa yang ada di pikiran ku, Dawin kembali berucap, “Maksud saya, lebih tepatnya kamu itu udah menyia-nyiakan bakat alami kamu.”


Aku mengernyit tak mengerti.


Dawin tersenyum. “Dari cara kamu mengajari Bima dan cara kamu menyampaikan materi aku bisa liat kalo kamu punya bakat mengajar.”

__ADS_1


“Aku juga yakin kalo kamu punya public speaking yang bagus.”


Ya ampun kenapa tebakan pria ini selalu benar adanya.


Ekhm, bukannya aku mau sombong ya, tapi semenjak kuliah, aku memang sudah sering di dapuk menjadi pembicara di beberapa acara. Jadi hal yang di katakan oleh Dawin barusan bukan lah sekali dua kali baru ku dengar.


Tapi setelah bekerja selama kurang lebih 4 tahun di Jakarta, semua terkubur begitu saja.


Aku bahkan jarang berbicara dan cenderung menjadi pendiam. Entahlah


“So, apa alasan kamu untuk memilih menjadi pekerja kantoran dan meninggalkan profesi kamu yang seharusnya?”


Waduhh, ini kenapa kok kayak lagi wawancara begini ya?


“Maaf, ada satu alasan yang tidak bisa saya jelaskan. Intinya sa_”


“Apa karena gajinya yang terlalu kecil?”


What?


Dawin tertawa melihat wajah kaget ku.


“Gak usah kaget gitu dong.” Selorohnya.


“Lagian itu juga udah jadi rahasia umum. Banyak guru yang memilih mundur karena gaji yang terlalu minim. Gak sesuai sama pegabdian.”


Entah kenapa aku agak sedikit tersentil mendengar perkataannya.


“Sebenarnya....saya tetap ingin menjadi guru. Tidak peduli mau di bayar berapa pun.”


"Terus kenapa kamu berhenti?”


Eh, dia malah tersenyum sinis. Tuh kan benar dugaan ku. Dia pasti sedang menyindirku.


Aku menarik nafas panjang.


“Karena...saya punya kewajiban. Saya memang ikhlas membagi ilmu saya kepada siswa-siswa saya, tapi pada dasarnya saya ini adalah manusia normal yang butuh uang untuk melanjutkan hidup.”


“Itu sebabnya kamu mundur dan memilih bekerja kantoran?”


Hadduhh, kenapa dia malah kayak mojokin sih.


“Ya..ya saya tau..saya tau.” Ujarnya cepat sebelum aku menjawab


“Di dunia ini memang jarang ada orang yang mau bekerja dengan ikhlas tanpa jasa. Padahal.. guru itu katanya ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ lho.”


Entahlah, semakin ke sini aku merasa obrolan ini semakin membuat ku jengah.


Aku ingin membuat pembelaan, tapi rasanya percuma. Aku rasa pria ini sudah terlanjur menganggap ku sebagai guru yang tidak profesional.


Yang mau membagi ilmu karena di bayar.


Padahal itu sama sekali tidak benar. Guru adalah cita-cita ku sejak dulu. Aku bahkan tidak peduli ingin di bayar berapa. Aku bahkan rela jika di suruh menjadi tenaga pengajar sukarelawan di Papua sana.


Tapi kondisi dan situasi tak memungkinkan aku untuk mewujudkan mimpi ku itu.


Ada orang tua dan adik yang harus ku pikirkan. Mereka butuh uang. Dan aku juga butuh uang.


Semua orang butuh uang.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2