Dia Kekasihku

Dia Kekasihku
4. Family Problems


__ADS_3

Aku mengira, kehidupan ku selama bekerja di rumah ini akan berjalan dengan baik, tapi ternyata semuanya akan berakhir buruk dengan drama yang terjadi pagi ini.


Ternyata, setiap keluarga itu selalu punya problem masing-masing.


“Cepat bilang sama papa, ini milik siapa?” teriakan menggelegar Tuan besar membuat ku merinding.


Si Pria SMA yang sedang di adili hanya melarikan pandangannya ke sembarang arah.


“Jawab!!!”


“Apa kamu tidak punya mulut.”


Bu Jeni sang Nyonya rumah yang akhirnya namanya aku ketahui dari Bik Uti terlhat sedang menangis di ujung sofa sambil memegangi dadanya.


Si gadis SMP mencoba menenangkan sang mama, walaupun sebenarnya yang perlu di tenangkan adalah dirinya sendiri.


Buktinya nagisnya malah lebih kencang dari tangis sang mama.


Dan si pria berjas? Kemana dia? kenapa tidak ada di sini?


Apa sudah berangkat? Tapi kan belum sarapan?


“Papa sama sekali gak menyangka kalau kamu akan tumbuh jadi anak brengsek dan gak tau diri!!!”


“Percuma papa ngajarin kamu yang baik-baik. Tapi otak mu sama sekali tidak kamu pakai untuk berpikir.”


Aku melihat kalau si pria SMA terlihat seperti ingin membela diri, tapi pria di hadapannya selalu bicara dan berteriak.


Hmm, benar-benar hidup tidak ada yang sempurna.


Keluarga yang selalu terlihat harmonis, rukun dan bahagia itu kini seperti terpecah.


Dan belakangan aku baru tau, kalau masalah ini di sebabkan oleh si pria SMA ketahuan membawa ****** di dalam tasnya.


Dan sialnya yang melihat hal ini adalah Nyonya Jeni.


Sebagai orangtuan tentu saja Nyonya Jeni akan sangat marah dan shock begitu memergoki putra nya membawa barang terkutuk itu di dalam tas.


Apa itu berarti si pria SMA sudah berani berbuat asusila di luar sana.


Tapi apa itu mungkin. Dia sangat sopan selama berada di rumah. Tidak sombong seperti abang nya.


Tapi mungkin saja kan, lihat saja wajahnya yang tampan dan bersih.


Penampilannya yang menarik tentu saja sangat mendukung pria itu melakukan hal yang bukan-bukan di luar sana.

__ADS_1


Tapi sebagai pembantu, aku harus tau diri. Aku tidak boleh melebihi batasan. Biar lah itu menjadi urusan keluarga mereka.


Dan semenjak kejadian ‘kondom’ itu, si pria SMA terlihat selalu murung. Sebenarnya aku ingin sekali menghiburnya.


Sama seperti yang pernah ku lakukan pada siswa ku saat mengajar di SMA dulu.


Yah, aku memang pernah sempat menjadi guru, hanya bertahan tiga bulan karena gajinya yang terlalu kecil.


Aku memutuskan berhenti karena mendapat tawaran bekerja di jakarta yang ujung-ujung nya di pecat.


Hmmm, benar-benar menyedihkan.


“Lisa, kamu gantiin Bik Uti ke pasar ya, Bibi kayaknya lagi gak enak badan ini.”


Bik Uti sepertinya memang benar-benar sakit. Badannya panas saat ku sentuh.


“Iya gak papa bik. Bibi istirahat saja. Biar semua aku yang handle.”


“Benar gak papa?”


“Iya Bik.”


Jam lima pagi aku berangkat ke pasar di antar oleh Pak Udin. Tukang kebun. Dan begitu sampai di rumah aku kembali di kejutkan dengan teriakan Nyonya Jeni yang membuat seisi rumah langsung terkejut.


Ada apa lagi ini?


Ningsih mengangkat bahu tanda ia pun tak mengerti.


Lalu Ratih, tukang bersih-bersih rumah mendekat dan berbisik, “Tuan Bima kabur.”


Hah?? Jadi si pria SMA kabur. Ya ampun kok lagi-lagi itu anak bikin masalah lagi ya.


Dan masalah ini pun berdampak pada semua penghuni rumah.


Tak ada yang berani bersuara kecuali si pria berjas yang mondar-mandir ke sana ke mari sambil berbicara lewat telepon genggam.


“Cari dia sampai ketemu.” Ku dengar dia berteriak.


Nyonya Jeni dan si Gadis SMP terlihat sama-sama menangis. Sementara Tuan besar terlihat duduk dengan wajah tegang bercampur marah.


Ya Tuhan, kenapa keluarga ini jadi banyak masalah begini


Entah kenapa aku jadi menyesal karena tidak mencoba untuk menghibur dan menasehati si pria SMA itu. Jika saja aku berani melakukannya mungkin masalah ini tidak akan terjadi.


Jika saja aku tidak insecure dengan status ku mungkin aku bisa mengatasi ABG labil itu dengan baik. Sama seperti yang pernah ku lakukan sebelumnya.

__ADS_1


Huh, tapi apa sekarang aku bisa melakukannya. Aku sendiri bahkan sempat bunuh diri karena keadaan.


Malam harinya, seorang pria berjas hitam yang terlihat gagah dan besar masuk bersamaan dengan si pria SMA.


Tuan besar langsung berdiri dengan wajah marah. Melihat itu aku langsung panik. Jangan sampai tuan besar melakukan hal yang akan membuat si pria SMA menjadi semakin terpuruk.


Tidak. Jangan! Bukan seperti itu caranya menghadapi anak yang ‘bermasalah’


“Jangannn!!!” tanpa sadar aku berteriak begitu melihat tangan pria itu hendak melayang ke wajah anaknya.


Semua mata menoleh kearah ku.


Tanpa kecuali si pria berjas yang terlihat berdiri kaku di samping sofa.


“Ma..maaf.” aku menelan ludah karena baru sadar kalau aku sudah mulai lancang.


Tapi biarlah yang penting masalah di keluarga ini tidak semakin besar dengan masalah yang baru.


“Tuan Bima baru saja kembali. ,Ma..maksud saya tolong jangan memukulnya.”


Semua orang kini menatap ku aneh. Aku semakin mengekerut ketakutan.


“Jangan memukul?” tidak di sangka tuan besar malah menanggapi perkataan ku.


“Lalu saya harus menyambutnya begitu?”


Aku menggeleng dengan tubuh bergetar takut.


“Tuan, semua masalah bisa di selesaikan dengan kepala dingin.” Entah kenapa kini aku merasa kalau karier ku sebagai pembantu akan berakhir sebentar lagi.


Mungkin aku akan di pecat.


Tapi aku harus tetap maju. Aku harus memberitahu mana yang benar menurut ku.


“Biarkan Tuan Bima bicara terlebih dahulu.” Gleg


“Saya yakin, tuan Bima punya alasan kuat kenapa dia berbuat seperti itu.”


Tuan besar mendengkus sinis. “Alasan kata mu? dia bawa ****** di dalam tasnya itu alasannya apa? Karena tidak kuat menahan hasrat duniawi. Iya?”


Matilah aku.


“Tuan, saya mohon dengarkan dulu penjelasan dari Tuan Bima. Saya yakin dia tidak akan melakukan hal seburuk itu untuk mempermalukan tuan dan nyonya.”


“Kamu siapa berani ngajarin saya hah??”

__ADS_1


Matilah aku. Tuhan tolong aku. Ku mohon


__ADS_2