
“Jadi kamu mau cari pekerjaan?” Bunga, perawat yang sudah merawat ku selama dua minggu ini.
Aku bercerita padanya kalau aku baru saja kehilangan pekerjaan.
“Iya. Aku gak punya tujuan lagi.”
“Astaga!!” Bunga menggeleng. “Jangan bicara begitu. Semua pasti ada jalan selagi kita mau berusaha."
Huh, aku tersenyum kecut mendengarnya. Bunga mungkin belum tau apa yang sudah ku alami belakangan ini. Dan aku pun tidak berniat untuk menceritakannya.
Biarlah adegan bunuh diri ini menjadi aib ku sendiri.
“Apa kamu ada recomendasi untuk ku?”
Bunga terlihat berpikir. Dia melihat ku dari atas sampai bawah. “Sebenarnya ada. Tapi aku tidak tau kalau kamu mau atau tidak?”
Aku menatapnya penuh harap. “Apa itu?”
Bunga terdiam sebentar lalu berkata, “Di desa ini, ada seorang agen pembantu rumah tangga yang cukup terpercaya.”
“Lalu?” agen ibu rumah tangga? Maksudnya apa?
“Apa kamu mau menjadi pembantu rumah tangga?” tanya Bunga dengan wajah ragu
“Kamu jangan khawatir. PRT yang di salurkan melalui agen itu keselamatan dan kesejahteraannya terjamin.”
Pembantu rumah tangga??
“Gajinya juga besar. Adik ku bahkan dapat pekerjaan dari sana. Dan sekarang dia bekerja di Jakarta. Majikannya seorang anggota DPRD.”
“Bahkan ada juga yang jadi Asisten artis. Atau Baby sitter anak-anak orang kaya.”
Dan tidak menunggu lama, besoknya aku langsung pergi ke sana.
“Sebelumnya kerja apa?” tanya seorang wanita yang memperkenalkan dirinya bernama Bu Dina sambil memperhatikan penampilan ku lekat-lekat.
“Kerja di kantor Bu, tapi sa_”
“Lho kerja kantoran kok ya sekarang ngelamarnya jadi pembantu?”
Aku melongo
“Kamu bisa nyuci, nyetrika, bersih-bersih, sama masak gak?”
Aku mengangguk cepat. Pekerjaan seperti itu adalah hal biasa untuk ku.
Aku bukan anak orang kaya yang bajunya di cuciin, atau gadis pemalas yang kamarnya mesti di rapikan sama emak atau pembantu.
Dan satu lagi, aku adalah jagonya memasak.
“Jaga anak bisa?”
Aku kembali mengangguk.
Dulu sewaktu adik ku si Bona masih kecil, aku lah yang mengasuh dan menjaganya selama di tinggal mamak ke sawah.
Jadi, menjaga anak itu urusan mudah. Aku bisa.
Wanita itu kembali memperhatikan ku.
__ADS_1
“Oke. Untuk sementara kamu lolos. Tapi besok kamu harus training sampe seminggu ke depan. Setelah itu baru bisa di lepas bekerja. Itu juga kalo majikan baru ada yang datang”
“Dan semoga kamu yang di pilih.”
Hah? Apa maksudnya?
Dan seminggu aku menjalani training dengan suka cita. Untung saja keahlian membabu ku berguna di saat-saat genting seperti ini.
Jika dulu di kantor aku berkerja menggunakan otak dan sedikit tenaga, tapi di sini aku harus kebayakan menggunakan otot.
Besoknya kami di kumpulkan di satu ruangan. Walaupun aku bingung untuk apa tapi aku tetap ikut berbaris dengan para calon PRT yang lain.
Astaga, aku bahkan tersenyum sendiri. Mau jadi pembantu aja ternyata sesusah ini.
Aku menoleh ke arah pintu. Seorang wanita parubaya berpenampilan cetar masuk ke dalam di dampingi oleh pemilik agen.
Ku lihat ia berjalan sambil memperhatikan kami satu persatu.
Sedang apa dia?
“Siapa nama mu?” tanya wanita parubaya itu pada salah satu dari kami.
“Perkenalkan nama saya Asri , Nyoya.”
“Umur?”
“22 Tahun, Nya.”
Dan beberapa pertanyaan lain pun menyusul.
Otak ku masih bertanya-tanya, kira-kira sedang apakah mereka ini, saat wanita parubaya itu mendekat ke arah ku dan memperhatikan ku lekat-lekat.
Dan pertanyaan-pertanyaan yang sama kembali di tanyakan kepada ku.
Ini sebenarnya lagi ngapain?
Apa memang milih pembantu rumah tangga itu sistemnya begini?
Dan aku sama sekali tidak menyangka kalau wanita itu akan memilih ku.
“Kamu ikut saya.”
Di balik pintu aku bahkan bisa mendengar gumaman dari calon PRT lainnya.
“Ish, kok bisa sih dia yang di pilih.”
“Bukannya kita yang udah lama-lama.”
“Kalo begini terus kapan kita kerjanya.”
Dan sampai di sini barulah aku mengerti arti kalimat yang di ucapkan oleh Bu Dina.
“Dan Semoga kamu yang di pilih”
Hm, apa aku harus senang?
Tapi entah mengapa aku sama sekali tidak senang saat ini.
Terutama ketika melihat wajah judes wanita paruhbaya ini.
__ADS_1
Sekilas aku bisa meraba, bagaimana nasib ku jika bekerja nanti.
Setelah mengurus semuanya, wanita itu membawa ku pergi. Mobilnya terlihat sangat mewah.
Pastilah dia salah satu orang kaya yang di maksud oleh Bunga.
Ngomong-ngomong soal Bunga, aku sama sekali belum sempat berterimakasih padanya.
Karena wanita ini tidak memberi ku kesempatan untuk ke sana.
Hm,, suatu saat aku berjanji akan kembali ke sini dan berterima kasih pada semua orang yang telah merawat ku Selama di rawat. Juga pada Bang Oji, dokter tampan yang menjadi orang pertama yang ku lihat saat membuka mata.
“Kamu gak usah bayar kalau gak punya uang.” Dokter Oji bahkan tersenyum lembut saat aku berkata bingung harus bayar apa untuk biaya Klinik.
“Jaga kesehatan dan hati-hati selalu.”
“Saya sebenarnya gak tau kenapa kamu terluka separah itu. Tapi saya harap ke depannya itu tidak terjadi lagi.”
Benar-benar dokter tampan yang baik hati, bukan?
Walaupun sampai sekarang, identitas orang yang sudah menyelamatkan ku dari sungai dan membawa ku ke klinik menjadi sebuah misteri, tapi akh berdoa semoga suatu saat nanti aku bisa bertemu orang itu.
BUK...
Aku terkejut dan menoleh ke samping. Ternyata wanita itu sudah turun dan meninggalkan ku tanpa sepatah kata pun.
Aku turun mengikutinya dan langsung melongo begitu melihat rumah besar dan megah yang berdiri kokoh di depan ku ini.
Astaga, ini rumah apa istana?
Apa wanita ini salah satu orang terkaya di negara ini.
Tapi ngomong-ngomong, ini di mana?
“Duduk.” Wanita itu menyuruhku duduk setelah ia duduk sambil mengangkat kaki santai.
“Baik nyonya.”
“Bik...Bik Utiiii.” Ia berteriak mamanggil seseorang.
Seorang wanita parubaya muncul dengan tergopoh-gopoh.
“Iya, Nya?”
“Ni ada orang baru buat gantiin si Lela.” Katanya sambil menunjuk ke arah ku.
“Lisa, kenalin ini Bik Uti. Pembantu senior di sini.”
Apa? Jadi pembantu itu ada senior junior nya juga ya?
Entah kenapa pemahaman ku tentang dunia itu begitu cetek dan cenderung sempit.
“Bik Uti, nanti tolong jelasin jobdesk Lisa apa aja , ya!"
“Baik nyoya.”
“Kamu bisa kerja mulai besok.” katanya sambil menunjuk ke arah ku
“Baik Nyonya.”
__ADS_1
“Bik Uti, bawa Lisa ke paviliun belakang. Tunjukin kamarnya.”